Ki Sangayudan cerdik mengambil nama Pangeran Selarong, bukan Pangeran Purbaya. Dia paham bila menyebut nama Pangeran Purbaya bersanding dengan Ki Patih, maka Agung Sedayu pasti merasa tidak nyaman. Namun penyebutan Pangeran Selarong akan membuat pemimpin pasukan khusus itu akan tenang dalam menjatuhkan perintah baginya. Perbedaan pendapat antara Ki Patih Mandaraka dengan Pangeran Purbaya sudah tersiar luas di kalangan pemimpin prajurit. Setiap lurah sampai panji pun tahu bahwa Agung Sedayu adalah orang yang setia pada Ki Patih Mandaraka. Bahkan muncul semacam anggapan bahwa hanya Ki Patih seorang yang dapat memerintahkan Agung Sedayu melakukan tugas khusus, bukan raja Mataram. Meski demikian, Raden Mas Rangsang serta adik-adiknya dan juga keluarga raja menganggap itu sebagai gurauan belaka. Segenap keluarga raja bercermin pada sikap Panembahan Hanykrawati yang lurus terhadap Ki Patih Mandaraka maupun Agung Sedayu.
Dengan alasan yang tidak diutarakannya pada Ki Sangayudan, Agung Sedayu berkata, “Ki Lurah dapat segera menemui Pangeran Purbaya. Meski hari masih gelap, tapi beliau terbuka jika Ki Lurah benar membawa berita dari Sangkal Putung.”
“Saya, Ki Rangga.”
“Baiklah, kita berpisah sekarang,” ucap Agung Sedayu sambil menghentak kuda pada arah Sangkal Putung. Dua pengunggang lainnya segera mengikuti dari jarak yang cukup dekat.
Ki Sangayudan tidak punya pilihan lain. Meski ada kecenderungan untuk menghadap Pangeran Purbaya di Kraton terlebih dulu, tapi dia telah menyatakan untuk mematuhi saran Agung Sedayu. Sambil berusaha menegarkan hati dan memantapkan perasaan, bawahan Ki Tumenggung Untara itu pun mengarahkan perhatiannya pada Kepatihan.
Yang terhormat para penggemar kisah silat.
Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Sebelum perjalanan yang ditempuh bertiga, beberapa saat setelah Ki Patih Mandaraka meluruskan punggung untuk beristirahat, seorang petugas sandi mendesak prajurit jaga agar dizinkan bertemu Ki Patih Mandaraka. Meski seorang penjaga memaksanya agar menunggu fajar tiba, tapi petugas sandi itu mengatakan sesuatu yang dapat membakar Mataram. Patih Mataram yang mendengar suara orang-orang berbantahan pun keluar dari biliknya lalu memerintahkan petugas sandi agar cepat menemuinya.
Laporan singkat, padat dan sangat benderang pun diterima oleh Ki Patih Mandaraka dengan cara yang tidak biasa. Sesepuh Mataram tersebut terkejut lalu benar-benar berpikir keras meski prajurit sandi itu masih berkata-kata.
“Terima kasih dan segera kembalilah ke Sangkal Putung,” perintah Ki Patih pada prajurit sandi seusai menutup laporannya.
“Saya, Ki Patih,” sahut prajurit sandi lalu meminta diri meninggalkan ruangan.
Ki Patih Mandaraka menatap punggung prajurit yang melangkah cepat keluar dari tempat pertemuan. Sejenak kemudian, patih Mataram tersebut menghembus napas panjang dan perlahan. “Pandan Wangi,” ucapnya lirih sambil memijat kening. Pengalaman hidup yang penuh warna sudah pasti menempa Pandan Wangi hingga menjadi seperti yang dikenalinya pada hari-hari belakangan ini. Serba sedikit Ki Patih Mandaraka telah mengetahui latar belakang dan permasalahan Pandan Wangi, maka kematangan dan caranya berpikirnya tidak mungkin dapat menghasilkan keputusan yang gegabah itu. Itu adalah kejanggalan yang luar biasa bagi Ki Patih yang mengenal baik Pandan Wangi. “Pandan Wangi,” ucap Ki Patih sekali lagi, “sebenarnya apa yang sedang menjadi tujuanmu saat ini?”
Seorang penjaga telah diperintah Ki Patih agar mengundang Agung Sedayu ke dalam ruangan itu lagi.
Ki Patih Mandaraka menatap Agung Sedayu yang memasuki ruangan dengan wajah menyiratkan banyak pertanyaan. Kedewasaan Agung Sedayu jelas dapat dirasakan oleh Ki Patih dari sikap dan bahasa tubuh pemimpin pasukan khusus itu. Tanpa kesan tergesa-gesa, patih Mataram tersebut lantas meminta Agung Sedayu duduk di dekatnya. “Tidak perlu ada jarak lagi anara kita berdua pada malam ini,” ucap pelan Ki Patih.
Agung Sedayu mengangguk lalu duduk sesuai permintaan sesepuh Mataram itu. Sudah jelas ada kabar penting, pikir Agung Sedayu tapi dia tidak mengatakannya di depan Ki Patih Mandaraka.
