0%
Still working...

Waru Geni 17 – Agung Sedayu dalam Bidikan

Dironda 66 kali

Wedaran sebelumnya: Sima Baya sadar bahwa ikatan Dusun Separang dengan Tanah Perdikan Menoreh sangatlah kuat. Maka untuk itu harus ada sebuah pemicu yang masuk akal atau yang benar-benar dapat menggerus kepercayaan Dusun Separang terhadap Tanah Perdikan Menoreh. Sesaat dia teringat pada yang pernah didengarnya sekilas tentang Dusun Benda.

“Ya. Dan orang-orang sekitar Dusun Separang pun tampaknya memperoleh limpahan pula,” kata Sima Baya. “Orang dapat bertukar barang dengan orang-orang kita dan itu mereka lakukan tanpa perlu berjalan jauh hingga Separang.”

Ki Ajar Ental Sewu mengangguk-angguk, lalu ucapnya, “Mereka juga tidak perlu banyak orang jika akan membuka lahan baru. orang-orang kita sudah cukup memberi bantuan.”

Sima Baya kemudian merenung lebih lama. Terbayang olehnya kebaikan yang selama ini diberikan kepada orang-orang Separang dapat menjadi landasan yang cukup untuk dapat diharapkan balasan pada saat yang tepat. Mereka telah memperoleh kemudahan dalam bertukar barang, mendapat bantuan ketika membuka lahan baru, dan tidak perlu bersusah payah mencari tenaga tambahan. Kelak, jika tiba waktunya, Sima Baya berharap orang-orang Separang bersedia memenuhi permintaannya sebagai balasan atas segala kemudahan yang telah mereka terima. Namun, untuk saat ini, dia memilih membiarkan hubungan itu tumbuh tanpa menyebutkan maksudnya terlebih dahulu.

Namun dia juga sadar, bahwa ikatan Dusun Separang dengan Tanah Perdikan Menoreh sangatlah kuat. Maka untuk itu harus ada sebuah pemicu yang masuk akal atau yang benar-benar dapat menggerus kepercayaan Dusun Separang terhadap Tanah Perdikan Menoreh. Sesaat dia teringat pada yang pernah didengarnya sekilas tentang Dusun Benda.

“Kyai,” kata Sima Baya. “Mungkinkah Dusun Separang itu dapat dipisahkan dari Tanah Perdikan?”

Ki Ajar Ental Sewu memandangnya cukup lama. “Apa yang sedang dipikirkan olehnya?” tanya Ki Ajar sambil membatin.

Karena tanggapan yang tidak lekas diberikan oleh Ki Ajar Ental Sewu, maka Sima Baya pun tahu diri. Dia tidak mendesak dengan pertanyaan lagi.

Demikianlah, kedua orang itu pun tenggelam dengan angan-angan masing-masing. Seorang sedang menyentuh wilayah yang sangat rawan: perpecahan. Sedangkan yang satu lagi justru sedang menunggu kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Matahari sudah mendekati tenggelam ketika tiba-tiba Ki Ajar Ental Sewu berkata, “Aku dapat memikirkan lagi usulan itu. Kita tidak dapat serta-merta melakukannya seperti yang sudahh-sudah. Harus ada pertimbangan dan sebagainya. Mungkin kita dapat mencegah Mataram memasuki perselisihan yang kau usulkan, tapi kekuatan Tanah Perdikan tetaplah sesuatu yang masih sangat berat untuk ditangani sendirian.”

Sima Baya menengadahkan wajah ke langit. Senja sudah semakin turun dan matahari hampir hilang di balik cakrawala.

Kemudian terdengar Ki Ajar Ental Sewu berkata lagi, “Mungkin sebentar lagi Menoreh juga memasuki senja seperti yang kita saksikan saat ini.”

Sima Baya mengerutkan kening lanas menatap lekat wajah Ki Ajar Ental Sewu. Itu pemikiran yang nyaris di luar jangkauannya, pikir Sima Baya.

“Benar,” ucap Ki Ajar kemudian, “tidak ada manusia yang dapat hidup selamanya. Demikian pula Ki Gede Menoreh. Jadi, aku pikir usulanmu yang sepintas lalu seperti asal saja ternyata ada benarnya.”

Sima Baya kemudian manggut-manggut. Katanya, “Tapi itu pun tidak dapat terlampau diharapkan, Kyai. Artinya jika kita menunggu kematian Ki Gede, bukankah sama dengan menunggu sesuatu yang tidak terukur kepastiannya? Maksud saya, Ki Gede pasti mati tetapi kapan?”

Ki Ajar kemudian terdiam. Pikirannya berpacu semakin cepat. Kemungkinan-kemungkinan yang muncul berdasarkan pengamatannya selama berada di Tanah Perdikan masih belum dapat menjadi jalan yang aman bagi kelompoknya.

