Ki Lurah Sanggabaya, sebagai yang tertua sekaligus telah dianggap sebagai wakil resmi dari Agung Sedayu, berkata lagi, “Ki Wedoro Anom dapat membayangi pergerakan Ki Jayaraga. Mengenai pasangan atau pendamping, saya serahkan pada Ki Rangga maupun Ki Wedoro Anom sendiri.”
Agung Sedayu mengetahui keadaan Ki Wedoro Anom, tapi dia membiarkan karena Ki Lurah Sanggabaya adalah atasan mereka secara langsung.
Sambil meraih lengan orang yang berada di sampingnya, Ki Wedoro Anom tampak membicarakan sesuatu dengannya. Orang itu mengangguk tapi kemudian mengarahkan pandang mata ke arah Agung Sedayu.
Ki Wedoro Anom tampak merenung sejenak kemudian berkata pada Ki Lurah Sanggabaya, “Ki Lurah, saya adalah orang yang baru saja bergabung dengan pasukan khusus di Tanah Perdikan ini. Namun demikian, saya tetap berada di bawah kendali Anda dalam urusan keprajuritan. Dalam hal ini, sebenarnya saya ingin Ki Sora Sareh yang menjadi kawan dalam tugas ini. Kami berdua sudah saling mengenal sejak masa pendadaran. Kepandaian beliau jauh lebih baik daripada saya dalam tugas-tugas sandi. Tapi, segala keadaan di barak pasukan kembali pada keputusan akhir Ki Rangga Agung Sedayu.”
Pilihan kata yang cerdas untuk menyatakan maksud, puji Agung Sedayu dalam hati. Murid Kyai Gringsing ini mengetahui latar belakang Ki Wedoro Anom, tapi dia membiarkan karena Ki Lurah Sanggabaya adalah atasan mereka secara langsung.
“Jika dua lurah pergi meninggalkan barak, satu lurah juga seperti itu, lalu siapa yang menjadi penopang dua ratus lebih prajurit di sini?” Ki Lurah Sanggabaya memberikan jawaban yang berupa pertanyaan dengan dua tujuan. Pertama, barak pasukan khusus tidak boleh kekurangan banyak pemimpin terlebih dalam keadaan seperti ini. Kedua, dia ingin menyampaikan bahwa dirinya juga tunduk pada perintah Agung Sedayu. Jika Ki Demang Brumbung tegas menyatakan keberatan bila berpasangan dengan Glagah Putih, maka sebenarnya itu ada pesan tersembunyi dari Agung Sedayu pada dirinya, demikian isi sebagian pemikiran Ki Lurah Sanggabaya. Selanjutnya, pemimpin prajurit ini meminta izin untuk menyampaikan perkembangan dalam barak pasukan khusus sepeninggal Agung Sedayu. Termasuk juga keberadaan Ki Demang Brumbung serta Ki Wedoro Anom bahwa mereka datang pada waktu yang berdekatan dengan pecahnya perang di Watu Sumping.
Ki Rangga Agung Sedayu memandangi wajah tiap orang bergantian selepas laporan Ki Lurah Sanggabaya diterimanya. Untuk sementara, dia menyimpulkan dari pernyataan Ki Wedoro Anom agaknya sedikit menjadi jelas bahwa dia adalah pengusung kepentingan yang tidak terang disampaikan.
Oleh sebab itu, Ki Lurah Sanggabaya secara samar menyatakan akan menghalangi setiap orang yang berkehendak mengusik tatanan barak pasukan khusus – dalam anggapannya.
Dari sudut pandang yang lain, Agung Sedayu hampir dapat memastikan penugasan Ki Demang Brumbung pun untuk menjaga keseimbangan di dalam barak pasukan khusus. Pada waktu itu, senapati Mataram dapat merasakan dua kekuatan sedang sama-sama menanam pengaruh di dalam pasukannya. “Ini akan membawa akibat yang tidak baik untuk masa-masa mendatang,” ucap Agung Sedayu dalam hati. Dia sadar bahwa tata keprajuritan Mataram belum dapat dinilai sebagai satu kesatuan yang bulat. Di luar kedudukan pangeran, setiap senapati, yang berpangkat panji atau tumenggung, selalu merasa jauh lebih kuat dibandingkan yang lain sehingga mempunyai kepercayaan diri yang melampaui batas sewajarnya. Ki Panji Secamerti dan Ki Tumenggung Sanden Merti menjadi dua contoh yang sangat buruk. Ki Ramapati adalah perkecualian karena dia tidak membawahi banyak orang atau bukan pemimpin pasukan.
Agung Sedayu menarik napas panjang. Keberadaan dua orang yang sama-sama memegang kendali pasukan dapat menjadi sisi yang melemahkan kekuatan pasukan khusus. Namun, dalam waktu itu, Agung Sedayu sudah memutuskan bahwa dirnya akan selubung yang sangat sulit ditembus oleh orang-orang yang kurang berkenan dalam hatinya. Meski nalarnya menolak untuk memilih sebuah kecenderungan, tapi Agung Sedayu harus memperhatikan keadaan yang berkembang.
