Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 70 – Akar Lama yang Berasal Sumber yang Sama, Kakang Panji

Dua hari kemudian, ruang utama Keraton telah dipersiapkan.

Orang-orang hadir dengan tanda kepangkatan dan pakaian resmi. Raut wajah mereka tampak sumringah tanpa mengurangi keanggunan yang memenuhi ruangan. Sebagian bahkan nyaris tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan dengan pelatikan tersebut.

Wisuda dibuka dengan harapan-harapan yang dipanjatkan demi kejayaan Mataram dan kesejahteraan setiap orang yang hidup di  dalamnya. Satu demi satu nama disebut, maju ke depan menerima tanggung jawab baru dari Sunan Agung. Pangeran Purbaya berdiri agak jauh dari singgasana raja.

Nama Agung Sedayu disebut di pertengahan acara. Beberapa orang cepat memberikan selamat. Sebagian memandang dengan perasaan yang beraneka ragam.

Pelantikan itu berlangsung tanpa kemegahan yang berlebihan.

Agung Sedayu merendah di hadapan Sunan Agung dan Pangeran Purbaya sebagaimana wajarnya. Tidak banyak kata yang diucapkan pada waktu itu, tapi setiap orang paham bahwa suasana khidmat itu justru mengikat lebih kuat daripada sumpah yang panjang.

Ki Lurah Sanggabaya kemudian maju, mendapatkan anugerah sebagai rangga. Sebuah pengabdian yang memang sudah sepantasnya dihargai dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Berturut-turut sejumlah nama kemudian disebutkan.

Satu per satu mereka maju dengan sikap tertib, menerima anugerah tanpa banyak kata. Tidak ada sorak yang berlebihan. Ketundukan dan kesadaran lebih menguasai pikiran dan perasaan mereka seiring dengan sematan di pundak sebagai kehormatan itu.

Ketika nama terakhir selesai disebut, suasana menjadi hening.

Sunan Agung mengangkat tangan perlahan, memberi isyarat penutup. Tidak ada kata-kata panjang darinya. Semua orang sadar bahwa Mataram akan berubah dalam waktu yang tidak lama lagi.

Orang-orang mundur dengan tertib, meninggalkan tempat dengan langkah yang lebih berat daripada saat mereka datang. Sebab mereka tahu, pelantikan itu bukan hasil akhir tapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar dan tidak mungkin dapat dihindari.

Di beranda samping, Pandan Wangi terlihat bercakap-cakap dengan beberapa senapati. Mereka bertanya tentang  kabar Ki Gede Menoreh dan Tanah Perdikan. Kinasih tampak berdiri di sebelah Kyai Bagaswara di bagian lain halaman yang berada di depan beranda. Sedangkan Sekar Mirah menerima ucapan selamat dari orang-orang yang mengenal Agung Sedayu.

Sementara Agung Sedayu sendiri sempat berada di tengah lingkar ucapan selamat, membalas dengan anggukan singkat tanpa banyak kata. Namun ketika pandangannya menangkap seorang pelayan dalam yang sibuk membawa hidangan, perhatiannya seketika terhenti.

Dia bergeser selangkah keluar dari kerumunan, cukup untuk memastikan dari jarak yang lebih jelas. Wajah itu, gerak langkahnya, dan sikap yang terlalu terjaga bagi seorang pelayan biasa—semuanya terasa tidak asing.

Setelah itu, dia kembali seperti semula dan segalanya berlangsung secara wajar.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Beberapa waktu kemudian, Agung Sedayu dan iring-iringan kecilnya berada di Kepatihan.

Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Agung Sedayu mengitari Ki Patih Mandaraka yang sepertinya mulai memasuki masa ketika tenaga tidak lagi sepenuhnya sejalan dengan kejernihan pikirnya dan kedalaman wibawa.

Meski sebenarnya tidak perlu diungkapkan, tapi Ki Patih kemudian menguraikan pembicaraan-pembicaraan yang berhubungan langsung dengan kenaikan pangkat Agung Sedayu.

“Sinuhun menimbang bahwa keberadaan pasukan khusus sudah sepatutnya untuk dikembangkan,” ucap Ki Patih Mandaraka menutup penjelasan. Dia tidak menyebut tanggapan Pangeran Purbaya yang masih keberatan karena tahanan perang ternyata bergerak bebas di dalam barak pasukan khusus.

Yang kemudian lebih banyak mengisi udara adalah kata demi kata Ki Patih Mandaraka lebih berisi pesan dan petuah, terutama bagi Agung Sedayu.