Benar, Ki Ajar menghendaki bila akhirnya terjadi benturan dengan Mataram atau Tanah Perdikan, maka korban harus muncul dari keduanya, bukan dari kelompoknya. Maka jalan-jalan yang dapat dibayangkan olehnya pun timbul silih berganti. Mengorbankan Dusun Separang dan seisinya adalah hal yang paling mungkin ditempuhnya.

Dari tempat mereka berdua, menjelang malam, tampak beberapa orang memasang obor di sudut jalan dan di regol Dusun Separang.

“Pedukuhan kecil seperti Separang tampak mulai hidup,” berkata Ki Ajar Ental Sewu.

“Mereka masih menyiagakan perangkat keamanan seperti biasa,” sahut Sima Baya. “Tidak ada sedikit pun celah untuk mundur.”

“Mungkin itu pula yang menjadi sebab orang lain menjadi segan terhadap wilayah ini.”

“Apalagi ternyata bahwa Tanah Perdikan berulang kali dapat tegar berdiri meski mendapatkan tekanan yang hampir tidak berhenti,” kata Sima Baya, “atau belum menemukan kata berhenti.”

“Namun tetap sajalah pemimpin mereka sudah memasuki usia senja,” sahut Ki Ajar Ental Sewu. “Dia mungkin juga sudah lelah memimpin wilayah ini.”

“Suatu perencanaan yang masak haru sbenar-benar dipersiapkan. Karena jika pendengaran ini benar, Swandaru tidak lagi berada di Tanah Perdikan. Hal itu berarti Pandan Wangi hanya seorang diri menguasai dan mengelola wilayah yang sangat luas ini. Dan seorang perempuan, apakah dapat memimpin tanpa menuruti perasaan?” ucap Sima Baya. “Saya kira kita mendapatkan jalan masuk dari sana, Kyai.”

Ki Ajar Ental Sewu mengangguk-angguk, diam sejenak lalu berkata, “Jangan lupakan Agung Sedayu.”

Sima Baya mengerutkan kening. “Menurut kabar yang saya dengar, Agung Sedayu bukan orang Perdikan. Dia berasal dari Jati Anom dan tidak mempunyai hak untuk ikut mengelola wilayah ini.”

“Itu benar,” sahut Ki Ajar,” tapi Sedayu sudah tinggal puluhan tahun di sini, di tempat ini. Jadi, aku kira sangat berbahaya bila engkau tiba-tiba mengabaikan keberadaannya.”

Kening Sima Baya tampak berkerut. Agaknya dia memang mengingat peringatan Ki Ajar Ental Sewu. Sekalipun bukan orang asli dan tidak mempunyai hak memerintah Tanah Perdikan, Agung Sedayu adalah salah satu orang yang bisa memicu berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

Untuk beberapa saat bagian samping perkemahan itu menjadi sunyi. Agaknya masing-masing kembali membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam hati.

Ki Ajar Ental Sewu rupanya menyadari bahwa memantik perpecahan di Tanah Perdikan bukan hal yang sederhana meskis angat menjanjikan. Tidak tergantung pada Pandan Wangi seorang, tetapi ada pula Agung Sedayu dan kerabat dekat Ki Gede Menoreh. Jika mereka hanya tergantung pada sosok Pandan Wangi saja, lalu bagaimana cara untuk mendekati dan meraih kepercayaannya? Ini sudah barang tentu bukan perkara mudah.

Bagaimana bila mereka mengambil kerabat dekatnya sebagai sekutu? Ki Ajar Ental Sewu telah banyak mendengar sepak terjang keluarga Ki Gede di Tanah Perdikan, dan tentu saja itu akan menjadi jalan yang paling sulit. Ki Gede beserta keluarganya terlalu terjal jika ditaklukkan melalui lingkaran dekatnya. Serba sedikit, Ki Ajar Ental Sewu pun mengetahui sejarah lama di Tanah Perdikan yang melibatkan Ki Argajaya waktu itu.

Mematikan Ki Gede dengan cara diracuni?

“Masuk ke dalam lingkungan dekat mereka sudah menjadi hal yang paling sulit,” desis Ki Ajar Ental Sewu di dalam hatinya, “aku tidak mempunyai perempuan. Seluruhnya adalah laki-laki lalu masuk sebagai tenaga bantuan kasar? Ki Gede tidak kekurangan orang sama sekali.”

Bagi Ki Ajar Ental Sewu sendiri, waktu bukanlah perkara yang paling menentukan. Dia tidak harus dan tidak perlu pula tergesa-gesa mengambil keputusan, sebab setiap langkah yang keliru justru dapat membuka jalan bagi Agung Sedayu dan orang-orang dekat Ki Gede untuk mencium maksud sebenarnya.

Jika dia harus menunggu, maka sebulan atau dua bulan tentu bukan masalah besar baginya karena mereka sendiri pun sudah berada di Tanah Perdikan cukup lama. Maka penantian itu haruslah dapat menemukan jalan yang tepat untuk memasuki lingkungan Ki Gede Menoreh tanpa kecurigaan. Baginya, lebih baik membiarkan keadaan berjalan sambil mengamati hubungan di antara orang-orang dekat Ki Gede.

“Sepertinya aku tidak dapat memaksakan jalan agar tersedia,” ucap Ki Ajar dalam hati. “Tetapi mengalir saja dengan mengikuti kebiasaan yang ada.”

Baginya kini yang terpenting adalah pertimbangan waktu. Ki Ajar Ental Sewu merasa bahwa mereka tidak dapat terlalu lama menunggu sampai Ki Gede dijemput ajal. Kesempatan untuk mendekati lingkungan Ki Gede Menoreh mungkin tidak selalu terbuka.

“Untunglah bahwa selama ini kita belum menarik perhatian orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Ajar Ental Sewu. “Beberapa orang sudah mulai mengenal kehadiran kita di sekitar Dusun Separang. Namun mereka belum mengetahui maksud kita yang sebenarnya.”

Sima Baya mengangguk lalu katanya, “Tetapi semakin lama kita berada di sini, semakin besar pula kemungkinan orang-orang Menoreh memperhatikan gerak-gerik kita. Apalagi jika kita mulai mendekati lingkungan Ki Gede.”

“Justru itulah yang sedang aku pertimbangkan,” sahut Ki Ajar Ental Sewu. “Kita tidak dapat datang begitu saja dan memperlihatkan keinginan untuk menjadi bagian dari lingkungan mereka. Ki Gede memang tampak bersahabat dan terbuka dengan semua orang, tapi itu karena kedudukannya. Tidak dapat diartikan sebagai orang yang mudah menerima seseorang hanya karena orang itu memperlihatkan sikap bersahabat.”

“Apakah kita harus mencari jalan melalui orang-orang yang lebih dahulu mengenal kita?” bertanya Sima Baya.

Ki Ajar Ental Sewu mengangguk. “Itu juga mengandung bahaya. Mungkin juga tidak. Bila kita harus menemukan seseorang penghubung, setidak-tidaknya, kehadiran kita tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang asing apabila kelak kita mempunyai kepentingan untuk datang ke rumah Ki Gede.”

Sima Baya terdiam sejenak. Kemudian katanya, “Tetapi lingkungan Ki Gede tentu tidak hanya terdiri dari orang-orang yang tinggal di rumah induk. Ada pula orang-orang yang mempunyai hubungan dekat dengannya. Bahkan beberapa di antara mereka tentu mempunyai kewaspadaan yang lebih tinggi daripada orang kebanyakan.”

“Benar,” jawab Ki Ajar Ental Sewu. “Karena itu, kita harus mengenali lingkungan mereka terlebih dahulu. Siapa yang sering datang, siapa yang mempunyai pengaruh, dan kepada siapa Ki Gede biasa mendengarkan pendapat.”

“Dengan demikian, kita tidak perlu tergesa-gesa?”

“Tidak. Aku justru tidak ingin langkah pertama kita menimbulkan kecurigaan. Kita harus mendekat sedikit demi sedikit. Jika mereka telah terbiasa melihat kita, barulah kita dapat mencari jalan untuk masuk lebih jauh ke dalam lingkungan Ki Gede Menoreh.”

Sima Baya mengangguk-angguk. Namun kemudian dia berkata, “Kyai, orang-orang Menoreh agaknya tidak sedang berada dalam keadaan lengah. Beberapa kejadian terakhir tentu membuat mereka lebih berhati-hati terhadap orang yang belum mereka kenal.”

Ki Ajar Ental Sewu menarik napas panjang.

“Maka itu berarti kita tidak boleh membuat kesalahan. Kita harus dapat membedakan antara orang yang sekadar menerima kehadiran kita dengan orang yang benar-benar bersedia membuka jalan bagi kita.”

“Seperti sedang mencari jarum di tumpukan jerami,” kata Sima Baya perlahan.

“Persis,” tegas Ki Ajar.

  • Tepat! Anda sedang berada pada bacaan bertempo lambat, Waru Geni.
  • Begitu hebat dan sengit Dharmana mempertahankan kedudukannya, Ki Dirgasana pun tak lagi menganggap perkelahiannya sebagai pemanasan di Kiai Plered 42.
  • “Baiklah,” kata Ken Arok kemudian, ”apa yang kau inginkan?” Jalur Banengan 4

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.