Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 111 – Getar RIndu; Untuk Agung Sedayu?

Di kemah induk Raden Atmandaru.

Perbantahan sengit dan mulai memanas seiring dengan kedatangan Ki Garu Wesi yang didampingi matahari yang bersinar terik.

“Tak sepantasnya seorang Ki Garu Wesi yang dipercaya Panembahan Tanpa Bayangan justru meninggalkan gelanggang dengan sadar,” ucap Ki Sambak Kaliangkrik yang sepertinya sudah lupa dengan Sukra.

Ki Garu Wesi mendengus tapi sinar matanya menyambar Ki Sambak Kaliangkrik. Lalu dia berpaling pada arah yang lain ketika seseorang bangkit berdiri sambil mengacungkan telunjuk.

Orang itu berkata lantang, “Kyai, Anda didampingi Ki Sonokeling yang tangguh dan kuat dalam mengatur siasat. Perintah mundur pasukan dari Watu Sumping seperti sedang mengabarkan pada dunia bahwa para pendukung Raden Atmandaru adalah sekelompok pengecut!”

Ki Sonokeling yang berada di samping Raden Atmandaru pun berubah air mukanya. Saat dia ingin membantah ucapan itu, Raden Atmandaru cepat menahannya sambil berkata, “Biarkan mereka mengungkapkan rasa kecewa.” Ki Sonokeling, dalam pandangan Raden Atmandaru, adalah orang yang patut dituakan karena kekayaan siasat maupun kematangan jiwani. Pengalaman tempurnya juga tak perlu diragukan lagi.

Demikianlah dalam waktu yang cukup lama, Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling harus menahan diri. Mereka berdua masih memandang kedudukan tinggi Raden Atmandaru yang mengaku sebagai salah satu anak Danang Sutawijaya.

Hingga akhirnya Ki Manikmaya dan Ki Hariman terlihat masuk dalam tenda. Sepintas mereka berdua melihat Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling, lalu dapat menduga bahwa suasana sangat tidak mengenakkan sedang berlangsung.

Raden Atmandaru pun mendapatkan kesempatan untuk menghentikan lontaran-lontaran buruk yang ditujukan pada dua orang kepercayaannya itu. “Sekarang, kita beralih pada inti pembicaraan yang sesungguhnya karena pertemuan ini tidak diselenggarakan hanya untuk meluapkan kekecewaan saja,” kata Raden Atmandaru yang kadang-kadang disebut sebagai Panembahan Tanpa Bayangan oleh sebagian pendukungnya. Dia berdiri lantas mengeluarkan meletakkan tongkat pendek berwarna gelap dengan hulu kepala naga di depannya.

Seketika suasana pun senyap. Orang-orang paham arti dari sikap Raden Atmandaru tersebut.

“Baik,” lanjut Raden Atmandaru. “Kita sudah mengetahui bahwa kebanyakan gardu di Menoreh sudah dikosongkan oleh Agung Sedayu. Ini mengingatkan saya pada siasat yang diterapkan di Watu Sumping.” Ucapan Raden Atmandaru itu terdengar seolah-olah sebagai pembenaran pada keputusan Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling. “Ketika itu, tiba-tiba Agung Sedayu memerintahkan seluruh pasukanya untuk mundur dari gelanggang. Setiap orang yang sedang berkelahi satu lawan satu pun meninggalkan lawan-lawan mereka. Benarkah seperti itu, Ki Ramapati?”

Ki Ramapati menjawab dengan anggukan kepala.

“Hari ini, kita mendapatkan berita bahwa pengawal Menoreh, termasuk yang berada di dusun-dusun, juga meninggalkan gardu jaga dan tempat-tempat pengamatan. Yang menjadi pertanyaan buat saya dan juga Ki Ramapati adalah perintah itu disebarluaskan begitu terang hingga pedagang di pasar pun dapat mengetahuinya, mengapa dan ada apa? Kita tentu paham bahwa perintah keprajuritan pada masa perang biasanya disampaikan secara rahasia, tapi Agung Sedayu menabraknya. Sungguh, tidak mudah berhadap-hadapan dengan orang licik itu.”

Di hadapan orang-orang yang mumpuni dalam urusan peperangan, Raden Atmandaru mengatakan banyak hal. Berbagai kemungkinan yang terpikir olehnya akibat siasat Agung Sedayu diutarakan begitu jelas dan benderang. Meski begitu, dia belum menyentuh pada siasat khusus.

Ki Sor Dondong, Ki Ramapati serta Ki Sambak Kaliangkrik mendengarkan dengan cermat lalu mencerna begitu hati-hati sesuai pengalaman dan kemampuan mereka.

