Dironda 38 kali
Ki Argapati sendiri telah tampak bergabung pula dengan mereka di serambi samping rumah. Wajahnya tampak segar karena baru selesai mandii. Namun demikian, kesegaran itu tidak langsung dapat menutupi garis-garis kehiudpan yang tergurat banyak pada wajahnya.
Kedatangan Ki Argapati sudah tentu mendapatkan sambutan hangat dari Pandan Wangi dan Kinasih. Mereka dapat membayangkan persoalan dapat lekas terurai dengan arahan yang mungkin tidak terpikirkan oleh mereka. Meski begitu, Pandan Wangi cepat memberi tanda pada Kinasih agar jati diri Ki Adiyasa tidak serta merta diungkapkan di depan ayahnya.
Pandan Wangi mempunyai pertimbangan tersendiri mengenai keadaan itu. Selain Ki Adiyasa yang mulai mendapatkan tempat di depan Ki Argapati, Pandan Wangi pun masih menimbang untuk membuka persoalan itu seluruhnya, Demikianlah mereka pun kemudian duduk bertiga dan mengawali dengan perbincangan ringan.
Pembicaraan mereka pun kemudian dengan merambat kepada berbagai macam persoalan.
Pandan Wangi sengaja tidak dengan tergesa-gesa menyampaikan persoalan Dusun Benda yang dicurigainya masih berasal dari kelompok yang sama. Dan Ki Argapati sendiri belum mengetahui keadaan itu. Maka Pandan Wangi tetap menyimpannya sambil menunggu apabila saatnya telah datang.
Seperti yang diduga, maka Ki Argapati kemudian tiba pada persoalan tersebut. Rupanya dia juga mengetahui kabar mengenai kelompok itu dari orang-orang yang dikirim oleh ki Jayaraga.
“Wangi, jika diperlukan, kau dapat menggandakan pengawasan di sekitar Dusun Benda. Tapi jangan lakukan itu dengan mencolok,” kata Ki Argapati. “Bagaimanapun, aku sendiri juga curiga dengan Ki Adiyasa tapi kecurigaan itu belum menemukan alasan yang cukup kuat.”
“Sebenarnyalah memang demikian, Ayah. Aku beserta Kinasih dan juga Prastawa akan memulai pertemuan yang akan membicarakan keadaan itu,” kata Pandan Wangi.
Ki Gede memandang wajah anaknya itu barang sejenak, kemudian bertanya, “Apakah ada kemungkinan salah satu bebahu dusun mengambil langkah yang berbeda dengan kita? Seperti di masa lalu meski kemudian dia sadar diri.”
“Saya belum mendapatkan laporan tentang itu seleuruhnya, Ayah,” sahut Pandan Wangi. “Tapi, keyakinan saya mengatakan bahwa mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
Ki Gede bergumam seolah bicara sendiri. Sejenak kemudian, katanya, “Tapi mereka belum mengatakan sesuatu pun belakangan ini. Jadi, cukup wajar bila aku akhirnya curiga pada salah satu dari mereka.”
Pandan Wangi dan Kinasih mengangguk-angguk.
“Memang semakin cepat laporan itu diketahui maka semakin baik. Sehingga persoalan itu sendiri tidak terlalu lama membebani Ayah,” ucap Pandan Wangi lirih.
Ki Argapati tersenyum tetapi dia tidak menyangka bahwa keterangan yang diperoleh Pandan Wangi dam Kinasih sudah jauh melampaui perkiraannya. Jika mereka membuka jati diri Ki Adiyasa yang seorang tumenggung, maka persoalan Tanah Perdikan akan menjadi lebih rumit. Ki Adiyasa jelas datang karena persoalan pribadi, tetapi dia menyandang sesuatu yang menjadi milik Mataram, kepangkatan. Maka yang demikian itu akan menambah persoalan yang lain.
Ketika kemudian malam turun perlahan-lahan menyelubungi perbukitan Menoreh, pada waktu yang baru lewat dari hari empat puluh Ki Demang Sangkal Putung, maka Agung Sedayu kemudian datang pula bertamu di kediaman Ki Gede Menoreh.
Pandan Wangi, Kinasih dan Ki Gede tampak juga duduk melingkar di sekitar Agung Sedayu. Mereka membicarakan persoalan yang tidak sebatas dengan Dusun Benda saja, melainkan hal-hal lain termasuk perkembangan di barak pasukan khusus.
Pandan Wangi dan Kinasih tampak sekali-kali keluar lalu masuk kembali dari dapur. Sekali atau dua kali, mereka juga bergantian keluar menemui pengawal atau beberapa orang yang ingin bicara sedikit hal.
Setelah merasa tiba waktunya, Agung Sedayu kemudian menyinggung permasalahan Sangkal Putung yang sampai hari itu belum juga dapat menentukan seorang pemimpin.
“Saya sebenarnya ingin sekali menyerahkan keputusan persoalan ini kepada orang-orang tua di Sangkal Putung,” berkata Agung Sedayu. “Tapi karena pertimbangan dari Sekar Mirah bahwa melepaskan Swandaru seorang diri di depan sejumlah orang yang mungkin masih menyimpan kejanggalan, maka dia berpikir itu bukan sesuatu yang bijak. Jadi, dia tetap menginginkan saya untuk hadir dan ada dalam setiap pembicaraan mengenai pengganti Ki Demang.”
