Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 112 – Hari kelima kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh

Di permukaan, Tanah Perdikan penuh dengan gemuruh orang-orang yang berbantahan saat membicarakan siasat aneh tersebut. Menurut sebagian orang, siasat itu seakan terlihat sebagai tantangan bagi kelompok pemberontak. Mereka pun mendukung rencana itu.

Namun tidak demikian bagi orang-orang yang berseberangan. Penerapan siasat yang dijalankan Prastawa menjadi tanda bahwa Ki Gede Menoreh sedang mempertimbangkan penyerahan kekuasaan pada Raden Atmandaru.

Baik Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu bukan tidak mendengar atau tidak peduli. Mereka berdua teguh pada kesepakatan untuk membiarkan perbantahan itu berlarut-larut.

“Kita membutuhkan sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian mereka,” kata Agung Sedayu pada pertemuan sebelumnya. “Pasukan khusus akan menyebar berita demi berita yang bertujuan memalingkan mereka dari seluruh gerakan yang berasal dari barak. Saya harap Ki Gede berkenan mendukung kami sepenuhnya.”

Ki Gede Menoreh mengangguk lalu berkata, “Kepercayaan kami pada Ki Rangga sudah terbina sejak masa lampau. Hari ini hanyalah kelanjutan dan pembuktian bahwa kami selalu mendukung Ki Rangga.”

Maka Agung Sedayu terus melaju untuk merapatkan barisan pendukung Mataram di Tanah Perdikan Menoreh. Pasukan khusus di barak pun menjalankan siasat yang seakan-akan terpisah dari pengosongan gardu.

Pada pagi yang masih buta, beberapa kelompok tampak keluar meninggalkan barak pasukan khusus. Glagah Putih ditunjuk menjadi pimpinan salah satu kelompok yang bergerak ke bagian utara barak mereka. Mereka akan membagi kelompok menjadi beberapa regu bila sudah mencapai daerah yang bertanah becek dan banyak aliran sungai. Sedangkan Ki Lurah Sora Sareh membawa sejumlah orang pula ke wilayah yang berdekatan dengan Ki Jayaraga, tepatnya di depan wilayah kerjanya. Meski begitu, mereka tidak meninggalkan barak secara bersamaan. Ada jeda yang tidak teratur antar kelompok.

Tak lama kemudian, belasan orang masuk ke dalam barak dengan mengenakan pakaian yang mirip dengan yang biasa dipakai pasukan khusus. Orang-orang itu adalah pengawal pilihan Tanah Perdikan. Kemampuan  tempur mereka tidak kalah dengan prajurit Mataram di kotaraja. Sesuai perintah Prastawa, mereka akan tunduk dan patuh pada setiap perintah Ki Lurah Sanggabaya atau Ki Rangga Agung Sedayu. Serupa dengan gerakan pasukan khusus, para pengawal juga memasuki barak dalam ukuran waktu yang tidak menentu. Agaknya Agung Sedayu sedang melakukan hal ganjil dengan menukar kedudukan pasukan khusus dengan para pengawal!

Matahari tak tampak di puncak tahta karena mendung terus menggantung di atas tanah Menoreh. Pada siang kelabu itu, lagi-lagi, petugas sandi menebar berita tentang pengosongan barak pasukan khusus! Banyak di antara mereka yang menyamar sebagai pedagang keliling. Bahkan ada yang mengaku sebagai bebahu pedukuhan tertentu ketika menyebar berita pengosongan barak di daerah yang cukup jauh. Persebaran berita yang hanya dilakukan oleh petugas sandi dari barak pasukan khusus itu cukup menakjubkan. Dalam waktu singkat, sebelum senja datang, kabar itu sudah dapat diketahui oleh Ki Jayaraga dan juga Raden Atmandaru.