 “Karang Dawa dan Watu Sumping memberi pelajaran penting bagi kita semua,” ucap Raden Atmandaru. “Untuk menguji kemampuan dan ketahanan, saya pikir tidak ada yang lebih baik dari dua tempat itu. Di Karang Dawa, si musang tua, Purbaya, turut hadir di belakang mereka. Demikian juga di Watu Sumping, tanpa diketahui oleh petugas sandi kita di kotaraja, anak muda yang gila kerja itu tiba-tiba datang beserta pasukan lengkap yang ditopang pula oleh Jati Anom. Itu bukan perkara mudah dan bukan mainan lagi.”

Orang-orang yang sebelumnya mencibir Ki Garu Wesi dan Ki Sor Dondong pun diam dengan kata-kata Raden Atmandaru. Memang tidak mudah, pikir mereka.

“Di Tanah Perdikan, kita belum menjamah mereka sama sekali. Itu bukan berarti pasukan khusus tidak tahu, juga bukan karena Ki Gede Menoreh tidak tahu sehingga diam saja sepanjang waktu,” lanjut Raden Atmandaru. “Mereka ternyata lebih sabar menunggu. Mereka tidak segera mengejar kita setelah geger Alas Krapyak. Mereka justru diam, bahkan mengosongkan gardu jaga. Jika bukan dilandasi perhitungan yang masak, apakah Ki Gede begitu mudah menerima permintaan Sedayu? Kita tentu sepakat itu tidak mudah. Pertaruhan Ki Gede terlalu besar jika hanya menerima usulan tanpa siasat lanjutan dari Agung Sedayu.”

Sejumlah petinggi Raden Atmandaru yang memiliki kecerdasan lebih seperti Ki Garu Wesi, Ki Sor Dondong dan juga Ki Sonokeling sama-sama menarik napas panjang. Mereka dapat memperkirakan rencana selanjutnya dari Raden Atmandaru.

Namun Raden Atmandaru belum juga mengungkap gagasannya. Dia lebih banyak menyoroti kelemahan dan kelebihan rencana Agung Sedayu yang telah diterapkan. Tiba-tiba orang yang menggelari dirinya sebagai Panembahan Tanpa Bayangan itu menutup pertemuan dengan perkataan, “Yang harus dilakukan berikutnya bukanlah menicptakan kerusuhan seperti yang sudah-sudah. Mereka sudah belajar jadi lupakanlah segala bayangan bahwa kita pasti membuat kerusuhan lagi. Terima kasih.” Lantas dia menyebut beberapa nama untuk tetap tinggal bersamanya.

Kinasih, yang tinggal sementara di kediaman Ki Gede,  rupanya lebih banyak tenggelam dengan kesibukan di dalam sanggar. Murid Nyi Banyak Patra ini memusatkan perhatiannya pada pemulihan daya tahan serta meningkatkan kemampuan kanuragan. Walau begitu, Pandan Wangi pun bukan tidak peduli dengan keberadaan gadis tersebut sejak dirinya kembali ke rumah Ki Gede Menoreh, Justru dia sering menengok keadaannya lalu bertanya perkembangan dalam waktu yang cukup singkat itu. Pandan Wangi juga mengajaknya bicara tentang beberapa persoalan ringan.

Namun segalanya menjadi berubah saat Pandan Wangi mengundangnya masuk ke dalam bilik lalu bicara empat mata.

“Aku sudah menganggap dirimu sebagai bagian diriku,” ucap Pandan Wangi membuka percakapan. “Meski kita baru saling mengenal tapi semangat juangmu telah membuatku terpesona. Aku terkesan dengan segala hal yang kau kerjakan. Bahkan saat pertama kali memasuki rumah ayahku, aku dapat mengetahui semuanya.”

“Seperti itulah, Mbokayu,” sahut Kinasih.

“Seperti itu, bagaimana?”

“Saya tidak merasa perlu menjadi orang lain atau menutup-nutupi kenyataan. Saya adalah gadis yang tidak pernah melihat wajah ayah dan ibu yang melahirkan saya. Dari kecil hingga saya duduk di depan Mbokayu, hanya gurulah satu-satunya orang tua yang saya kenal,” lanjut Kinasih. “Bahkan dalam beberapa hal, saya merasa telah berbuat tidak sepantasnya.”

“Tidak pantas, mengapa kau katakan itu?”

“Tiba-tiba saya memasuki kehidupan rumah ini, sementara Ki Gede adalah orang tua yang lama hidup sendiri saja. Lebih dari itu, saya pun melakukan perjalanan bersama lelaki muda. Saya, sebenarnya, sangat malu dengan keadaan itu,” jawab Kinasih.

Pandan Wangi meraih tangan Kinasih, lalu berkata, “Apakah kau sendiri yang menghendaki keadaan itu terjadi? Tidak bukan? Kau lakukan itu, menempuh jalan itu,  demi perintah atau permintaan orang lain. Salah satu dari mereka adalah gurumu, Nyi Ageng Banyak Patra. Seorang lagi mungkin kakang Agung Sedayu.”

