Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 44 – Dua Mata Pisau Mengarah pada Agung Sedayu

“Saya, Sinuhun,” pelan Agung Sedayu menjawab dengan nada rendah tapi cukup tegas.

“Sinuhun, Mataram memberi kepercayaan kepada saya sebagai kepala pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh. Saya berusaha menjaga kepercayaan itu agar tidak berubah menjadi beban bagi Mataram. Tidak ada pemberitahuan atau permintaan bantuan itu memang bagian yang disengaja karena banyak orang yang berdiri di persimpangan.”

“Akibatnya, kebohongan besar terjadi,” sahut Pangeran Purbaya.

“Saya, Sinuhun.” Suara Agung Sedayu tidak bernada tinggi dan tidak pula bergetar.

Sunan Agung tidak segera menjawab. Pandangannya tidak lagi berpindah. Dia menetap dan tenang sambil memberi isyarat bahwa pembahasan siasat Agung Sedayu dianggap selesai. Pemberontakan sudah ditumpas, sedangkan akibat siasat seperti kematian palsu Ki Gede yang dinilai Pangeran Purbaya sebagai kebohongan besar akan diselesaikan setelah menimbang segala dampaknya.

Pangeran Purbaya menunduk, menerima penundaan hukuman.

Sunyi kembali merapat.

Di luar pendapa, langkah kaki terdengar terukur mendekat. Seorang penjaga berhenti di ambang pintu, membungkuk dalam-dalam. “Mohon ampun, Sinuhun,” ucapnya pelan. “Hidangan telah siap disajikan.”

Tidak ada yang terkejut. Waktu istana berjalan sebagaimana mestinya.

Pintu dibuka lebar-lebar. Udara segar berebut mengisi ruangan mengganti ketegangan dengan sejuk angin yang turun dari Merapi.

Seorang pelayan masuk. Menempatkan hidangan di atas meja dengan cara yang patut. Tidak ada yang aneh hingga terasa hawa panas setipis benang menyapu riak  rambut Agung Sedayu yang terurai lepas.

Pangeran Purbaya menangkap getaran yang sangat kecil tapi cukup hebat itu, lalu memandang Agung Sedayu. Sunan Agung juga sedang memusatkan perhatian pada Agung Sedayu termasuk segala perubahan paling kecil yang mungkin dilakukan senapati Mataram tersebut.

Saat itu, Agung Sedayu tidak menggerakkan kepala, tidak pula ada perubahan pada tarikan napasnya. Wajahnya tetap tertuju ke depan dengan pandang mata menyapu lantai.

Baik Pangeran Purbaya maupun Agung Sedayu kemudian melangkah maju, mengambil hidangan setelah Sunan Agung memberi perkenan. Untuk sejenak, suasana tidak terasa kaku. Obrolan ringan mampu melelehkan  ketegangan.

Tak lama kemudian, Sunan Agung berkata lirih, “Saya mendengar keamanan Sangkal Putung sudah terkendali. Pangeran Selarong pun sudah berada di kotaraja sejak beberapa waktu terakhir.”

“Saya sudah bertemu dan bicara dengan beliau ketika di beranda,” ucap Agung Sedayu.

Sunan Agung mengangguk. Ada keinginan untuk mengungkapkan sesuatu tapi kemudian ditahannya dengan pertimbangan yang wajar. Yang terucap kemudian darinya adalah kenangan saat terjadi geger di Alas Krapyak. Bukan peristiwa penting tapi kemampuan seorang senapati yang cakap mengendalikan anjing pemburu. “Saya sangat menyayangkan karena tidak ada kesempatan untuk melihat sendiri kelebihan beliau. Itu sudah pasti sangat menarik,” tutup Sunan Agung.

Pangeran Purbaya tampak menunduk dan sepertinya Sunan Agung menyadari suatu hal.

“Paman Pangeran, silakan bila ada yang perlu diutarakan,” kata Sunan Agung tanpa nada memerintah.

