Dironda 74 kali
Wedaran sebelumnya: Swandaru masih memilih diam karena menyadari ganjalan yang ada pada dirinya. Hingga matahari condong ke barat, kesepakatan belum tercapai sehingga pertemuan ditunda sampai keesokan hari, meninggalkan persoalan yang masih harus diselesaikan.
Malam itu, Sekar Mirah dan Agung Sedayu berbincang ringan di pringgitan. Setelah seharian sibuk mengurus berbagai keperluan para tamu, mereka akhirnya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat.
Tidak lama kemudian, Swandaru masuk dan duduk tidak jauh dari mereka.
Melihat Swandaru, Agung Sedayu menawarkan wedang jahe dan sedikit makanan. Swandaru tidak menolak sambutan kakak seperguruannya. Suasana memang belum cair dan mereka bertiga rupanya agak kikuk karena beberapa hal.
Tak lama kemudian, Agung Sedayu mengungkap sejumlah mengenai Sangkal Putung kepada Swandaru, jalannya pertemuan dan pendapat orang-orang yang hadir.
Swandaru duduk mendengar lalu memberi tanggapan seperlunya. Sekalipun sikapnya cukup tenang, tetapi dia tidak dapat menyembunyikan kegelisahan dalam hatinya, terlebih dari Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Namun demikian, dia juga paham bahwa tidak semua keadaan akan kembali seperti semula. Ada waktu yang mereka butuhkan untuk itu.
“Apakah sudah ada nama yang kau inginkan?” tanya Agung Sedayu kemudian.
Swandaru terdiam sejenak. Dia lalu menjawab, “Belum, Kakang. Meskipun, kalau harus menyebut satu nama, ada kecenderungan bagi saya untuk memilih Ki Jaya Binangun.”
“Kenapa?” tanya Sekar Mirah.
Swandaru menarik napas panjang sebelum menjawabnya. Kemudian katanya, “Aku tidak tahu apakah karena aku benar-benar menganggapnya paling pantas atau karena hubungan kami pada masa lalu. Aku sudah mengenalnya cukup lama. Mungkin kedekatan itu membuatku lebih mudah mempercayainya.”
Sekar Mirah memandangnya sedikit lama, seolah sedang meraba maksud dari kedekatan itu.
“Jika demikian, mungkin itu bukan pertimbangan yang tepat untuk mengukur timbangan,” kata Sekar Mirah. “Ki Jaya Binangun mungkin memang pantas. Tetapi, tentu ada pula alasan orang-orang menyebut nama Ki Suradipura.”
Swandaru mengangguk perlahan dan pasti.
“Oleh sebab itu,” katanya, “aku tidak ingin tergesa-gesa memberi pertimbangan pada banyak orang. Besok aku akan mendengarkan lagi pendapat mereka.”
“Sebaiknya begitu,” sahut Sekar Mirah. “Yang akan menerima adalah seluruh Sangkal Putung dari yang sekarang sampai masa mendatang. Kakang tidak dapat memberi pertimbangan hanya karena kedekatan dengan sebab tertentu. Ada kepercayaan yang sudah tumbuh selama bertahun-tahun dengan segala luka yang ada, tetapi Sangkal Putung tetaplah Sangkal Putung yang masih membutuhkan Kakang.”
Agung Sedayu memandang istrinya sekilas. Perkataan Sekar Mirah terasa sederhana, tetapi ada sesuatu yang lebih mendalam di baliknya. Sekar Mirah sedang menempatkan Swandaru pada kedudukan yang sesungguhnya. Bukan semata-mata sebagai anak Ki Demang yang telah meninggal atau orang yang berhak menentukan pilihan karena hubungan keluarga, tetapi juga sebagai orang yang masih mempunyai tanggung jawab terhadap Sangkal Putung.
