Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 71 – Benih Perguruan Tandingan Orang Bercambuk

Benih Perguruan – Lereng Gunung Kendil

Hari-hari berjalan seperti biasa. Latihan tetap berlangsung. Aba-aba gerakan tetap terdengar. Orang-orang datang, bertegur sapa, saling bicara kemudian sebagian pergi tanpa banyak meninggalkan perubahan di perkemahan.

Namun bagi Ki Astaman, sesuatu telah bergeser.

Dia tidak lagi melihat Ki Hariman sebagai orang yang sekadar turut berdiam di sana dan mengasah diri. Ada sesuatu yang mengusik perhatiannya, cukup untuk menumbuhkan kecurigaan. Meski demikian, dia tetap berhati-hati dan menjaga jarak dalam setiap pengamatannya.

Berbeda dengan saat-saat mendekati hari penumpasan gerombolan Raden Atmandaru ketika Gunung Kendil penuh berselimut kabut, maka waktu belakangan ini hanya gerimis ringan yang kadang diselingi hujan deras. Matahari belum benar-benar bersinar terik ketika Ki Hariman menuruni lereng menuju lembah kecil, Ki Astaman membayangi dari jarak terukur, lalu menempelkan tubuh pada batang pohon randu tua.

Dari tempat itu, seluruh lembah terpampang luas di hadapannya. Jalan menurun, lekukan tanah, hingga dasar yang ditumbuhi semak rendah—semuanya terlihat jelas.

Ki Hariman berhenti di sebidang tanah lapang yang tak begiu luas tapi cukup untuk menampung sembilan ekor kuda berdiri berjajar. Pandangannya memutar, memeriksa keadaan seakan hendak memastikan tidak ada orang yang berada di dekatnya.

Ki Astaman mengangguk-angguk sendiri. Cermat, teliti dan berhati-hati, pikirnya saat melihat Ki Hariman yang sama sekali tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan.

Beberapa saat, suasana begitu hening. Yang ada hanyalah pergerakan binatang liar dan kepak sayap burung yang berpindah cabang.

Ki Hariman merenggangkan kaki dengan tangan bergerak-gerak dalam bentuk tertentu. Tata gerak dasar yang umum diajarkan pada banyak perguruan dilakukannya dengan pelan tapi penuh tenaga dan kesungguhan.

Latihan itu dimulai. Semakin lama semakin meningkat, baik kecepatan maupun tenaga yang dikeluarkan tapi belum pada pnegrahan tenaga cadangan.

Dari tempatnya, Ki Astaman mengamati dengan penuh perhitungan. “Orang ini cukup sabar dan halus dalam pendekatan,” ucapnya dalam hati.

Hingga kemudian dia terkejut. Ketika gerakan telah terlapisi tenaga cadangan, Ki Hariman tiba-tiba memperlihatkan perubahan yang tidak muncul dari sumber yang sama, sumber yang menjadi dasar pembuka dari tata geraknya.

Ki Astaman merasa seperti pernah melihatnya.

“Yah, Swandaru. Yah, benar, aku melihatnya sama persis dengan tata gerak Swandaru,” kata Ki Astaman tanpa suara. Dia ingat ketika mengikuti Swandaru dan Ki Garjita ketika berjalan keluar dari Ringinlarik.

Ki Astaman menyipitkan mata lalu menajamkan pendengaran dan dia mendapati bahwa suara gesekan kaki Ki Hariman semakin sulit dijangkau. Itu meringankan tubuh yang luar biasa, pikirnya.

Akhirnya Ki Hariman berhenti. Mengatur pernapasan beberapa saatlalu berbalik dan mulai menanjak kembali ke arah perkemahan.

Suasana kembali seperti semula, tetapi Ki Astaman tetap bertahan di tempatnya. Pikirannya belum juga lepas dari bayang-bayang kecurigaan. Jika memang ada kesamaan, dan sudah jelas Ki Hariman bukan murid Kyai Gringsing, lalu apa tujuan sebenarnya dia menggabungkan diri ke dalam perguruan ini? Apakah itu dia sedang memegang atau memburu sesuatu?

Sepintas, Ki Astaman teringat pada percakapannya dengan Ki Manikmaya. Saat itu, Ki Manikmaya mengungkapkan dugaannya bahwa Ki Hariman tidak akan bersedia bertempur demi Raden Atmandaru.

“Dia tidak memiliki landasan yang cukup kuat untuk membela Raden Atmandaru sampai mati,” kata Ki Manikmaya di tepi perkemahan, ketika mereka masih berada di lereng Gunung Kendil.

“Lalu, apa maksudnya berada di sini?” tanya Ki Astaman.

“Dia datang untuk mendalami sesuatu,” jawab Ki Manikmaya. “Aku pernah mendengar kabar, beberapa anak buah Raden Atmandaru pernah menerobos masuk ke rumah Swandaru dan mengambil sebuah benda berharga. Sebuah kitab milik guru Agung Sedayu.”

Di tempat itu, Ki Astaman menunggu hari semakin dekat dengan senja. Dia merasa masih harus membuka kemungkinan di dalam pikirannya.

“Latihan untuk memastikan atau mendalami? Penyamaran ataukah dia membutuhkan  perlindungan?” gumamnya dalam hati.

Pagi itu, perkemahan Gunung Kendil masih dibungkus udara dingin sisa taadi malam. Orang-orang sudah bergerak dengan kegiatan masing-masing, tapi belum ada kesibukan yang berarti.

Ki Astaman berdiri di tepi tanah lapang, di depan gubuk kecilnya dengan tatapan menyapu beberapa orang yang berkegiatan, lalu berhenti pada Ki Garjita.

