0%
Still working...

Babi Ngepet? Benarkah?

Dironda 49 kali

Karang Binangun, 1925

Malam itu udara Karang Binangun terasa lebih dingin daripada biasanya. Kabut turun menyelimuti jalan tanah yang membelah persawahan. Sesekali terdengar suara burung malam dari rumpun bambu, disusul lolongan anjing yang saling bersahutan dari kejauhan.

Suryani baru saja pulang dari rumah bibinya. Perempuan berusia tiga puluh tahun itu berjalan seorang diri sambil membawa lampu minyak kecil. Kain panjangnya sedikit terangkat agar tidak menyapu tanah yang basah oleh embun. Dis sedikit mempercepat langkah karena malam telah jauh larut.

Ketika melewati sebuah rumah tetangganya, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada sesuatu bergerak di dekat dinding rumah.

Awalnya Suryani mengira seekor anjing sedang mencari sisa makanan. Namun, setelah memperhatikan lebih saksama, dia melihat seekor babi hitam berukuran cukup besar. Binatang itu berjalan merunduk, sesekali berhenti, lalu menggosokkan sisi tubuhnya pada dinding rumah seperti seseorang yang sedang membersihkan sesuatu dari pakaiannya.

Suryani mengerutkan kening. Daerahnya tidak banyak disambangi babi pada malam hari. Hutan pun terlalu jauh dari tempat mereka. Lagipula tidak ada kelaziman jika ada babi berkeliaran pada tengah malam, terlebih di sekitar rumah penduduk yang sudah lama mengunci pintu.

Binatang itu kembali bergerak. Moncongnya beberapa kali menyentuh tanah. Kemudian dia berhenti di dekat tiang pagar, mengangkat kepala, dan memandang ke arah jalan.

Suryani memadamkan lampu minyaknya. Ada sesuatu pada gerak-gerik binatang itu yang membuat tengkuknya meremang. Babi tersebut tidak tampak seperti binatang yang tersesat. Binatang itu bergerak dengan hati-hati, seolah-olah sedang menghindari perhatian orang lain.

Rasa takut sebenarnya telah menyuruh Suryani pulang. Namun, rasa ingin tahu ternyata lebih kuat. Dia menunggu sampai binatang itu kembali berjalan, lalu mengikutinya dari kejauhan.

Jalan yang ditempuh babi itu berbelok melewati pekarangan beberapa rumah, kemudian memasuki sebuah lorong sempit di antara kebun singkong dan rumpun pisang. Suryani menjaga jarak. Sesekali dia bersembunyi di balik batang pohon ketika binatang itu berhenti.

Hampir setengah jam kemudian, babi tersebut tiba di sebuah rumah yang cukup besar.

Rumah itu milik seorang pemuka agama yang dikenal oleh hampir seluruh penduduk Karang Binangun. Bangunannya berdinding papan dengan pendapa kecil di bagian depan. Sebuah lampu minyak masih menyala di salah satu jendela. Tidak ada suara percakapan ataupun tanda-tanda bahwa penghuninya sedang menerima tamu.

Suryani mengenali rumah itu kemudian menjadi heran ketika melihat babi tersebut menaiki beberapa anak tangga pendapa. Binatang itu tidak mengeluarkan suara. Setelah berhenti sebentar di depan pintu samping, binatang itu menyelinap masuk melalui celah yang ternyata tidak tertutup rapat. Pintu itu kemudian bergerak sedikit, lalu kembali diam.

Suryani menahan napas. Apakah mungkin orang itu memelihara babi ngepet? Tapi Suryani memilih untuk menunggu.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada suara dari dalam rumah. Tidak terdengar langkah kaki, dengusan, ataupun suara benda jatuh. Suryani bahkan sempat berpikir bahwa babi itu mungkin telah keluar melalui pintu lain.

Namun, ia tidak melihatnya.

Perempuan itu akhirnya memberanikan diri mendekati pagar. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat sebagian pendapa dan jendela yang masih memancarkan cahaya kekuningan. Tidak ada orang keluar.

Suryani menunggu lebih lama lagi. Sampai dia mendengar kokok ayam pertama dari arah timur. Cahaya pagi mulai merayap di balik pepohonan. Suryani pun memutuskan pulang dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan.

Pagi harinya, ketika matahari telah meninggi, Suryani kembali melewati rumah tersebut. Beberapa orang tampak menyapu halaman. Pemilik rumah terlihat duduk di pendapa, membaca sebuah kitab dengan sikap tenang.

Tidak ada seekor babi di halaman itu.

Suryani berhenti sebentar. Matanya mengamati pintu samping yang semalam dilalui binatang tersebut. Pintu itu sekarang tertutup rapat. Sebenarnya dia ingin bertanya, tapi apa yang ditanyakan? Asal babi? Piara babi?

Sejak malam itu, Suryani beberapa kali kembali melewati rumah tersebut pada waktu yang berbeda. Namun, dia tidak pernah menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan kejadian malam itu. Babi hitam yang dilihatnya tetap menjadi tanda tanya. Dia masih ingat benar cara binatang itu menggosokkan tubuhnya ke dinding, berjalan mengendap-endap, lalu menyelinap masuk melalui pintu samping rumah sang pemuka agama.

Pada malam-malam berikutnya, Suryani bahkan sengaja memperhatikan rumah itu dari kejauhan. Lampunya kadang menyala hingga larut malam, bahkan ada semaca cahaya keci yang tampak dari dalam rumah tetapi tidak pernah terlihat seekor babi keluar dari sana.

Hingga suatu ketika, dia mulai bertanya-tanya, apakah binatang yang dilihatnya malam itu benar-benar seekor babi, atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di balik dinding rumah tersebut? Andaikan benar babi, sampai seperti itukah pemilik rumah yang katanya sangat mengerti agama?

  • Beberapa langkah dari tempat Nyi Kirana bersimpuh, terlihat Ra Jumantara sedang merendahkan tubuh dengan seluruh jari tangan yang tertekuk melingkar seperti cakar harimau di Lereng Gunung Wilis 9.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.