Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 63

“Tidakkah engkau lelah berlari?” Seringai tak wajar mencuat dari Nyi Ageng Banyak Patra yang mulai memutar tubuh, mengikuti pergerakan Ki Manikmaya yang seperti tidak terpengaruh dengan jatuhnya Ki Panji Secamerti.

Sekejap kemudian – seiring dengan kecepatan Nyi Ageng Banyak Patra yang makin meningkat – Ki Manikmaya mengubah aliran kaki yang pada mulanya bergerak seperti lingkaran berjalur lurus menjadi potongan-potongan yang tidak teratur. Meloncat selangkah ke kiri lalu ke kanan, berliku sangat tajam tanpa mengurangi kecepatan yang luar biasa. Begitu pula musuhnya, Nyi Ageng Banyak Patra, yang juga berpindah tata gerak dengan cara luar biasa. Ia berhenti dengan bertumpu pada ujung jari sebelah kaki, lalu memutar tubuh, dan berlari berlawanan arah dengan Ki Manikmaya.

Pertarungan yang susah dimengerti dan sangat sulit untuk diikuti!

Dua lingkaran yang berlainan ukuran terbentuk. Lingkaran terluar, Ki Manikmaya berlari memutar dari kiri ke kanan, mengitari jalur gerakan Nyi Ageng Banyak Patra yang melingkar dari kanan ke kiri. Dan…pada setiap langkah, mereka beradu kekuatan! Menumbukkan pukulan, melesatkan tendangan dengan tetap berada pada jalur lingkaran masing-masing! Suara berderak dan gemeretak terus menggaung hingga terkesan mereka adalah dua roda besi penghancur bebatuan.

Udara di sekitar mereka berputar-putar tidak beraturan. Pergolakan hebat yang menjadi sebab munculnya angin ribut yang mendera lingkungan pertarungan. Beberapa tahanan meratakan tubuh sejajar dengan permukaan tanah agar tidak terdorong atau terhisap, lalu terguling dan membentur batang-batang pohon yang bergetar. Sementara tiga pengawal Mataram : Sukra, Ki Demang Brumbung dan Ki Plaosan duduk beradu punggung. Saling melindungi dengan cara menautkan bagian dalam lengan agar tidak mudah tergeser karena hamburan angin yang berasal dari dua gelanggang pertarungan sulit diterima akal! Melalui cara itu pula, mereka tetap dapat mengawasi para tahanan yang dapat saja melarikan diri dengan menyelinap di antara deru-deru yang sangat, sangat dan sangat kacau!

Kemampuan Ki Hariman, pada gelanggang yang bersebelahan agak jauh, benar-benar di luar dugaan Ki Patih Mandaraka. Meski patih Mataram ini telah mempunyai perkiraan, tetapi akibat-akibat yang timbul dari pendalaman kitab Kiai Gringsing oleh Ki Hariman, sungguh, berada di luar nalar orang biasa. Sejenak, Ki Hariman mencelat lantas terbanting ketika ujung cambuknya membentur batang Kiai Plered, tetapi yang terjadi selanjutnya sungguh-sungguh mengejutkan! Tubuh Ki Hariman cepat memantul lalu meluncur dengan kecepatan melebihi daya sebelumnya! Mungkin dua kali lipat dari lemparan pertama ketika ia terpental oleh tangkisan Ki Patih Mandaraka yang terperangah dengan kemampuan musuhnya. Demikianlah yang terjadi berulang-ulang setiap kali tubuh Ki Hariman terjengkang, sekejap menyentuh tanah, lalu memantul dan mendesing!

