Dironda 18 kali
Pekalongan, 1919
Suryani menemukan sebuah buku tua di antara tumpukan barang peninggalan seorang kerabat yang baru saja meninggal. Buku bersampul kulit itu tidak memiliki judul. Kertasnya kecokelatan dan beberapa bagiannya telah dimakan usia.
Pada malam berikutnya, ketika sedang membacanya di kamar, Suryani sampai pada halaman kesembilan belas. Tiba-tiba terdengar suara seseorang membaca. Suaranya pelan, jelas, dan berirama seperti orang yang sedang membaca dengan sungguh-sungguh.
Suryani menghentikan bacaannya lalu mengangkat kepala dan memandang ke sekeliling kamar. Tidak ada orang tapi suara itu terus berlangsung sampai halaman sembilan belas, kemudian berhenti begitu saja.
Suryani memandang halaman yang terbuka. Dia mencoba mengulanginya dengan membaca sendiri tapi tidak sesuatu yang terjadi.
Namun demikian, dia pun menganggap dirinya terlalu lelah. Namun, keesokan harinya, dia kembali mencoba membaca buku tersebut. Ketika sampai pada halaman kesembilan belas, suara yang sama terdengar lagi.
Dan Suryani tidak bergerak. Dia mendengarkan dengan saksama.
Suara itu bukan berasal dari luar kamar. Bukan pula suara seseorang yang bersembunyi di balik pintu. Suara tersebut seakan-akan keluar dari sela-sela lembaran buku.
Suryani kemudian meminta adiknya, Rukayah, untuk mencoba membaca buku itu dan dia sengaja tidak menceritakan kejadian sebelumnya.
Ketika Rukayah mencapai halaman kesembilan belas, suara itu kembali terdengar.
Rukayah segera menutup buku sambil menjerit kecil.
Mereka lalu mencoba beberapa hal. Buku dibawa ke ruang tengah, dibaca di dekat jendela, bahkan diletakkan di atas lantai. Hasilnya tetap sama. Setiap kali halaman kesembilan belas dibuka dan dibaca, suara itu muncul.
Yang lebih aneh, suara tersebut selalu terdengar sama, tidak peduli orang yang membaca ataupun tempat buku itu berada.
Suryani mulai memperhatikan sesuatu. Suara itu tidak pernah muncul ketika halaman kesembilan belas hanya dibuka. Suara baru terdengar ketika seseorang mulai membaca tulisan di dalamnya.
Pada suatu malam, dia mencoba membuka halaman itu tanpa membaca sepatah kata pun dan tidak terjadi sesuatu. Kemudian dia memejamkan mata dan mulai menggerakkan bibirnya mengikuti tulisan, tanpa mengeluarkan suara.
Tiba-tiba terdengar suara bacaan.
Suryani membuka mata.
Dia belum sempat menyelesaikan kalimat pertama ketika suara itu sudah membacanya sampai selesai. Seperti ada seseorang telah mengetahui yang hendak dibacanya.
Malam itu Suryani tidak dapat tidur.
Keesokan paginya, dia membawa buku tersebut kepada seorang guru bahasa Melayu yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Lelaki tua itu memeriksa sampul, kertas, dan tulisan di dalamnya kemudian membaca beberapa halaman.
Ketika sampai pada halaman kesembilan belas, suara itu terdengar. Lelaki tua tersebut langsung menghentikan bacaannya. Wajahnya berubah pucat dan segera menutup buku dengan cepat.
“Di mana kau mendapatkan buku ini?” tanyanya.
Suryani menjelaskan asal-usul buku tersebut.
Lelaki tua itu terdiam. Beberapa saat kemudian berkata bahwa dia pernah mendengar cerita tentang sebuah buku yang dapat membacakan tulisannya sendiri. Namun, dia tidak pernah menganggap cerita tersebut benar.
“Apakah suara itu selalu sama?” tanyanya.
Suryani mengangguk.
Lelaki tua itu memandang buku di hadapannya cukup lama. Suryani pun pulang tanpa penjelasan. Hanya sebuah pesan dari lelaki tua agar buku tersebut disimpan di tempat yang tidak mudah dijangkau orang lain.
Namun, ketika Suryani tiba di rumah dan meletakkan buku itu di atas meja, dia mendapati sampulnya telah terbuka. Halaman kesembilan belas terlihat jelas.
Tidak ada angin di dalam kamar lalu terdengar suara bacaan yang pelan.
Kali ini tidak ada seorang pun yang sedang membaca buku tersebut.