Ki Gede pun menarik napas dalam-dalam. Dia dapat menerima alasan Agung Sedayu yang memang sebagai orang dari luar Sangkal Putung, tapi juga memandang baik pendapat Sekar Mirah sebagai putri Ki Demang Sangkal Putung. Maka, menurut Ki Gede, Agung Sedayu memang seharusnya menyisihkan persoalan pribadinya dengan Swandaru terlebih dahulu.
“Nah,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “aku pikir sebaiknya memang Ki Tumenggung menepikan dulu persoalan lama seperti kitab Kyai Gringsing. Lalu permasalahan Swandaru secara pribadi, menurut saya, itu harus pula diminggirkan sebelum kita dapat memandang segala sesuatunya dengan sangat jernih.”
Agung Sedayu beringsut sedikit. Kemudian dia menundukkan wajah sambil mengangguk-angguk kecil, katanya, “Kitab guru tetaplah menjadi perhatian yang utama, Ki Gede. Tetapi masalah kitab tidak dapat langsung mengambil alih seluruh perhatian saya. Dia hilang dan tetap akan dicari. Dan sepanjang waktu itu, Sangkal Putung pun membutuhkan perhatian yang lebih besar. “
Ki Gede mengangguk. Agaknya dia sendiri sudah menduga bahwa Agung Sedayu tetap mengedepankan persoalan Sangkal Putung di atas kepentingannya pribadi.
“Mengenai Swandaru,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kemampuannya tidak terpasung selamanya dan seluruhnya.”
Pandan Wangi, Ki Gede dan Kinasih cukup kaget mendengar pernyataan itu. Mereka mengira Agung Sedayu pasti telah memusnahkan sebagian besar kemampuannya. Lalu, sekarang dengan pernyataan itu, apa maksud Agung Sedayu?
“Swandaru masih dapat mengembangkan dan mendalami bagian-bagian yang pernah terlewat tapi tidak dengan cara yang sama,” ucap Agung Sedayu.
Ki Gede saling pandang sekilas dengan Pandan Wangi, sedangkan Kinasih menatap Agung Sedayu dengan kening berkerut. Mereka bertiga belum dapat menangkap sepenuhnya maksud perkataan Agung Sedayu. Namun demikian, Pandan Wangi memilih diam. Hanya dengan pandangan saja, dia menunggu penjelasan yang lebih jauh dari murid Kyai Gringsing itu.
“Bagaimana maksud Angger?” bertanya Ki Gede. “Apakah itu berarti Swandaru masih dapat mempelajari ilmu yang selama ini menjadi bagian dari kemampuannya?”
Agung Sedayu mengangguk perlahan. “Masih ada jalan untuk itu, Ki Gede. Hanya saja, dia tidak dapat menempuhnya melalui jalur Perguruan Orang Bercambuk seperti dahulu. Yang telah terjadi dan telah berubah tentu membawa akibat yang tidak dapat diabaikan. Karena itu, dia harus menempuh jalan yang berbeda.”
Kinasih mengerutkan kening kemudian bertanya. “Lalu, kepada siapa Ki Tumenggung akan mengarahkannya?”
Agung Sedayu menatapnya sebentar lalu memandang Ki Gede sejenak sebelum berkata, “Saya sendiri yang akan membimbingnya. Namun juga akan membicarakan ini dengan Kyai Bagaswara. Ada beberapa bagian yang dapat dipelajari kembali dengan cara yang tidak sama seperti pernah ditempuhnya dahulu. Selain itu, saya masih menunggu perkembangannya untuk beberapa wakatu.
Ki Gede mengangguk-angguk kecil. Tampaknya kematangan pengalamannya mengajaknya untuk memahami bahwa Agung Sedayu tidak sedang berbicara tentang mengembalikan Swandaru kepada keadaannya yang terdahulu. Pikirnya, tumenggung Mataram itu mempunyai jalan lain yang hendak ditempuh, dan akan membuat Swandaru kemudian tergantung padanya, memandang dirinya sebagai pengganti Kyai Gringsing. Itu tidak salah dan memang seharusnya seperti itu.
“Berarti, Swandaru harus belajar dan kembali pada titik awal,” katanya.
Agung Sedayu menggeleng, katanya, “Tidak dari awal sekali, Ki Gede. Hanya tambahan dan itu sepenuhnya perlu kesadaran untuk kembali kepada ketenangan pikiran dan menempatkan dirinya pada keadaan yang tepat.”
Pandan Wangi masih belum menyela tapi mengerti maksud Agung Sedayu, demikian pula dengan Kinasih. Mereka berdua ini meski agak waswas tapi jika Swandaru bersedia dibimbing langsung oleh kakak seperguruannya, maka itu membuka jalan yang tidak pernah terduga sebelumnya. Dalam titik itu, mereka berdua kembali membesarkan harapan.
- “Berarti, Swandaru harus belajar dan kembali pada titik awal,” kata Ki Gede Menoreh di Waru Geni.
- Bara menoreh 41, Pandan Wangi Menantang Pangeran Selarong!
- Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 6 – Agung Sedayu Kembali Diburu Bayangan Lama Menjelang Perang Tanding
