Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 104 – Dua Senapati di Pasukan Khusus; Campur Tangan?

Glagah Putih menyandarkan punggung. Dia cukup berhati-hati untuk mengutarakan pikirannya. “Ki Lurah Sora Sareh jelas bukan orang biasa yang mudah dipengaruhi oleh pendapat tertentu. Tidak ada yang meragukan kesetiaan maupun kemampuannya membuat penilaian tentang suatu keadaan.Tapi membawa orang seperti dia dalam tugas pengintaian, menurut saya, itu seperti sedang memperlihatkan suatu ketidakpercayaan. Apalagi yang dibayangi adalah pergerakan guru saya, Ki Jayaraga. Oh, kemudian saya pun dapat meraba maksud Kakang. Beliau tentu juga telah menyampaikan banyak hal, termasuk yang saya duga kemudian adalah penunjukkan Ki Lurah Wedoro Anom.”

“Benar, banyak hal yang kami bicarakan dalam waktu singkat,” sahut Agung Sedayu.

“Yang beliau sampaikan sudah pasti berada di sudut yang berbeda dengan kami yang tinggal di barak,” kata Glagah Putih.

“Ada keterangan yang saling melengkapi dan ada pula yang bertolak belakang,” ucap Agung Sedayu, “tapi semua itu memang diperlukan dalam pengambilan keputusan.”

Glagah Putih mengerutkan kening. Bertolak belakang? Apakah itu perbedaan yang disebabkan pengalaman yang berlainan? Ki Jayaraga tidak pernah menjadi prajurit dapat menjadi alasan perbedaan walau tetap dapat dibantah.

“Kakang, kata-kata bertolak belakang itu, apakah guru keliru dalam penyampaian atau membuat pengamatan?” tanya Galgah Putih sedikit penasaran.

Agung Sedayu menggeleng. “Perbedaan tajam itu kemungkinan muncul dari anggapan Ki Jayaraga sendiri ketika mendengar sebuah berita.”

Kening Glagah Putih masih berkerut.

“Gurumu mengatakan padaku, bahwa dia pernah mendengar seseorang dari barak ini yang mengatakan sesuatu yang mendatangkan kecurigaan besar dalam hatinya,” lanjut Agung Sedayu.

“Kecurigaan besar,” ulang Glagah Putih dengan suara pelan.

“Apakah beliau tidak mengatakan itu padamu?” tanya Agung Sedayu.

“Kami kadang bertemu di rumah Kakang tapi tidak banyak yang dapat dibicarakan,” kata Glagah Putih. “Meski sebenarnya saya ingin mengetahui pendapat beliau tentang dua senapati yang datang dari kotaraja. Itu sangat menarik karena mereka datang hanya beberapa saat sebelum terjadi benturan di Watu Sumping.”

“Oh, begitukah?” tanya Agung Sedayu ingin memastikan.

“Mungkin guru terlewatkan mengenai keadaan itu,” ucap Glagah Putih, ”tapi memang benar mereka datang sebelum di Watu Sumping pecah pertempuran.

Agung Sedayu kemudian mengungkapkan bahwa dirinya diperintahkan Ki Patih Mandaraka bersegera ke Sangkal Putung ketika ada pergerakan yang dipimpin Pangeran Selarong. Murid Kyai Gringsing itu seterusnya menggambarkan keadaan Watu Sumping secara garis besar.

Glagah Putih tekun menyimak dengan kepala sekali-kali mengangguk.

Terdengar pintu diketuk perlahan, Ki Lurah Sanggabaya masuk kemudian. Agung Sedayu mempersilakan bawahannya itu segera mengambil tempat.

“Barangkali Ki Lurah dapat menambahkan beberapa keterangan mengenai kedatangan Ki Wedoro Anom dan juga Ki Demang Brumbung,” kata Agung Sedayu setelah Ki Lurah Sanggabaya mapan dengan duduknya. Pemimpin pasukan khusus itu sepertinya sudah selesai memberi gambaran Watu Sumping pada Glagah Putih

“Saya menunggu waktu seperti sekarang ini, Ki Rangga,” ucap Ki Lurah Sanggabaya sambil mengangguk.

“Silakan,” kata Agung Sedayu.

“Pergantian dua lurah itu memang terjadi tanpa pemberitahuan atau suatu pembicaraan,” terang Ki Lurah Sanggabaya. “Meski hanya sebagai pengganti sementara tapi ketika dua lurah ditarik dari barak, saya pikir itu sedikit keluar dari kebiasaan.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih bertukar pandang sesaat.

