Ki Cendhala Geni 11.3 – Pertempuran di Rawa-rawa

Patraman yang sedang tidak dalam keadaan terdesak mencoba mengamati sosok penyerangnya itu. Dalam keremangan dia mencoba mengingat karena dia merasa seperti mengenal sosok penyerangnya. Perhatiannya tertuju pada baju yang dipakai oleh Gumilang karena ada beberapa ciri yang sudah dikenalinya. Selain itu gerak olah kanuragan Gumilang juga ada dikenali olehnya meskipun hanya sejumlah kecil. Berdesir hati […]

Ki Cendhala Geni 11.2 – Pertempuran di Rawa-rawa

“Boleh jadi aku akan menyerah dan berhenti membunuh orang yang rela untuk mati, namun itu akan kulakukan bila telah selesai menguliti kulit kepalamu dan menempatkan belulangmu di atas daun pintu. Bukankah engkau harus berterima kasih kepadaku, Ken Banawa? Bahwa engkau akan menjadi ungkapan rasa terima kasih dariku. Sampai jumpa di neraka, setan tua!” Satu bentakan […]

Ki Cendhala Geni 11.1 – Pertempuran di Rawa-rawa

Batang tombak yang pendek  Ubandhana tak mampu menembus pertahanan Bondan. Dengan menggunakan pangkal lengan, Bondan mementahkan hantaman tombak Ubandhana. Seketika itu Bondan melakukan serangkaian serangan dengan hantaman siku kiri saling bergantian dengan keris di tangan kanan. Pada saat itu Ubandhana terkejut dengan perubahan yang dilakukan Bondan. Dan ia harus menerima akibat yang sama sekali tidak […]

Ki Cendhala Geni 10.2 – Pertempuran di Rawa-rawa

Laksa Jaya bersuit nyaring. Seketika itu belasan orang melompat keluar dari semak-semak di sekitar mereka. Mereka berlari dengan menyalakan obor kecil kemudian membentuk lingkaran yang mengitari Laksa Jaya, Patraman, Ubandhana dan Ki Cendhala Geni. “Setan kecil! Kalian menjebakku!” Ki Cendhala Geni menatap nanar ke Laksa Jaya dan Patraman bagai seekor serigala kelaparan. “Jangan salah paham, […]

KI Cendhala Geni 10.1 – Pertempuran di Rawa-rawa

Arum Sari masih membisu. Terasa baginya semua perkataan Patraman tak lebih dari tusukan-tusukan pedang yang menghunjam jantungnya. “Pengkhianat!” tiba-tiba Arum Sari berteriak sekuatnya hingga orang-orang di sekitar Patraman terkejut karenanya. “Kau tidak berani berhadapan dengan ayahku. Engkau lebih suka membicarakan keburukan ayahku di depan demang-demang yang lain dan bahkan engkau juga bicara tentang kelemahan ayahku […]