Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 109 – Amuk Swandaru Menguji Batas Nyawa

Pagi datang dengan aba-aba yang jelas.

Ki Wira Sentanu menyeberangi kali ketika cahaya mulai cukup untuk melihat dasar arus. Kudanya menaiki lereng landai dengan tangkas. Bukan kuda perang tapi rupanya cukup terlatih.

Setelah itu, Ki Wira Sentanu mengikuti jalur yang menuju arah barat.

Petugas sandi menunjuk orang yang dimaksud.

Kinasih mengangguk, mereka berpisah.

Kinasih bergerak beberapa waktu kemudian. dengan penyamaran yang wajar, dia bahkan dapat menipiskan jarak. Menyeberangi denganperahu yang hanya terpisah satu giliran saja.

Kali Progo, ketika hari agak siang, mengalirkan arus yang cukup pelan. Perahu-perahu bergiliran memotong aliran dengan dorongan yang cukup tenang.

Menjelang siang, dalam waktu yang agak jauh dari kedatangan Agung Sedayu, Ki Wira Sentanu sudah masuk wilayah pedukuhan induk Tanah Perdikan.

Di sebuah persimpangan jalan tanah, dua orang lelaki tampak berjalan beriringan dari arah berlawanan. Ki Wira Sentanu menghentikan langkahnya sejenak, lalu menyapa dengan nada yang wajar.

“Ki Sanak berdua, dapatkah saya mengetahui arah Gunung Kendil?”

Dua orang itu saling berpandangan, lalu salah seorang menjawab sambil menunjuk ke arah utara. “Terus saja ke sana. Ikuti jalan yang menanjak setelah melewati pematang. Hutan kecil akan tampak dari situ. Lalu ikuti saja jalan setapak yang ada sedikit batu di sebelah kiri dan kanan.”

Ki Wira Sentanu mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Setelah memberi hormat seperlunya, dia menjalankan kudanya ke arah utara.

Jalan yang ditempuhnya perlahan berubah. Tanah menjadi lebih keras, lalu berangsur naik. Pepohonan mulai lebih rapat, dan jarak rumah ke rumah semakin renggang.

Hari semakin siang, mungkin matahari sudah melampaui pertengahan.

Kinasih melihat semuanya dari jarak yang aman. Dia tidak mendengar percakapan. Tapi melihat arah yang ditempuh oleh Ki Wira Sentanu, maka kesimpulan akhir didapatnya.

“Ke Gunung Kendil,” desisnya dalam hati. Dia tidak lagi mengikuti setelah memastikan tujuan Ki Wira Sentanu, Kinasih mengubah arah—menuju kediaman Ki Gede Menoreh.

 .

Pertarungan Dua Gelanggang Lereng Kendil

Pergumulan Ki Garjita dan Ki Garu Wesi di jalur selatan terasa semakin tajam dan sulit dimengerti.

Selendang Ki Garjita yang berputar sangat rapat, tidak lagi sekadar melingkar, tetapi seperti membentuk pusaran yang hidup. Udara di sekelilingnya bergetar, berubah menjadi panas yang berlapis-lapis tampak seperti riak hawa panas yang tak terlihat. Selain itu, setiap kali dia mengibaskan lengan, senjatanya dapat memanjang sekejap lalu menyusut hingga telapak tangan seperti patukan ular yang belum mengenai sasaran lalu kembali melingkar.

Tak hanya itu, senjatanya pun seolah berubah menjadi lidah api yang mengamuk. Kecepatannya yang melampaui batas nalar sanggup menciptakan jejak api yang mengekor di belakangnya. Tingkat ilmu Ki Garjita benar-benar telah menyundul langit ketika senjatanya yang berbahan kain justru tidak hangus sedikit pun.

Melalui cara yang sangat dahsyat, dia mampu melapisi itu dengan tenaga cadangan yang sekaligus menjadi alat serang yang mematikan. Seandainya selendang itu membentur pedang baja milik prajurit pasukan khusus sekalipun, niscaya logam tersebut akan melunak dan meleleh seketika.