“Orang-orang di kotaraja memang mempunyai kuasa penuh atas segala yang terjadi di keprajuritan, tapi setidaknya mereka paham dengan unggah ungguh,” ujar Ki Lurah Sanggabaya dengan nada menyimpan kecewa. Kemudian, ketegaran kembali menguasai dirinya saat meneruskan keterangan. “Tapi saya hanya menduga ada alasan yang tidak dapat dihentikan di balik pergeseran itu.”

Ketika Ki Lurah Sanggabaya menggunakan istilah orang-orang di kotaraja, Agung Sedayu cepat memandangnya dengan tajam. Kegeraman bawahannya itu dapat dirasakan olehnya. Meski tidak menampakkan keberatan, tapi senapati Mataram ini paham Ki Lurah Sanggabaya masih dapat menahan diri.

“Dua lurah yang digantikan itu bukan orang kemarin sore dengan kemampuan buruk,” lanjut Ki Lurah Sanggabaya. Sepertinya dia sedang menumpahkan seluruh kekesalan tanpa tedeng aling-aling di depan Agung Sedayu. Menurutnya, tak perlu cemas dan takut untuk berkata-kata di depan Agung Sedayu. Karena sangat mengenal baik murid Kyai Gringsing itu, maka dia berani berharap penyusunan ulang tatanan di dalam barak yang berubah semenjak ada dua orang baru itu. “Ketika tahu bahwa dua lurah dipindahkan ke Ganjur dan Mangir, maka saya berkata pada diri sendiri, ‘baiklah, itu adalah penebusan.’ Ganjur dan Mangir tidak akan menghentikan mereka untuk berkembang. Tapi seandainya mereka dipindahkan ke tempat selain dua wilayah itu, saya pastikan mereka tetap bertahan hingga kedatangan Ki Rangga.”

“Jika Ki Lurah bersikap seperti itu, bukankah Mataram dapat mengatakan bahwa ada penentangan dari sini?” ucap Agung Sedayu.

Ki Lurah Sanggabaya menggeleng, kemudian berkata, “Itu terserah mereka. Saya hanya ingin barak ini mempunyai susunan dan pijakan yang sangat kuat seperti yang sudah-sudah.”

Glagah Putih – yang banyak mendengarkan ketika Ki Lurah Sanggabaya bergabung di dalam ruangan – lantas berucap, “Saya harap Kakang dapat memahami dan menerima segala yang terungkap. Keadaan di dalam barak memang menjadi sedikit lebih sulit hingga Kakang datang tadi pagi.”

“Ki Glagah Putih,” ucap Ki Lurah Sanggabaya selanjutnya, “aku sama sekali tidak berharap kelonggaran setelah mengatakan itu semua. Jika seseorang berkata bahwa aku tidak dapat menerima keputusan orang-orang kotaraja, yah, aku harus mengaku terus terang. Seandainya Ki Rangga membuat keputusan yang mengejutkan setiap prajurit di barak, aku sudah siap menerimanya.”

“Baik, baiklah, saya kira Kakang Agung Sedayu tidak akan mengambil keputusan yang dapat mengguncang sendi keprajuritan,” kata Glagah Putih. Sejenak kemudian, sambil memijat-mijat kening yang tak pening lalu menghadapkan wajah pada Agung Sedayu, dia berkata lagi, “Kakang, kecurigaan besar yang dimaksudkan oleh guru. Apakah beliau juga memberi gambaran atau ada sedikit keterangan?”

Ki Lurah Sanggabaya sedikit terkejut mendengar ucapan Glagah Putih. Setelah memandangi wajah dua orang di dekatnya itu bergantian, dia berkata, “Apakah saya mengulang pembicaraan ketika tadi menyinggung permasalahan dua orang baru itu?”

“Justru keterangan dari Ki Lurah telah menempatkan pokok pembahsan menjadi semakin sulit diabaikan,” jawab Agung Sedayu. Dia lurus menatap Glagah Putih kemudian berkata, “Kecurigaan besar yang dimaksud oleh Ki Jayaraga adalah beliau khawatir dengan sebuah kalimat yang diyakini diucapkan oleh Ki Wedoro Anom.”

“Bagaimana guru dapat mengetahui sosok yang disebut Ki Wedoro Anom? Saya kira Ki Wedoro Anom belum mengenalkan diri pada Ki Gede Menoreh, tapi bisa saja perkiraan saya yang ternyata salah.”

