0%
Still working...

Waru Geni 16 – Bayangan Perguruan Sadapati

Dironda 45 kali

Wedaran sebelumnya: Swandaru tidak harus mengulang semuanya dari awal, tetapi perlu mempelajari beberapa tambahan serta membangun kembali ketenangan pikiran dan kesadaran untuk menempatkan dirinya secara tepat. Penjelasan itu menumbuhkan harapan baru bagi Pandan Wangi dan Kinasih terhadap masa depan Swandaru.

“Ki Gede, akhirnya tibalah kita pada waktu yang menentukan masa depan Sangkal Putung,” ucap Agung Sedayu kemudian. “Sudah barang tentu saya dan mereka tidak dapat membiarkan keadaan ini berjalan tanpa garis besar dan seorang pemimpin. Ketika saya kembali ke sana, saya berharap pembicaraan sudah berkembang lebih jauh daripada sebelumnya.”

Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu menyambung lagi, “Untuk membuka dan menyampaikan persoalan, saya kira setelah seratus hari peringatan Ki Demang maka pembicaran sudah dapat dimulai.”

“Seperti itulah seharusnya, Ngger,” sahut Ki Gede. “Mereka sudah terlalu lama untuk seratut hari tapi tidak ada yang dapat dilakukan dalam batas waktu itu. Tiga bulan juga tentu sangat melelahkan Sekar Mirah dan juga Swandaru selama masih belum jelas kepemimpinan Sangkal Putung.”

Dan Agung Sedayu pun menyampaikan pokok-pokok pikirannya termasuk dua nama yang disebut-sebut cukup pantas menggantikan Ki Demang Sangkal Putung.

“Jadi, kami di Tanah Perdikan, dapat menunggu pemimpin baru itu dalam seratus hari? Sekitar lima puluh hari dari sekarang?” bertanya Pandan Wangi.

“Benar dan marilah berharap untuk itu,” jawab Agung Sedayu. “Itu adalah masa yang cukup lama.”

Hari-hari pun berganti. Agung Sedayu telah kembali dari Sangkal Putung setelah penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan kepemimpinan di sana.

Sementara itu, keadaan di Tanah Perdikan Menoreh masih belum banyak berubah. Pengawasan tetap dilakukan dengan ketat, terutama terhadap pergerakan orang-orang yang dicurigai berada di sekitar Dusun Benda. Para petugas sandi masih menjalankan tugas mereka, sedangkan pasukan yang ditempatkan di beberapa pedukuhan tetap memperhatikan keadaan dengan sangat cermat dan teliti. Selain itu, tidak ada tanda-tanda bahwa tekanan tersebut akan segera berakhir.

Ki Jayaraga sendiri mulai agak longgar dengan pengawasannya di Dusun Benda karena bantuan Sukra dan juga Sayoga. Maka pada awal malam itu, dia mempunyai banyak kesempatan untuk bicara dengan Agung Sedayu.

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana tenang. Ki Jayaraga menyampaikan perkembangan yang diketahuinya selama berada di sekitar Dusun Benda, termasuk keadaan orang-orang yang masih menjadi perhatian mereka. Agung Sedayu mendengarkan dan menimbang setiap keterangan yang disampaikan padanya itu.

“Apakah Kyai mempunyai perkiraan sendiri mengenai keberadaan rumah itu?’ tanya Agung Sedayu setelah Ki Jayaraga selesai bicara.

“Jika maksud Angger adalah penyewa rumah, saya hanya mendengar nama Ki Adiyasa, seorang pedagang keliling antardaerah yang banyak dibicarakan orang,” kata Ki Jayaraga. “Maksud saya, apakah benar orang itu adalah pedagang atau bukan? Saya belum mengetahuinya lebih jauh.”

Agung Sedayu mengernyitkan kening sambil menatap Ki Jayaraga. Dia bukan tidak percaya, tapi bagaimana Ki Jayaraga terhenti dari pengamatannya itu?

“Benar, Ngger,” ucap Ki Jayaraga seolah tahu jalan pikiran Agung Sedayu. “Pengamatan saya hanya sebatas itu. Bukan karena dia tidak dapat diamati tetapi karena dia memang tidak pernah tampak keluar dan masuk rumah maupun pedusunan.”

“Aneh,” gumam Agung Sedayu. “Seorang pedagang keliling tapi tidak diketahui pergerakannya.”

Ki Jayaraga mengangguk. “Itulah, Ngger, yang tampak oleh kami adalah pergerakan orang per orang dengan membawa bakulan atau banyak pikulan. Yang menarik adalah mereka jarang menggunakan pedati. Jadi terbersit dalam pikiran saya adalah mungkinkah mereka hanya berjalan sebatas satu atau dua dusun saja? Dan saya kesulitan mendapatkan jawaban karena setiap hari, hampir setiap hari yang keluar dan masuk selalu orang yang berlainan.”

“Jadi, menurut Kyai?” tanya Agung Sedayu dengan kerut kening yang makin dalam.

“Menunggu,” sahut Ki Jayaraga. “Kita hanya dapat menunggu ada kesalahan atau langkah yang keliru dari mereka.”

Agung Sedayu memandang lekat wajah guru Glagah Putih itu, lalu tersenyum dan berkata, “Sepertinya Kyai sudahh mencium gelagat pertempuran sandi.”

Ki Jayaraga tertawa kecil lantas berucap, “Tidak seperti itu tetapi seperti itu pula.”

Setelah mengutarakan beberapa pandangannya, Agung Sedayu kemudian mengalihkan pembicaraan ke Sangkal Putung. Kali ini Ki Jayaraga tekun menyimak penuturan senapati Mataram tersebut.

