0%
Still working...

Waru Geni 20 – Kecurigaan Rara Wulan Terhadap Pergerakan Senyap di Dusun Benda

Dironda 169 kali

Wedaran sebelumnya: Mengenai Dusun Benda, Ki Cangkring Mas berpendapat bahwa perpindahan harus dilakukan secara bertahap sambil menunggu tempat baru, sekaligus mulai memperkuat kedudukan di Pudak Lawang melalui hubungan baik dengan penduduk dan pengumpulan keterangan. Ki Jalawangsa pun bersedia mengatur persiapan serta pembagian tugas. Pertemuan malam itu berakhir dengan satu kemungkinan sasaran baru yang mulai diperhitungkan oleh kelompok mereka, yaitu Pudak Lawang.

Adalah Rara Wulan yang melihat serombongan orang berjalan memasuki lingkungan Dusun Benda. Mereka ada sekitar lima sampai tujuh orang yang datang dari arah selatan. Mereka membawa beberapa buah bakul dan juga pikulan yang berisi barang dagangan. Sekilas, tidak ada sesuatu yang patut dicurigai dari rombongan itu. Namun, Rara Wulan yang sedang berada tidak jauh dari jalan sempat memperhatikan cara mereka berjalan dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Sedikit aneh, menurut Rara Wulan karena mereka tidak menawarkan barang kepada orang-orang yang dijumpai. Bahkan, ketika berpapasan dengan beberapa perempuan yang sedang berjalan sambil membawa hasil kebun, tidak seorang pun di antara mereka berusaha menyapa atau sekadar menawarkan sesuatu. Mereka justru beberapa kali mengedarkan pandangan ke arah jalan yang baru saja dilewati.

Rara Wulan mengerutkan kening. Namun demikian, dia tidak segera mengambil kesimpulan. Hanya saja dia merasakan ada sesuatu yang terasa tidak sesuai dengan penampilan orang-orang itu. Bakul-bakul yang mereka bawa memang dapat memberikan kesan bahwa mereka adalah pedagang keliling. Tetapi sikap dan gerak-gerik mereka justru membuat Rara Wulan berpikir sebaliknya.

Ketika rombongan itu kemudian berjalan keluar dari Dusun Benda melalui jalan yang tidak terlalu ramai, Rara Wulan mulai mengikuti dari kejauhan sambil tetap menjaga jarak agar tidak menarik perhatian.

Agak jauh dari lingkungan dusun, rombongan itu berhenti di sebuah tempat yang terlindung oleh pepohonan dan semak-semak. Di sana telah menunggu beberapa orang lainnya. Rara Wulan tidak dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Namun, dia dapat melihat saling bertukar barang. Untuk sementara, dia belum dapat jelas melihat jenis barang yang dipertukarkan.

Namun kemudian Rara Wulan menahan napas. Orang-orang yang datang dari arah Dusun Benda ternyata mengangsurkan senjata pada orang yang menunggu sebelumnya.

“Benarkan mereka bertukar senjata? Untuk senjata-senjata itu keluar dari Dusun Benda?” desis Rara Wulan dalam hati. Yang dia tahu adalah Dusun Benda tidak mempunyai orang banyak yang bekerja sebagai pande besi. Benar ada tapi hanya beberapa dan itu pun hanya alat pertanian yang biasa saja.

Mungkinkah ini yang dikhawatirkan oleh Ki Jayaraga?

Rara Wulan memang mencemaskan keadaan itu dan mungkin bukan kebetulan ketika orang-orang itu lewat di dekat lingkungannya. Tempat tinggal Rara Wulan dan Glagah Putih memang tidak terlalu mencolok tapi memang berada di antara Dusun Benda dan pedukuhan induk.

Dengan pengamatan tadi, dia tidak lagi sekadar menduga-duga atau meraba cemas tapi nyata bahwa sekelompok orang itu memang bersenjata. Terlebih cara mereka membawa senjata dengan cara yang tidak biasa: sengaja disembunyikan dari pandangan orang lain.

Dari tempatnya, Rara Wulan dapat melihat rombongan tersebut kembali bergerak. Mereka memasuki Dusun Benda melalui jalan yang berbeda. Setelah memastikan mereka kembali ke rumah sewaan, Rara Wulan pun kembali ke rumahnya.

Petang telah agak lama berlalu ketika Rara Wulan mengungkapkan hasil pengamatannya kepada Glagah Putih.

Glagah Putih mendengar cermat keterangan istrinya.

“Sepertinya kita harus mengatakan hal ini kepada Ki Jayaraga,” kata Glagah Putih.

Rara Wulan mengerutkan kening.

Glagah Putih mengangguk kemudian jelasnya, “Beliau telah berada cukup lama di Dusun Benda karena sekelompok orang itu pula. Jadi, aku pikir beliau adalah orang pertama yang harus mengetahui  perkembangan ini.”

Setelah merenung sejenak, Rara Wulan mengangguk lalu mengiringkan langkah Glagah Putih yang bergegas meninggalkan halaman rumah.

Malam telah turun dengan sempurna.

Beberapa obor tampak menyala di halaman rumah penduduk. Tampak sejumlah oncor menyala pula di sudut-sudut jalan sementara cahaya bulan yang sesekali tertutup awan hanya mampu menerangi jalan-jalan kecil di antara pepohonan. Dari kejauhan terdengar suara air mengalir di antara bebatuan.

