“Seperti yang Kyai katakan bahwa ada ketergantungan kita pada waktu,” kata Ki Garu Wesi. “Ki Juru Martani adalah benteng kokoh yang dimiliki Mataram sejak mula-mula, tapi dia tidak pernah dapat melawan kekuatan waktu. Semakin hari kemampuannya sudah pasti tergerus. Kecakapannya menyusun siasat pun sudah pasti terkikis. Puncak keberhasilannya yang cemerlang adalah mengalahkan Arya Penangsang padahal Sutawijaya masih belum dapat mengeluarkan ingus pada saat itu.”
Ki Sonokeling memandang tajam Ki Garu Wesi seolah tidak menerima ungkapan terakhir orang kuat itu. Walau Ki Garu Wesi menyadari perubahan air muka Ki Sonokeling tapi dia bersikap biasa saja. Muncul semacam suasana yang tidak nyaman di antara dua petinggi laskar Raden Atmandaru itu.
Di bawah permukaan, Ki Sonokeling tidak berpikiran sama dengan Ki Garu Wesi. Sutawijaya hanya mempunyai nasib baik saat mengalahkan Arya Penangsang, dan itu bukan karena kelebihan siasat yang banyak digembar-gemborkan oleh orang-orang, pikir Ki Sonokeling. “Tapi, sudahlah, itu sudah berlalu sangat lama. Lebih-lebih tidak ada saksi atau pun bukti yang sejalan dengan berita burung itu,” ucap Ki Sonokeling dalam hati.
Sejenak kemudian waktu mengapung perlahan di bumi perkemahan Watu Sumping.
Seseorang lalu memasuki lingkup pembicaraan antara Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling. Orang itu lantas melaporkan keadaan terakhir yang dilihatnya di Pedukuhan Jagaprayan tanpa pengurangan maupun penambahan. Kedudukan pasukan kotaraja yang masih tertahan di luar pedukuhan, kedatangan Agung Sedayu dan hampir segenap kegiatan yang dijalani oleh senapati pasukan khusus Mataram itu pun ada di dalam keterangan sandi.
“Bagaimana kau mendapatkan keterangan itu?” tanya Ki Garu Wesi.
“Keberadaan pasukan bersenjata itu sangat mencolok. Tidak ada yang tersembunyi dari pandangan orang,” jawab telik sandi Raden Atmandaru.
“Aku dapat mengerti itu, tapi bagaimana kau dapat mengetahui Agung Sedayu sudah berada di dalam pedukuhan? Bukankah sangat sulit menembus perintang hidup yang ditempatkan Pandan Wangi?” cecar Ki Garu Wesi. Sedangkan Ki Sonokeling tampak mengangguk-angguk.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Kitab Kyai Gringsing (3 Jilid PDF) dan Penaklukan Panarukan serta Bara di Bukit Menoreh (KKG jilid 4) bila sudah selesai. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke
BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Tanya Jawab ; T ; Bagaimana jika Kitab Kyai Gringsing Buku ke-4 sudah selesai? Apakah akan ada kelanjutannya?
J ; Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik demi keberlangsungan kisah..
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
“Ada sebuah tempat yang tidak terjangkau oleh perempuan itu, Kyai,” kata telik sandi. “Memang saya tidak menyeberangi parit kecil dengan lekuk tajam di selatan pedukuhan, tapi beberapa lelaki kerap bicara banyak di sekitar tempat itu. Saya mendengar kedatangan Agung Sedayu ketika mereka berbincang dengan suara biasa.”
“Suara biasa?” tanya Ki Sonokeling.
“Benar, Kyai. Mereka tidak memelankan suara dan juga tidak terdengar kencang menantang. Mereka bicara dengan suara yang sedikit lebih keras dari sayaa pada saat ini,” jawab telik sandi.
Ki Sonokeling manggut-manggut dengan tatap mata penuh arti.
“Bagaimana, Kyai?” tanya Ki Garu Wesi pada penasihatnya.
“Dia ini mengatakan ada tempat yang tidak terjangkau oleh Pandan Wangi tapi sulit ditembus pihak luar seperti kita,” ucap Ki Sonokeling.
