Matahari mencondongkan sinar ke arah timur. Para petugas sandi tampak meninggalkan ruang pertemuan menuju tempat yang mereka inginkan. Sebagian ada yang mengambil waktu untuk istirahat. Beberapa terlihat kembali ke arah Kali Progo.
Setelah semua orang sudah tidak ada lagi di dalam ruangan, Raden Atmandaru berkata, “Kita belum tepat mengetahui kedudukan pasukan Ki Garu Wesi saat ini. Laporan mereka belum ada yang menyinggung keberadaan orang-orang itu.”
“Saya pikir itu disebabkan Ki Garu Wesi memecah pasukan menjadi banyak kelompok agar tak mudah terpantau lawan,” ucap Ki Ramapati dengan keyakinan penuh.
“Tapi seharusnya mereka dapat mengendus oleh sebab daya jelajah meliputi wilayah yang sangat luas,” kata Raden Atmandaru dengan nada sedikit kesal.
Ki Ramapati kemudian meyakinkan pemimpinnya. “Sebaiknya kita biarkan dulu para petugas sandi memiliki jeda. Nanti saya akan bicara sendiri pada mereka.”
“Apakah Ki Ramapati dapat percaya pada mereka? Saya sedikit meragukan karena ada upaya yang mengendur dari mereka,” kata Raden Atmandaru. “Baiklah, saya sedikit mengurangi penilaian karena mereka tidak menyinggung keberadaan Ki Garu Wesi. Walau demikian, itu tidak membuatku serta merta mengabaikan mereka.”
“Saya dapat memahami kekecewaan Raden,” sahut Ki Ramapati kemudian dia membakar semangat Raden Atmandaru. “Tapi perjalanan setiap orang besar memang selalu mendapatkan halangan yang jauh lebih besar dari mereka yang berderajat biasa saja seperti Danang Sutawijaya. Kita tahu Mas Jolang adalah orang gemulai yang menjadi pemimpin negara karena keturunan, bukan kemampuan.”
Raden Atmandaru mengangguk-angguk. Ucapnya dalam hati, “Ternyata orang ini cukup pandai mengambil hati. Hampir sama pula dengan Ki Sekar Tawang.”
Sedikit ke dalam persoalan yang melingkari mereka, Raden Atmandaru berkata, “Setiap perkembangan selalu menumbuhkan permasalahan yang tumpang tindih dan berurutan. Kekalahan di Watu Sumping pun terjadi bukan karena gempuran atau serangan habis-habisan dari pihak kita, melainkan sebuah siasat yang hanya dimengerti oleh sedikit orang. Itu jauh berbeda dengan pertempuran Karang Dawa ketika Ki Sor Dondong benar-benar meninggalkan gelanggang karena kekalahan dari banyak segi.”
“Keterlibatan Pangeran Selarong mempunyai nilai tambah ditambah laskar Jati Anom yang tiba-tiba muncul meski mereka tidak terjun langsung di Watu Sumping,” jelas Ki Ramapati. “Saya tidak sedang mencari pembenaran tapi sebenarnya keadaan itu juga tidak dapat ditegaskan sebagai kekalahan. Memang mereka berhasil menjebak kita dengan cara menghindari pertempuran meski suasana masih cukup terang. Kejutan lain adalah secara tak terduga, Pandan Wangi pun meninggalkan perkelahiannya.”
“Saya tidak ingin Ki Ramapati mengambil pembenaran atas keputusan Ki Garu Wesi mundur dari Watu Sumping,” sanggah Raden Atmandaru. “Di Karang Dawa, Pangeran Purbaya juga terlibat langsung dengan perintah-perintah yang mengacaukan siasat Ki Sor Dondong. Setiap medan mempunyai tingkat kesulitan yang berlainan satu sama lain. Tapi, memang, sejujurnya saya sedikit kecewa dengan keputusan Ki Garu Wesi.”
“Mengingat kedudukan dan kedekatan Ki Garu Wesi dengan Raden, saya harap ada kebijaksanan bila memang harus ada tindakan penting,” ucap Ki Ramapati seolah mengingatkan bahwa mereka masih berkisar di sekitar bahaya dan tujuan gerakan pula.
“Aku mengerti,” sahut Raden Atmandaru.