Swandaru mungkin tidak lagi menjadi pemimpin kademangan, tetapi bukan berarti haknya telah hilang. Ada sebab lain yang membuatnya tidak berada pada kedudukan itu. Keadaan yang lain adalah dia tetap menjadi salah seorang yang akan menentukan arah Sangkal Putung. Pengaruhnya masih luas, dan selama orang-orang masih memandangnya sebagai bagian dari harapan mereka, Swandaru tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari tanggung jawab tersebut.
Baik Agung Sedayu maupun Sekar Mirah tampaknya sepakat dengan pandangan itu meski mereka tidak mengucapkannya di depan Swandaru.
Keesokan harinya, orang-orang kembali berdatangan ke rumah Ki Demang Sangkal Putung. Seperti hari sebelumnya, mereka berkumpul di pendapa untuk melanjutkan pembicaraan yang belum menghasilkan keputusan.
Di antara mereka, tampak pula beberapa orang yang belum dikenal oleh sebagian bebahu kademangan. Namun, kehadiran mereka tidak banyak dipersoalkan. Barangkali mereka kerabat salah seorang pemimpin pedukuhan atau orang-orang yang datang bersama rombongan dari tempat lain, begitulah kebanyakan isi pikiran orang-orang. Terlebih lagi orang-orang asing itu juga tampak menyatu dengan suasana sehingga tidak ada alasan untuk curiga.
Pembicaraan pun berlanjut.
Nama Ki Jaya Binangun dan Ki Suradipura kembali disebut, disertai alasan dan pertimbangan masing-masing. Beberapa orang mengemukakan pendapat yang telah mereka sampaikan sehari sebelumnya, sementara yang lain menambahkan pandangan baru. Suasana tetap tenang, sesekali diselingi percakapan kecil ketika seseorang meminta penjelasan kepada orang di sebelahnya.
Di tengah pembicaraan itu, salah seorang yang belum dikenal tadi tampak mendekati bebahu dari Janti. Dia membungkuk sedikit dan membisikkan sesuatu. Bebahu itu mendengarkan, kemudian menjawab dengan suara pelan. Tidak ada yang tampak ganjil dari kejadian itu.
Dalam pertemuan yang dihadiri begitu banyak orang, percakapan kecil semacam itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sementara itu, pembicaraan di pendapa terus berlangsung, membicarakan orang yang kiranya paling tepat memikul tanggung jawab atas Sangkal Putung.
Di sela pembicaraan yang masih berlangsung, Ki Jaya Binangun dari Pedukuhan Janti tiba-tiba berdiri. Beberapa orang segera menghentikan percakapan dan memandang kepadanya.
“Ki Suradipura,” katanya setelah membuka percakapan pribadinya, “saya ingin menyampaikan sesuatu sebelum pembicaraan ini berlanjut lebih jauh.”
Dia berhenti sejenak lalu memandang semua orang yang hadir.
“Saya tahu bahwa nama saya sudahh dan dalam pertimbangan untuk memimpin Sangkal Putung. Namun, setelah mendengarkan pendapat saudara-saudara sekalian sejak kemarin, saya merasa perlu untuk mempertimbangkan kembali kesanggupan. Usia tentu membawa perubahan. Tenaga tidak lagi seperti dahulu, dan kesehatan pun tidak selalu dapat diandalkan.”
Ki Jaya Binangun kembali mengedarkan pandangan kepada orang-orang yang hadir.
“Memimpin kademangan bukan pekerjaan ringan. Banyak perkara yang harus diselesaikan, dan banyak orang yang harus diperhatikan. Saya tidak ingin menerima tanggung jawab sebesar itu hanya karena sebagian dari kalian menganggap pantas, sementara saya sendiri belum tentu mampu menjalankannya sebaik yang diharapkan.”
Dia kemudian mengarahkan pandangannya kepada Ki Suradipura.
