Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 118 – Ketangguhan Dusun Benda Walau Terluka

Namun, pemandangan berbeda justru terlihat pada diri Ki Wedoro Anom. Sosok yang semula gagah berani dan perkasa itu gagap menghadapi keadaan yang berkembang sangat cepat. Mukanya yang memerah karena tudingan Ki Ramapati beralih seputih kapas saat melihat gelar tempur lawan telah terbuka. Dia masih mematung dengan tangan memegang hulu senjata. Apakah dia akan menabrak langsung pada Ki Ramapati atau memerintahkan penduduk dusun agar menuruti perintah orang itu? Ki Wedoro Anom tidak tahu yang sedang dipersiapkan Ki Jayaraga bersama Ki Sarwana Tiban.

Benturan mengerikan pun pecah!

Ki Ramapati memacu kudanya sambil melantangkan pekik perang. Perintahnya sangat nyaring. “Hancurkan!”.

“Ki Rangga! Jaga sisi kiri!” teriak Ki Sarwana Tiban pada KI Wedoro Anom. Lurah pasukan khusus itu mencoba menyentak kesadaran rekannya, tapi Ki Wedoro Anom hanya menoleh saja. Orang itu seakan masih mencerna perkembangan!

Debu beterbangan. Penduduk dusun terpaku di balik pagar bambu. Tangan-tangan mereka menggenggam alat seadanya, bukan untuk menyerang, melainkan menahan tubuh agar tidak runtuh oleh rasa takut.

Pasukan berkuda menerjang seperti air bah.

Seperti air bah, pasukan berkuda itu menerjang maju. Debu dan kerikil berterbangan saat kaki-kaki kuda menghantam tanah Dusun Benda. Ki Jayaraga bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata biasa. Dia melesat maju menyongsong terjangan kuda Ki Ramapati. Dengan keluwesan tubuh yang luar biasa, dia melenting di udara, menghindari sabetan pedang Ki Ramapati yang mengincar bahunya, lalu membalasnya dengan hujan pukulan yang bertubi-tubi!

Di sisi lain, Ki Sarwana Tiban sudah bekerja keras dengan sabetan-sabetan pendek yang kuat dan cepat. Anak buah Agung Sedayu ini berusaha melumpuhkan pergerakan kuda-kuda lawan agar para pengawal dusun dapat menyusun gelar Gedong Minep yang diserukannya.

Jeritan kuda, denting senjata, dan lantang perang memenuhi udara fajar.

Ki Wedoro Anom tampak semakin tidak berdaya. Saat seorang penunggang kuda menerjang ke arahnya, dia terlambat menarik diri atau menggerakkan senjatan. Hanya karena dorongan tidak sengajalah yang membuatnya selamat dari sepakan mematikan itu. Ki Wedoro Anom cepat berguling menjauh, menghindar dari injakan kaki kuda. Untung baginya ketika tidak ada orang memerhatikan secara khusus. Bagaimanapun, jika ada yang melihat, dia pasti bertanya, apakah seperti itu kemampuan rangga dari barask pasukan khusus yang dipimpin Agung Sedayu?

Dusun Benda, yang semula diharapkan Agung Sedayu tetap terjaga tenang karena kedudukannya sebagai penyanggah pedukuhan induk, kini terancam. Namun Ki Jayaraga yang sangat memahami Agung Sedayu telah bertekad ; rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Maka lingkar perkelahiannya dengan Ki Ramapati segera berubah menjadi gelanggang yang dapat mematikan setiap orang yang mendekat atau terhisap ke dalamnya. Segala sesuatu telah menjadi pertaruhan yang nyata.

Di antara kabut yang mulai menipis, wilayah barat pedukuhan induk tersebut sedang berjuang melawan kaki tangan Raden Atmandaru.

Ki Ramapati menyadari lawannya bukan orang sembarangan, maka dia segera turun dari kuda. Bertarung selayaknya seorang petarung sejati dunia olah kanuragan. Dia tak sungkan dengan tangan yang mengayunkan senjata. Dalam pikirannya, tangan kosong Ki Jayaraga adalah senjata tumpul paling berbahaya pada pertempuran Dusun Benda.

Pertempuran di Dusun Benda mencapai titik nadir saat fajar menyingsing, di mana aroma tanah yang terusik bercampur dengan bau anyir darah yang mulai membasahi rerumputan.

Di tengah lingkaran perkelahian yang telah menjadi gelanggang mematikan, Ki Jayaraga sekali-kali mengedarkan pandangan. Secara umum, perkelahian masih seimbang. Ki Sarwana Tiban cukup cakap menmimpin perlawanan dengan bantuan jagabaya dan bekel dusun. Sejenak dia memandang langit timur. Suasan sedikit menjadi lebih terang sekarang, pikirnya. Suasana yang beralih dari gelap menjadi agak benderang rupanya memang sedang ditunggu Ki Jayaraga. Dia punya alasan untuk itu ; agar pengawal tidak kesulitan membidik lawan karena perbedaan kemampuan tidak boleh terlalu tampak sangat lebar.

