“Saya kira meski sudah menerima keterangan yang berlawanan, tapi tampaknya belum cukup membuat beliau menarik kepercayaan pada kakang Agung Sedayu, Ki Lurah,” ucap Glagah Putih.
Ki Lurah Sanggabaya mengangguk lalu berkata, “Itu benar karena pucuk pimpinan di Watu Sumping masih dipercayakan pada Ki Rangga. Meski begitu, keadaan selalu dapat berubah pada masa mendatang.” Bayangan buruk lantas menggelantung di dalam hati Ki Lurah Sanggabaya. Lantas dia berpaling dengan sinar mata khawatir pada Agung Sedayu.
“Secara sembunyi-sembunyi, teman saya mengatakan bahwa berita itu adalah Ki Rangga sedang memupuk kekuatan di Tanah Perdikan, di dalam barak ini. Kekuatan yang dapat mengancam keberlangsungan Mataram,” ucap lirih Ki Lurah Sanggabaya dengan suara bergetar. Rongga jantung senapati ini benar-bener terguncang hebat! Nalarnya sulit menerima meskipun berita itu sudah jelas palsu, tapi jika membayangkan nasib Agung Sedayu dan seluruh keluarganya, ke mana mereka akan pergi? Keturunan Ki Sadewa bukan bergaris pengecut atau pengkhianat, tegas Ki Lurah Sanggabaya dalam hatinya.
Glagah Putih berkeringat dingin! Bagaimana akhirnya berita bohong itu dimunculkan? Ayahnya, Ki Widura, adalah prajurit Pajang yang setia hingga Sultan Hadiwijaya mangkat. Demikian pula salah satu saudaranya, Untara, yang telah diangkat sebagai tumenggung oleh mendiang Panembahan Senapati. Andaikata benar, atas alasan apa Agung Sedayu berbalik arah melawan kakak dan mengingkari garis leluhurnya? Meski pandang mata dan sikap tubuh sudah menghadap Agung Sedayu sepenuhnya, Glagah Putih ternyata tak mampu berkata-kata!
Tiba-tiba bau benda terbakar menyengat penciuman mereka bertiga!
Di luar sadar Agung Sedayu tiba-tiba jari-jarinya mencengkeram tikar pandan hingga terbakar, lalu meremas lantai batu yang menjadi alas duduknya hingga menjadi remah-remah!
“Kakang!” Glagah Putih berseru tertahan lalu melompat bangkit. Sepenuhnya dia bersikap waspada untuk melindungi Agung Sedayu dari tenaga cadangan yang mungkin berbalik arah!
“Ki Rangga!” Ki Lurah Sanggabaya bergegas mendekati Agung Sedayu, bisiknya. “Memang kurang ajar dan sangat tidak pantas, tapi Ki Rangga harus dapat menahan diri.”
Agung Sedayu kemudian menarik napas dalam-dalam, melonggarkan dada, kemudian membiarkan otaknya bekerja keras untuk menyingkap tirai permulaan dari bisikan rahasia pada Pangeran Purbaya.
“Kita tidak pernah menduga dan juga tidak pernah menghendaki hal-hal buruk terjadi pada diri kita,” Agung Sedayu berucap dengan perasaan yang masih naik dan turun. “Ketika kita selalu berpikir dan berprasangka baik bahwa orang lain juga berbuat sama pada kita, maka kewaspadaan serta sikap selalu berada di tengah adalah keniscayaan.”
Hampir bersamaan, Glagah Putih dan Ki Lurah Sanggabaya memandang Agung Sedayu dengan perasaan takjub sekaligus ngeri! Betapa kekuatan rangga Mataram itu benar-benar telah berada di luar nalar dan perkiraan mereka!
Sejurus kemudian, Glagah Putih bertanya, “Apakah Kakang dapat menduga pelaku atau orang di balik kabar itu?’
Agung Sedayu menggeleng tanpa berkata-kata lalu memalingkan wajah pada Ki Lurah Sanggabaya seolah bertanya, apakah dia mempunyai perkiraan?
