Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 1 – Hari Ketujuh Kedatangan Agung Sedayu

Perbukitan Menoreh, seperti biasa, menyimpan setiap rahasia dengan rapi di balik setiap hutan dan bukit-bukit yang sunyi.

Segenap isi Perbukitan Menoreh seakan sedang menahan napas. Bahkan lebih dahsyat dari itu, mereka seperti sedang menahan laju roda kehidupan yang berat untuk dilepaskan.

Keributan pada malam hari yang terjadi di banyak tempat seakan terbawa oleh udara yang turun dari lereng Merapi saat menyentuh ujung-ujung daun dengan getaran yang tidak biasa. ganjil. Angin mendesir tapi tidak menyusup melalui celah-celah dinding bambu. Burung berkicau dengan irama yang sedikit berbeda dengan biasanya. Banyak orang menapak tanah dengan langkah kaki yang tertahan. Riuh suara orang di pasar induk erdengar seperti serpihan kayu yang bertebaran memenuhi latar.

Ki Manikmaya telah menghilang di balik kegelapan malam dan rapat pohon-pohon di hutan. Ki Astaman mungkin sudah bergabung dengannya pada arah yang tidak diketahui. Baik Pandan Wangi maupun Kinasih sama sekali tidak berkeinginan untuk mengejar. Pertahanan terjaga, dan itu cukup.

Pada pagi itu, Pandan Wangi berdiri di bawah regol halaman rumah Ki Gede Menoreh. Tubuhnya tegak dengan degup jantung yang tidak berirama. Kabar itu datang tanpa aba-aba.  Seorang pengawal Tanah Perdikan menyambut kedatangannya lalu menyampaikan warta lelayu, Ki Gede telah wafat. Ayahnya. Wajah ayu Pandan Wangi seketika disapu abu duka. Berita itu menghantam kesadarannya dengan sangat keras, melampaui kekuatan pukulan dalam pertarungan.

Mendengar itu, Pandan Wangi masih menunggu kejelasan waktu, sebab dan mungkin kalimat terakhir Ki Gede Menoreh. Pengawal pedukuhan induk belum beranjak dari hadapan Pandan Wangi. Mereka seperti hanyut dalam keheningan yang janggal. Termasuk Ki Prana Aji yang berada di dekatnya dengan tubuh terluka.

“Bagaimana peristiwa itu terjadi?” tanya Pandan Wangi dengan nada tajam.

Ki Prana Aji menarik napas sebentar, jawabnya, “Kami gagal menjaga benteng utara. Mereka dapat menerobos hingga terjadi pertempuran di kediaman.”

“Saya tidak mempunyai wewenang untuk menentukan pihak yang bersalah atau ceroboh,” kata Pandan Wangi. “Saya ingin tahu bagaimana orang-orang tidak ada yang berada di samping Ki Gede?” Usai mengatakan itu, Pandan Wangi masih tampak tegar dan tegak ketika melangkah, menaiki tlundak hingga kakinya menginjak pringgitan.

“Jasad Ki Gede tidak boleh dilihat,” kata seorang pengawal yang tiba-tiba mencegah putri Ki Gede Menoreh itu di tengah pintu pringgitan. Suaranya terdengar datar dengan rasa sesak yang menyumbat kerongkongan.

Larangan itu, terasa lebih tajam daripada kabar lelayu Ki Gede sendiri. Pandan Wangi menatap lurus ke depan, matanya tidak berkedip. Dalam adat dan nurani, melihat jasad ayah adalah hak, bahkan kewajiban. Dari sanalah harapan kembali terjalin, dari sana pula ikatan batin dilepaskan perlahan dengan segala kehormatan dan penghargaan. Tapi di pintu pringgitan? Larangan itu menjadi penyangkalan. Kenyataan sedang berusaha menyangkal bahwa dirinya adalah putri tunggal pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Tidak ada kegilaan seperti itu!

“Siapa yang memutuskan?” tanya Pandan Wangi pelan, namun suaranya bergetar di ujung. Pandang matanya mencari Ki Prana Aji tapi pemimpin medan utara dari pasukan khusus tiba-tiba menghilang!

Pengawal pedukuhan induk menjawab dengan kepala tunduk, “Pemimpin pasukan khusus, Nyi.”

Pasukan khusus. Dua kata itu mengendap, mencari bentuk di bawah kesadaran pikir lalu menjelma menjadi bayangan gelap di benak Pandan Wangi.

Bukit Menoreh bukan tempat asing bagi rahasia, tetapi hari ini rahasia itu berdiri menantang di depannya sambil menatap balik tanpa malu.

Pandan Wangi melangkah setapak.

Dua pengawal maju dengan senjata menyilang pada jalannya. Mereka memandang Pandan Wangi dengan tatap mata kosong – itu jelas bukan permusuhan tapi tekanan. Ada ketegasan di balik larangan yang seakan tak bermoral.

