0%
Still working...

Waru Geni 19 – Diawali dari Pudak Lawang

Dironda 75 kali

Wedaran sebelumnya: Ki Tumenggung Adiyasa menjelaskan bahwa keadaan alam Tanah Perdikan Menoreh membatasi jalur keluar-masuk, dengan Kali Progo sebagai satu-satunya jalan yang dapat dilalui untuk keluar. Karena itu, penyebaran pasukan Tanah Perdikan tidak harus dilakukan dalam jumlah besar, melainkan cukup dengan menguasai beberapa tempat yang menentukan.

Ki Adiyasa kemudian memandang Ki Jalawangsa dengan tatapan lebih tajam. Kemudian berkata, “Dan jika mereka telah melakukan hal itu, maka orang-orang kita yang berada di Pudak Lawang mungkin justru berada di dalam sebuah perangkap yang pintunya belum ditutup.”

Ki Jalawangsa menarik napas panjang. Perkataan Ki Adiyasa membuatnya kembali memikirkan keadaan Pudak Lawang. Jadi, sebenarnya, yang jadi masalah bukan jarak tempat itu dari pedukuhan induk tetapi kemampuan orang Menoreh mengenali wilayahnya.

“Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan, Tuan?” tanyanya kemudian.

“Kyai tidak sepenuhnya salah dengan menempatkan Pudak Lawang sebagai daerah incaran,” jelas Ki Adiyasa. “Saya pun masih mempertimbangkan, apakah ada keperluan menambah orang? Jika ya, Pudak Lawang tidak dapat dijadikan garis pertahanan karena pasti menarik perhatian banyak orang.”

Untuk beberapa lama setiap orang berhenti dan berjalan dalam pikiran masing-masing.

“Yang kita ketahui saat ini hanyalah berita bahwa Jatayu belum disebut keluar dari barak sebagai korban atau tahanan,” ucap Ki Adiyasa. “Barak benar-benar tertutup mengenai keadaan ini.”

Mendengar nama itu, beberapa orang tampak mengangkat wajah. Mereka tahu dan mengenal Jatayu sebagai anak muda yang terampil dan tangguh dalam gelar perang.

“Saya kira kita harus mendatangi barak untuk memastikan keadaan itu, Ki Tumenggung,” sahut seseorang dari lingkaran.

Ki Adiyasa menggeleng lalu berkata dengan nada sedikit tajam, “Mustahil. Itu sama artinya dengan memberitahu Agung Sedayu mengenai keterlibatan kita semua. Lebih buruk lagi bila Sinuhun mengetahui kenyataan ini, tentu kita semua tidak ada yang menginginkan itu.”

Seseorang kemudian mengubah letak duduknya lalu berkata, “Ki Tumenggung bisa segera lupakan masalah itu karena sepertinya memang barak menutup diri jika terkait dengan serangan beberapa waktu lalu.”

“Aku siap mendengarkan,” sahut Ki Adiyasa dengan nada yuang berbeda.

Rupanya orang tersebut memang mempunyai pengaruh atau kesan yang tidak sederhana dalam anggapan Ki Adiyasa. Bila dengan Ki Jalawangsa, Ki Adiyasa lebih berhati-hati bertutur kata karena selain sakti dan juga sangat polos. Namun dengan orang itu, Ki Adiyasa sepertinya menempatkan pada kedudukan yang berbeda.

“Tidak ada alasan untuk menduga Jatayu masih hidup dan di dalam tahanan. Kenyataan bagi kita adalah selama hampir empat bulan ini barak tidak memberi keterangan sedikit pun,” katanya dengan tenang. “Kita juga tidak bisa menganggap bahwa Jatayu telah berhadapan dengan Agung Sedayu lalu terbunuh. Kita semua tahu bahwa Sedayu tidak berhadapan langsung dengannya saat pecah pertempuran. Maka sudah semestinya ada orang lain di sana. Siapakah dia? Itu bukan urusan kita karena setiap orang di sana sudah pasti kaki tangan Agung Sedayu.”

Sambil menghadapkan wajah ke banyak arah, ke semua orang yang hadir di dalam ruangan, Ki Cangkring Mas berkata lagi, “Sementara itu, Pudak Lawang tetap seperti anggapan Ki Tumenggung.”

Seolah tahu bahwa orang-orang itu sedang menunggu penjelasannya, Ki Cangkring Mas berucap kemudian, ”Saya mengamati dan mendengar dari sejumlah orang, dan ternyata Pudak Lawang ini mempunyai masa lalu yang buruk bersama Ki Gede Menoreh. Bukan memisahkan diri tapi seperti merebut kekuasaan Tanah Perdikan. Apakah niat dan tindakan itu mucul dari mereka sendiri? Tidak, saya mendengar ada nama Ki Kapat Argajalu yang disebut-sebut sebagai penggerak pada masa itu.”

“Menarik,” sahut Ki Jalawangsa lalu bergeser lebih dekat dan rupanya sikapnya itu juga diikuti beberapa orang lainnya.

“Ki Tumenggung?” tanya Ki Cangkring Mas seolah meminta kepastian.

“Silakan Kyai.”

Ki Cangkring Mas lalu mengurai sedikit yang diketahuinya tentang Ki Kapat Argajalu, lantas merambah ke persoalan sekarang, menuntut balas kematian Jatayu. Agaknya Ki Cangkring Mas ini sudah bersoal jawab mengenai Jatayu dengan Ki Adiyasa

“Pudak Lawang dapat dijadikan sebagai pijakan awal untuk membalas kematian Jatayu,” kata Ki Cangkring Mas kemudian. “Tetapi kita tidak akan mengulang kesalahan yang sama dengan langsung menyerang barak.”

