Sabuk Inten 11

“Mengawasi Pajang tentu mempunyai arti bertentangan ketika Ki Rangga berbicara dengan orang yang berbeda,” kata Ki Tumenggung Suradilaga seraya menyandarkan punggung. Kemudian ia berkata lagi, ”Saya tidak menyangka jika berita itu justru datang lebih dahulu daripada kehadiranku beberapa waktu yang lalu. Ki Rangga, bagaimana Anda jelaskan pada Kanjeng Adipati tentang pengawasan yang dilakukan sekelompok orang? Sementara Anda belum mengenali dengan jelas orang-orang yang diyakini sedang bekerja di balik bayang-bayang.”
“Saya belum dapat mengatakan sedikit pun pada Adipati Hadiwijaya, Ki Tumenggung.”
“Hmm.. Bagaimana Anda mengetahui atau mempunyai dugaan tentang pekerjaan yang dilakukan sekelompok orang?” pandang mata Ki Tumenggung Suradilaga lekat menatap wajah Ki Rangga Sambaga.
“Ki Tumenggung,” jawab Ki Rangga sesaat setelah mengendapkan perasaannya, ”tentu saja kita dapat mempunyai dugaan apabila telah mengetahui rencana Raden Trenggana untuk menyerang daerah timur.”
“Dapatkah Anda jelaskan?”
“Tidak menutup kemungkinan apabila rencana itu benar-benar dijalankan, maka Pajang dan Demak akan mengalami kekurangan prajurit. Sehingga, mungkin saja, keadaan itu dapat dijadikan celah untuk menguasai salah satu tempat yang ditinggalkan oleh pemimpin tertinggi di kedua daerah itu.”
Ki Tumenggung Suradilaga berpikir keras dengan dahi berkerut. Ia dapat menerima penjelasan kawannya dari Pajang karena sebenarnya memang Adipati Hadiwijaya akan meninggalkan Pajang untuk beberapa waktu. Ia bangkit berdiri lalu berkata, ”Dan Anda adalah orang yang akan menempati kedudukan adipati di Pajang.” Ki Tumenggung diam sejenak kemudian mengangkat wajahnya menghadap ke langit. Katanya, ”Tentu menjadi tanggung jawab yang besar karena Pajang dapat direbut siapapun yang mampu melihat kesempatan yang segera terjadi.”
“Itu di luar kehendakku, Ki Tumenggung,” kata Ki Rangga. Lantas keduanya terdiam. Tidak ada lagi pembicaraan. Seolah mereka sedang menyatukan diri dengan alam sekitar. Tidak terdengar desah napas dari udara yang keluar dari rongga hidung keduanya. Sunyi.

Usai makanan itu tandas, Kidang Tlangkas yang sebenarnya enggan untuk mendengarkan kata-kata Ki Sedayu Tawang akhirnya berdiri. Ia memandang lurus arah pedukuhan sambil berkata, “Saya akan pergi menemui mereka sebagai seorang prajurit meski sedang tidak bertugas. Kiai, saya yakin Anda dapat menerima alasan ini.”
“Aku tidak keberatan, Prajurit. Namun engkau harus ingat bahwa Pangeran Parikesit tidak memintamu untuk berkelahi di tempat ini walau pun beliau dapat mengerti jika ada alasan yang tepat.”
“Sangat membosankan bila hanya duduk di tempat ini sepanjang malam,” gerutu Kidang Tlangkas dalam hatinya.
“Apakah kau baik-baik saja?” pertanyaan Ki Sedayu Tawang yang membuat Kidang Tlangkas menjadi salah tingkah.
Ia sempat berpikir akan menantang kedua pendatang itu untuk berkelahi, namun apakah mereka berdua itu benar-benar manusia? Apakah perlunya bekelahi? Tetapi jika mereka berniat untuk mengacaukan Pajang, bukankah berkelahi dapat menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan? Campur aduk pikiran yang hilir mudik begitu cepat di benak Kidang Tlangkas benar-benar membuatnya hanyut dalam angan.

“Kemarilah,” tiba-tiba Ki Rangga Sembaga berbicara. Ia tidak memandang arah tertentu tetapi perintah itu jelas ditujukan pada seseorang. “Kita dapat duduk bersama lalu berbicara.”
Sama halnya dengan orang kepercayaan Adipati Hadiwijaya, Ki Suradilaga pun berkata-kata, “Di sini ada makanan. Kita dapat menyalakan api bersama.”
Kidang Tlangkas mengerutkan kening. Ia berjarak cukup jauh dari kedua utusan Adipati Pajang, dan tengah bersembunyi di balik rerimbun semak. Kidang Tlangkas masih terheran karena percakapan itu ditujuan pada seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun berada di dekat mereka selain dirinya sendiri. Yang terjadi adalah Kidang Tlangkas tidak dapat menahan diri untuk menjaga jarak dengan kedua utusan Pajang itu. Di tengah kecamuk pikirannya, ia melesat deras mendekati tempat mereka berdua.
Namun kedatangannya mengusik pendengaran Ki Sembaga dan Ki Suradilaga walaupun Kidang Tlangkas telah menggunakan daya penyerap bunyi. Dalam waktu itu ia menajamkan penglihatan untuk mencari orang yang menjadi sasaran panggilan.
Suasana kembali sunyi.
Untuk seukuran waktu yang cukup, Kidang Tlangkas tidak mendapati orang lain. Mungkinkah mereka mengarahkan ucapan itu padanya? Begitu isi pikiran Kidang Tlangkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *