Ketika senja tampak merayap di permukaan Merapi, Swandaru menoleh pada kelompok pengawal, lalu berkata, ”Bersiaplah. Kita akan bekerja keras.”
Para pengawal bertukar pandang. Siapa yang harus mereka patuhi pada saat itu? Agung Sedayu memerintahkan agar mereka menunggu perintah darinya. Tapi Swandaru adalah pemimpin mereka. Dua orang tersebut sama-sama dapat dianggap pemimpin di Kademangan Sangkal Putung, dalam keadaan ini, pada siapa harus menentukan pilihan?
Dharmana sepertinya menyadari kesulitan yang dihadapi para pengawal. Setelah merenung sebentar, dia berkata, “Aku akan menjelaskan keadaan ini pada Ki Rangga. Kalian dapat mengikuti Ki Swandaru tanpa perlu merasa terpaksa.”
“Bagaimana? Akankah ada yang mengikutiku?” tanya Swandaru.
Beberapa orang lantas beranjak lalu berjalan ke arah Swandaru kemudian berdiri sedikit di belakangnya.
Untuk sesaat dia memerhatikan pengawal yang memilihnya, lalu Swandaru bertanya lagi, “Apakah tidak ada tambahan lagi?”
Pertanyaan itu terjawab dengan tidak ada lagi tambahan orang yang menuju padanya.
Dharmana pun tak berkata-kata meski sekedar untuk menjelaskan keadaan. Baginya, yang diucapkan sebelum itu darinya dianggap sudah cukup terang. Dia tidak akan meminta pengawal lain untuk mengikuti perintah Swandaru.
“Baiklah, baiklah, aku dapat mengerti. Setidaknya aku sudah mengetahui sebagian isi kepala dari kalian semua,” kata Swandaru dengan kepala mengangguk-angguk. Dia mengajak pengikutnya meninggalkan tempat. Tapi sebelum itu, Swandaru berkata tajam pada Dharmana,” Kau dapat laporan keadaan ini pada Ki Rangga. Katakan saja seadanya. Jangan pernah menambah atau mengurangi, terutama yang aku ucapkan.”
Dharmana mengangguk.
Ketika Swandaru melewati senapati Mataram, dia hanya menunjuk orang itu dengan tongkat. Sikap itu dipahami oleh prajurit Mataram lainnya dengan tatap mata geram! Bagi mereka, saat itu, Swandaru seolah berkata, “Jangan pergi. Tetaplah di sini, aku akan membuat perhitungan denganmu.”
Namun lurah prajurit Mataram itu hanya membalasnya dengan tatap mata sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Demikianlah, Dharmana dan prajurit Mataram serta sebagian pengawal yang tak ikuti Swandaru mengikuti pergerakan kelompok kecil itu dengan pandangan saja. Setiap orang mungkin juga sudah lelah dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
Sepertinya Swandaru dan satuan kecilnya bergerak menuju ke tempat Pandan Wangi, tapi kemudian mereka tiba-tiba berubah arah. Mereka seakan mengambil jalur yang tidak melintas di depan putri Ki Gede Menoreh. Sebenarnya Swandaru sengaja bergerak secara terbuka dengan tujuan tertentu. Dia ingin menambah jumlah orang yang dapat menopang rencananya. Swandaru makin nyata menegaskan keberadaannya di depan banyak orang. Sebagian hanya memandang tapi dengan kepala penuh pertanyaan. Sebagian lagi menganggapnya sebagai gangguan tapi tak ada yang terucapkan. Tampaknya Swandaru memang telah merencanakan sesuatu tapi itu juga tidak dapat dianggap mengganggu siasat utama Agung Sedayu. Tidak dapat pula sepenuhnya dianggap begitu meskipun bakal mengurangi jumlah kekuatan yang tersebar mengepung Watu Sumping.
Tentu saja usaha itu terpantau oleh para penghubung kekuatan yang terikat dalam garis hubungan yang kuat. Pangeran Selarong, Sabungsari dan Pandan Wangi telah mendapatkan laporan tentang gerak gerik Swandaru ketika dia baru saja tiba di Watu Sumping. Meski begitu, tiga pemimpin tersebut seperti tidak ada yang peduli.
Hari semakin menjelang gelap ketika cahaya matahari semakin erat memeluk lereng Merapi. Di sekitar Watu Sumping tampak beberapa orang sibuk membawa oncor lalu menancapkan di sejumlah tempat. Meski begitu, kesiagaan pengawal kademangan dan prajurit Mataram belum terlihat mengendur. Bahkan sejumlah kelompok terlihat mulai meronda.
Setiap penghubung dari kelompok peronda tampak berlari-lari kecil menuju tempat Pandan Wangi karena mereka tidak dapat mengetahui kedudukan Agung Sedayu.
“Ke arah mana mereka bergerak?” tanya Pandan Wangi setelah mendengar laporan dari setiap penghubung.
Para pengawal yang bertugas sebagai penghubung lantas menunjuk pada satu arah ; Tanah Perdikan Menoreh.
“Apakah ada pergerakan dari Ki Swandaru?” lagi Pandan Wangi bertanya meski tak khusus ditujukan pada seseorang dari pengawal.
