0%
Still working...

Waru Geni 18 – Rencana Panjang Ki Adiyasa untuk Membelah Menoreh

Dironda 28 kali

Wedaran sebelumnya: Ki Ajar Ental Sewu menyadari bahwa mendekati lingkungan Ki Gede Menoreh bukanlah perkara mudah dan tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Meskipun mereka telah cukup lama berada di Tanah Perdikan dan mulai dikenal oleh sebagian orang di sekitar Dusun Separang, tapi maksud sebenarnya tetap harus dapat dijaga.

Pada bagian lain, Ki Jalawangsa yang telah kembali dari persembunyiannya di sekitar Dusun Separang tampak berbicara dengan beberapa orang. Salah satu di antara mereka adalah Ki Adiyasa.

Rumah sewaan Ki Adiyasa di Dusun Benda itu tampak sepi dari luar. Tidak banyak orang yang keluar masuk. Bahkan beberapa orang yang tinggal di sekitarnya pun tidak mengetahui dengan pasti jumlah orang yang berada di dalamnya.

Namun, menjelang tengah malam, beberapa bayangan berkelebat, melompati pagar pekarangan, menembus pategalan hingga dapat memasuki rumah sewaan itu tanpa diketahui pengawal Tanah Perdikan yang meronda maupun yang berjaga di gardu. Sejenak kemudian, mereka sudah berkumpul di ruang tengah. Mereka adalah orang-orang Ki Adiyasa yang sebelumnya tersebar di beberapa tempat, sebagian berada di Dusun Separang, sebagian lagi di lereng Gunung Kunir, sedangkan yang lain berada di sekitar Pudak Lawang.

Ki Adiyasa duduk bersandar pada sebuah tiang. Di hadapannya duduk Ki Jalawangsa dan beberapa orang lainnya. Untuk beberapa saat mereka tidak segera berbicara. Masing-masing seolah sedang mengendapkan berbagai keterangan yang mereka peroleh selama berada di tempat persebaran mereka.

Akhirnya Ki Adiyasa membuka pembicaraan. “Apakah semuanya sudah berkumpul di sini?”

“Tidak semua, Tuan,” sahut Ki Jalawangsa. “Ada beberapa orang yang masih berada di luar Dusun Benda. Namun, mereka tentu akan segera menyusul apabila keadaan memungkinkan.”

Ki Adiyasa mengangguk-angguk.

“Apakah tidak ada kesulitan selama kalian bergerak dari tempat-tempat itu?”

Mereka saling berpandangan sejenak.

“Tidak ada kebebasan bergerak sejak kita berada di Tanah Perdikan,” jawab salah seorang yang duduk di sebelah Ki Jalawangsa. “Tidak ada yang berubah dari hampir seluruh Menoreh. Pengawal mereka tetap berjaga dan meronda dengan kepatuhan seorang prajurit.”

Ki Adiyasa mengangguk-angguk lalu katanya, “Memang benar. Agaknya memang demikian dan mereka tidak selalu memperlihatkan diri terlalu kentara. Kebanyakan dari mereka memang adalah orang kebanyakan. Namun, gerak-gerik mereka cukup mencurigakan untuk mata yang terlatih.”

Ki Jalawangsa menarik napas dalam-dalam kemudian mengatakan, “Apakah mungkin mereka mengawasi kita? Oh, bukan, maksud saya, apakah mereka sudah mengetahui tujuan kita atau apa saja dari kita selain kehadiran yang mungkin mencurigakan?”

“Aku belum dapat memastikan,” sahut Ki Adiyasa,”sejauh obrolan di sekitar orang-orang Ki Gede, termasuk Nyi Pandan Wangi, mereka belum menampakkan itu.”

“Jadi, kira-kira yang menjadi tujuan mereka saat mempersempit ruang gerak di Dusun Benda pun belum dapat dipastikan?”

“Tidak juga seperti itu, Kyai,’ lanjut Ki Adiyasa. “Mungkin beberapa orang Dusun Benda memberikan keterangan yang rupanya oleh Tanah Perdikan dianggap mengusik ketenangan mereka.”

