Malam yang semakin dingin tidak mampu mengubah jalur penyisiran yang dilakukan Ki Demang Brumbung bersama Sukra. Mereka merayap, mendekati rumah bambu yang berada di bawah tebing curam itu. Berdasarkan laporan sandi dan keterangan yang didapatnya dari Agung Sedayu, Ki Demang Brumbung mencurigai keberadaan rumah itu karena begitu dekat dengan perkemahan kelompok Raden Atmandaru.
Cahaya suram menerobos keluar dari jendela kecil dan dinding rumah. Itulah satu-satunya cahaya yang ada di sekitar tempat itu.
Baik Ki Demang Brumbung maupun Sukra sama-sama tidak melihat pergerakan di luar atau di dalam rumah. Sukra tergerak untuk menampakkan diri sebagai pancingan, tapi Ki Demang Brumbung segera mencegahnya.
“Kita tidak dapat melakukan itu,” ucap Ki Demang Brumbung.
“Tapi saya tidak takut dengan mereka,” sergah Sukra dengan suara pelan.
“Ini bukan masalah takut atau tidak, tapi keberlangsungan rencana Ki Lurah secara keseluruhan,” tukas Ki Demang Brumbung. “Kau harus ingat itu, Sukra.”
Dia harus menahan diri sekuat-kuatnya karena Ki Demang Brumbung menggunakan nama Agung Sedayu untuk menghambat keinginannya. “Mengapa Ki Demang membawa-bawa Ki Lurah di tempat ini?” desis Sukra dengan nada tajam sebagai ungkapan kejengkelannya pada Ki Demang Brumbung. Sukra memukulkan tangan pada permukaan tanah tapi mengenai dahan kering yang segera berbunyi.
Tapi senapati Mataram itu memahami Sukra cukup baik, maka dia berkata, “Seandainya kau menampakkan diri, lalu berada dalam kepungan. Bukankah mereka mendapatkan waktu yang cukup untuk memberi tahu kawan-kawannya yang lain? Sedangkan Ki Lurah menginginkan kita tetap bergerak dengan sunyi.”
Sukra mendengus lalu membuang muka pada arah lain. Tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian pengawal Tanah Menoreh itu. Pelita di dalam rumah ternyata sudah tak tampak lagi! Sukra segera menunjuk arah yang dimaksud pada Ki Demang Brumbung. Dengan kening berkerut, senapati kepercayaan Ki Patih Mandaraka itu memandang tajam pada celah dinding.
“Apakah keberadaan mereka sudah diketahui lawan?” tanya Ki Demang Brumbung dalam hati.
Nyalak anjing tiba-tiba merusak keheningan di bawah tebing!
Ki Demang Brumbung dan Sukra menoleh cepat pada asal suara anjing menggonggong.
“Gila! Kita ketahuan!” seru Sukra tertahan.
“Belum. Tunggu sampai mereka datang mendekati kita,” cegah Ki Demang Brumbung.
Sukra mengangguk.
Terdengar kemudian sejumlah orang bersuara, sahut menyahut dengan ucapan tertentu. Semakin lama langkah kaki mereka terdengar. Semakin cepat derap kaki mereka terdengar. Pendar cahaya obor sudah tampak oleh penglihatan Ki Demang Brumbung dan Sukra.
“Mereka ke sini! Sukra, bersiaplah!” seru Ki Demang Brumbung tanpa mengubah tubuhnya yang masih tiarap. Senapati Mataram ini ingin memastikan terlebih dulu pergerakan lawan. Apakah mereka memang mengetahui keberadaannya atau ada sesuatu yang lain?
Sukra memandang Ki Demang Brumbung dengan tatap mata heran.
“Ikuti aku!” perintah Ki Demang Brumbung yang tiba-tiba bergerak searah dengan sumber suara. Sukra membayangi Ki Demang Brumbung dalam jarak yang cukup dekat.
“Ada orang di sana!” teriak orang-orang yang berlarian mendatangi tempat persembunyian dua utusan Agung Sedayu itu. Mereka mempercepat langkah sambil melepaskan dua ekor anjing pemburu.
Saat melintasi pategalan yang penuh dengan tanaman singkong, Ki Demang Brumbung membelokkan langkah ke selatan.
“Ki Demang, ini arah menuju pedukuhan induk!” ucap Sukra yang sangat mengenal wilayah meski gelap masih menghalangi pandangan mata.
Ki Demang Brumbung melambatkan langkah tapi suara orang-orang di belakang mereka terdengar semakin dekat. Itu menguatkan dugaan Ki Demang Brumbung bahwa lawan tidak melepaskan mereka begitu mudah. Sambil tetap berlari-lari, Ki Demang bertanya, “Jika demikian, kita akan bertemu dengan Ki Glagah Putih.”