Keharuan datang tanpa suara tapi mereka tetap berbicara seperti biasa meski paham bahwa ada sesuatu yang tidak akan kembali sama setelah hari itu. Namun tidak ada yang mampu mengucapkan.

Pada ruang terpisah, Kinasih duduk di dekat lutut Nyi Banyak Patra.

Perempuan tua itu memandangnya lebih lama dari biasanya, jemarinya yang mulai keriput bergerak pelan, menyentuh ujung rambut Kinasih yang tergerai rapi.

“Kau dulu tidak seperti ini,” katanya lirih, dengan senyum yang nyaris tak terlihat. “Masih kerap mengeluh kalau disuruh ke pasar pagi-pagi. Kadang-kadang ingin membantah jika tiba waktu untuk berlatih.”

Kinasih menunduk, senyum menghias sudut bibirnya.

Nyi Banyak Patra mengangguk pelan. “Walau begitu, semuanya kau jalani dengan sangat baik.”

Kinasih tidak segera menjawab. Ingatan-ingatan itu datang tanpa diminta—sawah di Pengging, pasar, suara orang-orang yang kerap memanggilnya jika sudah terlalu dekat dengan sungai berbadan lebar. Bahkan percakapan orang-orang di pasar seakan terngiang kembali di telinganya.

Sejenak, keduanya terdiam. Tidak ada lagi yang perlu dikejar dari masa lalu itu. Semuanya telah tinggal sebagai bekal yang diam yang tak pernah benar-benar hilang.

Agung Sedayu memutuskan untuk menginap barang semalam di Kepatihan. Perkenan hangat pun diberikan oleh Ki Patih Mandaraka. Dan seperti itulah yang kerap terjadi pada hubungan mereka berdua.

Setelah jamuan makan malam, di salah satu ruang yang tidak terlalu luas, Agung Sedayu berbincang dengan Nyi Banyak Patra yang ditemani Kinasih dan Pandan Wangi. Ki Patih Mandaraka duduk agak jauh dari lingkaran orang-orang itu.

Perempuan itu tidak menyambut dengan berlebihan ketika Agung Sedayu mengungkapkan segala tentang pelayan dalam dan yang dialaminya bersama Glagah Putih.

“Aku tidak begitu yakin tapi sepertinya bukan berasal dari kebanyakan perguruan di lereng Merbabu,” kata Nyi Banyak Patra.

“Sedayu,” ucap Ki Patih Mandaraka. “Tentu kau masih ingat ketika dirimu terikat perang tanding melawan Ki Tumenggung Prabadaru.”

Agung Sedayu mengangguk. Pandan Wangi mulai menebak arah pembicaraan Ki Patih Mandaraka. Sementara Kinasih masih terlihat tekun menyimak percakapan.

“Kakang Panji,” desah lirih Agung Sedayu.

“Benar,” kata Ki Patih Mandaraka lirih. “Meski dugaanku kurang begitu kuat, tapi tata gerak dasar yang kau jelaskan sepertinya memang mengarah pada Kakang Panji. Seandainya benar, itu bukan perkara mudah apabila ada pembalikan arah yang mungkin terjadi pada masa mendatang.”

“Keadaan yang tidak pernah benar-benar tenang,” timpal Nyi Banyak Patra. “Kehadirannya di sekitar Sinuhun dan Pangeran Purbaya menjadi sulit disentuh.”

Agung Sedayu tidak segera menjawab.

Nyi Banyak Patra melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Dia tidak begitu menonjol dan sepertinya sangat pandai menyimpan ketinggian ilmunya.”

Dia berhenti sejenak, lanjutnya kemudian, “Sisa lama yang tidak ikut padam meski Panembahan Senapati telah tiada.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya sedikit lalu menarik napas dalam-dalam.

Di antara mereka, kecuali Kinasih, penyebutan nama Kakang Panji tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat berat untuk dipikirkan. Apakah akan muncul lagi makar dalam waktu dekat setelah Raden Atmandaru ditumpas? Adakah orang itu mempunyai rencana lain tanpa mengerakkan banyak orang seperti kebanyakan pemberontakan? Bagaimana dia bisa berada begitu dekat dengan Sinuhun dan Pangeran Purbaya? Tentu saja, pertanyaan itu semua tidak akan dapat dijawab pada malam yang sama.

Yang dibicarakan bukan orang yang tersembunyi, tapi potongan akar lama yang berada di pangkuan Sinuhun.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 63 – Swandaru Bergerak ke Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 50 – Keresahan di Barak Pasukan Khusus

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 42 – Pagi yang Sunyi di Jantung Mataram

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.