Setelah Agung Sedayu menempati kursi dengan mapan, Ki Patih Mandaraka kemudian berkata, “Sebagian orang menempuh cara yang keras untuk mencapai tujuan. Beberapa lagi berpikir untuk menggunakan cara yang tidak wajar.” Sesepuh Mataram ini lantas berhenti sejenak lalu bernapas panjang. “Pandan Wangi menjadi salah seorang yang memadukan dua cara itu demi sebuah tujuan.”
Agung Sedayu menautkan alis, lalu mengulang lirih, “Pandan Wangi?”
“Seseorang meninggalkan ruangan ini dengan satu kabar yang benar-benar membuatku tidak ingin percaya, meskipun langkah itu masuk akal,” ucap Ki Patih. “Pada titik ini, aku ingin sekali berkata berita itu tidak benar. Itu hanya laporan yang mengada-ada saja. Itu sebuah karangan yang dibuat oleh orang-orang yang berputus asa. Aku ingin mengabaikan lalu melupakan semuanya.”
Tidak seperti biasanya Ki Patih membuka percakapan dengan ungkapan-ungkpan ganjil semacam itu, pikir Agung Sedayu. Sebenarnya, sedang terjadi apakah?
“Sedayu, aku sedang tidak ingin membenarkan diriku sendiri atau menyalahkan orang lain berdasarkan sudur pandang yang tidak terjaga keseimbangannya,” ucap Ki Patih kemudian. “Tapi ini, sesuatu yang terjadi di Sangkal Putung bukan persoalan yang sederhana dan menyenangkan. Apabila kita terlambat selangkah, nasib kademangan dan semua orang yang hidup di atasnya akan terancam bencana yang didatangkan manusia.”
Agung Sedayu masih belum menemukan jawaban atas pertanyaannya tadi. Bahkan dia kini sibuk menebak, persoalan apakah yang membelit Sangkal Putung?
“Perkembangan melaju sangat cepat, bahkan dalam sekejap sudah dapat berubah arah.” Ucapan Ki Patih terdengar semakin pelan, “Pandan Wangi menetapkan hukuman mati bagi orang yang tidak diketahui latar belakangnya atau keadaan sesungguhnya. Aku mendapatkan laporan bahwa Pandan Wangi akan melakukannya tiga hari sejak pagi tadi. Tapi itu dapat berubah menjadi lebih cepat.”
Giliran Agung Sedayu yang berpucat wajah mendengar berita yang disampaikan Ki Patih Mandaraka. Sama persis dengan patih Mataram tersebut, nalar Agung Sedayu seakan tak sanggup lagi bekerja. “Sulit dipercaya!” seru Agung Sedayu dengan nada tertahan.
“Begitulah,” kata Ki Patih Mandaraka, “kita berdua seperti sama-sama menemui jalan buntu lalu mengalami kelumpuhan secara menyeluruh.” Kemudian Ki Patih Mandaraka mengurai isi pikirannya secara menyeluruh dan itu nyaris sama dengan isi pembahasan Ki Untara dengan tiga lurah bawahannya.
Usai mendengar seluruhnya, Agung Sedayu berkata, “Memang sulit diterima akal sehat bila Pandan Wangi melandaskan keputusannya itu karena kekecewaannya pada Swandaru. Saya berusaha berpikir baik bahwa hukuman mati adalah siasatnya untuk menarik seluruh perhatian banyak orang.”
“Kau mengatakan sesuatu yang sangat menarik,” kata Ki Patih. Sambil tersenyum demi menghibur dirinya sendiri, patih Mataram itu melanjutkan, “Prasangka baikmu itu, apakah berasal dari kesukaan yang tidak terungkap atau pengamatan sepanjang hidup? Kau berpendapat bahwa itu bisa saja untuk menarik perhatian banyak orang. Apakah dirimu menjadi tujuan utama Pandan Wangi?”
Agung Sedayu tersenyum masam lalu memalingkan wajah seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari tatap mata Ki Patih Mandaraka. Sesaat kemudian, Agung Sedayu menarik napas. Dia tahu Ki Patih tidak sedang mengajaknya bercanda meski pertanyaan itu pun bukan tidak membutuhkan jawaban. Pemimpin pasukan khusus itu lantas berkata, “Kita tahu Pandan Wangi bukan perempuan yang tidak mempunyai hati atau pikiran, Ki Patih. Maka saya pun menempatkan langkahnya itu sebagai siasat yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian orang.”
“Dari hal apa?”

“Pertama, sebagian wilayah Sangkal Putung sudah dikuasai penuh oleh Ki Garu Wesi. Kedua, persiapan Raden Atmandaru di sekitar Menoreh atau Gunung Kendil. Ketiga, kerusuhan terakhir di Sangkal Putung,” jawab Agung Sedayu.
“Adakah sesuatu yang enggan kau katakan karena alasan tertentu?” tanya Ki Patih setelah merenung sejenak.
Agung Sedayu tidak ingin mengatakan sesuatu yang berakibat muncul dugaan buruk dalam pikiran Ki Patih Mandaraka. Dia saat itu seperti membutuhkan waktu tambahan sebelum menjawab. “Pandan Wangi ingin menarik perhatian penuh dari kotaraja, dalam hal ini adalah Kraton,” kata Agung Sedayu.