Swandaru adalah orang yang mendapat perhatian penuh dari Ki Jayaraga. Meski tidak sedalam dan sejauh pengenalan Kyai Gringsing, tetapi Ki Jayaraga juga menyimpan rasa hormat dan sayang pula pada adik seperguruan Agung Sedayu itu.

Menurutnya, sebesar-besar kesalahan Swandaru dan sejauh penyimpangan yang pernah dilakukannya, itu masih dalam batas yang wajar. Ki Jayaraga berpendapat seperti itu karena dapat juga pernah mengalami kejadian yang serupa tapi tak sama. Sakitnya seorang guru pernah dirasakannya, tetapi kasih sayang seorang guru pada murid pun tak kalah besarnya. Meski tidak memaklumi kekeliruan Swandaru, tapi dia mempunyai cara pandang yang berbeda.

Bahkan dia pun keberatan dengan keputusan Agung Sedayu saat memasung kekuatan adik seperguruannya itu.

“Tapi bila Angger memang berpendapat itu memang perlu dan juga akan mengembalikan kemampuannya, saya pikir itu semua juga wajar,” kata Ki Jayaraga. “Saya tidak sedang berandai-andai Kyai Gringsing masih hidup, tetapi saya dapat merasakan keberatan sekaligus kelegaan beliau.”

“Saya, Kyai,” ucap Agung Sedayu sambil menunduk dalam-dalam.

Ingatan Masa Lalu Ki Ajar Ental Sewu

Sementara itu, pada waktu yang berlainan, Ki Ajar Ental Sewu mengenang sebagian yang diingatnya dari masa silam.

“Aku tidak mengenal begitu baik orang yang bernama Ki Demang Sangkal Putung,” katanya. “Yah, sedikit sekali yang aku tahu dan itu tidak lebih dari ayah dari Swandaru, saudara seperguruan Agung Sedayu.”

“Lalu, bagaimana rencana Kyai selanjutnya?” tanya Sima Baya.

“Jika kita menimbang kekosongan barak saat gadis itu mengalahkan orang yang katanya sangat mumpuni, itu artinya barak Agung Sedayu tidak pernah kosong dari orang-orang yang tangguh,” jelas Ki Ajar Ental Sewu.

Kemudian dia menghitung orang-orang yang dibawanya serta dari Perguruan Sadapati. Sesaat dia merenung lalu bergumam, “Kita dapat selamat dari terkaman Mataram karena selama ini lebih banyak diam. Yah, sekalipun ada benturan tapi kita tidak benar-benar menghabiskan tenaga karena itu.”

Sima Baya mengangguk lalu mengenang pecahnya gerbang barat pasukan khusus.

“Satu demi satu perguruan tumbang di Tanah Perdikan ini,” lirih ucap Ki Ajar Ental Sewu.

“Benar, Kyai,” sahut Sima Baya. “Saya sempat berharap pecahnya perkelahian terakhir itu dapat membuat Agung Sedayu menjadi kenangan, tapi harapan itu kemudian tertinggal.”

“Tetapi bila kita menghantamnya sekarang, ratusan prajurit Mataram baru saja mengisi barak pasukan khusus tentu tidak akan tinggal diam,” lanjut Ki Ajar Ental Sewu. “Mereka datang dari berbagai penjuru dengan satu tujuan. Maka aku pikir jika kita salah langkah, bukan Agung Sedayu seorang yang menjadi lawan kita tapi juga Mataram.”

“Tetapi perjuangan Ki Ajar Tal Pitu tidak dapat dibiarkan berlalu tanpa jejak, Kyai,” berkata Sima Baya kemudian. “Ki Ajar Tal Pitu sudah mencapai puncak ilmu perguruan kita, lalu Sedayu datang untuk menghentikan maka rasa-rasanya saya ingin sekali membalasnya pada hari ini.”

“Ya,” ucap Ki Ajar Ental Sewu sambil mengangguk, “tapi tentu itu bukan perkara mudah dengan alasan yang baru saya kita ungkapkan.”

“Yah, memang tidak mudah,” sahut Sima Baya.

Demikianlah maka keduanya pun melanjutkan pembicaraan mengenai kemungkinan asal dan titik serangan atau sesuatu yang dapat mengguncang Tanah Perdikan tanpa mengusik Mataram.

Sejauh ini, perjalanan mereka berderap di atas tanah dan perbukitan Menoreh dengan cara yang tidak biasa. Kelompok Perguruan Sadapati memang agak berbeda dengan perguruan lain. Mungkin mereka belum mendapatkan kesempatan atau terlalu berhati-hati sehingga kelompok mereka sampai tidak dianggap berbahaya oleh pengawal Tanah Perdikan.

Mereka tetap bergaul, turun ke sungai, berjalan ke pasar dan tempat-tempat lain tapi tidak ada perbuatan atau sikap mereka yang mencurigakan. Ini tentu berbeda dengan kelompok Ki Winih Jambe maupun Ki Surongudan yang terang-terangan menantang Agung Sedayu di depan barak pasukan khusus.

“Perkampungan kita memang cukup sepi,” kata Ki Ajar Ental Sewu. “Jika ada yang melihat dari kejauhan, maka perkampungan kita memang tampak biasa saja. Namun begitu, sejauh ini memang jarang ada orang yang mendekat sehingga kita tetap dalam batas aman. Latihan tetap berlangsung seperti biasanya.”

  • Sejauh ini, perjalanan mereka berderap lambat di Waru Geni.
  • Orang yang dipanggil dengan sebutan Ki Rangga bergegas memutar, lalu menghampiri pemanggilnya. “Ki Sangayudan?” tanya rangga itu saat Bara di Bukit Menoreh 36.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.