Berseberangan dengannya, Ki Garu Wesi mengimbangi pergerakan musuhnya dengan kecepatan yang nyaris seimbang. Kerisnya terus berputar dan bergulung-gulung hingga terlihat seperti tempurung cahaya berwarna hijau gelap yang membungkus rapat tubuhnya.

Namun, seiring tekanan yang makin hebar dari selendang api lawan, warna hijau itu perlahan memudar, berganti menjadi seperti udara beriak kebiruan pucat yang dingin dan tajam.

Agaknya Ki Garu Wesi pun menggandakan ilmunya sehingga udara di sekitar kubah itu semakin dingin. Perlahan-lahan aura kerisnya berubah warna.

Perubahan juga terjadi pada cara Ki Garu Wesi memainkan keris. Dia tidak lagi menggenggam kaku seperti perempuan memegang pisau dapur, tapi keris itu terus berpilin tanpa pernah terlepas dari tangannya. Lengan yang berayun deras dan keris yang berpilin tanpa henti pun akhirnya dapat menggetarkan selendang Ki Garjita.

Berikutnya, mereka bertarung dengan tata gerak yang cepat dan pergeseran tubuh yang sangat cepat pula. Tata gerak mereka pun berubah seluruhnya sehingga lingkaran pertarungan itu terus bergeser.

Jalur selatan pun serasa sedang dilumat bencana. Lingkaran ilmu mereka melintasi parit-parit purba yang dalamnya sepinggang orang dewasa. Setiap mereka melayang di atas parit, seketika itu pula daun dan ranting di bawahnya terbakar. Ada juga yang tiba-tiba membeku lalu pecah.

Akar-akar raksasa yang menyembul keluar pun menjadi sasaran  yang tak dapat menghindar. Terkelupas, kerak yang terbakar terus menerus bermunculan setiap lingkaran itu berhenti.

Sungguh, pertarungan yang sangat mengerikan!

Setiap kali selendang api Ki Garjita menyambar, akar raksasa yang sekeras batu itu langsung terkelupas; kulit kayunya meledak, menyisakan bara merah yang menyala.

Sekejap kemudian, ketika keris Ki Garu Wesi mengores akar maka bagian itu akan mengerut lalu pecah karena sentuhan hawa dingin yang luar biasa hebatnya.

Tanah yang longsor ke dasar parit tak lagi berupa butiran debu, tapi berubah bentuk menjadi bongkahan-bongkahan keras yang hangus atau menjadi pecahan seperti kerikil. Sejumlah pohon di sekitar gelanggang perkelahian meranggas dalam sekejap. Daun-daun luruh menjadi abu sebelum sempat menyentuh tanah, sementara batangnya yang perkasa mulai meretak tipis karena tarikan dan sekaligus hantaman yang mendera berulang-ulang.

Jalur selatan bukan lagi bagian hutan yang tenang, tapi medan yang mengalami kehancuran yang meluas mengikuti ke pergeseran dua badai pendekar itu.

Gelegar pertarungan di jalur selatan benar-benar mengguncang tempat Pandan Wangi berdiri. Dia memandang arah yang sudah terlihat kacau dan berantakan dengan alis berkerut.

“Benar-benar dahsyat,” katanya dalam hati.

Sejenak dia memandang sekitarnya, sayap timur tampaknya sudah dalam penguasaan laskar gabungan. Demikian pula di sekitar gelanggang Sayoga terlihat pengawal Menoreh sudah menata diri masing-masing setelah merapikan jasad dan merawat yang terluka.

Kaki Pandan Wangi lantas mengarah ke jalur selatan. Dua pengawal menyertainya dengan langkah sedikit di belakangnya. Sesaat setelah mereka berada di bawah regol permukiman, pusaran angin yang berasal dari gelanggang ternyata sanggup menyapa terlebih dulu.

