Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 60 – Persoalan Ini Tidak Dapat Ditunda Lagi

Tampaknya Harus Ada Keputusan

Ketika perahu pertama telah merapat di tepi barat Kali Progo dan orang-orang yang menumpanginya mulai bergerak menuju Tanah Perdikan Menoreh, suasana yang jauh berbeda justru tampak di pusat kotaraja.

Sejumlah kesibukan terlihat di beranda utama Keraton. Beberapa tumenggung dan petinggi Mataram berdiri berkelompok dalam percakapan yang terdengar lirih dengan berbagai persoalan yang penuh arti dan membutuhkan masukan. Wajah-wajah penuh kesungguhan seakan memperlihatkan kesan bahwa pekerjaan mereka bukan sekadarnya saja.

Seorang pengawal dari ruang dalam kemudian meminta semua orang segera memasuki balai pertemuan agung.

Seorang demi seorang kemudian melangkah dan dalam sekejap kemudian getar langkah kaki bergema di lantai batu yang luas. Setiap orang sudah mengetahui tempat duduk sesuai kedudukan masing-masing, sementara beberapa prajurit pengawal berdiri tegak di sisi-sisi ruangan.

Pertemuan itu tidak sekadar pertemuan biasa.

Balai agung itu perlahan dipenuhi oleh orang-orang yang memegang tanggung jawab atas kesejahteraan orang banyak. Percakapan-percakapan kecil mulai mereda ketika seorang abdi dalam melangkah masuk dan memberi isyarat bahwa pertemuan segera dimulai.

Di antara mereka, ada yang telah mendengar kabar samar tentang pergolakan di Tanah Perdikan Menoreh. Namun tidak seorang pun dapat memastikan dampak persoalan itu dapat mempengaruhi Mataram.

Pintu besar balai ditutup perlahan dengan hati-hati dari luar.

Cahaya pagi menembus kisi-kisi jendela dan jatuh memanjang di lantai batu. Udara di dalam ruangan terasa teduh.

Laporan pertama datang dari wilayah pesisir utara. Seorang tumenggung yang bertubuh tinggi bangkit dari duduknya, menyampaikan keadaan perdagangan yang sempat terganggu oleh gerakan orang-orang yang tidak dikenal di beberapa pelabuhan kecil. Dia berbicara tenang, tetapi kata-katanya memperlihatkan kehati-hatian yang jelas.

Seusai laporan itu, giliran pejabat dari wilayah lain menyampaikan perkembangan di daerahnya. Ada yang melaporkan hasil panen yang cukup baik, ada pula yang menyampaikan tentang kelompok-kelompok kecil yang mulai menunjukkan keberanian menantang pengawasan para penguasa setempat. Setiap laporan diikuti oleh pertanyaan-pertanyaan singkat, kadang disertai tanggapan dari pejabat lain yang merasa berkepentingan.

Waktu berjalan perlahan.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Matahari yang semula masih rendah mulai naik semakin tinggi. Cahaya yang masuk melalui jendela-jendela bergeser perlahan di lantai balai. Para abdi dalam beberapa kali keluar masuk dengan membawa kendi air dan cawan kecil untuk para peserta rapat.

Pembahasan kemudian beralih pada keadaan di wilayah barat Mataram. Nama-nama tempat yang jarang disebut dalam pertemuan biasa mulai terdengar: desa-desa kecil di kaki perbukitan, jalur perdagangan yang melintasi sungai, serta daerah perdikan yang selama ini dikenal tenang.

Beberapa tumenggung saling bertukar pandangan ketika Tanah Perdikan Menoreh disebut dalam salah satu laporan. Namun pembicaraan tidak segera mendalam ke arah itu. Sunan Agung tampak tidak menempatkan laporan itu menjadi bagian paling membutuhkan  perhatian. Menurutnya, masih banyak keadaan yang lebih penting untuk segera diselesaikan.

Di luar balai, matahari telah berdiri tinggi di langit. Bayang-bayang di halaman keraton memendek.

Sunan Agung memberi tanda bahwa pertemuan segera berakhir tepat pada tengah hari.

Matahari telah berdiri hampir tepat di atas halaman keraton ketika pembahasan terakhir ditutup.

Tidak semua persoalan memperoleh keputusan yang bulat, tapi seluruhnya sudah mendapatkan perhatian dan arah tindakan.

Pada saat rapat dinyatakan selesai, para pejabat Mataram bangkit hampir bersamaan. Mereka saling memberi sembah singkat sebelum berjalan keluar balai agung. Percakapan kembali terdengar dengan nada lebih ringan. Senyum mulai tampak mengembang. Kelegaan memancar dari wajah mereka.

Satu demi satu mereka meninggalkan balai pertemuan.

Tidak lama kemudian ruangan yang luas itu menjadi lengang.

Adalah Sunan Agung, Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Purbaya saja yang masih berada di dalam ruangan.

Dari samping, pintu kecil tampak dibuka dari luar, Pangeran Selarong masuk dengan langkah tegap dan penuh hormat. Sejenak kemudian, dia menghaturkan tanda hormat pada tiga orang yang menjadi pilar Mataram secara berurutan dimulai dari Sinuhun, Ki Patih Mandaraka kemudian Pangeran Purbaya.

“Paman, bagaimana keadaan terakhir Tanah Perdikan Menoreh?” tanya Sunan Agung pada Pangeran Purbaya.

Pangeran Purbaya mengangguk, maju setengah langkah, katanya, “Selalu dalam keadaan terkendali, Sinuhun.” Kemudian dia menambahkan beberapa hal seperti penyelesaian akhir sebagai akibat dari sepak terjang Raden Atmandaru dan panen yang tidak sesuai dengan perkiraan waktu.

