Malam turun pelan di perkemahan Gunung Kendil. Api unggun menyala di beberapa titik, dan itu sudah cukup untuk menerangi tanah lapang dan jalan setapak yang menghubungkan bangunan-bangunan kecil yang menyebar tak beraturan.
Ki Astaman duduk bersila agak jauh dari api unggun yang dinyalakan Ki Wiraditan dan kawan-kawan. Sambil sekali-kali bertanya tentang perakara ringan, Ki Astaman tajam menatap ujung runcing dari nyala api.
Sebentar kemudian, desir kaki Ki Garjita terdengar mendekat. Dia datang dengan langkah tegap, menembus kabut tipis yang agaknya enggan turun dengan pekat.
Kendi berisi wedang hangat disodorkan pula pada Ki Astaman sesaat setelah dia mapan di atas tempat duduknya—sehelai tikar pandan yang agak kusam.
Beberapa saat mereka diam. Hanya orang-orang yang berkerumun di sekitar api unggun di sebelah utara dan serangga saja yang masih bersuara.
“Mungkin besok atau dua atau tiga hari lagi, saya akan menemui Swandaru,” Ki Astaman membuka.
Ki Garjita tidak tampak terkejut. “Tentang Ki Hariman?”
Disertai anggukan kepala, Ki Astaman menjawab, “Bukan hanya itu.”
Ki Garjita sedikit meneguk wedang jahe hangat dari mangkuk.
Ki Astaman menatap ke arah gelap di depan mereka. “Perkemahan ini… orang-orang ini… semuanya berjalan, awalnya, tanpa satu arah yang jelas,” lanjutnya. “Tapi kita sudah pikirkan bahwa arah dan kejelasan itu harus ada.”
Dia berhenti sebentar—menunggu Ki Garjita yang mungkin mempunyai keberatan atau gagasan yang dapat melengkapi pembicaraan.
“Karena itu,” Ki Astaman meneruskan setelah menunggu agak lama, “saya pikir harus ada susunan tapi tidak perlu disebut perguruan secara resmi.”
Ki Garjita memicingkan mata, merenung sejenak, kemudian bertanya demi penegasan, “Tapi dijalankan seperti perguruan?”
“Ya.” Anggukan kepala Ki Astaman tampak mantap.
Ki Garjita menarik napas. “Apakah Swandaru akan diberitahu? Ya atau tidak, saya pikir aturann dan bentuk latihan tetap harus ada. Maksud saya, inti dari perguruan ini harus ada. Apakah itu disarikan dari jalur ilmu Ki Astaman atau saya atau yang lain? Ki Hariman misalnya.”
“Semuanya akan bersumber dari satu pusat,” jawab Ki Astaman. “Jalur ilmu Perguruan Orang Bercambuk.”
Ki Garjita tidak perlu waktu lama untuk menangkap arah itu.
“Swandaru,” katanya.
Ki Astaman mengangguk. “Dia satu-satunya yang dapat diterima tanpa banyak penolakan. Mataram mungkin akan mengabaikan keberadaan perguruan bila tahu Swandaru adalah pemangku atau pemimpin tertinggi. Tanah Perdikan juga mungkin hanya sedikit menaruh perhatian karena kedudukannya.”
“Sedayu?” tanya Ki Garjita.
“Dia mungkin akan berpikir dua kali jika menghadapi saudara seperguruannya,” kata Ki Astaman. “Naluri manusia sudah tentu ingin ajaran dan ilmu gurunya menjadi berkembang dan besar. Saya kira Agung Sedayu akan mengikui keinginan yang sangat mendasar itu daripada berbenturan langsung dengan Swandaru.”
Ki Garjita mengerutkan alis. Dia melihat kebenaran di balik ucapan Ki Astaman. Nama Sedayu dan Swandaru, kedudukan mereka berdua hampir pasti akan menjadi pertimbangan dasar bagi orang-orang akan berniat masuk perguruan. Selain itu, letak perguruan yang jauh dari permukiman sudah tentu mendapat penilaian sendiri bagi banyak orang, entah mereka sadar atau tidak.
Hening sejenak.
Lalu Ki Garjita memecah keheningan, “Bagaimana dengan Ki Hariman?”
Akhirnya sampai ke inti yang sebenarnya mengganggu sejak awal.
Ki Astaman tidak langsung menjawab. Kini, dia menelan seteguk wedang jahe yang mulai mendingin, lalu berkata, “Dia bersedia berada pada kedudukan yang sejajar dengan kita.”
Setengah tidak percaya, Ki Garjita menatapnya. “Itu, apakah Ki Hariman mengatakan secara terbuka?”
Ki Astaman mengangguk. “Dia sadar kedudukannya. Meski juga, katakanlah, dia menguasai jalur ilmu Orang Bercambuk, tapi itu tidak diperolehnya dengan cara yang sah. Kita tahu bagaimana awal mula petualangannya.”
Terdengar suara bergumam dari Ki Garjita. “Lalu, bagaimana Kyai akan menyampaikan pada Swandaru?”