Ki Ramapati menarik napas panjang. Bola matanya tampak bergerak-gerak seakan sedang memikirkan sesuatu dengan cermat. Dia berkata kemudian, “Agung Sedayu sudah jelas hadir kembali di barak pasukannya. Tampaknya perhitungan yang lebih cemat dapat menjadi penentu hasil akhir.”
“Menurut Anda, apakah seluruh kekuatan di tanah dapat dikatakan cukup berimbang?” tanya Raden Atmandaru.
Ki Ramapati menggeleng, lalu menjawab, “Tidak ada yang tahu secara pasti, Raden. Jumlah pengawal Tanah Perdikan pun tidak dapat dihitung dengan mudah karena mereka tersebar di banyak dusun. Kita hanya mempunyai angka yang berasal dari barak pasukan khusus ditambah beberapa lurah prajurit yang berkemampuan memadai.”
“Ki Sor Dondong sudah tentu mempunyai penilaian khusus terhadap Glagah Putih. Demikian pula Ki Garu Wesi jika dia sudah berada di sini,” kata Raden Atmandaru.
“Secara keseluruhan, kita masih dapat menempatkan siapa melawan siapa di medan pertempuran,” ucap Ki Ramapati. “Sejauh pengenalan saya dan juga laporan petugas sandi, Mataram tidak akan mengirim bala bantuan ke tempat ini. Mereka belum selesai dengan segala urusan dengan brang wetan. Madiun dan daerah lain tentu juga masih menyimpan rasa enggan untuk tunduk sepenuhnya pada Mas Rangsang. Tapi, entahlah, saya belum dapat membuat perkiraan tentang hubungan Mataram dengan brang wetan untuk akhir-akhir ini.”
Ucapan Ki Ramapati membuat Raden Atmandaru memijat kening. Orang-orang yang dijadikan boneka olehnya di Kepatihan dan Kraton tampaknya mulai mengalami kesulitan menembus dinding yang dipasang Sunan Agung. Raja yang masih berusia muda itu cukup tanggap dengan banyak kejadian yang berlangsung pada masa pemerintahan Panembahan Hanykrawati.
“Yang Anda katakan, tampaknya, dapat menjadi persoalan yang mengancam gerakan ini pada masa mendatang. Yang saya maksud bukan satu atau dua hari, tapi mungkin satu atau dua pekan saja,” ucap Raden Atmandaru. “Di Karang Dawa, pergerakan Ki Sor Dondong dapat terbaca meski kita dapat membela diri dengan mengatakan itu suatu kebetulan karena Pangeran Purbaya ternyata berada di sana. Demikian pula kegagalan kita membunuh Ki Juru Martani di Slumpring, kita juga dapat menerima itu sebagai kebetulan yang memihak Mataram. Tapi, kehadiran Ki Demang Brumbung tentu bukan sesuatu yang dianggap kebetulan.”
Pemimpin gerakan makar itu seakan mengeluarkan nada ancaman ketika menyinggung pengulangan percobaan pembunuhan yang dilakukan di sekitar Kepatihan. Nada sungguh-sungguh jelas memancar dari setiap yang diucap Raden Atmandaru.
Ki Ramapati kemudian berkata, “Hari ini dan seterusnya, mungkin, kita sudah tidak dapat berhubungan langsung dengan orang-orang di Kepatihan dan Keraton. Mereka mungkin sudah terpecah pula sebelum dua lurah Mataram didatangkan dari kotaraja. Itu, menurut saya, adalah pertanda yang sangat buruk.”
“Pertanda yang sangat buruk, itu jelas bukan ucapan yang keluar tanpa pertimbangan. Apa maksud dari ucapan Anda ini?” tanya Raden Atmandaru dengan nada tajam. “Ini seperti ketika saya mendengar kabar Anda pun meninggalkan arena perang di Watu Sumping. Saya sempat berpikir bahwa keputusan Anda mungkin menjadi yang terburuk dari seluruh pemimpin yang bergabung dengan saya.”
Ki Ramapati menarik napas panjang sambil mengendapkan guncangan akibat ucapan tajam Raden Atmandaru. Walau demikian, tanpa khawatir dengan akibat ucapan yang seakan menggambarkan tipisnya harapan, mantan petinggi prajurit Mataram itu lantas berkata, “Pada saat petinggi Mataram mengetahui adanya gelombang yang membahayakan masa depan prajurit, maka mereka akan membuat langkah-langkah pengamanan melalui cara yang tidak terpikirkan orang kebanyakan.”