Yang membuat Ki Patih Mandaraka terkejut adalah penguasaan cambuk yang mempunyai perbedaan mencolok dengan Agung Sedayu. Sebangsal pengetahuan dan pengamatannya pada perguruan Orang Bercambuk, Ki Patih belum pernah menyaksikan lecutan cambuk yang menyerupai karet yang memantul ketika helai cambuk menyentuh tanah. “Apakah seperti itu yang menjadi bagian akhir kitab Kiai Gringsing?” Pikiran Ki Patih pun berkecamuk, meski tidak lama karena setiap Ki Hariman memukulkan senjatanya pada permukaan tanah – selain meninggalkan parit selebar ruas ibu jari – maka sepanjang waktu itu pula cambuknya menyabet lebih kuat karena tambahan daya dorong dari pantulan. Sesering itu pula permukaan tanah terkelupas, tercongkel dan terlontar ke sembarang penjuru. Sejumlah pohon berderak lalu roboh ketika terhantam benda yang terlontar. Sebagian menyasar pada tempat orang-orang yang berada di dekat gelanggang perkelahian. Lontaran benda-benda pada berukuran kecil pun segera mengurung Sukra dan orang-orang yang berada di dekatnya!

“Sukra!” seru Ki Lurah Plaosan terkejut ketika menyaksikan pengawal Menoreh berusia muda itu dengan gagah menghadang laju benda-benda yang terlontar deras.

“Tidak ada jalan lain, Kiai!” sahut Sukra sambil menggerakkan tangan dengan tata gerak yang disesapnya dari Glagah Putih. Sepasang anak panah berputar-putar, menggetar dan meliuk seperti seekor ular berisa yang sedang menyabung nyawa. Tidak terlihat raut wajah kesakitan padanya, namun demikian, tubuh Sukra bergetar hebat setiap batang anak panah mampu meluruhkan serpihan-serpihan tajam. Sekejap kemudian, Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Plaosan turut menjadi benteng yang melindungi para tahanan yang tidak berdaya menghadapi ancaman maut.

Dalam keadaan terluka, dua senapati Mataram itu merasa bahwa menjaga para tahanan adalah kewajiban yang utama. Keterangan-keterangan penting dapat mereka korek dari mulut pengikut Raden Atmandaru.

Usaha ini tidak boleh berhenti di tengah jalan. Pertempuran sengit ini tidak akan berakhir pada kematian pengawal, prajurit maupun prajurit, tetapi ada puncak yang akan mereka taklukkan. Dua kemungkinan itu memenuhi benak dua pemimpin prajurit Mataram, maka luka-luka pun seolah tidak lagi terasa menyakitkan. Pedih pun seolah terbang lalu membaur dalam deru perkelahian Ki Patih Mandaraka dan Nyi Ageng Banyak Patra. Pada dua sesepuh Mataram, Sukra serta dua senapati Mataram menitipkan harapan. Pada beliau berdua pula, mereka bertiga yakin akan dapat melewati kesulitan pada malam itu.

Ketika cambuknya menggelepar dan memantul, sekejap kemudian Ki Hariman dapat melihat kecepatan Ki Patih Mandaraka sedikit berkurang. Walau sempat merasa bahwa ia dapat menyelesaikan pertempuran sesegera mungkin, Ki Hariman sadar bahwa ada kemungkinan perlambatan itu adalah jebakan. Secepat waktu melesat, ia kembali mengusai diri agar tidak melabung tinggi dengan perubahan tata gerak Ki Patih Mandaraka yang seolah sedang menghembuskan angin surga. Bila kurang dari sekejap ia berbuat kesalahan, maka menarik napas panjang tidak akan dapat lagi dilakukan.

Ki Patih Mandaraka meloncat ke samping, mengelak lecutan sendal pancing sambil mendorongkan telapak tangan dengan terbuka pada lambung musuh, lantas serangkum angin tenaga berhawa dingin meluncur seperti bongkahan besar yang menggelinding dari tebing terjal Merbabu! Ki Hariman melompat surut, sambil menghempaskan ujung cambuk menyamping agar tanah yang terkelupas segera berubah menjadi senjata yang dapat membunuh patih Mataram!

