Sejenak Ki Garu Wesi membutuhkan waktu untuk membuat pertimbangan. Kamudian beberapa pemimpin kelompok dipanggilnya untuk berkumpul. Setelah itu, dia membeberkan rencana dan tambahan pesan agar mereka tidak membawa banyak barang. Pertemuan berlangsung cukup singkat, lalu pemimpin kelompok kembali ke barisan masing-masing.
“Kita bergerak menjelang senja. Arahkan wajah kalian pada Tanah Perdikan,” ucap Ki Garu Wesi memberikan perintah dengan tatap mata lurus pada orang-orang yang berhimupun di depannya. Beberapa kelompok terpilih untuk melakukan penjagaan jika sewaktu-waktu Mataram menyerang.
Kesibukan untuk berkemas segera menyeruak di antara pengikut Ki Garu Wesi. Beberapa orang dapat mengumpulkan emas atau harta benda lain dari penjarahan selama mereka mendiami Watu Sumping. Sebagian lagi mengusap wajah dengan kekecewaan karena tidak berhasil mengikuti perbuatan kawan-kawan mereka. Namun hampir seluruhnya dapat menerima perintah Ki Garu Wesi dengan harapan baru yang membucah di dalam dada. Mereka hanya menunggu waktu saja.
Ketika senja mulai tampak bergayut di langit Watu Sumping, laskar itu pun bergerak ke jurusan yang telah ditetapkan. Mereka meninggalkan tubuh kawan-kawan yang tergolek tanpa nyawa begitu saja. Yang terluka harus memaksakan diri agar tetap dapat mengiringi rombongan besar itu. Bila mereka takluk pada luka, maka orang-orang kademangan pasti melampiaskan dendam. Maka, bagi mereka, tidak ada pilihan selain mematuhi Ki Garu Wesi menuju jalur Tanah Perdikan. Hanya itulah satu-satunya jalan keluar yang terbuka. Entah dapat selamat atau tidak, itu masalah yang berbeda!
Sabungsari dan Pangeran Selarong menutup jalur yang berbatasan dengan pedukuhan induk dan Pedukuhan Janti. Pandan Wangi berada di sisi lain antara pedukuhan induk dan Jagaprayan. Dharmana memperkuat batas wilayah yang tidak terjangkau oleh laskar Pandan Wangi maupun Pangeran Selarong. Satu-satunya jalan keluar bagi Ki Garu Wesi dan anak buahnya adalah jalur yang mengarah ke Tanah Perdikan.
Di balik gabungan pasukan yang mengepung Watu Sumping ada Ki Lurah Plaosan sebagai penopang utama kekuatan. Lurah Mataram ini bertugas mengatur, membagi dan menjaga pasokan bahan pangan bagi setiap orang yang tergabung pada gugus tempur. Beberapa kelompok pengawal yang berusia cukup muda tampak lincah dan kuat mengirim kebutuhan dasar kawan-kawan mereka di garis depan.
Pada permulaan sore itu, pergerakan pasukan Dharmana cukup mengejutkan. Perintah Agung Sedayu dijalankan tanpa keraguan.
Walau pengawal kademangan tidak mempunyai kepandaian yang cukup, tapi gelar mereka mampu mengurai kerumitan perkelahian antara Sayoga dan Sukra melawan Ki Malawi. Dharmana, yang masih berada di dalam perlindungan beberapa pengawal, terus menerus meneriakkan perintah yang dapat meyelaraskan pergerakan Sayoga serta Sukra dengan para pengawal.
Perkembangan itu, mau tidak mau, memaksa Ki Malawi harus melepaskan dua anak muda itu dari jangkauan serangannya. Dengan rasa geram yang memuncak dan perasaan campur aduk, dia melepas ucapan kasar yang ditujukan pada seluruh orang di sekitarnya. Tapi angin ribut yang ditimbulkan Dharmana dan kawan-kawannya sama sekali tidak terpengaruh. Mereka begitu gigih dan ulet hingga Sukra pun dapat terbebas ketika Sayoga meluncur dengan sambaran tajam yang menggiriskan!
“Aku pergi sekarang,” kata Sukra pada Sayoga.
“Pergilah, tinggalkan orang ini pada kami semua!” sahut Sayoga. Pemuda dari Tanah Perdikan itu pun segera menghujani Ki Malawi dengan serangan bertubi-tubi. Demikian pula para pengawal yang serentak mengurung orang itu hingga Ki Malawi pun terpaksa harus meninggalkan gelanggang.
“Memalukan!” geram Ki Malawi dalam hati. Tapi, apa boleh buat? Puluhan orang yang mengeroyoknya ditambah kemampuan Sayoga memang dapat memukulnya mundur. Namun setelah melihat suasana medan maka mengertilah dia bahwa ternyata segenap pendukung Raden Atmandaru pun melangkah surut! Akhirnya dia pun sadar bahwa Sangkal Putung ternyata menyimpan kekuatan besar yang tersembunyi.