Dia sedikit mengangkat wajah sedikit dengan sorot mata mengelilingi arena. Kekacauan yang sangat hebat, pikirnya. Hamburan liar sisa tenaga cadangan yang membentur ke segala arah.

Pandan Wangi mendesah dengan sangkaan bahwa salah seorang di antara mereka tidak cukup tenang dalam pertarungan dahsyat itu.

Dari tempatnya berdiri, Pandan Wangi dapat merasakan getar halus yang merambat melalui tanah. Terbayanglah dalam benak Pandan Wangi kedalaman ilmu dari dua orang yang sedang bertarung mati-matian itu.

Pandan Wangi berpikir kemudian, mereka mungkin juga sedang berjuang agar dapat keluar dari badai yang mereka ciptakan sendiri melalui benturan tenaga cadangan.

Sepeninggal Pandan Wangi, Ki Demang Brumbung berkeliling sebentar: memastikan bahwa segala sesuatunya sudah dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Kepada Sayoga, dia kemudian berkata, “Mari, ikut saya meronda sekitar permukiman.”

Sayoga mengangguk lalu menyebut beberapa nama dari kelompok pengawal. Tiga orang datang bergabung. Tak lama kemudian, dua orang dari pasukan khusus juga mendekat—mereka ini prajurit yang baru diterima sebagai bagian pasukan khusus.

Ki Demang Brumbung dan Sayoga berjalan di depan, diikuti laskar gabungan yang berjalan tanpa pemisahan seperti yang diputuskan Ki Wedoro Anom.

Mereka menyisir sisi luar permukiman, menaiki lereng,  memandang bagian bawah sebentar, lalu bergerak lagi. Sekali-kali mereka melihat arah permukiman yang hampir seluruhnya mulai sunyi. Hanya satu yang tersisa dengan segala kedahsyatan yang tak terkira.

Ketika mereka mencapai gumuk di belakang permukiman, Ki Demang Brumbung dan Sayoga tiba-tiba menghentikan langkah.

“Ada yang belum selesai,” gumam Ki Demang Brumbung.

Sayoga mengangguk sambil menebar pandangan ke sekitar gumuk kecil yang ada pohon kelapa di atasnya.

Dari tempat mereka berhenti, dentuman berulang-ulang datang menggetarkan dada. Setia orang kemudian memusatkan perhatian dan bertumpu pada pendengaran.

Sunyi, pikir mereka, terutama dari pengawal dan pasukan khusus. Tapi tidak demikian dengan Sayoga dan Ki Demang Brumbung yang hampir memiliki pendapat yang sama: ada perkelahian yang tersembunyi.

“Di sana,” bisik Ki Demang tak lama setelah dapat membuat perkiraan tempat pertarungan. Tangannya mengudara sebentar,  memberi tanda bergerak.

Sayoga meraih lengan Ki Demang Brumbung. Bisiknya, “Arah itu… jalur yang dapat mengarahkan kita ke lereng utara. Banyak bahaya di sekitarnya. Saya jadi penunjuk jalan.”

Ki Demang Brumbung mengiyakan lalu bertukar tempat dengan Sayoga sambil memberi tanda bagi orang-orang di belakang: agar lebih berhati-hati.

Kelompok peronda itu bergerak, menyibak dedaunan tanpa suara, membelah semak dengan hati-hati karena di balik setiap rimbun dapat berupa parit atau lubang yang berisi batu, akar dan segala macam tanaman.

Tak lama kemudian terlihat dua bayangan berkelebat cepat di tanah lapang yang terpisah dari permukiman.

Dua cambuk berputaran, saling melecut, membeli tapi tanpa ledakan yang memekakkan telinga.

Namun setiap sambaran—tanah terkelupas dalam. Udara bergetar dengan rambatan yang saking cepatnya bahkan melampaui lesatan pertama anak panah yang baru dilepaskan. Mungkin nyaris tidak terukur!