Ki Jayaraga – yang sudah berada jauh dari pedukuhan induk – mengangguk-angguk saat mendengar obrolan orang-orang di sekitarnya tentang pengosongan gardu jaga. Dia juga melihat beberapa tempat cukup cepat menjalankan perintah Prastawa. Selain itu, sepanjang pergerakannya saat mengawasi daerah yang diinginkan Agung Sedayu, dia dapat mengetahui keberadaan orang-orang yang mengikutinya. Agung Sedayu pula yang telah memberitahu mengenai tujuan penempatan pembayang di belakangnya agar tidak ada rincian yang terlewat.  Oleh sebab pemberitahuan itu dan ditunjang ketinggian ilmu dan pengenalan medan yang jauh lebih baik dari Ki Wedoro Anom, maka Ki Jayaraga kadang-kadang justru berada di belakang prajurit Mataram itu. Tapi tidak ada yang dia lakukan karena memang tugas Ki Jayaraga adalah mengamati keadaan lalu melaporkannya pada Agung Sedayu secara pribadi. Satu-satunya yang membuat Ki Jayaraga berpikir keras adalah Agung Sedayu bergerak lebih cepat dari rencana semula.

Bila Ki Jayaraga cukup tenang mendengar kabar pengosongan gardu jaga dan barak pasukan khusus. Ki Jayaraga percaya dan memiliki keyakinan tinggi pada Agung Sedayu maka berita-berita yang didengarnya pun dapat tersaring dengan sangat baik. Tapi ketenangan itu tidak terjadi pada Ki Wedoro Anom. Dia cukup resah dan merasa ditinggalkan karena Ki Lurah Sanggabaya dan Agung Sedayu tidak memberinya keterangan sedikit pun tentang kelanjutan siasat. Pasukan khusus meninggalkan barak? Ke mana tujuan mereka? Apa ada orang yang ditinggalkan sebagai penjaga barak? Dan lain-lain pertanyaan bergantian muncul dalam pikiran orang yang merasa dekat dengan Pangeran Purbaya itu.

“Gila! Agung Sedayu sungguh telah mengalami kegilaan!” umpat Ki Wedoro Anom dalam hati. Dia sulit membayangkan barak pasukan khusus tiba-tiba menjadi kosong. Tapi ketika mendengar suara lain yang muncul dalam pikirannya, Ki Wedoro Anom juga merasa lega. Ada terendus semacam kesempatan bagi dirinya untuk memanjat naik sebagai  pimpinan apabila rencana Agung Sedayu gagal.

Saat dia melihat wajah tenang prajurit wreda yang menjadi pasangannya, Ki Wedoro Anom bertanya, “Kita sama-sama mendengar percakapan banyak orang, tapi mengapa Anda bisa setenang ini?”

“Ki Rangga,” jawab prajurit wreda yang bernama  Ki Suwarna Tiban. Tiban adalah tambahan yang diberikan oleh kawan-kawannya di barak pasukan karena pernah kejatuhan buah mangga ketika beristirahat di bawah pohonnya. “Kami sering mengalami terkaget-kaget akibat keputusan Ki Rangga yang berada di luar jangkauan nalar kami. Kadang-kadang saya membutuhkan pengulangan hingga dua atau tiga kali sebelum benar-benar dapat meraba tujuan beliau. Maka saya pikir menunggu kelanjutan rencana adalah yang terbaik sambil menyelesaikan tugas setahap demi setahap. Tiba-tiba kami sering berkata ‘oh begini rupanya, oh begitu dan seterusnya.’ Semua hal tiba-tiba menjadi masuk akal dan wajar pada akhirnya.”

Dengan hati menggerundel, Ki Wedoro Anom hanya dapat bergumam usai  mendengar ucapan Ki Sarwana Tiban.

Mereka berdua terus berjalan tanpa menyadari keberadaan Ki Jayaraga di belakang mereka. Hingga kemudian, Ki Wedoro Anom memutuskan untuk bermalam di banjar sebuah pedukuhan. Ki Jayaraga tetap mengikuti mereka dalam jarak yang terukur.

Malam pun tiba tapi udara dingin yang menyertainya ternyata tidak mampu meredam suasana perkemahan Raden Atmandaru yang mulai memanas.

“Apakah Agung Sedayu hilang pikirannya?” tanya Raden Atmandaru sesaat setelah mendengar berita terbaru yang disampaikan telik sandinya.

Ki Ramapati menggeleng-geleng, lalu berkata sendiri, “Aku hampir tidak mengerti jalan pikirannya. Mungkin Agung Sedayu sudah tidak peduli dengan dirinya hingga berani melepas segala yang terhubung dengan masa depannya. Dia sedang berjudi dengan pertaruhan nasib Mataram dan juga keluarganya.”