“Hmmm, lalu mereka mengusir dengan cara yang halus?” tanya Ki Jalawangsa.

“Bisa seperti itu,” jawab Ki Adiyasa, “karena mereka pun ternyata tidak secara terang-terangan menegur atau mengusir kita dari sini. Dan saya pikir itu cara yang tepat sebelum mereka memutuskan lain.”

“Saya tidak mengerti, Tuan,” ucap Ki Jalawangsa. “Mereka mengusir dengan halus tapi Anda katakan itu dapat menjadi jalan sebelum ada keputusan lain.”

“Maksud saya, begini, Kyai,” kata Ki Adiyasa, “mereka mendesak perlahan sambil menandai. Jika kita kembali dengan cara terang-terangan seperti bergerombol atau berkelompok, misalnya, mereka akan menghalau kita dengan tindakan keras. Tapi karena kita kembali secara perlahan, sunyi dan diam-diam maka mereka tidak mempunyai jalan untuk kekerasan.”

“Oh,” ucap Ki Jalawangsa.

“Begitulah yang saya perhatikan selama ini dan juga pengamatan pada orang-orang di sekitar Ki Gede,” sahut Ki Adiyasa. “Nyi Pandan Wangi, Ki Prastawa dan sejumlah orang yang saya curigai sebagai kepala pengawal tampaknya juga diam saja dengan kembalinya kita secara diam-diam ke Dusun Benda. Sejauh ini, mereka tidak tampak meningkatkan penjagaan atau pendekatan yang lebih keras lagi pada pendatang seperti kita. Tetapi, saya ingatkan, justru itulah yang membuat keadaan menjadi tidak menyenangkan. Kita tidak dapat bergerak dengan leluasa.”

“Tuan,” kata Ki Jalawangsa. “Apakah mungkin mereka sudah mengetahui keberadaan rumah sewaan ini?”

“Kalau rumah yang kita sewa, yah, mungkin mereka sudah tahu, Kyai,” kata Ki Adiyasa. “Namun, bagaimana rumah ini dan apa saja yang berada di dalamnya serta siapa yang di dalamnya, saya yakin mereka masih butuh waktu.  Belum ada tanda-tanda yang meyakinkan dari mereka. Namun, kita tidak boleh menganggap rumah ini aman hanya karena belum ada orang yang datang mencarinya.”

Ki Jalawangsa mengangguk.

“Karena itu, kita harus segera menentukan apa yang akan kita lakukan. Kita tidak dapat terus-menerus bertahan dalam keadaan seperti ini,” tambah Ki Adiyasa. “Suatu saat mereka pasti mengetahui atau setidaknya mulai curiga dengan rumah ini.”

Seorang yang lain kemudian bertanya, “Ki Tumenggung, apakah kita akan mulai mengumpulkan kekuatan yang lebih besar di Dusun Benda?”

Ki Adiyasa memandang lekat orang itu, demikian juga Ki Jalawangsa yang kemudian berpaling pada tumenggung Mataram.

“Apakah memang harus begitu?” kata Ki Jalawangsa yang agak berhati-hati untuk memastikan keraguannya.

“Ki Sanak sekalian,” kata Ki Adiyasa lalu menghadapkan wajahnya pada semua orang yang mungkin berjumlah belasan.

“Anda sudah mengetahui akhir dari serangan yang ditujukan langsung pada barak. Anda juga sudah mengetahui bahwa nasib anak saya, Jatayu, belum diketahui sampai sekarang. Apakah dia ditahan? Terbunuh? Atau melarikan diri? Kita semuanya gelap dengan keadaan itu meski saya yakin dia telah terbunuh ketika penyerangan. Pengerahan kekuatan yang besar itu sama seperti mengulang kesalahan yang sama. Kita semuanya tahu bahwa dalam keadaan lemah pun ternyata barak masih sulit untuk ditembus. Tanah Perdikan ternyata tidak pernah kekurangan orang yang mumpuni. Mereka seolah selalu mempunyai jawaban pada setiap kesulitan yang datang.”