Setelah mendapatkan suatu gambaran, Agung Sedayu bertanya pada Ki Lurah Sanggabaya, “Baiklah. Ki Demang Brumbung akan membawa serta Sukra dalam pengintaian, saya bisa setujui itu. Kemudian untuk membayangi pergerakan Ki Jayaraga, apakah Anda sudah mempunyai nama?”
Ki Lurah Sanggabaya mengangguk, jawabnya, “Ki Wedoro Anom akan ditemani oleh seorang prajurit wreda yang saya tentukan sendiri.”
Ki Rangga Agung Sedayu manggut-manggut. Inilah jalan keluar untuk sementara waktu, meski sebuah laporan yang menyatakan bahwa dirinya tebang pilih dapat saja dikirim secara diam-diam ke kotaraja. Seandainya itu terjadi, biarlah karena saat-saat terdekat ini bukan untuk mengambil hati orang per orang, pikir senapati Mataram tersebut.
Arahan singkat pun disampaikannya pada lurah yang akan melakukan tugas sandi. Kemudian, demi mengejar waktu yang semakin dekat dengan rencananya, pemimpin pasukan khusus ini meminta para utusan untuk bergegas. “Ki Lurah sekalian,” ucap Agung Sedayu, “lebih baik tidak menunggu malam datang untuk tugas-tugas ini.”
Itulah perintah yang sangat ditunggu oleh Ki Lurah Sanggabaya. Maka dia segera beranjak bangkit, memberi hormat lalu mengundurkan diri tanpa berkata seucap pun pada lurah-lurah yang lain. Dia harus meminta bantuan dari prajurit sandi yang berpengalaman cukup untuk membekali Sukra dalam waktu singkat. Selain itu pula, Ki Lurah Sanggabaya merasa wajib untuk mengamankan perintah Agung Sedayu melalui prajurit wreda yang akan dipilihnya mendampingi Ki Wedoro Anom.
Sukra menyambut perintah Ki Rangga Agung Sedayu dengan kening berkerut. Bukankah dia baru saja kembali ke Tanah Perdikan? Mengapa Ki Lurah begiu cepat memberinya tugas susulan meski akan dijalaninya bersama Ki Demang Brumbung?
Ki Lurah Sanggabaya seakan mengerti suasana hati Sukra, maka dia berkata kemudian, “Aku adalah bawahan Ki Rangga, sedangkan kau adalah orang yang paling dipercaya.”
“Bagaimana maksud Ki Lurah Sanggabaya?” tanya Sukra.
“Ki Rangga berada dalam keadaan yang jauh lebih sulit dibandingkan Sangkal Putung. Maka memberi perintah sebagai petugas sandi adalah suatu kekhususan dan juga jalan keluar dari pilihan sulit ini,” jawab Ki Lurah Sanggabaya.
“Pilihan dari atau seperti apa?” cecar Sukra.
“Lebih masuk akal dengan memberimu tugas melanglang jika dibandingkan tugas ini dikerjakan oleh Ki Glagah Putih,” kata Ki Lurah Sanggabaya sareh. “Ki Glagah Putih mempunyai wewenang mengerahkan pasukan jadi keberadaannya lebih dibutuhkan di barak.”
“Apakah itu berarti aku tidak dapat mengikuti kegiatan di lapangan sebentar lagi?” tanya Sukra.
Ki Lurah Sanggabaya mengangguk, lalu katanya, “Itu tidak lagi berada di tingkatanmu sekarang ini.’
Meski sulit untuk menerima penjelasan Ki Lurah Sanggabaya yang sudah jelas membela atasannya, tapi Sukra sadar bahwa segala perintah atau kata-kata Agung Sedayu adalah kepastian untuknya. Maka pengawal Tanah Perdikan itu pun mempersiapkan diri dengan mengikuti arahan prajurit sandi yang mengiringi Ki Lurah Sanggabaya.

Di ruangan lain, suasana hati yang berbeda justru dirasakan oleh Ki Wedoro Anom. Dia pikir karena kedekatan dengan salah satu pembesar maka rencananya dapat dengan mudah disetujui oleh Agung Sedayu. Tapi murid Kyai Gringsing itu ternyata teguh dengan paugeran keprajuritan. Maka segala yang terkait dengan tugas pengamatan itu akhirnya berada di luar kendalinya. Ki Lurah Sora Sareh adalah orang yang tergolong mempunyai pengaruh besar di barak pasukan selain Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Lurah Sanggabaya. Ki Wedoro Anom merasa membutuhkan pikiran dan jasa lurah tersebut untuk beberapa rencana pada masa mendatang. “Tapi, baiklah, aku pun akan menjadi sulit diterima oleh mereka jika menampakkan penentangan terus menerus,” kata Ki Wedoro Anom dalam hati. Apalagi mengingat Glagah Putih diminta tetap di dalam bilik pemimpin pasukan khusus ketika orang-orang bersiap untuk pengintaian.
