Dironda 130 kali
Wedaran sebelumnya: Pandan Wangi dan Kinasih membicarakan kemungkinan orang-orang yang dahulu berada di wilayah liar sekitar Dusun Benda telah kembali secara sembunyi-sembunyi dan kini bergerak dalam kelompok kecil atau seorang demi seorang.
Pada bagian lain, Ki Kamejing tidak berusaha mengubah keadaan tersebut. Baginya, Ki Suradipura dan segala persoalan yang mulai tumbuh di Sangkal Putung bukanlah tujuan utama. Dia memiliki kepentingan sendiri yang harus diselesaikan dengan perhitungan cermat. Karena itu, dia mulai mengarahkan perhatiannya kepada Sekar Mirah.
Pendekatannya tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
Seratus hari itu masa yang tepat baginya untuk memahami sikap keseharian dan kebiasaan Sekar Mirah. Tanpa perlu menimbulkan kecurigaan pada orang-orang dekat Sekar Mirah atau lingkungan rumah, Ki Kamejing dapat memanfaatkan kedudukannya di sisi Ki Suradipura. Maka untuknya selalu ada alasan yang wajar untuk mendekati perempuan itu lalu membuka jalan bagi kepercayaannya. Untuk sementara, dia menahan diri agar tetap menjaga jarak dengan Sangkal Putung.
Pada suatu kesempatan, ketika Sekar Mirah sedang mengurus beberapa keperluan di rumahnya, Ki Kamejing datang dengan sikap yang tenang. Dia tahu bahwa perempuan itu sudahh mempunyai suami, tapi bukankah kepentingannya adalah tongkat Ki Jambuwok? Tetapi Ki Kamejing cukup sadar diri dengan tidak langsung membicarakan maksud kedatangannya. Sebaliknya, dia menanyakan keadaan Sangkal Putung setelah Ki Demang wafat, lalu menyampaikan beberapa pendapat tentang beratnya tanggung jawab Ki Suradipura dan sebagainya.
Setelah pertemuan berulang, Ki Kamejing cukup percaya diri untuk mengatakan lebih terbuka pada Sekar Mirah.
“Beban yang jatuh kepada Ki Tumenggung Agung Sedayu tentu tidak ringan,” katanya. “Apalagi, Nyi Sekar Mirah sekarang harus mengurus banyak hal di Sangkal Putung. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan nama besar keluarga.”
Sekar Mirah memandangnya sejenak. Dia tidak membantah. Orang itu mengatakan yang sebenarnya. Sejak ayahnya wafat, dia telah merasakan sendiri bahwa kedudukan dan nama keluarga tidak selalu memudahkan seseorang menyelesaikan persoalan.
“Yah, seperti itulah, Ki Sanak,” kata Sekar Mirah. “Setiap orang tentu mempunyai bebannya sendiri.”
Ki Kamejing mengangguk dan menerima jawaban itu tanpa keberatan. Dia tidak berusaha mendesak Sekar Mirah agar berbicara lebih jauh. Beberapa saat kemudian, percakapan mereka beralih kepada hal-hal lain yang tidak terlalu penting sebelum akhirnya berpamitan.
Bagi Sekar Mirah, pertemuan itu tidak meninggalkan kesan yang berarti. Ki Kamejing tidak mengatakan sesuatu yang patut dicurigai, apalagi mengajukan permintaan yang membuatnya harus bersikap waspada.
Namun, bagi Ki Kamejing, percakapan singkat itu sudah cukup untuk menjadi langkah awal. Setidaknya dia telah membuka jalan untuk pertemuan-pertemuan berikutnya tanpa membuat Sekar Mirah merasa sedang didekati untuk suatu kepentingan tertentu.
Di Tanah Perdikan, keadaan mulai mendapat warna baru ketika Kinasih kembali dari Kotaraja. Perjalanannya membawa keterangan yang sangat berarti bagi Tanah Perdikan dan Pandan Wangi.
Dari Kotaraja, Kinasih mengetahui bahwa Ki Adiyasa ternyata seorang tumenggung Mataram yang telah kehilangan anaknya, Jatayu.
Kabar itu menambah pengetahuan mereka tentang Ki Adiyasa. Sosok yang selama ini mereka kenal ternyata menyimpan latar belakang yang rupanya berbeda dengan keterangan awal: pedagang.
Selain itu, nama Jatayu pun menimbulkan pertanyaan baru bagi Pandan Wangi. Tapi perempuan ini mulai dapat meraba persoalan yang sedang dihadapi di Tanah Perdikan.
“Kali ini, Mbokayu ingin mendengar pendapatmu, Cah Ayu,” kata Pandan Wangi pada Kinasih saat mereka duduk berdampingan pada sore hari yang sejuk.
Kinasih tersenyum. “Sebenarnya tidak pantas jika saya memberi pendapat, Mbok. Saya ini lebih muda dan tak ada banyak pengalaman. Jadi, bagaimana memberikan pendapat?”
Pandan Wangi meraih tangan Kinasih lalu berkata, “Sudahlah, kami semua tahu yang engkau perbuat untuk Tanah Perdikan.”
Suasana hening sesaat.
“Menurut saya, akan tetap terjaga dengan baik jika kita tidak membuka kedoknya secara langsung dan terang-terangan,” kata Kinasih kemudian.
“Sampai dia menyatakan maksud sebenarnya?”
