Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 36 – Kabar Para Tahanan dan Jejak Samar

Barak Pasukan Khusus.

Pagi datang dengan perlahan, Agung Sedayu masih berada di rumah ketika Ki Jayaraga menggeser langkah menuju kediaman Ki Gede Menoreh. Cahaya matahari tidak begitu menyilaukan karena terhalang kabut tipis yang mengapung di sekitar pucuk pohon kelapa. Setelah menimbang beberapa pemikiran yang rapat terjalin di dalam benaknya, senapati Mataram itu menaiki kuda menuju barak pasukan khusus.

Ruang tahanan itu cukup kering dan jauh dari kesan lembap. Sebenarnya tidak dapat juga disebut sebagai tempat tahanan karena di dalamnya ada salah seorang pemimpin kelompok Raden Atmandaru yang terluka parah, Ki Sor Dondong.

Di bagian samping pembaringan, seorang perempuan berusia senja terlihat tekun meracik tumbuhan tertentu sebagai penawar akibat buruk yang terjadi karena benturan tenaga cadangan. Aroma dari ramuan jamu memenuhi seisi ruangan, bahkan sebagian mendekap bagian yang lain. Dari tempat itu, sekitar lima langkah, dada Ki Sor Dondong yang terlihat turun-naik.

Nyi Banyak Patra memutuskan untuk tinggal sementara waktu di barak pasukan untuk membantu merawat orang-orang yang terluka, termasuk senapati Raden Atmandaru. Tidak ada garis-garis yang berlebihan pada wajah guru Kinasih tersebut selain kesungguhan dan kesabaran.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Glagah Putih berhenti tepat di tengah pintu.

“Nyi,” ucapnya hormat. Dia pun sedang dalam pemulihan luka dalam yang disebabkan bentrokan keras dengan Ki Sor Dondong beberapa hari sebelumnya.

Nyi Banyak Patra mengangguk tanpa melihat Glagah Putih. Meski demikian, itu bukan berarti tidak hormat pada yang datang tapi perhatian sesepuh itu tercurah penuh pada racikan obat.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Glagah Putih sambil berbisik dengan telapak tangan menyentuh lengan Ki Sor Dondong.

Nyi Banyak Patra menggeleng. “Tidak dalam waktu singkat. Aku kira dia butuh beberapa bulan. Satu, dua, tiga atau empat mungkin,” ucapnya lalu menghela napas. Setelah beberapa gerakan, Nyi Banyak Patra duduk di bangku kayu yang terletak di ujung pembaringan.

“Bilakah Ki Rangga datang menjenguknya?” tanya Nyi Banyak Patra.

Glagah Putih mengangguk perlahan lalu berdiri dengan cukup hati-hati agar tidak mengejutkan orang yang menjadi lawannya di lereng barat Gunung Kendil. “Seharusnya Ki Rangga datang hari ini. Saya pikir beberapa kewajiban pada penduduk sudah tertangani dengan baik.”

“Sebaiknya memang begitu,” desah Nyi Banyak Patra.

Sejenak ruang itu menjadi sunyi hingga sepasang kaki terdengar mendekati ruangan.

Di luar, seseorang berhenti sebelum tirai disingkap.

Agung Sedayu masuk tanpa tergesa. Pandangannya singgah sebentar pada Ki Sor Dondong yang terbaring dengan dada terbalut kain, lalu beralih kepada Nyi Banyak Patra.

“Nyi,” sapanya singkat, hormat.

Nyi Banyak Patra mengangkat wajah. Senyumnya mengembang dengan mata yang banyak melewati musim berjalan. “Ngger.”

Kepada Glagah Putih, Agung Sedayu bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”

Sambil menunjukkan bagian yang terluka, Glagah Putih menjawab, “Sangat baik. Berkat bantuan dan dukungan Nyi Banyak Patra.” Pandang mata Glagah Putih bergeser pada guru Kinasih tersebut lalu mengangguk hormat.

“Sudahlah, ini semua sudah menjadi kewajiban setiap orang yang memahami pengobatan,” kata Nyi Banyak Patra hangat. “Termasuk pula Kyai Gringsing jika beliau berumur panjang.”

“Mendengar nama guru disebut oleh orang seperti Panjenengan, saya merasa terhormat,” kata Agung Sedayu. “Terima kasih, Nyi.”

Nyi Banyak Patra menggerakkan tangan sebagai tanda basa-basi sudah usai.

Glagah Putih memberi sedikit ruang.

“Keadaannya belum memungkinkan untuk banyak bicara,” kata Nyi Banyak Patra. “Tubuhnya masih sibuk bertahan.”

“Saya datang untuk melihat keadaannya,” ujar Agung Sedayu.

Nyi Banyak Patra memandang Ki Sor Dondong lebih lama. “Kesempatan selalu ada,” katanya pelan. “Yang jarang ada adalah kesabaran menjalani derita sakit lalu menunggu hasil yang belum tentu sesuai harapan.” Saudara Panembahan Senapati itu kemudian diam, mengalihkan tatap matanya pada Agung Sedayu.

“Apakah Angger berencana pergi ke kotaraja?” tanya Nyi Banyak Patra.