Benar, yang tinggal di dalam bilik Agung Sedayu adalah Glagah Putih seorang diri. Empunya ruangan, Agung Sedayu, mempunyai rencana susulan yang hanya diutarakannya pada Ki Demang Brumbung. Apakah ada kaitan dengan penugasan rahasia yang sedang diemban Ki Lurah Wedoro Anom? Tampaknya Agung Sedayu masih menyembunyikan itu dari Glagah Putih.
“Bagaimana keadaan Rara Wulan?” tanya Agung Sedayu di dalam biliknya, setelah perbincangannya dengan Ki Demang Brumbung lalu pelepasan para utusan usai dilaksanakan.
“Pangestu, memuji keterlibatan Yang Maha Agung dalam setiap urusan,” ucap Glagah Putih. Murid Ki Jayaraga ini dapat menangkap sikap tidak biasa dari Agung Sedayu. Mereka adalah saudara maka sudah pasti saling mengenal segala kebiasaan atau bahasa tubuh. Tapi Glagah Putih sadar bahwa kakak sepupunya itu tidak benar-benar mengabaikan dirinya dengan merahasiakan sesuatu. Pasti dan sudah tentu ada alasan kuat yang memaksa kakaknya menyelubung suatu persoalan darinya. Bila tidak sekarang, tentu pada lain waktu dia akan memberitahu, pikir Glagah Putih dengan yakin.
“Ki Jayaraga mengatakan banyak hal tentang kalian berdua. Aku harus berterima kasih pada kalian semua atas segala bantuan maupun dukungan. Pada akhirnya, kita semua kembali pada jalan hidup masing-masing,” kata Agung Sedayu.
“Kakang,” ucap Glagah Putih dengan kepala mengangguk-angguk.
Saat itu, Agung Sedayu sadar bahwa dirinya tidak dapat lepas dari ketajaman penglihatan maupun nalar Glagah Putih. Sepupunya itu sedikit banyak pasti sudah menduga ada sesuatu yang dijauhkan darinya untuk sementara waktu, tapi apakah dia berada di waktu yang tepat untuk mengetahuinya? Agung Sedayu belum dapat memastikannya tapi akan memastikannya sebelum malam tiba.
“Bagaimana mereka datang?” tanya Agung Sedayu pada adiknya itu.
Glagah Putih menautkan alis, lalu jawabnya, “Saya tidak mengerti maksud Kakang.”
“Ki Lurah Wedoro Anom dan Ki Demang Brumbung,” kata Agung Sedayu. “Apakah mereka datang bersamaan atau bagaimana? Aku tidak dapat membicarakan ini bersama Ki Lurah Sanggabaya. Keadaan sedang tidak memungkinkan untuk membahas persoalan itu.”
Glagah Putih mengangguk lalu menghela napas, katanya kemudian, “Mereka berdua datang pada waktu hampir bersamaan. Ki Demang Brumbung adalah orang yang pertama datang lalu melaporkan tugas barunya pada Ki Sanggabaya. Selang satu atau dua hari, Ki Wedoro Anom menemui Ki Lurah Sanggabaya lalu menyatakan hal yang sama dengan Ki Demang Brumbung.”
Sinar mata Glagah Putih menunjukkan bahwa dia seperti sedang menyadari sesuatu yang sedang berkembang. Walau begitu, dia tidak dapat menyatakan lintas pikirannya pada Agung Sedayu.
“Mereka adalah prajurit yang mumpuni meski berasal dari tempat yang berlainan,” ucap Agung Sedayu kemudian mengangguk-anggukkan kepala. “Sama seperti kau dan aku, setiap prajurit tidak dapat bertanya atas alasan apa mereka diperintahkan.”
Lagi-lagi, Glagah Putih menarik napas seperti sedang mengungkapkan bahwa dia mempunyai pandangan yang ingin dinyatakan. Tapi, dia terhambat kebimbangan.
Agung Sedayu bukan tidak menyadari keadaan itu. Setelah menimbang beberapa saat, maka dia berkata kemudian, “Kau bertugas cukup lama dengan wilayah kerja yang jauh dari kotaraja. Tentu saja itu adalah dua keadaan yang dapat memengaruhimu dalam menilai sebuah keadaan. Coba katakan agar aku tidak salah mengira bahwa dua orang yang itu belum banyak mempunyai kawan yang bersedia membantu di barak ini.”
“Tidak mudah memenangkan hati banyak orang di sini,” ucap Glagah Putih. ‘Tapi ketika seseorang menyebut nama Ki Lurah Sora Sareh, aku pun sedikit terusik.”
Agung Sedayu tersenyum tapi tidak mengucap kata-kata.
