Tepat seperti yang diucapkan Ki Sonokeling, jiwani mereka sama sekali tidak terguncang dengan tiadanya Ki Kebo Aran di antara mereka. Bahkan mereka seperti tidak terganggu dengan cara Agung Sedayu bertarung. Hanya saja Agung Sedayu tidak tertarik untuk melayani pengeroyokan mereka. Senapati Mataram itu lebih banyak menghindar, berkelit dan sepertinya ingin menyelamatkan diri! Orang-orang bersenjata itu sama sekali tidak mengira ternyata Agung Sedayu tidak memberi perlawanan atau sekedar menggertak dengan ungkapan ilmu yang luar biasa! Maka mereka pun cepat menanjak puncak amarah! Mereka menjadi barisan orang kalap saat Agung Sedayu hanya berlarian dan berlompatan seperti kelinci yang sedang bermain-main.
Sebenarnyalah senapati pasukan khusus Mataram itu tidak mempunyai maksud seperti yang diperkirakan oleh pengeroyoknya. Dia sedang menunggu penampakan Kinasih, pergerakan Sayoga atau tanda dari mereka berdua.
Pada sisi yang mengarah Tanah Perdikan, Kinasih tampak kesulitan menghambat laju serangan Ki Jambuwok. Bisa jadi itu karena dia tidak menggunakan senjata berbahan logam. Sekalipun setiap ranting atau sepenggal kayu yang dipegangnya dilambari tenaga cadangan, tapi itu belum cukup untuk mengatasi lawan seperti Ki Jambuwok. Tapi bisa juga seandainya Agung Sedayu mengizinkannya untuk bertarung habis-habisan, keadaan pun mungkin tidak terlalu tersudut. Semuanya adalah kemungkinan yang terbuka. Setiap hasil pun tidak dapat diwujudkan dari tebakan.
Getaran hebat yang tiap kali muncul setelah benturan tenaga cadangan sempat membuat lengan gadis itu kehilangan daya. Tapi gaya bertempur Kinasih, yang menggunakan senjata ala kadarnya serta mampu menyamarkan keadaan, membuat Ki Jambuwok sulit mengukur kedalaman ilmu lawannya secara pasti.
Pada suatu kesempatan, Kinasih menggebrak lagi dengan kecepatan berlipat. Serangannya yang begitu tajam menyengat Ki Jambuwok tersentak. Dia cepat menarik diri, menjauh dari lingkaran sebelum kembali bersiap menyerang.
Sebenarnya Kinasih sedang memikirkan jalan keluar karena keseimbangan pertarungan mungkin tidak dapat dijaga lebih lama. Selain berusaha menjaga diri agar tetap berada di atas siasat Agung Sedayu, Kinasih pun tak mengetahui nama dari lawannya. Apakah dia benar dari kalangan pemberontak atau orang yang hanya lewat lalu membaurkan diri pada pertempuran? Seandainya orang itu hanya melewati daerah perang, bukankah dia sudah bersalah bila orang itu menjadi korban dari tangannya? Pikiran Kinasih sedikit melayang pergi tapi Ki Jambuwok tidak sudi membiarkan musuhnya merenung demi sebuah siasat.

Meski sedikit keraguan sempat menghinggapi perasaannya, Ki Jambuwok pada akhirnya menggandakan kekuatan. Dia akan membenturkan ilmu secara langsung. Mati besok atau hari ini, bagi Ki Jambuwok itu sama saja. Lagipula, mencari Sekar Mirah demi membalaskan dendam kekalahan Ki Patih Matahun pun bukan masalah mudah. Maka gadis yang menjadi musuhnya itulah jalan pelampiasan terbaik!
Tongkat Ki Jambuwok yang nyaris serupa dengan senjata Sekar Mirah pun berputar-putar hebat. Gaung suara seperti dengung lebah sangat menggatalkan bulu-bulu halus di dalam rongga pendengaran.
“Apakah ini adalah kekuatan sebenarnya?” tanya Kinasih dalam hati. Tapi dia tetap waspada. Sekejap kemudian, Kinasih melompat surut, lalu memiringkan tubuh ke samping kemudian membalas serangan Ki Jambuwok dengan pukulan yang diarahkan pada pergelangan tangan laki-laki itu.
Lagi-lagi Ki Jambuwok terpanah dengan keberanian sekaligus kemampuan musuhnya itu. Sebagai murid yang sejak awal tidak diperkenalkan dengan senjata, Kinasih seolah sedang menunjukkan ketinggian ilmu gurunya melalui perkelahian tangan kosong. Ya, sepasang tangan Kinasih tak kalah bahaya dan cepatnya dengan sambaran ular berbisa. Dia mengincar urat nadi lawan sehingga dengan sendirinya aliran serang Ki Jambuwok pun terhalang.