Sukra tidak menyahut tapi menoleh ke belakang. “Kita patuhi perintah Ki Lurah!”
“Apakah kau tahu perintah Ki Lurah dalam keadaan seperti sekarang?”
“Tidak!”
Dalam pelarian di tengah malam yang buta, Ki Demang Brumbung ingin tertawa mendengar jawaban Sukra yang begitu tegas dan mantap! Bagaimana dia mengatakan agar mereka mengikuti perintah Agung Sedau sedangkan Sukra tidak bertemu dengan pemimpin pasukan khusus hingga pergi bersamanya?
“Jika demikian, kita merapatkan diri ke sekitar embung yang terletak di bagian timur desa ini!” kata Ki Demang Brumbung.
“Desa? Kita tidak sedang berada di suatu desa, Ki Demang. Kita di sebelah hutan,” Sukra menyahut cepat.
“Apapun itu, marilah kau pimpin jalan ke arah timur,” kata Ki Demang Brumbung lalu menarik lengan Sukra agar berlari di depannya. Demikianlah mereka berlari dengan kecepatan seperti semula sehingga jarak dengan para pengejar pun kembali melebar.
Sukra memintas jalan. Melewati daerah terjal yang penuh aliran sungai yang sangat dangkal. Sekali-kali mereka masuk lalu keluar dari hutan-hutan kecil yang bertebaran. Meski demikian, Ki Demang Brumbung sama sekali tidak menginginkan mereka benar-benar menghilang dari kejaran anak buah Raden Atmandaru. Meskijumlahnya sedikit, tapi Ki Demang Brumbung tahu bahwa Agung Sedayu telah menempatkan pasukan gabungan di sekitar embung. Oleh sebab itu, Ki Demang Brumbung harus dapat membawa para pengejarnya demi memecah kekuatan laskar Raden Atmandaru.
“Mereka mempermainkan kita!” seru seseorang pada kawanannya. Dia lantas memerintahkan penghentian pengejaran. Dua ekor anjing mereka juga kehilangan jejak saat melintasi aliran air di sunga yang dangkal.
“Ki Sambak, apakah kita berhenti mengejar mereka lalu kembali pada kedudukan semula?” sahut salah seorang anak buah Ki Sambak Kaliangkrik.
Ki Sambak Kaliangkrik tidak langsung menjawab. Dia akhirnya membuat dugaan bahwa orang–orang yang dikejarnya mungkin sedang mengalihkan perhatian atau memecah kekuatan Raden Atmandaru. “Kita kembali sekarang!” perintah Ki Sambak Kaliangkrik. Maka para pengikutnya pun cepat berbalik arah!
Pergerakan Ki Sambak Kaliangkrik rupanya diikuti oleh Ki Demang Brumbung. Maka dia pun membayangi gerombolan itu dari jarak yang cukup bersama Sukra. Sejenak kemudian dia bertanya, “Sukra, seberapa jauh lagi embung dari tempat ini?”
“Kurang dari waktu sepenanak nasi jika pergi lalu kembali dengan cukup cepat,” jawab Sukra.
“Dapatkah kau lakukan itu? Aku akan menghalangi mereka kembali ke rumah bambu,” kata Ki Demang Brumbung.
“Ki Demang, sampean waras? Mereka banyak orang lalu Ki Sambak…,” Sukra berhenti sejenak. “Sepertinya aku pernah berkelahi melawan orang itu.”
“Percayalah, aku akan menahan mereka,” sahut Ki Demang Brumbung sambil menyambar kantung anak panah yang berada di tangan Sukra. Penawal Tanah Perdikan itu menatap tajam Ki Demang Brumbung tanpa kata-kata kemudian memutar tubuh.
“Hey, tunggu. Ke mana kau akan pergi?”
“Embung.”
“Bagaimana kau tahu tempat mereka menunggu?”
“Entahlah, tapi aku bisa mencari mereka.”
“Gunakan siulan yang biasa digaungkan oleh kawan-kawan pengawal. Mereka akan mendatangimu.”
“Aku pergi sekarang,” kata Sukra dengan cepat lalu melesat menuju embung yang dimaksud Ki Demang Brumbung.
Sekejap kemudian, Ki Demang Brumbung pun melesat hebat, mengejar kelompok Ki Sambak Kaliangkrik yang juga sedang berpacu dengan waktu.
Ketika pergerakan kelompok Raden Atmandaru sudah terlihat olehnya, Ki Demang Brumbung pun melontarkan anak panah seperti melepaskan lembing.