“Barangkali kita sudah hanyut dengan segala siasatnya,” ucap Ki Sonokeling dengan sorot mata menerawang keluar kemah. Serentak pandang mata orang-orang, termasuk Raden Atmandaru, mengarah padanya.

“Lintas pikiran Kyai cukup menarik,” ucap Raden Atmandaru kemudian.

“Mengosongkan gardu jaga itu jelas keputusan yang tidak biasa. Mengosongkan barak prajurit? Itu luar biasa. Saya pikir tidak ada pangeran Mataram yang berani membuat terobosan seperti itu. Yang paling mungkin dapat melakukannya hanya Danang Sutawijaya atau Sunan Agung saja,” lanjut Ki Sonokeling. “Menurutku, Agung Sedayu tidak mengosongkan tapi memindahkan pasukan ke tempat lain sambil melakukan pertukaran orang. Dengan cara demikian, maka jumlah orang-orang di dalam barak pun mungkin tetap sama.”

Kening orang-orang pun berkerut. Memindahkan? Ke mana? Digantikan siapa?

“Bagaimana mereka dapat bergerak tanpa diketahui petugas sandi kita?” tanya Ki Sor Dondong.

Ki Sonokeling menggeleng pelan, lalu katanya, “Mereka tetap keluar masuk sepeti biasa. Mungkin mereka juga menggunakan pintu-pintu yang lain sehingga petugas sandi pun terkecoh karena menganggap pergerakan itu sama dengan hari-hari yang lain.”

“Maksud Kyai, mereka yang keluar adalah prajurit dan yang masuk adalah orang lain?” tanya Raden Atmandaru mencoba meyakinkan pendapatnya.

“Benar, Raden,” jawab Ki Sonokeling.

“Jadi, apakah dapat dikatakan bahwa pengosongan barak itu berita bohong?” timpal Ki Garu Wesi.

“Bukan berita bohong sebenarnya,” sahut Raden Atmandaru. “Tapi peristiwa ini menjadi peringataan bahwa dia benar-benar selicik Ki Juru Martani. Bila Ki Sonokeling tidak mengingatkan, tentu kita pun menganggap itu adalah berita benar.” Dia berhenti sejenak sambil mengusap-usap telapak tangannya kemudian berkata lagi, “Sedayu sedang berusaha mengacaukan perasaan dan pikiran kita semua. Kecerdasan yang tidak mungkin berasal dari dirinya sendiri, tapi dari orang yang dianggapnya guru. Orang itu adalah Ki Juru Martani!”

Ucapan Raden Atmandaru seakan membangkitkan kembali rasa kecewa yang sempat terpendam. Membangkitkan pula rasa malu yang pernah menyiksa mereka karena gagal membunuh patih Mataram tersebut.

Ki Manikmaya yang lebih banyak mendengarkan sejak kedatangannya pun tersulut pula. Dikenal sebagai jawara yang mumpuni di pelataran lereng Sumbing dan Sindoro, di Merbabu dan Merapi, tapi terusir oleh kehebatan Nyi Banyak Patra tentu memunculkan anggapan buruk pada orang banyak tentang dirinya. Maka dia bangkit lalu berkata, “Setelah ini semua, apa kita tetap terperdaya oleh segala kelicikan Agung Sedayu?”

“Pertanyaan bagus meski agak terburu untuk diungkapkan,” sahut Raden Atmandaru. “Aku belum selesai seluruhnya tapi harus diakui pula ada kebenaran pada pertanyaan Kyai. Agung Sedayu jelas tidak dapat diremehkan. Kelicikannya dapat meruntuhkan Mataram bila dia mau. Aku sama sekali tidak meragukan nalarnya yang tajam dan berdaya jangkau panjang. Untuk sementara ini, saya beri waktu bagi Kyai sekalian untuk turut memikirkan cara terbaik menjawab siasatnya. Bila Kyai sekalian membutuhkan ruang untuk berpikir, silakan lakukan itu di luar atau tetap di dalam. Saya tetap berada di sini menunggu hasil olah pikir Kyai sekalian.”

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 85 – Rehat Sejenak Sang Senapati

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 14 – Peringat Bahaya dari Agung Sedayu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 122 – Bentrokan SIngkat Pasukan Berkuda

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.