“Tidak, saya belum mempunyai gambaran karena ucapan itu sangat mengejutkan dan benar-benar memancing kemarahan,” kata Ki Sanggabaya, “saya butuh waktu untuk mengendapkan segala sesuatu sebelum beranjak kembali melakukan penyelidikan.”
“Ki Lurah benar,” kata Agung Sedayu. Lantas pada sepupunya, dia berkata, “Aku minta kau lebih dapat menahan diri saat menghadapi Ki Wedoro Anom. Pada sisi lain, tetaplah menjaga jarak dengan Ki Demang Brumbung. Ketika dia meminta Sukra menjadi pasangan, aku hanya berbekal keyakinan bahwa Sukra adalah Sukra seperti yang sudah-sudah. Anak itu tidak akan goyah walau hampir setengah lehernya terpisah dari kepala.”
“Pergeseran itu,” lirih Glagah Putih berucap, “mungkin secara buruk dapat disebut sebagai awal pelemahan kekuatan barak ini.” Dia mengangkat wajah lalu memandangi kakak sepupunya, lanjutnya kemudian, “Kebersamaan akan menjadi sesuatu yang hilang seandainya Kakang terlambat datang atau seseorang lebih cepat melakukan pekerjaan sendirian. Saya kira itu sangat mungkin terjadi.”
Ki Lurah Sanggabaya mengangguk, kemudian berkata, “Apabila kita gagal meredam pemberontakan, maka yang pasti adalah Tanah Perdikan dan Ki Gede tidak akan mendapat guncangan. Tapi barak ini, hampir dapat dipastikan, akan menerima hukuman berat.“
Mereka kemudian membahas sejumlah kemungkinan lalu siasat-siasat yang dapat diterapkan berdasarkan perkembangan yang terus berubah. Demikianlah perbincangan berlanjut hingga malam menyapa tanah perbukitan Menoreh.
Di tempat terpisah, pada hari kedua kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan.
Sejumlah orang, yang terpantau oleh Glagah Putih dan Ki Lurah Sanggabaya, terus berdatangan di permukiman terasing di bawah lereng Gunung Kendil. Mereka mendekati permukiman itu dengan cara yang berbeda. Sebagian orang berjalan kaki dengan ayun langkah yang cukup cepat hingga tampak seperti berlari kecil. Sebagian kecil tampak menunggang kuda lalu berhenti di kaki lembah lalu merangkak melalui jalan setapak yang melingkari sebuah bukit kecil. Lingkungan permukiman pengikut Raden Atmandaru itu cukup sulit didekati. Dari pengamatan, permukiman itu terlindung oleh benteng alam karena dinding alami yang sulit ditembus. Setiap pergerakan dari bawah dapat segera diketahui para pengamat yang ditempatkan Raden Atmandaru.
Pada waktu menjelang senja itu, Raden Atmandaru duduk di atas batu pipih yang berukuran kecil dengan pandang mata tertuju pada gerbang permukiman. Di atas gundukan tanah yang terletak di dekatnya, dua gadis muda memandang arah kotaraja dengan wajah yang belum meninggalkan rasa duka dan juga marah. Salah satu dari gadis itu adalah Mangesthi yang memendam marah karena kabar kematian ayah sekaligus gurunya, Ki Sekar Tawang di Alas Krapyak. Sementara satu lagi adalah Gendhis yang juga mengalami perasaan sama sejak mengetahui gurunya terbunuh di Slumpring.
Seorang laki-laki berusia cukup berjalan tenang mendekati tiga orang yang seperti sedang menunggu berita penting di samping gerbang. Dia berbisik pada Raden Atmandaru.
“Benarkah kelompok besar Ki Garu Wesi menuju ke tempat ini?” tanya Raden Atmandaru pada orang itu dengan suara bernada tajam.
“Benar,” jawab laki-laki itu, “cukup disayangkan jika dia tiba-tiba bergerak ke Tanah Perdikan. Tapi, jika bersembunyi di sekitar kotaraja maka itu pun menjadi sesuatu yang sulit dilakukan.”