Telik sandi itu kemudian mengerutkan kening, merenung sebentar, lalu mengangguk.
“Mereka bicara dengan suara yang biasa saja,” lanjut Ki Sonokeling. “Ini berarti tempat itu memang tidak berada dalam jangkauan pengawasan. Sengaja atau tidak, tapi satu kepastian adalah para lelaki itu tidak berada di bawah tekanan. Mungikin mereka adalah pengawal, mungkin pula petani atau pedagang, tapi itu bukan urusan kita meski kewaspadaan harus tetap dijaga,”
Ki Garu Wesi mengangguk. “Karena bisa juga itu menjadi bagian siasat Pandan Wangi dengan menyuruh sebagian orang bicara keras-keras agar sampai ke telinga kita. Andaikan dugaan ini benar, Pandan Wangi sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan segala akibatnya.”
“Keadaan yang masih belum membawa keuntungan yang pasti bagi kita,” ucap Ki Sonokeling disertai helaan napas panjang.
“Baiklah,” ucap Ki Garu Wesi yang ditujukan pada petugas sandinya. “Kau dapat kembali ke barisan sambil menunggu perintah selanjutnya.”
“Saya, Kyai,” sahut telik sandi itu lalu mengundurkan diri.
“Kita mempunyai pilihan dalam tindak penyelamatan ini,” kata Ki Sonokeling. “Menyelamatkan kawan dengan cara menghancurkan sarang serangga atau bekerja senyap.”
“Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri,” sahut Ki Garu Wesi.
Ki Sonokeling mengiyakan, kemudian berkata, “Hanya saja, pertanyaan saya adalah apakah Kyai hendak mendahului mereka yang ada di Gunung Kendil?”
“Tentu setiap dari kita, antara saya dengan Kyai, mempunyai alasan seandainya kita mendahului Raden Atmandaru di Gunung Kendil,” tukas Ki Garu Wesi. “Pengenalan saya pada Raden Atmandaru membuat segalanya tampak lebih mudah.”
Ki Sonokeling memahami kata-kata Ki Garu Wesi. Menurutnya, itu adalah ketegasan bahwa Ki Garu Wesi dapat mendahului pergerakan orang-orang di Gunung Kendil. “Jika demikian, kita harus dapat menjadikan Jagaprayan sebagai pengalih sekaligus pemecah perhatian Mataram. Kita dapat mencegah Agung Sedayu datang di Tanah Perdikan agar penguasaan wilayah itu tidak banyak kesulitan.”
“Setuju,” kata Ki Garu Wesi singkat.
Sekejap berikutnya, Ki Sonokeling memandang hamparan gambar kasar yang terpampang di atas papan. Tangannya bergerak-gerak menunjuk lambang-lambang yang tergambar sambil mengungkap siasatnya.
Dalam waktu itu, Ki Garu Wesi mendapati kenyataan bahwa penasihatnya membuat pendekatan yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Api yang selama ini menjadi senjata utama sepertinya tergeser dengan banyak perpaduan jenis senjata dan aliran pasukan. “Cara ini hanya dapat dipikirkan dan dilakukan oleh prajurit terlatih. Tak heran jika Pangeran Puger mengambil pendapatnya terlebih dulu baru kemudian Ki Patih Tandanegara dan Ki Tumenggung Gending,” ucap Ki Garu Wesi dalam hati.
Untuk beberapa waktu lamanya, Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling bersoal jawab mengenai siasat yang bakal diterapkan. Salah satu diantaranya adalah perbantahan seandainya mereka memancing pasukan bersenjata Mataram agar memasuki Watu Sumping.
“Bila itu dapat menjadi jalan, maka dengan sendirinya Jagaprayan tidak mempunyai dukungan kuat di belakang mereka,” ucap Ki Garu Wesi.
“Tapi akan timbul persoalan yang tak kalah gawat dari dalam pasukan kita,” kata Ki Sonokeling. “Kyai akan menemui kesulitan saat membagi kekuatan. Jagaprayan, Watu Sumping serta pasukan pemukul untuk merebut pedukuhan induk seharusnya menjadi kekuatan yang sama rata dalam kemampuan.”