“Seperti itulah, Nyi,” jawab Agung Sedayu. “Saya akan menemui Sinuhun, Pangeran Purbaya dan beberapa orang lainnya.”

“Beberapa lainnya,” ucap Nyi Banyak Patra perlahan. “Ki Patih Mandaraka?”

Agung Sedayu tersenyum. “Kadang-kadang nama Ki Patih seolah meminta untuk tidak diucapkan terang.”

Nyi Banyak Patra menampakkan kelegaan di dalam sinar matanya. “Sebaiknya memang begitu karena seseorang telah mendahului laporan resmi pasukan khusus. Bahkan sebelum perang terjadi di Gunung Kendil.”

Agung Sedayu mengerutkan kening, begitu pula Glagah Putih.

“Aku tidak akan menyebut nama itu di ruang ini, saat ini. Berilah ruang bagi orang tua yang susah payah berjalan ini untuk tidak mencampuri persoalan keprajuritan atau hal rumit lainnya,” kata Nyi Banyak Patra.

“Saya, Nyi.” Agung Sedayu mengangguk. “Saya mohon diri.”

Dari ujung pembaringan, Nyi Banyak Patra mengangguk lalu berkata, “Berhati-hatilah. Pertimbangkan seluruhnya dengan rasa yang mengendap.” Dia menjeda sesaat, memandang wajah Ki Sor Dondong kemudian berucap lagi, “Tidak ada yang harus dipercepat. Biarkan semuanya berlangsung wajar dan sehat.”

Agung Sedayu mengangguk, lantas menatap Ki Sor Dondong dengan tatapan wajar seorang murid dari guru yang mempunyai kemampuan pengobatan yang sangat hebat. Sejenak kemudian, dia berkata pada Glagah Putih, “Hingga waktunya tiba, jagalah orang ini dari luka baru.”

“Saya, Kakang,” sahut Glagah Putih cepat. Sebenarnya ada yang ingin ditanyakan olehnya tapi keberadaan Nyi Banyak Patra menjadi sebab utama penundaan itu.

Agung Sedayu melangkah keluar ruangan. Tak lama kemudian diikuti Glagah Putih. Terakhir Nyi Banyak Patra yang juga meninggalkan ruang untuk melihat keadaan orang-orang yang dalam perawatan.

Ki Sor Dondong sendirian dan ruang itu kembali tenang.

Lorong itu menghubungkan ruang tahanan dengan bilik kerja Agung Sedayu. Setelah mencapai persimpangan yang ada di tengah, arah utara akan mengarah pada sebuah ruang yang cukup besar dengan jendela menghadap lapangan timur barak pasukan khusus. di tengahnya terletak sebuah lincak bambu yang sudah mulai mengilap oleh usia, berhadapan dengan meja dan dua kursi kayu sederhana.

Cahaya pagi Perbukitan Menoreh menyelinap lewat celah papan, membawa hawa dingin yang masih basah oleh embun.

Agung Sedayu berhenti di batas lincak, Ki Lurah Sanggabaya sudah menunggu.

“Ki Wedoro Anom,” kata Agung Sedayu. “Di mana dia saat benturan di Gunung Kendil terjadi?”

Angin yang bergerak makin pelan di antara daun randu berhenti seolah ikut menunggu.

Ki Lurah Sanggabaya menarik napas. “Dia masih berada di barak saat saya bergerak sesuai perintah Ki Rangga.”

“Ki Lurah Sora Sareh,” ucap pendek Agung Sedayu.

“Dia mampu melepaskan diri dari pengawasan Ki Lurah Sora Sareh,” sahut Ki Lurah Sanggabaya.

Agung Sedayu bergeser selangkah maju. “Tidak ada di Gunung Kendil dan barak saat benturan dan juga tidak terlihat saat lelayu Ki Gede,” katanya pelan. “Apakah ada kabar keberadaannya untuk sekarang ini?”

Ki Lurah Sanggabaya mendekat, berdiri tepat di samping Agung Sedayu. “Dia menghilang dari pandangan Ki Lurah Sora Sareh, tapi tidak demikian oleh pengawal Tanah Perdikan.”

“Apakah mereka memberi keterangan?” tanya Agung Sedayu.

Ki Lurah Sanggabaya mengangguk. “Seorang kepala pengawal memberi tahu saya bahwa dia melihat kehadiran Ki Wedoro Anom di Dusun Benda.”

Agung Sedayu tersenyum hambar. “Seharusnya Dusun Benda sudah ditinggalkan jika urusannya terkait dengan Gunung Kendil.” Pemimpin pasukan khusus itu lantas mengucapkan beberapa pesan pada Ki Lurah Sanggabaya.

“Baiklah, Ki Lurah,” kata Agung Sedayu kemudian, ”saya akan melihat keadaan Ki Garu Wesi.”

“Nderekaken, Ki Rangga,” ucap Ki Lurah Sanggabaya dengan nada hormat lantas berjalan setengah langkah di belakang Agung Sedayu.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 18 – Agung Sedayu – Raden Atmandaru: Nyaris Tanpa Jarak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 23 – Gempuran Laskar Gabungan Menoreh di Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 30 – Pertemuan Swandaru dengan Perusuh Rumahnya

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.