Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 63 – Swandaru Bergerak ke Gunung Kendil

Dari sisi selatan Dusun Ringinlarik, suara ribut itu pecah seperti angin yang datang bersama hujan.

Swandaru berhenti. Kepalanya hanya sedikit terangkat seperti sedang memastikan arah datang suara. Tapi itu tidak lama, dia sudah berjalan lagi dengan langkah yang terayun tenang.

Ketika menuruni pematang sambil sekali-kali melompati parit kecil atau sebongkah batu, dia terkenang dengan waktu pertama berlatih di bawah pengajaran Kyai Gringsing. Kilasan singkat datang dan pergi dari benaknya: tentang Sidanti, Tohpati, Ki Tambak Wedi hingga saat pekenalannya pertama kali dengan Raden Mas Ngabehhi Loring Pasar. Swandaru tersenyum, menggeleng lalu menghempaskan napas panjang.

Saat dia sudah mencapai jalan setapak, tak jauh darinya, sebuah gelanggang perkelahian yang tidak seimbang sedang berlangsung. Seorang pedagang terdesak di depan lumbung. Empat laki-laki berdiri tidak jauh darinya. Dua orang dari mereka sedang membongkar  kantung-kantung kecil yang berada di atas pedati. Mereka mengucap kata-kata kotor yang ditujukan pada pedagang itu. Kemudian perkelahian sedikit mereda sewaktu pedagang itu hampir jatuh di atas lututnya. Yang tersisa kemudian adalah seolah-olah pedagang itu akan mendapatkan hukuman berat.

Swandaru berhenti sejenak. Mengamati keadaan, pikirannya bergerak cepat lalu berjalan ke arah lumbung.

“Pergilah kalian semua,” kata Swandaru dengan suara yang tidak keras.

Dua orang yang paling dekat berpaling padanya lalu salah seorang menyeringai sambil berkata, “Urusilah hidupmu sendiri.”

Swandaru tidak menjawab tapi dia semakin dekat.

Orang itu juga melangkah maju.

Dengan gerakan pendek, serangan berbahaya tiba-tiba dilepaskannya dengan pedang terjulur panjang pada dada Swandaru.

Itu akan menjadi ulangan dari perkelahian yang tidak seimbang dari segi jumlah. Sekejap kemudian, perkelahian itu meningkat cepat dan menjadi cukup dahsyat.

Swandaru kadang-kadang bergerak mundur selangkah, lalu meloncat ke samping kiri atau kanan dengan kelincahan yang cukup berbeda dibandingkan tata geraknya saat di Watu Sumping. Sejauh itu dia masih menghadapi empat orang itu dengan tangan kosong yang tidak dapat diremehkan.

Rupanya gerakan Swandaru meningkat meski belum sepenuhnya pulih. Dia tangkas menghalau serangan demi serangan dengan tangkisan yang mematahkan pergelangan tangan lawan. Empat ujung benda tajam belum sekalipun dapat menyentuh kulit Swandaru. Namun demikian, perkelahian mereka semakin lama menjadi semakin hebat.

Dalam perkelahian itu, Swandaru tampaknya tidak ingin cepat mengakhiri perkelahian. Dia sepertinya benar-benar menggunakan empat orang itu sebagai batu uji untuk latihan-latihan yang dijalaninya setiap hari sejak meninggalkan Sangkal Putung. Murid Kyai Gringsing itu mencoba banyak hal dari dasar jalur ilmu yang dikuasainya dengan ditunjang  pengalaman tandingnya yang panjang.

Empat lawan Swandaru tertegun. Mereka tidak mengira bahwa orang bertubuh gempal itu ternyata menyimpan kekuatan yang menakjubkan.

Liat dan sangat sulit dikalahkan, kira-kira seperti itu yang ada di dalam pikiran mereka.

Ki Garjita yang berdiri agak jauh dari lingkar pertarungan itu mengamati dengan cermat. Sekali-kali dia mengangguk lalu memuji Swandaru dalam hati. Meskipun orang ini belum mengetahui ketangkasan, kecepatan dan kekuatan sesungguhnya dari Swandaru. Namun itu tidak menghalanginya untuk membentuk pendapat yang sangat baik terhadap kedalaman ilmu dan wawasan Swandaru. Maka Ki Garjita pun perlahan-lahan mulai dapat membayangkan kehebatan akar yang menjadi penunjang ketinggian ilmu Swandaru Geni.