Suasana di ruangan tengah itu sedikit memanas ketika Ki Adiyasa menyebut nama Jatayu, anaknya yang juga turut dalam serangan fajar beberapa waktu yang lalu.

“Kita harus memikirkan cara lain yang benar-benar berbeda,” lebih lanjut Ki Adiyasa berkata. “Mari kita ulang, apakah kita akan mengerahkan seluruh orang yang masih berada di luar atau mendatangkan lagi sepasukan dari Kotaraja? Jika demikian, kita harus memikirkan pula cara mendatangkan mereka tanpa menarik perhatian. Saya yakin Ki Sanak sekalian akan berpendapat sama: sulit.”

Semua orang menganggukan kepala dan diam-diam setuju untuk menghindari benturan dengan Tanah Perdikan.

“Memang membutuhkan waktu lebih lama, tapi saya percaya bahwa saat itu akan datang menjemput kita,” ucap Ki Adiyasa menyakinkan.

“Bila seperti itu, Ki Tumenggung, kita mungkin harus menyewa satu atau dua rumah lagi di sekitar Dusun Benda atau lebih jauh lagi dari pedukuhan induk,” sahut Ki Jalawangsa lalu menebar pandangan ke semua orang.

“Mungkinkah Pudak Lawang?” dia bertanya. “Agak jauh dari pedukuhan induk tapi masih dapat kita jangkau dari sini.”

“Sebentar, Kyai,” kata Ki Adiyasa sambil memandang Ki Jalawangsa. “Memecah kekuatan kita memang benar karena mereka telah kehilangan kesempatan untuk sekali pukul dan itu bagus. Ada hal lain yang ingin saya katakan pula. Kyai, saya telah mempelajari beberapa hal dari Tanah Perdikan lalu Anda sebut Pudak Lawang. Selain letaknya yang agak jauh dari pedukuhan induk, apakah Kyai mempunyai alasan atau sebab yang lain?”

Ki Jalawangsa mengangguk-angguk. Katanya kemudian,”Tidak ada, Tuan. Tidak ada, itu pun hanya karena letaknya yang jauh dan mempunyai banyak jalan untuk keluar dari Tanah Perdikan.”

Ki Adiyasa menggeleng, lalu berkata sareh, ”Tidak ada jalan selain Kali Progo.”

Ki Jalawangsa mengerutkan keningnya. Benarkah? Pikirnya.

“Kyai,” lanjut Ki Adiyasa. “Tanah Perdikan Menoreh memang mempunyai batas alam yang jelas. Bentangan tanahnya hingga mencapai bangunan tua di sisi timur. Namun demikian, di sisi barat, tanahnya tidak mudah dilalui karena ada semacam dinding alam yang membatasi.”

Ki Adiyasa berhenti sejenak kemudian berkata lagi,”Lebih jauh, di sebelah selatan, kita akan mendekati pesisir selatan. Jalan setapak mungkin banyak. Jalan yang dapat dilalui oleh beberapa puluh orang tanpa menarik perhatian tentu berbeda persoalannya. Oleh sebab itu, saya sulit melihat Pudak Lawang sebagai tempat yang aman hanya karena letaknya jauh dari pedukuhan induk. Kedudukannya harus diperhitungkan bersama keadaan tanah di sekelilingnya. Jika orang-orang Tanah Perdikan telah memahami keadaan itu, mereka tidak perlu menempatkan pasukan dalam jumlah besar untuk mengawasi setiap jalan. Mereka cukup menguasai beberapa tempat yang menentukan.”

  • Rencana panjang Ki Adiyasa ini mungkin akan mewarnai sepanjang isi Waru Geni.
  • Pakaian Ki Widura mendadak terbakar  dan robek pada bagian dalam, sayatan memanjang terlihat jelas pada kain di bawah lengannya, dalam Jati Anom Obong 62.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.