Raden Atmandaru memandang laki-laki itu kemudian sepintas membandingkan dengan pendamping sebelumnya, Ki Sekar Tawang. Mungkin dia tidak setenang Ki Sekar Tawang, tapi ketajaman siasatnya ternyata juga merepotkan Mataram, pikir pemimpin pemberontak itu. Mengenang penasehatnya, Raden Atmandaru menoleh pada Mangesthi, lalu berkata, “Simpan, lalu bertahanlah. Dalam waktu dekat, kau dapat lampiaskan segala yang terpendam.”
Mangesthi mengangguk kemudian bertanya pada lelaki yang baru datang, “Ada kabar apakah dari Sangkal Putung, Ki Ramapati?”
“Ki Garu Wesi terpaksa harus melepaskan kademangan itu,” jawab lelaki itu yang ternyata Ki Ramapati, salah seorang pemimpin prajurit Mataram yang bergabung dalam usaha pembunuhan Ki Patih Mandaraka di Slumpring.
“Mereka cukup lama di sana, lalu satu pukulan di Watu Sumping ternyata mengubah segalanya,” ucap Mangesthi dengan nada sedikit kecewa.
“Aku dapat mengerti perasaanmu dan hampir semua orang di sini,” kata Ki Ramapati. “Tapi mereka harus menghadapi lawan yang sangat tangguh.”
“Agung Sedayu?” tebak Mangesthi.
“Ditambah Pangeran Selarong dan juga Pandan Wangi,” Ki Ramapati menambahkan.
“Perempuan itu lagi,” ucap Mangesthi ketus dan raut muka melepaskan amarah.
Raden Atmandaru tidak mengatakan sesuatu ketika mendengar percakapan antara Mangesthi dan Ki Ramapati.
Seorang penjaga gerbang kemudian melapor pada Raden Atmandaru di hadapan Ki Ramapati bahwa beberapa orang ingin bertemu dengan mereka berdua. Laporan itu diterima oleh Raden Atmandaru dengan kening berkerut, kemudian menatap wajah Ki Ramapati.
“Marilah, Raden,” kata Ki Ramapati lalu menyarankan untuk menerima orang-orang itu di dalam salah satu bangunan yang terletak pada bagian sayap permukiman. Raden Atmandaru menerima saran itu kemudian beranjak bangkit lalu berjalan ke tempat yang dimaksud Ki Ramapati.
“Sebaiknya kalian tetap berada di sini,” ucap Ki Ramapati pada Gendhis dan Mangesthi yang tampaknya akan turut mengiringi Raden Atmandaru.
“Apakah kami tidak cukup pantas ikut mendengarkan kabar yang akan disampaikan oleh petugas sandi?” tanya Gendhis sedikit tersinggung.
“Tidak ada pemahaman seperti itu pada kami semua,” jawab Raden Atmandaru tiba-tiba. “Kami hanya ingin kalian mengendapkan perasaan yang masih bergolak. Menghadapi Agung Sedayu untuk membalaskan dendam atau merebut Mataram demi kemakmuran banyak, itu membutuhkan ketenangan dan kejernihan pikiran. Aku harap kalian dapat mengerti. Terima kasih.”
Karena Raden Atmandaru sudah memutuskan maka tidak ada yang dapat diperbuat Gendhis dan juga Mangesthi. Lagipula, ucapan pemimpin mereka pun mengandung kebenaran bahwa kekacauan hati dan pikiran hanya membawa akhir yang buruk pada tujuan mereka.
Di dalam bangunan berdinding batang-batang kayu yang disusun sedemikian rupa, Raden Atmandaru meminta para petugas sandi segera melapor bergantian. Orang per orang pun merinci keterangan yang mereka dapatkan selama di Sangkal Putung. Sementara Ki Ramapati tampak sibuk mencatat ucapan mereka di atas lembaran-lembaran pikirannya.
Raden Atmandaru mengangguk-angguk kemudian berkata, “Siasat yang cukup bagus dengan mengepung pasukan Ki Garu Wesi lalu memaksanya mundur ke arah barat.” Sinar matanya memandang Ki Ramapati sambil berucap dalam hati, “Mungkin itulah yang membuatmu tidak tampak gusar dengan keputusan Ki Garu Wesi.”