“Berpekan-pekan kami dapat menguasai dan mereka tidak memperlihatkan perlawanan, tapi segala sesuatu tiba-tiba terbalik dalam setengah hari. Sangat memalukan!” ucap Ki Malawi dalam hati. Nyata sudah, satu orang atau beberapa orang dapat bekerja sama lalu membalikkan keadaan, puji Ki Malawi sambil berlari-lari kecil menghimpun kembali kelompoknya yang berserakan. Walau demikian, kelompok ini justru bergeser ke tempat yang berbeda. Entahlah, Ki Malawi mungkin merencanakan sesuatu.

Keterangan gambar : Sorgum ditengarai sudah menjadi bahan pangan nenek moyang pada zaman Mataram Kuno
Asap belum benar-benar menyingkir dari Watu Sumping ketika Swandaru tiba di tepi tanah lapang itu. Dia masih dapat melihat orang-orang Ki Garu Wesi terjebak lalu berkumpul dalam lingkaran besar di depan pemimpin mereka. Mata Swandaru memicing semuanya mencoba menembus segala yang terlindungi di balik asap. Pertanyaan pertama muncul dalam pikirannya ; di mana para pengawal kademangan dan prajurit Mataram? Sebentar kemudian, dia meminta dua pengiringnya agar memeriksa keadaan di sekitar mereka.
“Maaf, Ki. Saya tidak mempunyai wewenang untuk itu. Ki Rangga maupun Nyi Pandan Wangi hanya memerintahkan kami untuk menyertai Anda,” ucap pengawal yang bertubuh agak tinggi.
“Persetan dengan mereka berdua! Kalian begitu picik dan takut!” seru Swandaru dengan napas memburu. “Itu, kau lihat itu… Semuanya berhubungan dengan nasib kademangan ini dan kehidupan kalian. Tapi, bagaimana kalian dapat menyerahkan segalanya pada Ki Rangga dan Nyi Pandan Wangi? Aku… aku benar-benar kehilangan akal bicara dengan kalian berdua!” Ingin rasanya Swandaru menggampar dua pengawal itu.
“Baiklah, ” ucap Swandaru lagi,” sini, serahkan tongkat itu padaku. Kau ini… bawa tongkat dengan pikiran aku ini yang kau gembalakan.”
“Tidak, bukan begitu Ki,” kata pengawal yang dimaksud dengan suara bergetar tapi dia diam saja ketika tongkat beralih tangan.
“Pergilah kalian,” kata Swandaru dengan sedikit jengkel. “Aku akan periksa sendiri.” Swandaru pun berlalu dengan langkah lebar. sedangkan dua pengiringnya masih mengikutinya dari belakang.
“Pergi, pergi, pergi kalian ke tempat Pandan Wangi atau mana saja yang kalian suka,” usir Swandaru sambil mengibaskan tongkat.
Tapi dua pengawal pedukuhan itu tidak juga meninggalkan Swandaru. Mereka hanya menjaga jarak saja. Dengan begitu jika Swandaru menemui suatu keadaan, maka mereka dapat melaporkan kejadian ke gardu terdekat sambil membantu sekedarnya saja.
Dalam pikirannya, Swandaru sudah berhitung bahwa dia tidak mungkin mendatangi Pandan Wangi atau senapati Mataram. Pangeran Selarong pasti bertempat pada salah satu jurusan, maka dia harus menghindarinya. Orang yang paling mungkin untuk ditemuinya adalah kepala keamanan dan itu adalah Dharmana. Bunija juga jelas tidak akan diserahi kendali puncak pertempuran. Hanya Dharmana saja yang mampu menguasai medan dan jumlah pasukan sebesar itu di Watu Sumping. Swandaru mencari tempat agak tinggi agar dapat melihat keadaan lebih leluasa. Usai mendapat perkiraan letak Dharmana berkedudukan, Swandaru pun menuju ke sana.
Sepanjang waktu itu, Swandaru dapat melihat kesibukan di garis belakang pertempuran. Dia segera mengaitkan itu semua dengan yang dilihatnya di pedukuhan induk maka terbitlah kemudian satu kesimpulan ; perencana peperangan ini telah mempersiapkan segalanya dengan cukup masak dan rinci. Semua lini terhubung dengan sangat baik bahkan nyaris mendekati tatanan keprajuritan. Setiap orang seolah sudah mengerti kewajiban masing-masing kemudian bergerak senapas dan seimbang.
Selayang waktu terus mengambang ketika dia menangkap pergerakan cepat beberapa bayangan di sela-sela tanaman liar. Swandaru mencoba untuk mengejar tapi segera berhenti ketika yang dilihatnya adalah Sukra beriringan dengan tiga pengawal muda lainnya. Cukup sulit bagi Swandaru untuk memperkirakan arah kepergian Sukra dan kawan-kawannya. Anak itu hanya dapat menerima dan menjalankan semua perintah beberapa dari orang tertentu seperti Ki Gede Menoreh, Glagah Putih dan tentu saja, Agung Sedayu.