“Awas serangan!” seru Ki Sambak Kaliangkrik pada anak buahnya. Dia cepat memutar lalu bersembunyi dengan niat memotong pergerakan penyerang gelap itu. Tapi Ki Demang Brumbung ternyata tidak menempuh garis lurus, melainkan juga berbelok arah lalu menyerbu rombongan itu dengan anak panah dari samping!
Benturan keras pun terjadi!
Ki Demang Brumbung melontarkan panah dengan sebelah tangan, sementar satu tangan yang lain tetap erat memegang ending. Beberapa serangannya tidak tepat pada sasaran tapi kejutan dari Ki Demang Brumbung tidak berhenti sampai di situ.
Terjangan dahsyat orang kepercayaan Ki Patih Mandaraka membuat kocar kacir barisan kecil yang dipimpin oleh Ki Sambak Kaliangkrik. Meski begitu, mereka cepat pulih dari serangan tunggal senapati Mataram tersebut.
Gelombang serangan tunggal Ki Demang Brumbung dapat dibatasi dengan ketat oleh pergerakan Ki Sambak Kaliangkrik. Jumlah anak buahnya sudah berkurang. Tiga orang terkapar dengan anak panah masih tertancap pada bagian tubuh yang sangat penting. Sejumlah orang lainnya terluka tapi masih dapat turut serta dalam pertempuran. Mereka yang terluka segera menjauh lalu bersiaga saat dua orang berkemampuan tinggi itu sudah saling berhadap-hadapan.
Ki Sambak Kaliangkrik tidak lagi menahan diri untuk menjajagi kemampuan lawan. Untuk menguji seberapa dalam ilmunya, itu jelas membuang waktu dan cukup bodoh jika dilakukan, pikirnya. Setelah tata geraknya dapat membatasi sepak terjang Ki Demang Brumbung, Orang ini segera menyerang Ki Demang Brumbung dengan sepasang tongkat pendek yang berujung tajam. Arus serangannya mampu menjadi penyeimbang gelombang serangan tunggal senapati Mataram itu sehingga perkelahian mereka menjadi seru. Ki Sambak Kaliangkrik tidak lagi berpikir untuk tetap membawa kelompoknya kembali ke rumah kecil. Menurutnya pergerakan akan percuma karena prajurit Mataram itu akan tetap memburunya. Lalu, siapa yang akan memimpin jika dirinya terhambat? Tanah Perdikan masih mempunyai senjata sakti selain Agung Sedayu dan Pandan Wangi. Ki Gede Menoreh pun masuk dalam pertimbangannya meski usia dan kesehatan tak lagi mumpuni.
Setelah dapat menakar serangan sepasang tombak Ki Sambak Kaliangkrik, Ki Demang Brumbung pun berkesimpulan bahwa dirinya tidak akan dapat cukup lama menahan gerombolan itu.

Di tengah pertarungannya yang seru, Ki Demang Brumbung menduga bahwa Raden Atmandaru mungkin mengirim kelompok kecil Ki Sambak Kaliangkrik bersamaan dengan kelompok-kelompok sayap yang lain. Dia memperkirakan itu karena Raden Atmandaru mempunyai bentuk serangan yang nyaris serupa. Kebakaran di Tanah Perdikan dan Jati Anom memberi gambaran semacam itu pada Ki Demang Brumbung. Ada setitik penyesalan dalam hatinya saat teringat perintah Agung Sedayu yang meminta mereka mundur sampai sekitar embung. Maka sambil berharap Sukra cepat membawa bantuan, dia pun meledakkan kemampuan dengan kekuatan tertinggi.
Gaung keris berlekuk lima yang menjadi senjata andalan Ki Demang Brumbung pun menggaung dengan putaran yang mengerikan! Suaranya memang tidak memekakkan telinga, namun getarannya sanggup mendenyutkan dinding dalam telinga! Seluruh anak buah Ki Sambak Kaliangkrik dapat merasakan getar hebat yang seakan-akan dapat memutus urat jantung masing-masing!
“Apakah orang itu sudah menjadi semacam demit?” tanya seorang anak buah Ki Sambak Kaliangkrik pada udara yang menderu-deru.
Orang berada di dekatnya menjawab sekenanya, “Bukan, tapi dia anak dari pennnggu hutan ini.”
Untuk menghabisi senapati Mataram itu, Ki Sambak Kaliangkrik tidak ingin melibatkan anak buahnya untuk mengeroyok agar menajdi lebih cepat. Dia tahu gerakan mereka akan dibatasi oleh hembusan liar dari lontaran tenaga cadangan yang melesat dari senjatanya maupun lawannya. “Mereka dapat mati sia-sia sedangkan urusan ini belum juga selesai,” ucapnya dalam hati.
Demikianlah gelanggang pertarungan itu semakin memanas dan berbahaya karena sambaran angin tajam kerap bermuncratan dari setiap ujung senjata.