“Karena itu, saya bersedia memberikan kesempatan kepada Ki Suradipura. Saya mengenal kecakapannya dan kemampuannya. Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak percaya padanya. Saya berharap kita dapat menentukan pilihan tanpa membuat hubungan di antara kita menjadi renggang. Selain itu, kami semua berasal dari akar keluarga yang sama jadi tidak semestinya berebut sesuatu yang seharusnya dapat dengan jelas diukur dan ditimbang.”
Ki Jaya Binangun lalu duduk kembali.
Beberapa orang tampak menerima alasannya, sementara yang lain masih terdiam. Pengunduran dirinya mengubah arah pembicaraan yang sejak kemarin berlangsung panjang.
Swandaru kemudian menyatakan persetujuannya. Dia tidak berpanjang kata dengan berharap Ki Suradipura dapat menjalankan tanggung jawab itu dengan baik.
Agung Sedayu pun menyampaikan dukungannya. Selanjutnya dia menyerahkan kembali pembicaraan kepada para pemimpin pedukuhan dan bebahu kademangan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi keberatan yang perlu disampaikan.
Setelah beberapa saat, akhirnya semua menyatakan persetujuan. Ki Suradipura pun ditetapkan sebagai pemimpin baru Kademangan Sangkal Putung.
Musyawarah yang berlangsung selama dua hari itu berakhir dengan kesepakatan. Masing-masing berharap, di bawah kepemimpinan Ki Suradipura, Sangkal Putung dapat melanjutkan kehidupan dengan tenteram.
Dalam dua atau tiga bulan pertama kepemimpinan Ki Suradipura, Sangkal Putung berjalan dengan tenang. Bahkan, hingga melewati seratus hari sejak wafatnya Ki Demang, belum tampak persoalan berarti yang dapat menggoyahkan kehidupan kademangan. Ki Suradipura menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Beberapa keputusan yang diambilnya bahkan mendapat sambutan baik dari segenap orang Kademangan Sangkal Putung.
Gesekan mulai muncul ketika Ki Suradipura memutuskan untuk mengubah pembagian tenaga kerja bagi perawatan jalan dan saluran air antarpedukuhan. Dia berpendapat bahwa tenaga yang selama ini lebih banyak dikerahkan untuk kepentingan pedukuhan tertentu sebaiknya dibagi berdasarkan kebutuhan seluruh wilayah. Menurutnya, cara itu akan membuat pekerjaan lebih merata dan kepentingan Sangkal Putung lebih terjaga.
Termasuk pula tentang perondaan penjagaan lingkungan.
Ki Suradipura mulai mengubah hampir semua yang ditanam dengan baik oleh Swandaru. Sejumlah kepala pengawal mengajukan keberatan tapi dia tetap bergeming dengan keputusannya.
Kademangan Sangkal Putung mulai gelisah.
Perbedaan itu belum sampai menimbulkan pertentangan terbuka. Meski demikian, sejak saat itu, mulai tumbuh perasaan bahwa pendapat para pemimpin pedukuhan tidak lagi mendapat tempat seperti sebelumnya.
Ki Suradipura sendiri menganggap semua itu sebagai bagian wajar dari tugasnya. Dia merasa telah mempertimbangkan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan. Tanpa disadarinya, dia mulai lebih mudah menganggap keberatan orang lain sebagai sikap yang menghambat pekerjaannya, bukan sebagai peringatan yang patut didengarkan.
Gesekan itu belum berkembang menjadi masalah, tetapi cukup untuk membuat suasana kademangan tidak lagi setenang pada hari-hari pertama kepemimpinannya.
- Gesekan yang berkembang itu, mungkinkah menjadi Waru Geni?
- Meski pada mulanya pengawalan khusus itu dipertanyakan oleh banyak ketua regu pengawal, tapi Pandan Wangi saat Bara di Bukit Menoreh 31, dapat meyakinkan bahwa sesungguhnya pengawal pedukuhan menyimpan kekuatan yang setara dengan para pemberontak.
- Sementara di Kerusuhan Besar Bukit Menoreh 1, barak seakan berubah menjadi ruang berbagi rasa yang jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya.