“Ada hal yang penting untuk dipahami ketika Ki Gede tidak mengundang seorang pun dari barak waktu saya datang ke rumah beliau bersama Nyi Pandan Wangi.” Ucapan Agung Sedayu ini segera menarik perhatian Glagah Putih dan Ki Lurah Sanggabaya. Mereka seketika memandang lekat wajah Agung Sedayu seperti pandangan orang yang tertikam sihir.

Dua tangan Agung Sedayu lantas memberi tanda agar mereka kembali bersikap wajar, maka dua anak buahnya pun segera tersenyum dengan sedikit perubahan pada air muka. Kata Agung Sedayu kemudian, “Ki Gede, pada pembicaraan terbatas, mengatakan telah mendapatkan laporan dari pengawal Tanah Perdikan yang mempunyai kemampuan tugas sandi. Beliau mengetahui perubahan di dalam barak lalu membicarakan itu dengan Ki Jayaraga secara diam-diam. Beliau berdua adalah orang yang penuh pengalaman dan tajam melihat perkembangan, maka pertemuan demi pertemuan dapat berlangsung tanpa diketahui pengawal Tanah Perdikan, prajurit sandi dan orang-orang yang disebar lawan.”

Glagah Putih mendengar sambil manggut-manggut, sedangkan Ki Lurah Sanggabaya tidak dapat menutupi kegelisahan yang memancar dari wajahnya.

“Dari pembicaraan Ki Gede dengan Ki Jayaraga, aku dengan Ki Gede lalu bersama Ki Jayaraga semalam dan tadi pagi, aku hampir mencapai kesimpulan yang cukup membuatku menjadi besar kepala,” tutup Agung Sedayu lalu menarik napas panjang.

“Dan saya adalah orang yang paling gelisah saat ini di antara kita bertiga,” ucap Ki Lurah Sanggabaya. “Kedatangan Ki Wedoro Anom dan Ki Demang Brumbung ternyata diketahui pula oleh Ki Gede serta Ki Jayaraga. Sepintas itu terdengar wajar tapi itu justru menunjukkan kemampuan sandi pengawal Tanah Perdikan sekaligus kebocoran dari dalam barak.” Kemudian memandang Agung Sedayu lalu mematung dengan sikap siap menerima sanksi dari atasannya itu.

  Glagah Putih beringsut maju lalu bertanya pada Agung Sedayu, “Saya jadi tertarik. Mengapa Kakang mengatakan dapat menjadi besar kepala?”

Pertanyaan yang menyentak Ki Lurah Sanggabaya hingga memandang Glagah Putih hampir tak percaya! Dia merutuk dirinya yang sibuk dengan keteledoran dalam menjaga segala keterangan yang berasal dari barak pasukan. Agung Sedayu merasa besar kepala? Itu adalah kata-kata yang terlewat olehnya. Beberapa waktu dia merenung lalu berkata, “Besar kepala, itu sepertinya benar seandainya kabar gelap yang datang dari kotaraja telah ditimbang kebenarannya.”

“Kotaraja dapat menghembuskan kabar gelap?” tanya Glagah Putih pada Ki Lurah Sanggabaya. Pada perbincangan itu, murid Ki Jayaraga ini merasa bahwa dirinya belum sebanding dengan pengalaman dan kemampuan dua orang di dekatnya.

“Beberapa waktu yang lalu,” kata Ki Lurah Sanggabaya pada Glagah Putih, “setelah peristiwa Slumpring, sebagian orang meniupkan kabar bahwa Ki Rangga menghilang karena sebab yang sulit dipercaya. Padahal kita tahu bahwa beliau terluka karena sabetan Kyai Plered. Ki Patih Mandaraka juga menegaskan benturan yang terjadi di Slumpring lalu ada yang terluka. Seorang kawan berpangkat lurah dan bertugas di bagian dalam Kraton mengatakan padaku bahwa Pangeran Purbaya justru mendapatkan berita yang bertolak belakang.”

Agung Sedayu duduk mematung, menyimak kata demi kata yang terlontar dari Glagah Putih dan Ki Lurah Sanggabaya. Ada kejutan dalam hatinya karena tidak menyangka Ki Lurah Sanggabaya juga mempunyai teman dekat di sekitar Raden Mas Rangsang.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 27 – Menguak Kecurigaan Kepatihan sebagai Persinggahan Pemberontak

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 23 – Kepatihan Benar-benar Gaduh!

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 19 – Setelah Sekian Waktu, Akhirnya Agung Sedayu Bertemu Sekar Mirah

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.