Glagah Putih mengambil jalan menuju sudut pedukuhan. Di tempat itu terdapat sebuah gardu sederhana yang biasa ditempati Ki Jayaraga. Letaknya tidak terlalu jauh dari tepian sebuah sungai kecil yang mengalir membelah bagian luar permukiman Dusun Benda.

Tempat itu memang dipilih dengan pertimbangan tertentu. Dari gardu tersebut, Ki Jayaraga dapat mengamati jalan kecil yang menuju ke bagian dalam pedukuhan sekaligus memperhatikan orang-orang yang datang dari arah tepian sungai. Meskipun tidak terlalu luas, gardu itu cukup terlindung oleh beberapa batang pohon yang tumbuh di sekitarnya.

Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan tiba, mereka melihat Ki Jayaraga sedang duduk di bagian depan gardu. Di dekatnya terdapat sebuah obor yang diletakkan pada tiang bambu. Cahayanya jatuh pada sebagian wajah orang tua itu, sementara bagian lainnya tampak berada dalam bayangan.

Ki Jayaraga menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat.

“Glagah Putih?” sapanya.

Glagah Putih segera mendekat dan menganggukkan kepala.

“Saya, Guru,” sahut Glagah Putih. “Mohon maaf mengganggu, Guru. Ada sesuatu yang perlu kami sampaikan.”

Ki Jayaraga memandang Glagah Putih, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Rara Wulan.

“Marilah, kalian duduklah dahulu,” kata Ki Jayaraga mempersilakan.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun mendekat ke gardu itu lantas memapankan letak duduk mereka. Tak lama kemudian, Glagah Putih berkata, “Rara Wulan telah melihat sesuatu yang menurut kami patut mendapat perhatian Guru.”

Ki Jayaraga mengangguk perlahan. Ia kemudian mempersilakan Glagah Putih dan Rara Wulan duduk di hadapannya.

Glagah Putih membuka percakapan lantas Rara Wulan pun mulai menerangkan yang telah dilihatnya dengan ringkas namun sangat jelas. Dia menceritakan tentang beberapa orang yang membawa bakul dan tampak seperti pedagang biasa.

“Yang membuat saya merasa ada sesuatu yang tidak wajar adalah ketika mereka meninggalkan pedukuhan,” kata Rara Wulan. “Saya melihat mereka menuju ke luar permukiman. Tetapi tidak terlalu lama kemudian, mereka kembali lagi. Hanya saja, ketika kembali, bakul yang mereka bawa sudah tidak tampak seperti semula. Saya menduga dan hampir pasti mereka telah menukarnya dengan senjata.”

Ki Jayaraga mendengarkan sambil mengangguk-angguk. “Mereka keluar dengan senjata atau masuk dengan senjata?”

“Mereka keluar dengan senjata,” berkata Rara Wulan.

Sedikit bergumam, Ki Jayaraga berucap, “Mungkinkah mereka selama ini sudah menyimpan senjata selama berada di dalam pedukuhan Benda? Jika benar, untuk tujuan apa?”

Rara Wulan menggeleng.

Glagah Putih kemudian yang menjawab, “Kita sama-sama tidak dapat memastikan, Guru.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Sesaat dia memandang ke arah sungai kecil di belakang gardu. Suara air yang mengalir terdengar cukup jelas di antara kesunyian malam.

“Baiklah,” katanya kemudian. “Aku kira kita tidak perlu tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Tetapi kita harus secepatnya membuat keputusan.”

Glagah Putih serta Rara Wulan mengangguk.

“Apakah Guru ingin kami melakukan sesuatu malam ini?”

“Tidak,” sahut Ki Jayaraga dengan gelengan kepala pula. “Malam ini tidak ada yang dapat dilakukan selain menunggu pagi. Besok pagi-pagi kita akan mendatangi rumah itu dengan beberapa pengawal.”

“Saya kira tidak perlu terlalu banyak,” kata Glagah Putih. “Mungkin cukup lima atau tujuh orang supaya tidak terkesan akan mengusir mereka. Saya dan Rara Wulan akan turut juga.”

“Benar, Rara Wulan yang melihat mereka pertama kali,” Ki Jayaraga tersenyum, “jadi sudahh semestinya ikut hadir agar dapat mengenali orang-orang yang telah diamati.”

Rara Wulan mengangguk. “Saya, Guru.”

Ki Jayaraga masih duduk di tempatnya. Pandangannya kembali tertuju pada jalan kecil yang membujur di antara pepohonan. Dia belum mengetahui dapat menduga tujuan senjata itu dikeluarkan dari pedukuhan. Apakah mereka masih satu kelompok dengan penyerang barak beberapa waktu sebelumnya atau mereka hadir dengan tujuan yang sama sekali baru? Di atas semua itu, Ki Jayaraga merasa bahwa pengamatan Rara Wulan telah memberikan alasan yang cukup untuk melihat mereka lebih dekat.

Kemudian dia mengatakan beberapa hal di depan Glagah Putih dan Rara Wulan. Dua orang muda itu kemudian mengangguk dengan sesekali bertanya tentang sesuatu yang belum jelas bagi mereka.

  • Untuk pertama kali sejak Api di Bukit Menoreh, Rara Wulan pun muncul di Waru Geni.
  • Tapi sayangnya tidak bersamaan dengan aksi Sayoga yang memutar senjatanya lebih cepat lalu menggulung tombak Ki Dirgasana. Kiai Plered 50.
  • Sementara di Lereng Gunung Wilis 5, gelombang serangan perempuan ini akhirnya benar-benar menggetarkan Ki Hanggapati.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.