Kinasih mengangguk, katanya, “Persis. Tanpa mengajari Mbokayu yang jelas lebih paham mengenai persoalan ini, kita biarkan saja orang itu berbuat semaunya. Maksud saya, Ki Adiyasa boleh berdagang, boleh menemui setiap orang yang dikehendakinya dan apa saja asal bukan kerusuhan. Dan juga….”
Pandan Wangi mengerutkan kening.
“Dan juga tidak merepotkan Ki Tumenggung Agung Sedayu yang sibuk dengan kedatangan dan pelatihan para prajurit baru,” lanjut Kinasih.
Sejenak Pandan Wangi memandang Kinasih. Tidak sekadar itu, pikirnya. Kinasih terlalu mengerti untuk sekadar tahu kesibukan Agung Sedayu di barak dan juga sisi lainnya. Tetapi menyebut kegiatan di barak saat sedang ada pembicaraan tentang Ki Adiyasa, adakah sesuatu yang disembunyikannya? Meski dapat menduga, tapi Pandan Wangi akhirnya memilih diam.
Perlahan-lahan Pandan Wangi menarik napas. Dia meyakinkan diri bahwa dirinya tidak sedang berlomba dengan Kinasih maupun Sekar Mirah. Tidak, itu sesuatu yang sangat gila bila dilakukan, pikirnya.
Setelah berusaha keras menundukkan gejolak hatinya, Pandan Wangi kemudian berkata, “Jika seperti itu, membiarkan Ki Adiyasa, apakah engkau membiarkan dalam arti sebenarnya? Tidak sebatas hanya kerusuhan?”
Kinasih yang belajar dari pengalaman yang sudah-sudah pun dapat mengerti arah pembicaraan Pandan Wangi. Lantas dia membeberkan beberapa rencana, yang menurutnya, tidak sempurna.
Pandan Wangi mendengarkan dengan cermat sambil sekali-kali mengangguk. Akhirnya dia dapat menangkap kegelisahan Kinasih yang sebenarnya sudahh jenuh juga dengan keadaan di Tanah Perdikan yang cukup jauh dari rasa aman. Maka dia berterima kasih pula di dalam hati karena ternyata gadis itu justru bertekad sangat kuat untuk mencegah keributan yang mungkin terjadi.
Dalam waktu itu, Pandan Wangi bertanya pula Kinasih, “Jadi, menurutmu, orang-orang di Dusun Benda itu adalah pengikut Ki Adiyasa?”
Kinasih menarik napas dalam-dalam lalu berkata dengan hati-hati, “Saya tidak dapat memastikan, sebenarnya. Mbokayu, saya berpikir itu karena juga keterangan dari Ki Jayaraga. Bahwa mereka tiba-tiba menjauh dan wilayah yang liar itu mendadak sepi. Jadi, dengan begitu, saya pikir mereka memang telah kembali ke Dusun Benda secara sembunyi-sembunyi. Atau setidaknya tidak lagi berangkat berkelompok dan berjumlah besar.”
“Begitulah, aku kira kita sependapat. Mereka kembali ke Dusun Benda dalam jumlah kecil atau seorang demi seorang,” sahut Pandan Wangi. Dia masih menyimpan satu hal yang menurutnya patut diperhatikan.
“Sejauh ini, belum ada tanda-tanda kegiatan yang dapat menunjukkan bahwa rumah sewaan itu dihuni oleh banyak orang,” katanya. “Belum terlihat kegiatan memasak dalam jumlah besar, misalnya. Padahal, jika orang-orang itu benar-benar berkumpul di sana, tentu mereka membutuhkan makanan yang tidak sedikit.”
Kinasih mengerutkan kening kemudian bertanya, “Memasak dalam jumlah besar itu, apa ukurannya, Mbokayu?”
Pandan Wangi tersenyum lalu menjawab, “Yah, memasak seperti kita bila mempunyai kegiatan besar di rumah. Selamatan atau bancakan, misalnya. Perhatikan kebutuhan mereka. Beberapa orang yang berjualan di sekitar rumah itu, ketika ditanya oleh pengawal Tanah Perdikan, mengatakan orang-orang dari rumah itu tidak pernah membeli bahan-bahan dalam jumlah besar. Jadi, Cah Ayu, jika penghuni rumah itu memang bertambah, seharusnya ada perubahan dalam kebutuhan sehari-hari mereka.”
Kinasih mengangguk-angguk dan berusaha memahami arah pikiran Pandan Wangi sebelum kemudian bertanya, “Mungkinkah bahan-bahan itu dipasok dari Kotaraja, Mbokayu? Dengan begitu, mereka tidak perlu membeli apa-apa dari para pedagang di sekitar rumah itu.”
“Bila seperti itu,” sahut Pandan Wangi lalu berdiam cukup lama karena tanggapan Kinasih itu ada benarnya. Ada kemungkinan yang belum terpikirkan olehnya pula.
“Mungkin saja,” kata putri Ki Gede Menoreh itu kemudian. “Kita akan kembali atur ulang penjagaan dan pengawasan di beberapa tempat.”
- Kinasih menarik napas dalam-dalam lalu berkata dengan hati-hati,”Anda sedang membaca bab 10 atau buku ketujuh Kitab Kyai Gringsing, Waru Geni.”
- Kiai Plered 48 menceritakan jalannya pertempuran yang gencar. Selagi jarinya mengincar Sayoga, Ki Dirgasana pun menebas silang Ki Panuju. Gerakan itu betul-betul hebat!
- Dalam keadaan itu, perkelahian Bondan dengan Ra Jumantara telah berkembang semakin berbahaya dan cepat ketika meletus benturan di lereng Gunung Wilis 3.