“Saya, Sinuhun,” ucap Pangeran Purbaya tegas. Pandang matanya beralih segera ke arah Agung Sedayu.

“Saya mendengar Swandaru tidak terlihat di Sangkal Putung setelah perbuatannya di Watu Sumping yang, mungkin, sudah di luar kewajaran,” sahut Pangeran Purbaya. “Dari penghubung, saya juga mendengar Swandaru tidak berada di Tanah Perdikan. Dalam permasalahan ini, bagaimana Ki Rangga memberi penjelasan?”

Agung Sedayu tidak ingin tergesa-gesa menjawab pertanyaan tajam itu.

Pangeran Purbaya tahu bahwa Agung Sedayu tidak akan memberi jawaban yang menjatuhkan adik seperguruannya itu. Sedikit salah ucap atau keterangan, Sunan Agung dapat membuat keputusan yang mampu menyeret keadaan menjadi jauh lebih rumit dan sulit.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

“Ki Rangga tidak perlu terburu-buru memberikan keterangan. Saya bisa menyadari keadaan Swandaru yang pernah dua kali berada di sisi yang salah,” kata Pangeran Purbaya. “Saya sempat bicara dengannya di Karang Dawa. Betul bahwa dia memang belum mengangkat senjata, tapi cara Swandaru membuat pilihan seringkali berakibat kecemasan panjang bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk Ki Rangga.”

“Saya bertemu lalu bercakap singkat dengan Swandaru pada malam itu,” Agung Sedayu berkata. “Tidak banyak yang kami bicarakan. Swandaru hanya mengatakan bahwa dirinya akan pergi dalam waktu lama.”

Sunan Agung bertanya cukup tenang, “Apakah Swandaru ada di dalam siasat Ki Rangga?”

Agung Sedayu merenung sesaat.

“Maksud saya, tidak melibatkan dirinya dalam penyelesaian gejolak di Tanah Perdikan, apakah itu keputusan Ki Rangga?” lanjut Sunan Agung memberi kejelasan untuk pertanyaan pertama.

“Tidak ada kedudukan khusus, Sinuhun,” jawab Agung Sedayu. “Swandaru, secara bukti keberadaan, memang tidak terlihat di Menoreh tapi itu bukan bagian dari siasat.”

Sunan Agung merendahkan punggung, menghadapkan wajah pada Pangeran Purbaya, lalu bertanya, “Paman, apakah keterangan itu sudah cukup menjadi bantahan bahwa Ki Rangga dikabarkan akan merebut kedudukan sebagai orang yang mewarisi kepemimpinan di Tanah Perdikan?”

“Karena kabar itu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sumber kabar juga sulit dilacak sehingga saya  pikir berita tersebut muncul dari percakapan banyak orang di tempat umum. Petugas sandi juga tidak ada yang membuat laporan itu,” jawab Pangeran Purbaya.

“Baiklah,” ucap Sunan Agung tenang. “Saya tidak akan memperpanjang masalah ini.”

Suasana di dalam ruangan itu seakan menghentikan denyutnya. Tidak ada orang yang bergerak, termasuk pelayan istana yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari Sunan Agung. Hanya sorot mata Sunan yang beralih bergantian kepada Pangeran Purbaya lalu Agung Sedayu.

“Menimbang Swandaru adalah adik seperguruan Ki Rangga, dan juga bagian keluarga melalui pernikahan Ki Rangga dengan Nyi Sekar Mirah,” lanjut Sunan Agung lirih tapi tegas, “saya kira tidak ada keberatan dari Paman Pangeran bila persoalan Swandaru diserahkan sepenuhnya ke tangan Ki Rangga.”

Pangeran Purbaya tidak langsung menjawab. Dia masih menundukkan kepala dengan pantas. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada guratan yang menunjukkan keberatan atau persetujuan berlebihan. Setelah merasa cukup waktu untuk membuat pertimbangan, dia berkata singkat, “Saya, Sinuhun.”

Sunan Agung memalingkan wajahnya kepada Agung Sedayu.