“Biarkan aku bertemu dengan Ki Gede,” kata Pandan Wangi. “Beliau adalah ayahku.”

Wajah kaku tanpa daya menggurat kuat dari pengawal pedukuhan. Tak ada jawaban, hanya gesekan halus telapak kaki di tanah. Di balik barisan itu, sebuah tandu tertutup kain gelap terlihat sekilas, lalu lenyap ketika seseorang berdiri tepat pada jalur pandangan.

Pandan Wangi merasakan tenggorokannya mengeras. Di sanalah ayahnya, pikirnya. Atau setidaknya, seseorang yang seharusnya menjadi ayahnya.

Pikiran buruk mulai tumbuh, perlahan namun pasti. Mengapa jasad disembunyikan? Mengapa pasukan khusus yang mengatur segalanya? Ke mana bebahu Tanah Perdikan? Kematian Ki Gede bukan perkara kecil. Pengaruhnya merambat seperti akar beringin, menembus tanah-tanah yang tampak terpisah. Setiap gerak yang berkaitan dengannya selalu memiliki makna. Tapi urusan ini? Sangat bertolak belakang dengan kepribadian dan kehangatannya. Jelas, bahkan sangat jelas bahwa ada yang sedang berlindung di balik suram sinar menerobos hutan.

Nama Agung Sedayu muncul tanpa diundang. Pandan Wangi tidak ingin mencurigainya, sungguh. Selama ini Agung Sedayu adalah figur yang berdiri di antara kekuatan dan kebijaksanaan, seorang yang namanya sering disebut dengan nada hormat. Namun, hari ini, ketika larangan itu datang dan wajah-wajah di sekelilingnya membatu, pikiran buruk menemukan pintu masuknya.

Agung Sedayu adalah pusat pusaran pasukan khusus. Dia orang yang dekat dengan Panembahan Senapati, diyakini mewarisi kecerdasan Ki Patih Mandaraka , bahkan Sinuhun pun menaruh hormat padanya. Dengan keputusan yang kerap diambil serta sepak terjang atas nama keamanan, siapa yang mampu membantahnya? Pandan Wangi bertanya dalam hati, apakah dia terlibat? Apakah kematian ini murni takdir, atau ada tangan yang mendorongnya lebih cepat ke liang? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, menabrak dinding-dinding kesadarannya.

Pandan Wangi memejamkan mata. Dia berusaha mengingat wajah ayahnya, suaranya ketika memberi nasihat, caranya tertawa saat mendengar kabar remeh. Kegetiran hidup ketika Ki Tambak Wedi masih menjadi ancaman. Begitu jelas di balik kelopak matanya. Tapi sekarang, semua itu terasa jauh, segala sesuatu tertutup kabut.

Keinginan Pandan Wangi cukup sederhana ; ingin melihat jasad itu bukan untuk memastikan kematian, melainkan untuk memastikan kemanusiaan masih dihormati.

“Ini tidak benar,” gumamnya, lebih kepada diri sendiri.

Hari semakin bising.

Orang-orang bergerak cepat, seolah ingin menyelesaikan sesuatu sebelum matahari mencapai puncaknya. Perintah-perintah beredar tanpa nama, namun semua tahu sumber  asalnya.

Pandan Wangi terasing di tengah keramaian itu. Dia adalah anak kandung dari orang yang wafat, namun justru paling jauh dari pusat peristiwa dan paling menderita.

Seorang perempuan tua mendekat, langkahnya pelan  lantas menggenggam tangan Pandan Wangi, hangat dan bergetar. “Sabar, Nyi,” katanya lirih. “Kadang yang paling berat adalah menerima bahwa kita tak diberi kesempatan untuk pamit.”

Pandan Wangi membuka mata. “Mengapa mereka takut aku melihatnya?” tanyanya. “Apa yang mereka sembunyikan?”

Perempuan tua itu menggeleng. Dia dapat memahami Pandan Wangi jauh lebih baik dari semua orang Tanah Perdikan. Dialah yang mengasuh dan merawat sejak ibu Pandan Wangi berpulang selamanya. Inang setia itu hanya diam saja, tapi sikapnya justru mempertegas ketakutan yang sama.

Pandan Wangi menarik napas panjang, berusaha menenangkan gelombang di dadanya. Namun pikiran buruk itu terus berseru lantang di dalam kepalanya.. Agung Sedayu, pasukan khusus, larangan yang dingin—semuanya menyatu dalam satu bayangan yang tak ingin diterima tapi nyaris mustahil disingkirkan. Di kejauhan, gong dipukul sekali, menandai dimulainya persiapan upacara. Suaranya bergema, memantul di dinding bukit, lalu kembali sambil membawa pertanyaan yang belum terjawab ; mengapa?

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 26 – Menjelang Laga Pamungkas Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 21 – Benturan Meledak: Agung Sedayu Mendobrak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 31 – Perkelahian yang Melelahkan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.