Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 59 – Pengintaian Terus Berlanjut Sampai di Kali Progo

Beberapa saat, setelah meninggalkan gelanggang perkelahian melawan seseorang yang belum dikenalnya, Glagah Putih  melintasi bagian dangkal Kali Opak tanpa tergesa-gesa.

Di bawah suasana temaram, di kejauhan, bayangan Ki Wedoro Anom sudah tak tampak lagi olehnya. Glagah Putih mempersempit sorot matanya tapi memang Ki Wedoro Anom tak terlihat lagi olehnya.

“Mungkin dia sudah berada di bagian jalan yang sedikit melengkung,” pikirnya. Glagah Putih lantas menepi, melompat turun dari kuda, menempelkan sepenuh telapak tangan pada permukaan tanah. Dari getaran halus yang merambat, dia tahu ada beberapa kuda yang menapak pelan. Cukup. Maka sepupu Agung Sedayu itu lanas kembali berkuda dengan kecepatan cukup.

Dua penunggang kuda pun tersusul berurutan dari belakang dan melintasi mereka, yang salah satunya adalah Ki Hariman.

Orang itu hanya sempat menoleh sepintas ketika Glagah Putih lewat di sampingnya, tetapi tidak menaruh perhatian lebih. Baginya, orang berkuda yang melintas di jalan itu bukanlah sesuatu yang perlu dicurigai.

Glagah Putih sendiri hanya melirik sekilas. Dia berpikir bahwa dua orang yang disalipnya hanyalah seseorang seperti dirinya yang kebetulan menempuh jalan dan arah yang sama.

Namun setelah melewati dua orang itu, Glagah Putih tidak segera menurunkan laju kudanya. Dia tetap membiarkan kudanya bergerak lebih cepat beberapa saat, sehingga jarak di antara mereka bertambah jauh. Glagah Putih belum terlihat melambatkan kuda hingga kemudian tampak seseorang yang diyakininya adalah Ki Wedoro Anom. Maka Glagah Putih pun memperlambat kudanya sedikit demi sedikit.

Pembayangan Hingga Kali Progo

Malam telah turun sepenuhnya. Langit di atas Mataram masih tak jauh dari mendung meski tipis. Bulan terhalang tapi dia tak pernah mengeluh. Udara terasa terasa lebih menusuk kulit dan tulang ketika orang-orang yang hendak ke Tanah Perdikan Menoreh makin dekat dengan Kali Progo.

Jalan yang mereka tempuh semakin lengang. Sebagian telah berpindah arah ke pedukuhan atau dusun yang ada di balik hutan kecil atau padang liar yang penuh rimbun bambu.

Sawah-sawah mulai jarang, berganti dengan ladang dan rumpun perdu. Dari kejauhan mulai terdengar suara yang samar-samar seperti gemuruh panjang, arus Kali Progo.

Ki Wedoro Anom berkuda dengan sikap yang tenang. Dia tidak tampak menoleh karena gelisah. Keyakinan dirinya cukup tinggi pada saat itu. Bermalam di sisi Kali Progo tentu bukan masalah karena ada pekerjaan besar sudah menunggunya di Tanah Perdikan, seperti itulah yang berada di dalam pikirannya.

Dari jarak yang cukup terukur, Glagah Putih tetap berada di atas tugasnya: membayangi Ki Wedoro Anom. Maka dia memutuskan untuk berjalan kaki sambil menuntun kuda agar tidak mencurigakan, tetapi tidak sampai kehilangan bayangan orang di depannya.

Tak lama kemudian, Ki Hariman dapat menyusul Glagah Putih. Hanya saja, kali ini mereka bertukar mata lalu saling mengangguk.

Menyusul kemudian seorang lelaki dengan pikulan berisi bawang dan rempah-rempah, di belakangnya adalah perempuan dengan memondong keranjang bakulan. Selang beberapa waktu lamanya, beberapa lagi yang berpenampilan sewajarnya para pedagang yang tampak juga berkeinginan dapat tiba di Tanah Perdikan sepagi mungkin.

Di tepi jalan yang agak menjorok ke arah sungai berdiri sebuah gubug terbuka yang dibangun ala kadarnya. Beberapa batang bambu menyangga atap ilalang yang sudah mulai mengering. Di bawahnya orang-orang berhenti sejenak seolah tempat itu memang kerap dipakai para pengelana untuk melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan.

Entah mereka saling mengenal atau tidak, tetapi kehadiran orang-orang itu membuat suasana di tepi Kali Progo menjadi sedikit lebih hidup. Senda gurau pelan sesekali terdengar di antara mereka, bercampur dengan gemuruh air sungai yang mengalir deras dalam gelap malam.

Seseorang menurunkan pikulannya, lalu membuka bungkusan kecil dari daun pisang. Yang lain menuangkan wedang hangat dari kendi tanah liat ke dalam batok kelapa yang dipakai bergantian. Bekal sederhana berpindah dari tangan ke tangan—singkong dan ketela rebus atau sekadar seteguk wedang hangat yang mengusir dingin angin sungai.

Tidak lama kemudian Ki Hariman melangkah mendekat dan duduk di antara mereka lalu bersikap ramah dan seolah-olah dia memang bagian dari rombongan itu.

Tak jauh darinya tampak Ki Wedoro Anom juga ikut bergabung. Dia menerima batok berisi wedang dari seseorang, mengangguk singkat sebagai tanda terima kasih, lalu meneguknya perlahan.

Di bawah cahaya bulan yang pucat dan temaram lampu minyak kecil yang digantung pada tiang bambu gubug itu, orang-orang yang tadinya hanya lewat kini duduk bersama, berbagi bekal dan kehangatan malam di tepi Kali Progo.