Agak jauh dari lumbung atau gelanggang perkelahian, Ki Astaman mengikuti hampir semua dari dua orang yang dibayanginya sejak dari Ringinlarik. Dia sedikit terkejut saat mengenali sebagian dari empat orang yang mengeroyok Swandaru. Satu atau dua di antaranya adalah anak buah Ki Garu Wesi, pikirnya.

Sama seperti Ki Garjita yang sudah mendapatkan ketinggian ilmu Swandaru, Ki Astaman agaknya sedikit lebih cermat. Dalam pandangannya, di balik tata gerak dasar Swandaru rupanya tersimpan kekuatan terpendam, yang akan berkembang sangat besar apabila telah menemukan pakemnya.

Setelah mempertimbangkan beberapa keadaan dan kemungkinan sejak dirinya mengetahui keberadaan Swandaru di kedai, Ki Astaman memutuskan untuk menampakkan diri. Dia berjalan tenang, mendatangi Ki Garjita lalu bersuara pelan dari belakang.

“Rupanya beberapa pengikut Raden Atmandaru dapat selamat dari terjangan Mataram,” ucapnya.

Ki Garjita menoleh tapi dia tidak terkejut karena sudah mendengar desir kaki ke arahnya. “Demikianlah seperti yang Ki Sanak lihat hari ini.”

Ki Astaman bergumam lalu berkata dengan tatap mata tertuju pada arena perkelahian, ”Swandaru, selama ini aku hanya mendengar namanya sebagai murid Kyai Gringsing.”

Ki Garjita mengangguk lalu mereka sama-sama melihat pertarungan yang semakin lama semakin tidak seimbang.

Seperti sudah merasa cukup untuk memanaskan badan, Swandaru tiba-tiba meningkatkan kecepatannya. Swandaru meloncat ringan setengah langkah lalu tangannya menyambar dua orang yang bertarung sejajar. Tidak sampai sekejap, dua orang itu terpental, roboh lalu menggeliat kesakitan.

Swandaru memutar tubuh, arah matanya menangkap pada bagian kiri tapi ternyata itu adalah sebuah tipuan saja darinya. Dia menjejak kaki sangat kuat ke permukaan tanah lalu melesat ke samping kanan. Membuat gerakan kaki memutar, menendang dalam keadaan melayang. Satu orang terhantam.

Seorang yang lain hanya terperangah. Dia seperti sulit percaya dengan kenyataan bahwa tiga temannya roboh tidak sampai dalam hitungan delapan.

Sekejap kemudian, Swandaru sudah berdiri di depannya.

“Pergilah, tapi jangan tinggalkan kawan-kawanmu,” kata Swandaru. “Orang-orang di sekitar sini sudah dalam keadaan sulit, sebaiknya kalian tidak menambah derita lagi untuk mereka.”

“Apa pedulimu?” teriak orang pertama yang tumbang sambil bersungut-sungut.

“Sebenarnya aku tidak peduli,” sahut Swandaru. “Karena, jika kalian melakukan lagi maka aku pun dapat menjadikan kalian sebagai kawan latih tanding tanpa susah payah.”

Ki Garjita tersenyum tipis mendengar percakapan mereka yang sudah berhenti berkelahi.

“Jadi, pergilah sebelum aku berubah pikiran lalu menghabisi kalian semua di sini,” ucap Swandaru tegas.

Orang terakhir yang lolos dari terkaman Swandaru kemudian mengangkat wajah karena sebelumnya dia hanya menatap tanah dalam-dalam.  Pandangannya memutari lingkungan. Saat matanya terbentur sosok yang duduk di atas batuk kecil, dia mengerutkan kening. Agaknya dia dapat mengenali orang itu.

“Hey,” dia berseru dengan tangan menunjuk arah tertentu pada kawan=kawannya yang masih bersitegang dalam diam dengan Swandaru. “Bukankah itu Ki Astaman?”

Seseorang terdengar menyahut dengan mata agak terpicing, “Ya, ya, benar. Dia Ki Astaman.”

Serentak Swandaru, Ki Garjia dan tiga pengeroyok Swandaru pun memandang pada titik yang sama. Tapi wajah Swandaru tidak memperlihatkan perubahan karena dia memang tidak mengenal orang yang sedang menjadi perhatian itu. Setelah menimbang keadaan, dia mendatangi pedagang yang sedang membenahi dagangannya.