“Tentu saja tidak ada yang perlu ditutupi,” jawab cepat Ki Astaman. “Marilah, kita buat permisalan. Saya katakan terus terang pada Swandaru bahwa kitab gurunya ada di tangan Ki Hariman.”
“Mereka pasti membenturkan kekuatan,“ ucap Ki Garjita.
Ki Astaman menatap lurus ke depan.
“Ada satu hal lagi,” kata Garjita kemudian. “Ada yang harus kita tanggung: perguruan layu sebelum berkembang lalu kita harus bergerak lagi mencari perlindungan.”
Ki Astaman menoleh sedikit. “Atau?”
“Semakin kuat jika Swandaru telah kembali melihat ke dalam dirinya sendiri,” ucap Ki Garjita.
“Jika sampai terjadi perang tanding, maka kewajiban kita adalah menjaga agar mereka tidak sampai terluka atau mati sia-sia. Penting pula untuk menjaga harga diri mereka berdua,” ucap Ki Astaman lalu tersenyum bukan karena mendapat dukungan tapi perhitungan yang memang dapat diketahui hasil akhirnya. Ada rencana pasti ada akibat meskipun mungkin tidak sesuai harapan. Setidaknya, mereka telah mencoba.
“Kyai, malam ini kita bicara bukan untuk mendukung Swandaru atau menjadikan perguruan lebih besar daripada Jati Anom. Kita hanya sedang berusaha menentukan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi semua orang,” kata Ki Astaman. “Boleh jadi , Gunung Kendil ini bukan tempat yang aman karena sesuatu yang buruk pernah terjadi di atasnya. Walau demikian, kita pun juga tidak buta dengan keadaan.”
Ki Garjita mengangguk sambil mempersiapkan sesuatu di dalam pikirannya.
Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang merayap turun dari puncak bukit-bukit yang bertebaran di sepanjang Pegunungan Menoreh.
Ki Astaman berdiri.
“Besok,” katanya singkat. “Pembicaraan ini akan diketahui oleh Swandaru.”
Ki Garjita ikut berdiri lalu menunduk hormat.
Untuk sesaat, mereka kemudian berpisah ketika merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Yang Terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Pertemuan Ki Gede – Petinggi Pasukan Khusus
Dalam waktu dua minggu, ketika kegiatan di Gunung Kendil semakin sibuk dan meningkat, Ki Gede Menoreh menerima laporan dari dua pengawal pedukuhan induk.
Hari masih tampak terang ketika dua pengawal pedukuhan itu diterima di regol dalam. Napas mereka seolah mengungkapkan isi hati dan pikiran mereka begitu terbuka di hadapan Ki Gede.
“Katakan,” ucap Ki Gede singkat setelah meminta dua pengawal pedukuhan itu bersikap tenang lalu menikmati wedang sereh terlebih dulu.
Keduanya saling berpandangan sejenak, lalu yang lebih tua mengangguk. “Kami melihat kegiatan di lereng Gunung Kendil, Ki Gede. Ada beberapa orang… lebih dari sepuluh. Mereka membangun gubug, dan… berlatih kanuragan.”
Ki Gede menautkan alis tapi tidak segera memberi tanggapan. menjawab. Sekilas dia memandang punggung Merapi yang tampak dari halaman rumahnya.
“Berlatih…?” ulangnya pelan.
“Benar, Ki Gede. Kami tidak ragu karena aba-aba, barisan, sekali-kali pula terdengar teriakan yang hampir sama dengan para pengawal jika berlatih kanuragan,” ucap pengawal yang berusia banyak itu.
Suasana menjadi tenang tapi sedikit beriak untuk sesaat.
Ki Gede menarik napas dalam, lalu mengangguk kecil. “Kita akan segera menentukan sikap tapi sebaiknya kalian tetap menutup rapat keadaan itu. Kita semua baru melewati masa sulit jadi orang-orang tidak perlu diberitahu hingga segalanya menjadi jelas. Terlebih masih banyak tahanan yang belum dipindahkan dari barak pasukan khusus.”
“Mengerti, Ki Gede,” sahut mereka serempak.
Mereka kemudian menarik diri, mundur dari hadapan Kepala Tanah Perdikan itu sambil membawa perintah baru, mengundang Prastawa dan pemimpin sementara di barak pasukan khusus.
Ketika mereka telah pergi, Ki Gede tetap duduk di tempatnya. Tidak ada perubahan pada wajahnya, tetapi di dalam kepalanya, jalur-jalur kemungkinan mulai tersusun.
Bekas perkemahan Raden Atmandaru. Kalimat itu melayang perlahan di dalam benak Ki Gede Menoreh dengan berbagai dugaan yang kemudian muncul.
Orang-orang bisa selamat karena mungkin mereka sudah keluar dari perkemahan sebelum laskar gabungan Mataram menyapu bersih tempat itu. Mungkin pula ada yang pura-pura mati sehingga tidak terpantau kendali orang-orang. Dan jika mereka kembali ke tempat yang pernah mereka kuasai, maka itu pun bisa sekadar kebetulan atau benar-benar ketidaksengajaan.
“Yang pasti, latihan itu hampir-hampir tidak akan tampak seperti latihan biasa,” gumamnya lirih.