Tiba-tiba terlihat gulungan sinar berputar-putar, melingkar-lingkar, menutup lintasan-lintasan yang tidak terlihat mata, serangan Ki Hariman rontok oleh Kiai Plered yang digerakkan Ki Patih Mandaraka yang begitu hebat mengubah aliran serang menjadi pertahanan yang kokoh.

Pertimbangan-pertimbangan memenuhi jalan pikiran Ki Patih Mandaraka. Apakah ia harus menuntaskan perkelahian dengan jalan yang tidak dikehendakinya? Bila Ki Hariman menemui ajal, lalu bagaimana ia dapat membantu Agung Sedayu menemukan kitab Kiai Gringsing. Namun, ada perihal yang berlainan, apakah mungkin Ki Hariman memberitahukan letak kitab Kiai Gringsing?

Perkembangan yang terjadi kemudian memang tidak dalam jangkauan pertimbangan Ki Patih Mandaraka. Siapa yang dapat menduga ada seseorang atau sekelompok orang yang mengincar kitab Kiai Gringsing? Yang lazim terjadi adalah orang akan memperebutkan pusaka atau benda-benda yang bertuah bila menginginkan kekuasaan. “Ataukah ada pikiran yang berkembang hingga meyakini bahwa kedalaman kitab Kiai Gringsing dapat menghambat Kiai Plered? Ini, sungguh mustahil untuk menjawabnya,” pikir Ki Patih, yang waktu itu, benar-benar mengetrapkan tandang dengan tata gerak yang luar biasa. Seseorang yang mempunyai kelebihan yang nyaris tidak masuk akal, bagaimana Ki Patih Mandaraka dapat membagi pikiran dalam perkelahian yang sangat sengit dan dapat mencabut nyawanya setiap saat?

Namun demikian, walau tidak sepenuhnya setuju dengan salah satu dugaan yang terbit dalam benaknya, Ki Patih Mandaraka menghadapi kenyataan bahwa kehebatan Kiai Plered sebagai senjata bertuah benar-benar menemui lawan tangguh. Putaran perkelahian kembali meningkat. Ki Patih Mandaraka terpaksa mengerakan segenap kecepatan agar tidak terlalu sering terjadi benturan yang mampu menggedor bagian dalam pertahanannya.

Dua gulungan sinar terus bergelombang, terus menerus berputar, selalu saling berusaha membelit lalu meremukkan sendi-sendi kekuatan lawan masing-masing. Terdengar berbagai suara yang muncul berhamburan dari pertarungan yang sanggup meremas jantung. Ledakan terdengar berulang-ulang, kadang terselip suara mendesing yang menyayat telinga, kadang suara seperti tulang yang patah juga lantang diperdengarkan dari gelanggang Ki Patih Mandaraka. Mereka tidak lagi saling mengelak. Dua orang jawara pilih tanding itu dengan cepat memutuskan untuk saling balas menyerang, meski harus bertubi-tubi membenturkan tenaga!

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 70

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

2 comments

Eko Panulih Putro 06/12/2021 at 09:29

Yang membuat Ki Patih Mandaraka terkejut adalah penguasaan cambuk yang mempunyai perbedaan mencolok dengan Agung Sedayu. Sebangsal pengetahuan dan pengamatannya pada perguruan Orang Bercambuk, Ki Patih belum pernah menyaksikan lecutan cambuk yang menyerupai karet yang memantul ketika helai cambuk menyentuh tanah. “Apakah seperti itu yang menjadi bagian akhir kitab Kiai Gringsing?” Pikiran Ki Patih pun berkecamuk,

Reply
kibanjarasman 10/01/2022 at 11:30

“Apakah seperti itu yang menjadi bagian akhir kitab Kiai Gringsing?” Pikiran Ki Patih pun berkecamuk.

Jawabannya : Belum tahu, Ki. hahaha

Reply

Leave a Comment