Pernyataaan itu membuat suasana menjadi sedikit lebih tegang. Beberapa orang saling berpandangan. Sebagian mengira mereka akan menyerang barak seperti sebelumnya. Sebagian lagi tidak berpikir ke sana.

Seolah mengerti isi pikiran sebagian orang, Ki Adiyasa menggeser duduknya lantas berbicara,”Menyerang barak bukanlah pekerjaan yang ringan. Kita pernah mencoba mendekati tempat itu. Tetapi apakah hasilnya cukup untuk membuat kita mengulanginya? Kita sudah mendapatkan jawabannya, saya kira.”

Ki Jalawangsa mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Saya kira saya bisa sependapat dengan Ki Tumenggung. Kita harus memperhitungkan kekuatan lain yang ada di Menoreh. Agung Sedayu tidak bekerja seorang diri. Ada Ki Rangga Sanggabaya, ada lurah-lurah lainnya dan juga mungkin sejumlah orang di sekitar kediaman Ki Gede Menoreh. Gadis muda itu, misalnya. Kemampuannya masih menjadi rahasia tapi ternyata sanggup menghancurkan satu orang linuwih.”

“Lalu, apa yang dapat dan harus kami lakukan, Ki Tumenggung?” bertanya Ki Jalawangsa.

“Silahkan, Ki Cangkring Mas,” sahut Ki Adiyasa.

“Baiklah,” kata Ki Cangkring Mas percaya diri. Tak lama kemudian, dia pun mengurai langkah demi langkah yang akan mereka tempuh.

“Karena itu, Pudak Lawang harus kita kuasai. Bukan untuk menjadikannya benteng menghadapi seluruh kekuatan Menoreh, tetapi sebagai tempat kita mengatur langkah. Kita harus mengetahui orang-orang saja yang terlibat dalam kematian Jatayu tanpa harus berhadapan dengan seluruh kekuatan Tanah Perdikan.”

“Kyai,” tanya Ki Jalawangsa. “Lalu, bagaimana dengan kedudukan Pudak Lawang terhadap Menoreh?”

“Kita tidak perlu membuat orang-orang Menoreh merasa bahwa seluruh Tanah Perdikan sedang terancam. Jika mereka beranggapan demikian, maka kita sendiri yang akan kesulitan. Ki Gede Menoreh tentu tidak akan tinggal diam. Agung Sedayu pun akan membawa Mataram. Dengan begitu, kita akan dan pasti kembali hancur.”

Sejenak Ki Cangkring Mas mengendapkan suasana hatinya lalu bicara lagi, ”Kita sedang menyusun ulang kekuatan. Tetapi menyusun kekuatan tidak selalu berarti mengumpulkan sebanyak-banyaknya orang, kemudian menyerang. Tidak begitu, tapi ada jalan lain yang sudahh tentu tidak terbuka bagi kita semua. Jadi, saya inginkan kepercayaan dari Ki Sanak sekalian kepada Ki Tumenggung. Kepercayaan yang terbaik.”

Semua orang mengangguk setuju dengan sedikit suara, Namun demikian, kepercayaan itu sangat nyata dapat dirasakan melalui suasana yang terbangun.

“Selanjutnya,” kata Ki Adiyasa mengambil alih panggung. “Kita tetap mengirim orang untuk mengawasi pedukuhan induk dan barak pasukan khusus. Yah, dan sudah barang tentu kita harus menyamar. Tidak mengamati mereka dalam keadaan yang mudah diketahui. Saya  tidak ingin jika nantinya justru kita sendirilah yang memberitahu kepada mereka meski pun tanpa sengaja.”

Ki Adiyasa memandang Ki Cangkring Mas lalu bertanya< “Apakah Dusun Benda sudahh dapat ditinggalkan?”

Ki Cangkring Mas mengusap dagunya. Untuk beberapa saat dia merenungkan jawaban.

Lantas Ki Cangkring Mas menarik napas panjang. Katanya kemudian, “Saya kira kita dapat berpindah sedikit demi sedikit  tapi dengan tetap menunggu rumah atau lahan yang akan ditempati selanjutnya. Dalam masa itu, saya kira kita juga dapat memperkuat dahulu kedudukan kita di Pudak Lawang. Bersikap murah hati saat setiap ada pertukaran barag atau yang lainnya. Tidak perlu mencolok. Saya yakin Ki Sanak sekalian sudah paham dengan cara itu sambil mengumpulkan keterangan sebanyak-banyaknya.”

“Baiklah,” kata Ki Jalawangsa. “Saya akan membuat persiapan dan juga mengatur pembagian tugas.”

“Silakan, Kyai,” sahut ki Cangkring Mas dan Ki Adiyasa hampir bersamaan.

Tidak ada lagi orang yang bersuara. Masing-masing tampaknya dapat memahami pertimbangan itu, meskipun belum semuanya dijelaskan oleh tiga pemimpin mereka.

Malam semakin merambat.

Di luar rumah, Dusun Benda tampak semakin lengang. Namun di dalam rumah sewaan itu, sebuah kekuatan sedang berusaha disusun kembali. Mereka belum menentukan sasaran serangan berikutnya. Tetapi satu nama muncul selain Agung Sedayu: Pudak Lawang.

  • Di luar rumah, Dusun Benda tampak semakin lengang seperti yang digambarkan di Waru Geni.
  • Ki Widura sekali-kali terpental lalu terjatuh. Namun ia selalu cepat bangkit dan meneruskan perkelahian meski lawannya datang dengan badai yang ganas di Jati Anom Obong 64.
  • “Pada mulanya aku berpikir bahwa keputusanku untuk menjadi prajurit Majapahit adalah bagian dari Pertempuran Hari Pertama 11,” kata Lembu Daksa.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.