Ki Garu Wesi memegang dagu dengan jari yang tampak bertenaga. Dia berpikir keras untuk memilih senapati yang mumpuni dalam olah gelar perang. Orang-orang yang akan menjadi lawan mereka sudah pasti bukan senapati sembarangan dari Mataram. Nama Agung Sedayu dan Ki Lurah Plaosan sudah cukup menyulitkan pemimpin laskar Raden Atmandaru untuk merancang serangan. “Bagaimana jika kita menyerang lalu bersembunyi pada titik tertentu? Saya taruh permisalan adalah pedukuhan induk. Kita serang mereka dengan cepat lalu bersembunyi dalam ukuran waktu yang sama.”
“Itu gagasan yang cukup menarik, Panglima,” kata Ki Sonokeling dengan rasa hormat.
“Dan seperti biasa,” sahut Ki Garu Wesi, “selalu ada kelemahan dalam pandangan Kyai.”
Ki Sonokeling tersenyum kecil. “Menyerang lalu berlari atau bersembunyi tentu menguras tenaga tapi jumlah pasukan mereka pun dapat berkurang. Entah karena tertangkap atau terbunuh, tapi itu adalah kejadian yang hampir dapat dipastikan terjadi,” ucap Ki Sonokeling. “Sedangkan menggunakan senjata jarak jauh pun belum berarti dapat membuat pertahanan mereka terkoyak, tapi kita dapat menghemat waktu juga tenaga.”
Ki Garu Wesi menarik napas panjang dengan mata tajam menatap gambar kasar yang terpampang di depan mereka. Sambil menunjuk pada beberapa bagian, Ki Garu Wesi mengungkapkan isi pikirannya. Ki Sonokeling tekum menyimak kata demi kata yang dilontarkan penasihatnya itu.
“Keberhasilan kita menguasai daerah di sekitar Watu Sumping dan Pedukuhan Janti tidak dapat dijadikan patokan yang berlaku umum,” ucap Ki Sonokeling. “Maksud saya adalah keberhasilan itu bukan jaminan kita dapat menguasai seluruh kademangan. Kemampuan masing-masing pedukuhan memang berbeda tapi perlawanan yang mungkin akan ditunjukkan oleh Pandan Wangi dapat membakar desa-desa yang lain. Lebih-lebih antara kita dan mereka juga sama-sama kekurangan orang.”
Raut wajah Ki Garu Wesi tidak menampakkan keberatan. Dia sepenuhnya setuju dengan pendapat Ki Sonokeling. Dengan pertimbangan bahwa sejumlah pengikutnya telah terbunuh dan sebagian lain sedang menjadi tahanan di Jagaprayan, kemudian dia berkata, “Membagi kekuatan memang akan mengurangi daya hancur pasukan kita terhadap Mataram. Tapi meminta tambahan pasukan pada Raden Atmandaru pun hanya berujung pada manfaat lain yang pasti datang pada Mataram. Kita sedang membicarakan waktu, Kyai. Maka saya kira penaklukan kademangan hanya dapat terjadi jika kita melakukannya dengan perencanaan yang baik dan matang.”
Ki Sonokeling mengangguk.dengan satu tambahan bahwa pengalaman tempur mereka berdua di segala medan perang dapat memberikan hasil yang berbeda.
Demikianlah Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling lantas bertukar pikiran mengenai siasat yang akan diterapkan untuk meruntuhkan Mataram. Di tempat lain, sebelum matahari benar-benar mencapai ketinggian, Agung Sedayu serta empat orang lain telah berada di teras rumah yang menjadi tempat tahanan orang-orang yang berada dalam pengawasan. Suasana sekitar rumah benar-benar sepi. Jauh dari yang dibayangkan orang bahwa rumah itu pasti dijaga sangat ketat oleh pengawal pedukuhan. Dua baris tanaman palawija tergelar di halaman depan yang cukup luas itu, sedangkan sisi kanan dan kiri pun penuh dengan jagung yang berusia muda. Sepintas memang tidak tampak orang yang berjaga, tapi siapa yang dapat meraba cara Pandan Wangi menyusun penjagaan?