Sekejap kemudian, Ki Jayaraga menghentak kemampuan beberapa tingkat lebih tinggi. Sepasang kakinya mantap menjejak bumi. Kekuatan api, udara dan angin mulai berdatangan, berhimpun di balik pusar.

Ki Ramapati merasakan perubahan yang sangat tajam sedang terjadi di sekitarnya. Permukaan tanah bergetar, kerikil dan daun-daun kering kadang-kadang tampak terlempar sedikit-sedikit. Dia segera tahu bahwa lawannya sedang menghimpun kekuatan sangat hebat! Ketajaman nalar Ki Ramapati menuntun sorot matanya ke arah kaki Ki Jayaraga. Secepat kilat Ki Ramapati meledakkan kecepatan, tangkas menyabet dan menyambar sepasang kaki guru Glagah Putih itu. Pedangnya berputaran dahsyat, berusahan membetot Ki Jayaraga agar larut dalam perkelahian yang sesuai dengan kemampuannya.

Namun demikian, Ki Jayaraga teguh dengan ilmunya. Dia tidak terlihat sedikit pun mengangkat telapak kakinya. Dia hanya menggeser langkah seperti sedang menggambar garis-garis kerangka bangunan. Kematangan Ki Jayaraga sangat membantu membaca arah serangan. Dengan demikian, perkelahian meningkat menjadi semakin mendebarkan ketika Ki Jayaraga sepintas tampak gagal menjaga keseimbangan.

Kitab Kyai Gringsing — bukan bacaan hiburan cepat yang selesai sambil lalu. Ini novel yang mengajak pembaca masuk ke sisi gelap dan sunyi sejarah, tempat keputusan besar diambil tanpa teriakan dan kesetiaan diuji tanpa saksi. Jika Anda lelah dengan kisah kepahlawanan yang terlalu bersih, buku ini menawarkan sesuatu yang lebih jujur dan lebih berbahaya: manusia yang berpikir, ragu, dan tetap harus bertindak.

Membacanya seperti membuka lembar catatan yang seharusnya tidak sampai ke tangan siapa pun. Ada ketegangan, ada beban, ada harga yang harus dibayar, dan tak semuanya berakhir dengan rasa lega. Kitab Kyai Gringsing layak dibaca bukan karena nyaman, tetapi karena terasa perlu. Buku ini tidak memanjakan pembaca. Kyai Gringsing menantang mereka untuk bertahan sampai halaman terakhir.

Pada sisi lain pertempuran, Ki Sarwana Tiban terus menerus memberi perintah  agar pengawal dusun tetap terikat dengan gelar yang dilantangkan. Hanya dengan cara demikian, penunggang kuda bakal sulit memisahkan para pengawal jika terikat dalam kesatuan gelar yang utuh.

Dalam waktu itu, ketika masih gelap, Ki Sarwana menjadi heran, bagaimana mereka bisa begitu cepat menyerap perintahnya? Tapi segalanya menjadi cerah ketika dia melihat ada dua anggota pasukan khusus ternyata berbaur dalam barisan pengawal. Oh, ternyata mereka berdua yang memberi contoh dan rincian sederhana sambil tetap bertempur. Ki Sarwana Tiban lantas mengangguk, mengangkat jempol dengan kepercayaan diri meningkat penuh!

Gangguan demi gangguan, sebagai tekanan, terus diberikan oleh pengawal dusun yang dibantu dua pasukan khusus di dalam gelar. Jagabaya dan bekel dusun pun ternyata bukan pemimpin dusun yang buta kanuragan. Mereka berdua menjadi senjata rahasia Ki Sarwana Tiban melalui dua pasukan khusus. Memang butuh waktu, tapi  belasan penunggang kuda itu pun terperangkap di dalam gelar Gedong Minep dengan segala kembangan yang disesuaikan Ki Sarwana Tiban.

Adalah Ki Wedoro Anom menjadi sosok yang membingungkan banyak orang. Dia memang prajurit, tapi dengan sikap seperti itu, maka keraguan pun muncul dalam hati pengawal dusun! Sekali waktu dia muncul di dekat gelanggang perang para pengawal, lalu tiba-tiba menghilang setelah membantu dengan sedikit serangan pada barisan berkuda. Secara mendadak, dia beredar di sekeliling Ki Jayaraga meski tidak menganggu utusan Agung Sedayu itu.

Gelanggang tempur Ki Jagabaya semakin sulit diukur dengan nalar sehat dan pandang mata biasa. Benturan makin jarang terjadi meski Ki Ramapati telah meningkatkan kecepatan dan kekuatan. Pergerakan Ki Jayaraga tampak lambat tapi seolah ada dinding yang sulit ditembus oleh senjata Ki Ramapati. Bukan termasuk ilmu kebal tapi memang sukar dinalar! Betapa setiap tikaman senjata Ki Ramapati tiba-tiba berkurang kecepatan dan kekuatannya.