“Memecah kekuatan orang yang dicurigai terlibat?” potong Raden Atmandaru.
“Tidak hanya itu, Raden,” jawab Ki Ramapati. “Kita sudah mendapatkan dua nama, Ki Wedoro Anom dan Ki Demang Brumbung. Tapi mereka berdua bukan orang yang termasuk dalam pantauan Pangeran Purbaya sebagai tersangka.”
“Aku tidak mengenal orang pertama, tapi Ki Demang Brumbung telah berulang-ulang menjadi lawan di gelanggang,” ucap Raden Atmandaru. “Dalam hal ini, Ki Demang Brumbung telah membuktikan diri sebagai penghalang bagi orang yang berseberangan dengan kita. Itu kepastian. Selanjutnya, atas dasar apakah Ki Demang Brumbung justru dijauhkan dari kotaraja? Meski aku sudah mempunyai dugaan tapi Mas Rangsang sepertinya memang melakukan ketidakpantasan. Kemudian, satu hal yang saya kagumi dari Anda adalah kecepatan Anda mencapai barak pasukan khusus. Apakah itu karena Ki Ramapati mengetahui terlebih dulu atau sesuatu yang lain?”
“Saat saya melihat Pangeran Selarong ada di sekitar Watu Sumping bersama prajurit Jati Anom, itu berarti tangan Pangeran Purbaya mungkin juga menuju ke sini. Anak Danang Sutawijaya itu tidak pernah sepotong-potong dalam menjalankan rencana. Jika dia sudah menempatkan orang kepercayaannya di Sangkal Putung maka orang itu akan menjadi jangkar baginya, akan menjadi penghubung terbaik dengan orang selanjutnya di Tanah Perdikan. Jika demikan, mengawasi Ki Gede Menoreh adalah pekerjaan yang sia-sia. Barak pasukan khusus adalah wilayah bermain terbaik bagi Pangeran Purbaya,” terang Ki Ramapati. Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Selalu ada pertimbangan atau semacam masukan dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Besar kemungkinan kita juga diuntungkan dengan pergeseran itu.”
“Bagaimana maksud Anda?” tanya Raden Atmandaru.
“Sudah tersiar bahwa ada pertentangan antara Kepatihan dengan orang-orang di dalam Keraton,” Ki Ramapati mengungkap dugaan. “Kepatihan ada kecondongan untuk tetap berpegang pada paugeran bahwa Mas Wuryah adalah orang yang berhak menggantikan ayahnya. Tapi sebagian orang yang berada di sekitar Mas Jolang mempunyai pertimbangan yang berbeda. Maka apa yang kita sebut ketidakpantasan akhirnya mendapatkan jalan masuk.”
“Keuntungan yang kita dapatkan mungkin tidak dapat memenuhi sebagian besar harapan,” kata Raden Atmandaru. “Mereka tidak menunjukkan perselisihan secara terbuka. Maka saya pikir itu dapat saja menjadi sebuah jebakan bagi kita agar masuk dalam putaran itu. Sekali mempunyai dugaan atau pertimbangan yang keliru, selanjutnya tidak ada jalan untuk kembali.”
KI Ramapati menganggap ucapan Raden Atmandaru pun mengandung kebenaran. Tetap waspada menjadi pesan penting yang tersembunyi di dalam ucapan pemimpin makar tersebut. Menurut Ki Ramapati, penempatan Ki Wedoro Anom dan Ki Demang Brumbung di barak pasukan khusus adalah pertentangan yang semakin tajam di antara orang-orang di kotaraja.
Setiap orang yang berkedudukan lumayan tinggi, termasuk yang tidak lagi bergabung di dalamnya, pasti dapat menduga bahwa ada perebutan pengaruh di dalam barak pasukan khusus Tanah Perdikan. Ganjur dan Mangir menjadi bagian yang sulit untuk diusik karena mereka mempunyai hubungan keluarga dengan orang yang menjadi raja saat itu. Sedangkan Agung Sedayu sama sekali bukan kerabat Ki Patih Mandaraka dan juga tidak bertalian darah dengan Sunan Agung.