“Ki Rangga,” katanya pelan, “pertemuan sudah memberikan kesimpulan. Pendapat diucapkan juga sudah melalui pemikiran matang. Dengan demikian, Ki Rangga sudah barang tentu paham arah perkembangan. Saya percayakan sepenuhnya pada Ki Rangga.”

Agung Sedayu menunduk dalam. Tangannya terjalin di depan dada—sikap yang nyaris tidak berubah sejak awal. “Saya, Sinuhun.”

Sunan Agung menyandarkan punggung kemudian berkata perlahan. “Baiklah.”

Hanya satu kata itu yang diucapkan untuk menutup pertemuan. Selanjutnya Sunan Agung menyampaikan sejumlah pesan penting untuk Pangeran Purbaya dan Agung Sedayu.

Agung Sedayu menunduk hormat, lalu melangkah mundur sebelum berbalik meninggalkan pendapa. Langkah kaki dan sikap tubuh Agung Sedayu tidak memperlihatkan perasaan yang tertekan. Pintu kayu terbuka pelan dan tertutup kembali tanpa bunyi.

Di dalam ruangan itu tinggal dua orang.

Pangeran Purbaya tidak segera mengangkat wajah, lalu berkata, ”Sinuhun, apakah tidak ada hukuman atas kebohongan?”

Sunan Agung tidak langsung menjawab. Pandangannya mengarah ke depan, melewati ruang kosong yang tadi ditempati Agung Sedayu. Waktu seperti berhenti sekejap.

“Kebohongan?” ulang Sunan Agung lirih.

“Swandaru dikatakan tidak berada dalam siasat,” sahut Pangeran Purbaya hati-hati. “Tetapi keadaan di Tanah Perdikan tidak mungkin dapat diputus seketika dari Swandaru atau berdiri sendiri.”

Sunan Agung menghela napas perlahan. “Awalnya saya berpikir ke sana.”

Pangeran Purbaya menunggu.

“Tetapi ada pertimbangan lain,” lanjut Sunan Agung. “Yang tidak dapat saya katakan terus terang pada Paman.”

“Saya, Sinuhun.” Pangeran Purbaya tidak bertanya lebih jauh. Setelah memberi hormat, dia mundur dan meninggalkan ruangan.

Di beranda kecil yang terletak di dekat pintu menuju gerbang Keraton, Agung Sedayu berdiri tegak seperti sedang menunggu seseorang. Ketika Pangeran Purbaya melangkah keluar, Agung Sedayu mengayun langkah mendekat, lalu menunduk hormat.

“Pangeran.”

Purbaya berhenti satu langkah di depannya.

Tanpa banyak kata, Agung Sedayu mengulurkan tangan. Di atas telapak tangannya ada sebuah lencana kecil—logam kusam dengan ukiran yang hanya dikenali oleh orang-orang tertentu.

Pangeran Purbaya tidak segera mengambilnya. Pandangannya turun sejenak, lalu kembali terangkat pada wajah Agung Sedayu.

“Ada petugas yang tidak datang melapor,” kata Pangeran Purbaya.

“Keadaan medan berkabut dan hujan selama beberapa hari,” ucap Agung Sedayu.

Waktu berjalan beberapa kedipan mata sebelum Pangeran Purbaya mengambil lencana itu dan menyimpannya. “Baiklah, aku terima ini.”

Agung Sedayu merendahkan tubuhnya sedikit lalu berkata, “Saya mohon izin.”

Pangeran Purbaya mengangguk singkat. “Jaga diri dan wilayah baik-baik.”

“Saya, Pangeran.”

Agung Sedayu melangkah mundur lalu berbalik menuju tempat kuda ditambatkan. Pangeran Purbaya berdiri sejenak di tempatnya, kemudian menyimpan lencana di balik ikat pinggangnya.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 30 – Pertemuan Swandaru dengan Perusuh Rumahnya

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 4 – Kepercayaan yang Retak di Perbukitan Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.