Demikianlah tenaga cadangan Ki Jayaraga berpusar hebat hingga membuat dirinya sulit ditembus Ki Ramapati. Kesabaran Ki Jayaraga akhirnya membuahkan hasil nyata ketika Ki Ramapati bergerak surut sambil mengurangi tekanan.

Satu hentakan kaki Ki Jayaraga ke tanah, pengerahan tenaga cadangan yang memanfaatkan kekuatan asing yang tersimpan di perut bumi, menggumpal, meluncur di bawah permukaan tanah lalu menghantam kaki Ki Ramapati!

Orang kepercayaan Raden Atmandaru itu terpental, tapi dia bukan petarung yang mudah ditaklukkan! Dalam keadaan melayang, dari jarak yang cukup dekat, Ki Ramapati melontarkan pedang dan tepat tertancap pada bahu Ki Jayaraga yang terlambat menghindar! Namun demikian, dia gagal menguasai diri, jatuh terbanting. Dalam sesaat, Ki Ramapati menggeliat untuk berdiri tapi sekelebat bayangan tiba-tiba menyambar dari samping Ki Jayaraga, menghunjamkan keris pada dada Ki Ramapati!

 Tubuh mantan senapati itu menegang sekejap, lalu terkulai. Sorot matanya meredup di atas tanah berdebu Dusun Benda.

Ki Jayaraga menoleh. Tidak ada sorak kemenangan di wajahnya, hanya keheningan yang berat.

Pertempuran mereda. Debu mengendap. Pasukan berkuda dilumpuhkan, namun harga yang dibayar dusun mahal.

Orang itu yang ternyata Ki Wedoro Anom kemudian memandang Ki Jayaraga lalu berkata, “Tidak perlu lebih lama untuk memberinya hukuman mati.”

Di sisi lain medan, Ki Sarwana Tiban gagal memanfaatkan keadaan ketika dia melihat tumbangnya Ki Ramapati akibat serangan Ki Wedoro Anom. Walau begitu, salah seorang pasukan khusus segera mengambil alih kendali. “Rapatkan barisan!”

Seruan itu segera menahan keadaan jiwani pengawal dusun yang tercekat oleh tindakan Ki Wedoro Anom. Ki Sarwana Tiban sadar dengan teriakan pasukan khusus. Kebuntuan nalar menyebabkan Ki Sarwana Tiban bertempur membabi buta, tapi berakibat seperti api yang menyiram minyak di atas kepala pegawal dusun. Benar, pengawal dusun mengira Ki Sarwan Tiban sedang melipatgandakan kemampuan maka pun serempak memompa semangat dan kekuatan lebih hebat.

Harga yang harus dibayar dusun memang sangat mahal. Sejumlah pengawal menjadi korban jiwa, beberapa lainnya terluka tapi pasukan berkuda itu dapat dilumpuhkan.

Ki Sarwana Tiban berdiri di antara kepulan debu dengan  napas memburu. Tatap matanya menatap nanar ke arah mayat Ki Ramapati dengan rasa hormat sekaligus ngeri atas perbuatan Ki Wedoro Anom..

Namun, saat debu pertempuran mulai mengendap, sebuah pemandangan aneh terjadi. Ki Wedoro Anom, yang sepanjang pertempuran hanya berloncatan ke segala arah dan sela-sela gelanggang yang aman, tiba-tiba berkata, “Kalian semuanya. Lihatlah akhir dari para penantang Mataram.” Sikap Ki Wedoro Anom memperlihatkan pada dunia seolah baru saja memenangkan peperangan di Dusun Benda.

Ki Sarwana Tiban terperangah melihat tingkah laku rekannya itu. Dia berpaling pada Ki Jayaraga yang bersandar pada batang pohon sambil merawat luka tikaman pedang Ki Ramapati. Namun demikian, guru Glagah Putih itu memberi isyarat mata agar Ki Sarwana diam.

“Keberhasilan ini tak lepas dari jasa jagabaya dan bekel dusun. Tak lupa para bebahu dusun yang bahu membahu menghadang bahaya. Terima kasih, Ki Sanak sekalian telah menjalakan siasat saya dengan sangat baik. Saya akan membawa berita baik ini di hadapan Sinuhun dan para pangeran,” kata lantang Ki Wedoro Anom membuat maklumat di hadapan penduduk dusun yang lugu.

Ki Wedoro Anom sudah melupakan kenyataan bahwa dirinya hampir tewas jika bukan karena dorongan tanpa sengaja yang menyelamatkannya dari sepakan kuda.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 13 – Satuan Kecil Regu Intai Mataram

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 47 – Kehadiran Agung Sedayu adalah Kesulitan Tersendiri

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 34 – Pandan Wangi Menjadi Gila?

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.