Swandaru masih bertarung sepenuh tenaga. Ki Hariman pun tampaknya tidak lagi menahan segala wawasan yang tersimpan dalam dirinya.

Gerakan mereka melampaui kecepatan biasa. Bayangan tubuh seolah-olah dapat menghilang dari penglihatan lalu dan muncul di tempat lain. Sementara ujung cambuk mereka begitu cepat ketika mematuk, melilit, memburu tanpa henti dan hampir tidak meleset. Seakan-akan ujung senjata mereka itu mempunyai mata.

Ujung cambuk yang beradu itu seperti dua pasang mata yang saling menatap tanpa berkedip—tajam, dingin, dan penuh pengenalan yang nyaris telanjang.

Ketika ujung senjata Ki Hariman mengarah ke kening, Swandaru menghadang serangan dengan ujung cambuk pula.

Seperti di antara mereka telah tertanam tata gerak yang nyaris tanpa cela—setiap ayunan telah terbaca sebelum mencapai puncaknya, setiap arah telah terjawab sebelum mengenai sasaran.

Swandaru bersilat dengan pengajaran Kyai Gringsing yang langsung mengalir dalam darah dan napasnya, sementara Ki Hariman memungutnya diam-diam dari kitab yang sebelumnya tersimpan di Sangkal Putung.

Kegusaran Swandaru sudah mencapai puncak. Kekuatannya pun sudah berlipat-lipat.

Demikian pula Ki Hariman yang sudah mengira bahwa hanya satu di antara mereka yang tersisa lalu berdiri tegak menepuk dada. Satu lagi yang lain pasti terkapar lalu dilupakan.

Sayoga melihat pertarungan tanpa sadar menahan napas.

“Ini…” gumamnya.

Ki Demang Brumbung tidak menjawab. Matanya tajam  mengamati. Sedangkan orang-orang di sekitar tidak sadar bahwa mulut mereka terbuka lebar.

Di dalam gelanggang itu.

Ki Hariman mengubah tata bertempurnya. Dia pun mulai mengalirkan kekuatan yang bersumber pada jalur ilmu sebelumnya, sebelum dia menyadap isi kitab Kyai Gringsing.

Pada saat sinar matahari menghangat, udara di sekitar Ki Hariman meningkat sangat panas secara mendadak. Kurang dari sekejap mata, tiba-tiba dia berlompatan seperti burung sriti yang melayang-layang dengan belokan-belokan tajam, cambuknya mengayun dari atas ke bawah, menebas silang dari bawah ke atas dan sebagainya.

Ujungnya cambuknya tak lagi mengeluarkan dentuman, tapi suara sangat tajam yang mampu mengiris helai rambut seandainya ada yang membentur gelombang desisan itu. Setiap tendangan dan  pukulannya melontarkan udara panas yang sangat padat deras menghantam garis pertahanan Swandaru.

“Apakah ini juga berasal dari kitab guru?” ulang Swandaru dalam hati.

Tapi dia tidak tertahan dengan pertanyaannya sendiri. Swandaru bergeser surut selangkah, memiringkan tubuh, bertumpu pada bagian depan kaki, menarik putaran cambuk lebih ke dalam, lalu melipatgandakan kekuatan dan kecepatan.

Pusaran itu mengecil tapi menjadi  lebih padat dan juga rapat.

Yang terjadi kemudian adalah dentuman-dentuman yang sama sekali tidak memperlihatkan dua benda yang berbenturan. Itu adalah lapisan tenaga cadangan dari mereka berdua. Dua petarung ini sedang mencoba mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dari penguasaan ilmu mereka.

Tanah di bawah mereka bergetar halus yang rambatannya dapat mencapai tempat Ki Demang Brumbung menyaksikan dengan sunyi.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 17 – Dia Akan Datang: Ucap Raden Atmandaru

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 81 – Jejak Senyap di Balik Kereta Kepatihan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 69 – Tongkat dari Kali Tinalah: Serupa Pusaka Macan Kepatihan?

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.