“Bahkan saya pun hanya berdua saja dengan Ki Rangga ketika berada di Pajang,” sahut Kinasih.

“Ada sebab hingga terjadi keadaan itu. Ki Rangga dalam keadaan terluka. Lagipula, aku mendengar kau sendiri yang melanjutkan perawatan atas perintah gurumu,” kata Pandan Wangi menenangkan. Lantas dia menghela napas panjang, ucapnya lagi, “Menerobos lingkar perkelahian ketika banyak orang sakti berada di sekitarmu, itu butuh keberanian dan kemampuan lebih.”

“Saya bukan siapa-siapa, Mbokayu,” ucap lirih Kinasih dengan wajah menunduk.

“Bukan siapa-siapa yang mampu memengaruhi keadaan,” sahut Pandan Wangi dengan senyum mengembang. Meski demikian, dia tidak dapat menghindar pertanyaan di hatinya, apakah dia merasa ada kejanggalan antara hubungan Agung Sedayu dengan Kinasih? Kejanggalan yang mungkin akan membuatnya pergi lagi ke garis tepi? Pikiran Pandan Wangi seakan-akan menjadi buntu saat mencari jawaban atas pertanyaan yang cukup mengusiknya itu. Tapi dia sadar bahwa tidak boleh terburu-buru mencari tahu. Semua akan terbuka sendiri, hanya butuh waktu saja, Pandan Wangi mengatakan itu pada hatinya.

“Apakah Ki Rangga mengatakan sesuatu pada pertemuan yang lalu, Mbokayu?” tanya Kinasih ketika suasana berangsur-angsur menjadi sunyi.

Sebelum menjawab, Pandan Wangi merasakan getar suara yang hanya dapat dialami oleh seseorang yang mengalunkan nada-nada rindu. Perasaan Pandan Wangi ternyata juga dikuatkan saat memandang wajah Kinasih. Hanya saja, Pandan Wangi dapat mengendalikan diri dengan berkata pada hatinya bahwa itu kewajaran karena mereka pernah menempuh perjalanan dan mengarungi bahaya bersama-sama. Perempuan tangguh itu berucap kemudian, “Sudah barang tentu apabila Ki Rangga bertemu dengan Ki Gede, maka persoalan akan menjadi berat secara tiba-tiba.”

Kinasih mengangguk sambil berharap Pandan Wangi membuka sedikit isi pertemuan.

“Sepertinya kau ingin teribat dalam petualangan baru,” kata Pandan Wangi sambil bangkit berdiri. Dengan senyum mengembang, dia meraih tangan Kinasih lalu berkata lagi, “Marilah, kita berkeliling dan melihat-lihat suasana tanah ini. Cepatlah!”

Kegembiraan membuncah dan itu tampak jelas pada wajah Kinasih. Gadis ini lalu mengikuti langkah Pandan Wangi menuju kandang kuda. Sudah tentu, Kinasih menduga, bahwa perjalanan mereka bukan hanya berjalan-jalan menikmati suasana.

Sejurus kemudian, dua ekor kuda keluar dari pintu halaman belakang dari rumah Ki Gede Menoreh. Pandan Wangi melewati rumah Agung Sedayu lalu berhenti sejenak di sana. Tanpa turun dari kuda, Pandan Wangi mengamati beberapa orang yang sedang mengerjakan bagian akhir dari pembangunan ulang rumah itu.

“Inilah rumah Ki Rangga yang dibangun kembali setelah roboh beberapa waktu yang lalu,” kata Pandan Wangi pada Kinasih. “Kau sudah tahu ceritanya, bukan?”

Kinasih mengangguk.

Pandan Wangi lantas mengungkap rencana perjalanan hari itu. Kinasih mendengar sambil sekali-kali mengangguk. “Setelah pedukuhan kecil di depan, kita akan ke utara memeriksa pula gardu-gardu jaga yang dikosongkan atas perintah Kepala Keamanan Tanah Perdikan,” kata Pandan Wangi. “Marilah, kita bergegas sekarang.”

Demi pengamatan yang sudah direncanakannya, Pandan Wangi telah menyampaikan pada Ki Gede bahwa dia akan bermalam di pedukuhan tertentu jika kemalaman di jalan. Ki Gede pun tidak menyatakan keberatannya meski baru saja anak perempuannya itu kembali ke rumah. Demikianlah Pandan Wangi dan Kinasih blusukan hingga dusun terjauh. Sekali waktu mereka memacu kuda ketika jalan cukup memadai untuk melakukannya. Mereka juga berambat-lambat saat mempunyai dugaan tertentu pada suatu tempat atau keadaan.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 123 – Keruntuhan Medan Utara

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 31 – Swandaru Terjebak dalam Cengkeraman Makar

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 72 – Prahara Watu Sumping: Akhir yang Sadis dan Ancaman di Balik Malam

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.