“Belum, Nyi,” sahut salah satu penghubung. “Tapi beliau sepertinya sedang mengumpulkan kekuatan. Nyi Pandan Wangi pasti sudah mengetahui itu.”
Pandan Wangi mengangguk tapi tidak mengatakan sesuatu di depan mereka. Pikirnya, apakah dia sedang berencana untuk menghadang pergerakan pasukan Ki Garu Wesi? Tapi jumlah pasukan terlampau jauh untuk dibandingkan. Belasan orang sangat mudah dilindas anak buah Ki Garu Wesi. Pandan Wangi mengerutkan kening lalu membuang pandangan ke arah Tanah Perdikan sambil memikirkan keadaan Ki Gede Menoreh. Sejurus kemudian, dia bertanya pada dirinya sendiri, ”Bagaimana denganmu, Kakang? Apa yang kira-kira akan kau putuskan dalam keadaan seperti ini?”

Melayani pembelian antar kota antar provinsi. Lebih lanjut, hubungi nomer tertera pada gambar
Para pengawal atau penghubung lantas meminta diri agar dapat kembali bergabung dengan kelompok masing-masing. Pandan Wangi mengangguk, tapi seorang pengawal yang lain datang padanya dengan langkah tergesa-gesa. Pemimpin keamanan Pedukuhan Jagaprayan itu lantas meminta para pengawal untuk menunda rencana lalu mereka pun duduk sedikit jauh dari Pandan Wangi.
Pengawal yang baru datang itu pun menyampaikan beberapa perkembangan pada Pandan Wangi. Kemudian dengan suara rendah, dia berkata, “Ki Swandaru bergerak ke arah utara. Beliau membawa serta sejumlah pengawal dari beberapa kelompok.”
“Apakah tampak pemaksaan dari beliau pada pengawal hingga mau bergabung dengannya?” tanya Pandan Wangi.
“Saya tidak melihat itu pada diri pengawal,” jawab penghubung itu.
Pandan Wangi mengangguk, lalu berkata seoalah-olah sedang bicara sendiri, “Utara, itu tidak langsung ke Tanah Perdikan.” Pikirannya pun segera penuh dengan tanya jawab.
Setelah menemukan jalan keluar, Pandan Wangi berkata pada para penghubung atau pengawal dengan nada penuh percaya diri,”Segera teruskan pada para ketua ronda agar segera bersiap menempati kedudukan semula. Sampaikan pula pada ketua kelompok pesan-pesanku.” Lebih lanjut Pandan Wangi kemudian mengungkap rencananya pada pengawal agar disampaikan utuh pada masing-masing ketua regu, termasuk Pangeran Selarong dan Sabungsari.
Tak lama setelah pesan Pandan Wangi diterima para ketua regu, laskar kademangan yang merupakan gabungan pengawal dan prajurit Mataram pun menggeliat. Sebagian dari mereka kembali masuk ke bagian tengah. Sebagian menyisir sisi luar Watu Sumping.
Setelah menerima siasat kembangan dari Pandan Wangi, Sabungsari tiba-tiba tersenyum sambil menahan tawa yang bercampur rasa jengkel. Betapa dia hampir saja menyeletuk, “Tak tahu kekuatan lawan tapi kepongahan tetap saja terjaga.” Ungkapan itu mendadak hinggap dalam benaknya saat mengetahui kelompok kecil yang memisahkan diri dari pasukan induk ternyata dipimpin oleh Swandaru.
Pangeran Selarong pun tak dapat menahan diri, kemudian berkata lirih, “Orang ini selalu merepotkan.”
Meski demikian, dua pemimpin itu dapat menjaga perhatian lalu mencurahkan segenap pikiran dan perasaan pada pesan-pesan Pandan Wangi.
Di bagian lain Watu Sumping, gabungan pengawal yang dipimpin Swandaru bergerak dengan sigap. Suasana remang-remang tidak sanggup membatasi kecepatan gerak mereka. Para pengawal itu nyata benar-benar telah mengenal sangat baik lingkungan sekitar. Mereka ini, para pengawal, seperti yang dilaporkan pada Pandan Wangi bahwa kesediaan mengikuti Swandaru adalah keinginan sendiri. Maka mereka pun tidak keberatan menerima arahan dan perintah dari Swandaru yang memang pemimpin kademangan.
Dalam waktu itu, ketika matahari makin dekat dengan kedudukan terakhirnya, pandangan Agung Sedayu menembus keremangan senja. Dari tempatnya, senapati Mataram ini melihat pergerakan besar yang melibatkan banyak orang. Laskar Ki Garu Wesi perlahan-lahan bergeser ke arah Tanah Perdikan. Ki Malawi turut menggeliat dalam waktu hampir bersamaan dengan pergerakan pasukan induknya. Sedangkan Swandaru dengan para pengikutinya pun berdetak tanpa ikatan dengan pasukan besar yang dipimpin Pandan Wangi. Sementara Dharmana serta Pangeran Selarong juga mengalirkan kekuatan tapi mereka berada di dalam siasat Pandan Wangi.