Pada waktu yang kurang lebih sama dengan puncak perkelahian Agung Sedayu, Kinasih mendadak berbalik arah. Dia mendadak mengubah gaya bertarung menjadi lebih banyak bertahan sehingga berlari dan melompat demi menjauhi Ki Jambuwok kerap dilakukannya.
“Ada apakah ini? Mengapa gadis setan ini tiba-tiba seperti ketakutan?” sangka Ki Jambuwok dalam pikirannya.
Sementara itu, di lingkungan yang dipanaskan oleh sepak terjang Sukra yang cukup sangar, pasukan Ki Garu Wesi nyata menemui hambatan yang cukup besar. Gelar perang hasil perpaduan pengawal kademangan dengan pasukan kotaraja yang cukup dapat mengimbangan keganasan lawan.
Berawal dari kerelaan Pangeran Selarong menerima saran untuk menjadikan Dharmana sebagai pemimpin sayap dari gabungan pasukan, maka prajurit dari kotaraja pun menerima lelaki itu tanpa keraguan. Apakah Ki Rangga Agung Sedayu dan Nyi Pandan Wangi hanya asal bicara saat mengajukan nama Dharmana sebagai pemimpin sayap? Begitu kebanyakan isi pikiran prajurit. Kerendahan hati dan kecemerlangan Dharmana menerjemahkan siasat Agung Sedayu cepat mengambil hati para prajurit. Maka mereka – para prajurit – tak ragu saat Dharmana memberi aba-aba dari tengah gelar. Ketajaman nalar Dharmana mendapat dukungan penuh dari Sayoga, Sukra dan pemimpin regu dari prajurit. Perpaduan inilah yang menebar rasa gentar dalam hati setiap anak buah Ki Garu Wesi. Dharmana, meski dalam perlindungan pengawal, tetap mampu bertempur dengan sangat baik. Kedudukannya mendapat pengawasan khusus dari salah satu ketua regu. Ketua regu inilah yang menggerakkan pengawal ketika Dharmana dalam keadaan terdesak. Tapi dia juga dapat membiarkan Dharmana dalam keadaan bebas saat mendapat kesempatan untuk menyerang.

Walau demikian, keadaan itu tidak dapat bertahan lama. Satuan kecil Ki Garu Wesi terlihat bersusah payah membuka jalan darah demi mencapai kedudukan Dharmana yang terlindungi oleh lingkar pengawal. Hingga dari kedalaman gelar yang diperagakan anak buah Ki Garu Wesi berkelebat seseorang yang langsung menghantam Sayoga dengan serangan hebat! Keadaan sedikit berubah dengan kemunculan orang itu. Sepertinya dia adalah pemimpin regu yang beranggota sedikit orang itu tapi mereka berkelahi dengan cara yang luar biasa.
“Kita bertemu lagi, anak muda,” ucap orang itu tanpa mengurangi tekanan.
“Benar, kita bertemu lagi,” sahut Sukra meski yang dimaksud orang itu adalah Sayoga. Sukra melompat ke samping, menghalangi arus serangan yang mengarah pada Sayoga. Setelah sedikit merendah, menghindari tumit lawan yang memutar, Sukra cepat membalas serangan! Sekejap kemudian, pertarungan sengit, terjadilah!
Dalam waktu itu, Sayoga mengerutkan kening. Dia sudah melihat kemampuan Sukra tapi pada pagi itu, Sukra seolah menjadi pribadi yang berbeda. Kekuatan dan kemampuan Sukra membaca arah serangan benar-benar memukau hatinya. Tapi anak muda ini tidak dapat berlama-lama menikmati pertarungan kawannya. Sayoga segera bersiap untuk memasuki gelanggang perkelahian Sukra.
“Hey, apakah kalian tidak malu mengeroyok orang lanjut usia?” seru seorang pemberontak yang terdorong mundur akibat gebrakan pengawal yang melindungi Dharmana.
“Kami hanya mengulang yang kalian pernah lakukan. Hanya itu,” sahut Sayoga. Kerumunan banyak orang dengan senjata-senjata berayun-ayun liar sudah tentu menjadi bahaya lain yang dapat menewaskan Sukra. Sayoga pun tak peduli dengan ocehan lawan. Ki Malawi, pikir Sayoga, adalah lawan yang cukup berat untuk ditangani Sukra sendirian.
Perkelahian pun meningkat makin sengit dan seru. Sepak terjang Sukra yang luar biasa, kini ditambah kecakapan dan ketenangan Sayoga yang berlandas ilmu ajaran ayahnya, Ki Wijil. Maka akibatnya adalah Ki Malawi mulai kesulitan untuk memaksakan kemenangan.