Pada waktu itu, Glagah Putih mengambil tempat agak berjauhan—pada titik yang memungkinkannya mengamati gubug itu sekaligus jalan yang melintas di depannya. Dari sana, dia dapat melihat orang-orang yang berkumpul di bawah atap ilalang, sementara matanya sesekali menyapu jalan yang memanjang di tepi Kali Progo.

Lamat-lamat derap pelan seekor kuda datang dari jalan yang redup diterangi cahaya bulan. Penunggangnya melambatkan kuda ketika akan melewati gubug itu. Sikapnya cukup tenang, sempat berpaling sekilas, mengamati sebentar orang-orang yang berhenti di sana. Kudanya terus melangkah melewati gubug, mengikuti jalan di tepi Kali Progo.

Beberapa puluh langkah kemudian dia mempercepat laju kudanya sebentar, lalu memperlambat kembali ketika mencapai bagian jalan yang lebih sepi dan agak menjauh dari keramaian kecil di gubug. Di tempat itu, Ki Wira Sentanu melompat turun dari kudanya. Agaknya dia juga akan mengambil malam yang panjang di tepi Kali Progo.

Glagah Putih dapat mengenali orang itu adalah orang yang menjadi lawannya di Kali Opak. Saat penunggang kuda itu menjauh, Glagah Putih masih dapat melihat bayangan kuda dan penunggangnya kemudian berhenti di bawah cahaya bulan.

Malam masih belum bertambah larut ketika dua lelaki berusia hampir setengah baya melangkah berdampingan dengan pikulan melintas di depan Glagah Putih. Agak jauh di belakang mereka ada orang berjalan tenang sambil menuntun kuda. seorang penunggang kuda kemudian datang dari arah dan jalur yang sama dengan Ki Wira Sentanu. Dia memperlambat langkah ketika melewati gubug itu, lalu berbelok ke arah tempat Ki Wira Sentanu berhenti. Namun orang itu tidak mendekat. Ia berhenti beberapa langkah sebelum tempat Ki Wira Sentanu beristirahat.

Demikianlah orang-orang itu sama-sama melewatkan malam di tepi Kali Progo. Percakapan ringan di gubuk pun mereda perlahan agaknya masing-masing orang mulai  beristirahat secukupnya untuk perjalanan esok hari.

Ketika fajar mulai memecah batas langit timur, kegiatan di gubug ternyata sudah menggeliat. Beberapa orang tampak sudah bersiap melanjutkan perjalanan. Satu demi satu mereka keluar dari gubug, berjalan mendekati perahu pertama dari seorang tukang satang yang sedang sibuk memeriksa keadaan perahu.

Perahu pertama telah ditarik sedikit ke air yang lebih dalam. Tukang satang itu menahan lambungnya sambil sekali lagi memeriksa ikatan pada tiang kecil di haluan.

Beberapa orang yang tampaknya hanya penumpang biasa segera melangkah lebih dahulu. Mereka naik dengan hati-hati, meniti papan sempit yang dijadikan pijakan. Setelah itu seorang lelaki bertubuh sedang dengan wajah yang sukar ditebak usianya melangkah menyusul. Ki Hariman tidak banyak berkata. Dia hanya menoleh sepintas pada arus Kali Progo yang mulai memantulkan warna pucat fajar, lalu naik perlahan ke atas perahu sambil menggenggam erat tali kuda.

Ki Wedoro Anom yang sejak tadi berdiri sedikit menjauh segera mengikuti. Dia turun dengan gerakan yang lebih berhati-hati dengan kuda yang cukup dijaga kendalinya.  Setelah dianggap cukup, tukang satang mendorong perahu itu perlahan menjauh dari pasir tepian.

Sementara itu perahu kedua sudah dipersiapkan ketika perahu pertama sudah mencapai bagian tengah Kali Progo..

Beberapa orang yang juga tampak sebagai pedagang naik lebih dahulu. Mereka duduk rapat di sisi kiri dan kanan. Tak lama kemudian Ki Wira Sentanu berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tetapi matanya sempat menyapu keadaan di sekeliling tepian sungai.

Seorang yang lain yang juga menuntun kuda mengikuti di belakangnya.

Tanpa banyak bicara Ki Wira Sentanu melangkah naik ke perahu. Orang yang di belakangnya menyusul kemudian, mengambil tempat terpisah dari Ki Wira Sentanu. Tukang satang kedua menunggu hingga semua penumpang siap, lalu dengan satu dorongan kuat perahu itu mulai bergerak meninggalkan tepian.

Satu perahu kemudian datang menepi di dermaga kecil itu.

Orang-orang berdatangan satu demi satu dengan jarak waktu yang wajar. Mereka berbicara pelan satu sama lain sambil menunggu perahu di dorong ke air.

Di antara mereka ada Glagah Putih berjalan mendekat dengan langkah ringan. Dia sempat memandang aliran sungai yang tenang, lalu tanpa ragu melangkah naik dengan kuda yang terus diusap lehernya. Ketika tukang satang memberi dorongan terakhir, perahu ketiga pun meluncur perlahan memintas badan sungai hampir bersamaan dengan perahu pertama yang tampaknya telah membawa penumpang pula ke arah timur Kali Progo.

Sekali-kali terdengar ada orang bercakap lirih. Meski tidak jelas yang dibincangkan tapi setiap yang mendengar mungkin sudah menduga mereka membicarakan cuaca atau hal-hal ringan lainnya.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 35 – Awal Kehendak Besar di Ringinlarik

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 19 – Aku Berdiri di  Sisimu, Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 39 – Gelisah di Lorong Barak

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.