“Ki Gede mungkin sudah mengetahui persoalan itu,” sambung Pangeran Purbaya, “tapi Mataram tetap harus berada di belakang beliau dengan pertimbangan khusus.”

Sunan Agung mengangguk, lalu berpaling pada Ki Patih Mandaraka seperti sedang menunggu pertimbangan lain darinya.

Sedikit yang diucapkan oleh Ki Patih Mandaraka tapi secara umum tidak ada keberatan atas yang disampaikan oleh Pangeran Purbaya.

Pangeran Selarong mengikuti perbincangan dengan wajah menatap lantai.

“Adi Pangeran, apakah Panjenengan ada sudut pandang yang berbeda?” tanya Sunan Agung pada Pangeran Selarong.

Sebelum menjawab, Pangeran Selarong mengatur napas, kemudian berkata dengan hati-hati, “Semua sudah diutarakan oleh Paman Pangeran dan Ki Patih.”

Sunan Agung mengangguk tapi tidak mengucapkan kata-kata. Dia tahu nada yang sedang digantung oleh saudaranya itu.

Dengan wajah sungguh-sungguh, Pangeran Selarong berkata lagi, “Saya mendengar kabar dari beberapa orang yang dapat dipercaya bahwa seseorang datang ke Jati Anom sambil menyebut kitab milik Kyai Gringsing.”

Sunan Agung memicingkan mata, lalu menatap bergantian pada Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka. Sinar matanya sedikit berubah, lalu berkata, “Saya juga mendengar itu.”

“Menurut saya, yang kemudian menjadikan peristiwa itu harus mendapatkan perhatian adalah orang tersebut bergeser ke barat. Tanah Perdikan sepertinya menjadi tempat yang paling mungkin untuk dijadikan tujuan olehnya,” ucap Pangeran Selarong.

Suasana cukup hening saat itu ketika setiap orang sedang menunggu Pangeran Selarong melanjutkan keterangannya.

“Ki Tumenggung Untara berdasarkan keterangan Ki Lurah Panuju dan Ki Lurah Sabungsari, mengirim orang untuk melaporkan itu pada saya. Tentu dan hampir pasti ada sesuatu yang membuat Jati Anom gelisah hingga kabar itu saya terima malam hari,” sambung Pangeran Selarong.

Setelah berhenti sejenak, memandang sekilas Pangeran Purbaya, kemudian Pangeran Selarong berkata lagi, “Sudah barang tentu Paman Pangeran juga mendapatkan laporan yang sama.”

Pangeran Purbaya mengangguk tanpa mengatakan sesuatu.

Dalam waktu itu, baik Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka belum dapat menduga maksud dari kata ‘sesuatu’ yang diucapkan oleh Pangeran Selarong. Sedangkan Sunan Agung masih bersikap tenang dengan wibawa penuh.

“Orang yang mendatangi Perguruan Orang Bercambuk, orang yang datang membawa  kitab lalu menunjukkan pada Ki Widura, menurut laporan, adalah orang yang pernah bertempur dengan mereka saat Jati Anom terjadi kerusuhan akibat pembakaran orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” lanjut Pangeran Selarong.

“Bukankah itu sudah cukup lama?” ucap Pangeran Purbaya seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Ki Patih Mandaraka dan Sunan Agung mengangguk bersamaan.

“Benar, Paman,” kata Pangeran Selarong. “Tapi Ki Lurah Panuju dan Ki Lurah Sabungsari yakin bahwa orang itu terlibat dalam gerakan Raden Atmandaru. Dari seluruh keterangan, saya merangkai dan menghubungan satu sama lain maka tibalah pada kesimpulan bahwa orang itu ada kaitan dengan gerakan Raden Atmandaru.”

Pangeran Selarong lantas mengurai jalan pikirannya hingga mencapai pendapat yang menghangatkan suasana pada akhir siang itu.

“Sepertinya persoalan itu tidak dapat lagi ditunda, Paman sekalian,” kata Sunan Agung dengan tatap mata tertuju pada Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka seusai Pangeran Selarong mengakhiri penjelasan.

Ki Patih Mandaraka menarik napas dalam-dalam, mengangguk, lalu memandang Pangeran Purbaya. “Sesuatu yang besar mungkin dapat terjadi.”

Pangeran Purbaya meraba dagu kemudian berkata, “Saya masih terhalang dengan keadaan tahanan perang di dalam barak pasukan khusus.”

Sunan Agung mengerakkan tangan lalu ucapnya, “Sebetulnya tidak terlalu mengkhawatirkan karena Raden Atmandaru tidak menyisakan kekuatan sedikit pun di belakangnya. Lagipula, Nyi Banyak Patra juga berada di dalam barak, bahkan sejak pertempuran sampai hari ini.”

Ki Patih Mandaraka memejamkan mata dengan sedikit perubahan pada garis wajah yang banyak garis-garis panjang. Katanya, “Saya akan bicarakan itu dengan Agung Sedayu.”

“Paman Patih,” sahut Pangeran Purbaya, “mohon diperkenankan agar saya saja yang akan menanyakan itu pada Ki Rangga.”

Sunan Agung menegakkan punggung lalu menebarkan pandangan. “Baiklah, kita sudah sampai pada batas kesepakatan.” Pertemuan kemudian ditutup setelah Sunan Agung memberikan pesan-pesan yang sudah semestinya diterima oleh tiga orang yang berdiri di depannya.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 42 – Pagi yang Sunyi di Jantung Mataram

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 21 – Benturan Meledak: Agung Sedayu Mendobrak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 47 – Kitab Kyai Gringsing Menarik Perhatian Keraton

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.