“Apakah Ki Sanak dari pedukuhan induk?” tanya Swandaru kemudian duduk di sampingnya.

“Iya, benar,” jawab pendek pedagang itu lalu mengucapkan terima kasih.

“Tidak, itu tidak perlu karena aku hanya lewat saja dan kebetulan Ki Sanak sedang dikeroyok,” kata Swandaru sambil menggeleng. “Aku tidak suka itu.”

Pedagang tadi mengangguk, ucapnya, “Apapun itu, saya tetap harus berterima kasih pada Ki Sanak.” Kemudian dia meminta diri untuk melanjutkan urusannya yang tertunda di beberapa dusun lagi.

Swandaru bangkit, mempersilakannya berangkat. Sejenak kemudian, dia menatap pada orang-orang yang sekarang seolah sedang berada di dalam lingkaran. Swandaru tidak menaruh peduli dengan keadaan itu, kakinya lantas melangkah ke arah Gunung Kendil.

Lingkaran itu terasa mengikat karena kesamaan latar belakang dan juga pikiran masing-masing yang belum menemukan cara untuk diucapkan.

Ki Astaman memandang kepergian Swandaru dengan tenang. Adanya dugaan yang muncul dalam pikirannya bahwa kemampuan Swandaru sedikit tergantung pada sesuatu yang belum dipahaminya, mendorongnya bersikap hati-hati dan penuh pertimbangan. Sejenak dia memandang Ki Garjita.

“Kyai, apakah Anda sudah cukup lama bersama dengannya?” tanya Ki Astaman pada Ki Garjita.

Ki Garjita mengangguk tipis lalu memandang arah kepergian Swandaru. “Yah, sejak dia keluar dari Sangkal Putung. Dia pergi dengan beberapa alasan, saya pikir seperti itu.”

“Bagaimana rencana Kyai selanjutnya?”

“Yah, hanya mengikutinya saja meski sejak awal ajakan untuk bekelana ke barat sudah ditolaknya,” jawab Ki Garjita.

Ki Astaman berpikir sebentar, ucapnya kemudian, “Saya sedikit tertarik untuk mengikutinya. Bila perlu, mendampinginya.”

Empat orang yang sebelumnya mengeroyok Swandaru saling berpandangan. Wajah mereka tidak lagi panas, tetapi belum sepenuhnya dingin.

“Mendampingi?” salah seorang mengulang, dengan nada yang masih menyisakan ganjalan. “Saya tidak setuju dengan itu. Jadi, kami akan kembali ke sarang.”

“Tidak, Ki Sanak tidak perlu lagi menempuh cara-cara yang justru mengundang perhatian Mataram ke sini. Itu membuat lingkungan ini menjadi tidak aman lagi. Tapi saya tidak menyarankan Ki Sanak sekalian untuk bertani,” sahut cepat Ki Astaman tapi tetap dengan nada halus. “Kurang lebih seperti itu, Ki Wiraditan. Saya harap Kyai dapat mengerti.”

Ki Garjita mengangguk.

Keraguan masih tampak, tapi tidak ada yang benar-benar menolak.

 “Ki Astaman,” masih kata orang pertama, “apakah itu berarti kita akan mengikuti orang itu? Orang yang baru saja membuat kami jatuh satu per satu?”

Ki Astaman menjawab singkat, “Tidak.”

Akhirnya salah seorang berkata, “Baik. Tapi kami tidak sedang berusaha menjadi pengikutnya.”

Dia memandang wajah kawan-kawannya satu demi satu. “Aku kira kita cukupkan diri hanya pada Raden Atmandaru. Bukan begitu?”

Tiga kawannya pun bertukar pandang.

“Semuanya, kita kembalikan pada keadaan,” tukas orang pertama dari kawanan itu. “Aku pikir mengikutinya itu sudah cukup untuk mengamankan diri. Yang dikatakan oleh Ki Astaman itu ada benarnya.”

Kawan-kawannya mengangguk.

Satu tarikan napas panjang mengawali tanggapan Ki Garjita. “Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik dari rencana yang sangat menarik. Saya pun berpikiran sama.”

Ki Astaman meminta empat pengeroyok Swandaru maju sedikit rapat, kemudian mengungkapkan rencana di depan mereka

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 48 – Pintu Istana yang Tertutup

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 27 – Keheningan Maut

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 40 – Pandan Wangi: Kebenaran yang Tertunda

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.