“Kyai,” panggilnya pendek.

Ki Garjita mendekat. Sikapnya hormat, tapi tidak kaku.

“Untuk hari ini, saya harap Kyai berkenan memimpin latihan,” kata Ki Astaman tanpa banyak penjelasan.

Ki Garjita sedikit mengangkat alis. “Adakah sesuatu yang sedang Kyai pikirkan?”

“Tidak banyak,” jawab Ki Astaman. “Tapi ada sesuatu yang memang cukup ganjil di dalam lingkungan ini dan sekitar kita.”

Ki Garjita tidak langsung memberi tanggapan. Dia menarik napas panjang, kemudian berkata hati-hati, “Saya berharap itu bukan disebabkan oleh Swandaru.”

Ki Astaman mengangguk perlahan tapi cukup dalam. Dengan sinar mata tajam dan wajah sungguh-sungguh, dia berkata, “Benar, bukan karena Swandaru tapi Ki Hariman.”

Ki Garjita mengerutkan kening. Katanya, “Sebagai orang yang lebih dulu berada di samping Raden Atmandaru, sudah tentu dia tidak datang ke tempat ini tanpa alasan kuat.”

Ki Astaman meregangkan urat barang sejenak. Memikirkan sesuatu lalu bersuara lagi, “Anda juga memperhatikan hal itu.”

“Dia menggabungkan diri, mengikuti latihan ringan lalu meninggalkan barisan. Memang itu bukan keadaan yang cukup baik bila tidak ada ketegasan untuknya,” sahut Ki Garjita.

“Dan ya, itu dapat membuat orang-orang mengikutinya dan perlahan akan menjadi gangguan,” tukas Ki Astaman. “Tapi sebenarnya yang paling mengusik perhatian saya adalah ucapan Ki Manikmaya ketika perkemahan Raden Atmandaru masih berdiri tegak di sini.”

Ki Garjita kini menatap langit yang berawan tipis.

Sejenak hening datang menyapa mereka berdua.

Lantas Ki Astaman menambahkan dengan nada yang terdengar seperti sedang bicara pada dirinya sendiri. “Ki Hariman sedang mendalami isi dari kitab guru Agung Sedayu.”

“Kitab Kyai Gringsing?” tanya Ki Garjita seakan memastikan yang didengarnya.

“Mungkin seperti itu,” sahut cepat Ki Astaman yang tampaknya sedang berusaha membuat kesimpulan di dalam pikirannya. “Saya mengamati bahwa dia kerap meninggalkan permukiman lalu kembali menjelang senja. Sebenarnya itu tidak aneh dan sah dilakukannya, saya bisa menghormati kebiasaannya. Hanya saja, sikapnya dapat mempengaruhi jiwani orang-orang yang baru bergabung dan belum mengenal sebagian dari kita.”

Ki Garjita menangkap arah pembicaraan. Dia berkata kemudian dengan nada lebih dingin, tanpa keraguan, “Tapi sepertinya kita tidak dapat serta merta mencurigainya, Kyai. Seandainya kecurigaan itu benar, tapi tetap ada hak baginya untuk mendalami isi kitab.”

“Bukan kecurigaan karena saya tidak peduli dengan isi kitab dan kemampuannya seandainya memang meningkat pesat,” ucap Ki astaman. “Tapi Swandaru.”

Ki Garjita menarik napas pendek.

Ki Astaman menatap ke arah tanah lapang. Beberapa orang tampak sudah berbaris dan memulai latihan sendiri.

“Saat Kyai berdua keluar meninggalkan Ringinlarik, saya melihat Swandaru berlatih sendiri,” lanjut Ki Astaman pelan. “Banyak kesamaan, sedikit perbedaan terutama ketika tenaga cadangan mulai dilepaskan, baik perlahan maupun dengan sangat keras.”

Suasana menjadi sedikit lebih tegang.

“Bagaimana rencana Kyai selanjutnya?” tanya Ki Garjita hati-hati. Sejujurnya dia sedang meningkatkan kewaspadaan agar harapannya tidak cepat menjadi bubar karena keberadaan Ki Hariman di sekitar mereka.

“Beberapa hari mendatang, saya ingin lebih dalam memperlajari Swandaru,” sahut Ki Astaman lalu mengatakan sesuatu dengan lantang untuk membenahi gerak dasar seseorang yang diangapnya keliru.

Ki Garjita pun dapat melihat segalanya agak lebih jelas. Meski belum sempat berbicara lebih dalam dengan Ki Astaman, tapi sudah dapat menilai bahwa orang itu cukup berhati-hati dalam perencanaan dan mematangkan langkah. Ki Astaman bukan sekadar ingin mengamati, menurut Ki Garjita. Jika dia sudah memutuskan untuk membuat perbandingan antara Swandaru dan Ki Hariman, maka rencana susulan pasti tinggal dijalankan.

Ki Astaman lantas mengucapkan sesuatu lalu meninggalkan tanah lapang itu dengan langkah ringan dan arah yang sudah pasti.

Hari itu, untuk pertama kalinya, dua jalur pengamatan berjalan bersamaan. Ki Garjita menjaga keadaan di dalam perkemahan, sedangkan Ki Astaman menyusur bayangan dan jejak untuk sebuah perguruan yang diangankan tanpa perlu kesepakatan.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 37 – Cara Pasukan Khusus Memperlakukan Tahanan Perang

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 19 – Aku Berdiri di  Sisimu, Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 28 – Maut di Lereng Utara Gunung Kendil

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.