Yang terburuk dari itu semua adalah pengambilalihan Kademangan Sangkal Putung menjadi milik Mataram sepenuhnya. Itu berarti keturunan Ki Demang Sangkal Putung tidak lagi berhak memimpin kademangan yang subur itu. Pemimpin kademangan akan ditempati oleh keluarga atau kerabat dekat Raden Mas Rangsang. Pada hembus napas panjang Agung Sedayu kemudian seolah tampak kata-kata, apa yang dapat dilakukan untuk menyelamatkannya? Lagipula masih ada kemungkinan dirinya pun mendapatkan akibat buruk karena membiarkan Swandaru membawa pasukan ke dalam gelanggang perang Watu Sumping.
“Aku tidak dapat berharap pada kesaksian Pangeran Selarong,” ucap Agung Sedayu dalam hati. Sabungsari mungkin dapat meringankannya tapi pihak Kraton pasti lebih berat pada pernyataan Pangeran Selarong. Ya, sudahlah. Yang akan terjadi, terjadilah, demikian perasaan Agung Sedayu.
Perasaan dan pikiran yang tak jauh berbeda dengan Agung Sedayu juga dialami Pandan Wangi. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Swandaru adalah orang yang mendampinginya pada sebagian besar hidup putri Ki Gede Menoreh itu. Ketika tampak perkelahian menjadi tidak karuan, Pandan Wangi melompat turun dari kuda, kemudian berjalan tanpa kesan tergesa-gesa mendekat pada gelanggang perkelahian. Dengan pendirian yang nayis sama dengan Agung Sedayu, Pandan Wangi menguatkan tekad bahwa dia tidak akan turun tangan menyelamatkan Swandaru selama tidak ada kecurangan dari pihak lawan.

Sejenak ketegangan pun makin meningkat ketika sejumlah orang sadar bahwa Pandan Wangi berada di sekitar mereka. Para pengawal kademangan berharap Pandan Wangi akan melerai perkelahian lalu berbuat sesuatu demi kemenangan Swandaru.
Namun ketika anak buah Ki Malawi melihat seorang perempuan menatap lekat perkelahian dari jarak yang cukup karena tidak dapat dikatakan dekat, maka mereka pun menyiapkan senjata. Seseorang bahkan telah memberi aba-aba agar kawan-kawannya segera menyerbu gelanggang bila perempuan itu sudah cukup dianggap membahayakan pemimpin mereka.
Pada gelanggang perkelahian, Ki Malawi mengangkat tangan dengan lambaran tenaga cadangan yang tersisa. Napasnya mulai memburu. Pakaiannya compang camping. Wajahnya sudah tidak dapat lagi digambarkan dengan kata-kata, demikian pula seluruh bagian tubuhnya.
Keadaan Swandaru pun sama dengan musuhnya. Hanya saja, dia masih berusaha berdiri tegak meski lututnya bergetar saat menopang tubuhnya. Sambil mengerahkan segenap kekuatan yang ada, dia bersiap untuk mencoba lagi.
Dua lolongan panjang menggetarkan angkasa. Sekawanan burung tiba-tiba berubah arah karena getaran yang begitu hebat menyapu mereka.
Dua kekuatan berbenturan.
Masing-masing pendukung dua orang itu sama-sama berharap pemenangnya adalah orang yang didukung. Anak buah Ki Malawi berani memastikan Swandaru akan menemui kehancuran Tapi para pengawal kademangan yang terlibat pertempuran senja berharap Swandaru akan menjadi orang pertama yang berdiri.
Tetapi yang terjadi cukup jauh dari perkiraan dan harapan mereka!
Baik Swandaru maupun Ki Malawi sama-sama terpental! Mereka terseret oleh sisa tenaga yang berhamburan sedangkan senjata mereka masih terikat! Keadaan yang sangat kacau!
Dengan susah payah, Swandaru berusaha bangkit. Dia duduk bertumpu pada salah satu lututnya dengan pandangan tajam menyayat lawannya. Tapi dari ujung matanya, dia dapat mengetahui bahwa Pandan Wangi telah berada di sana. “Untuk apa dia mendekat? Jangan sampai dia ke sini, jangan sampai dia ke sini. Aku tidak butuh pertolongannya,” ucapnya dalam hati.
Sedangkan Ki Malawi masih berusaha mengangkat tubuh dengan lutut sebagai penopang serta dua tangan juga menjadi tumpuan.
“Merangkaklah, aku akan memberimu ampunan,” ucap Swandaru dengan ketus.
“Wong gendeng! Kau sendiri hampir mampus!” tukas Ki Malawi lalu memaksa diri untuk tertawa.
Swandaru tidak mengatakan sesuatu pun. Dia sadar bahwa musuhnya memang berkata benar. Maka tak banyak yang dapat dia lakukan selain menguras habis tenaga lawan lalu mengakhiri hidup musuhnya. Tapi untuk menekan lawannya, Swandaru mengerti keadaan dirinya sendiri. Meskipun tenaganya hampir terkuras pula serta tata gerak yang tak lagi ada keselarasan, Swandaru tetap percaya diri dengan hasil akhir yang pasti memihaknya.
Sekejap kemudian, rahang dan tulang-tulang Swandaru seakan berderak ketika menyusun tata gerak dengan sisa-sisa tenaga cadangan yang menyisir seluruh bagian dalam tubuhnya. Swandaru menerkam musuh dengan tekad terakhir. Serangan beruntun pun mengalir sangat deras. Swandaru menerjang musuhnya yang seolah enggan untuk menghindar. Tapi usahanya tampak seperti cara berkelahi orang yang kehilangan akal walau diawali dengan kuda-kuda yang kuat.

Ki Malawi sepertinya sengaja berbuat seperti itu. Dia mungkin sedang menunggu waktu yang tepat demi serangan balik yang mematikan.. Sejauh itu, Ki Malawi hanya menerima serangan Swandaru dengan ayunan lengan yang sangat rapat. Dia tidak lagi berloncatan menghindar. Pikirnya, buat apa? Bukankah ujung senjata masih terikat satu sama lain?
Pada waktu itu, Ki Malawi tampaknya lebih sabar menunggu Swandaru membuat kesalahan lalu hanyut dalam rencananya.
Ini menjadi sesuatu yang menarik! Ki Malawi, yang sudah jelas berada pada keadaan tersudut dan tidak punya jalan menolong dirinya sendiri, justru memperlihatkan ketenangan yang luar biasa. Sementara Swandaru yang mempunyai dukungan dari kebanyakan orang yang mengepung Watu Sumping malah berkelahi dengan cara seperti orang kesurupan.
Di atas semua itu, mereka berdua sudah sama-sama tidak lagi peduli dengan goresan luka, darah yang meleleh maupun tulang yang lebam.
Swandaru masih tanpa henti menghujani musuhnya dengan pukulan-pukulan yang berbahaya tapi kekuatannya sudah berkurang. Sedangkan Ki Malawi pun tampak sibuk menangkis segela serangan dengan tangan dan kaki yang juga mulai berkurang kecepatannya.
Perlahan tapi pasti, pertarungan itu berlangsung semakin lambat. Pada saat kekuatan kian memudar dan kecepatan terasa hambar, Swandaru dan Ki Malawi seolah sepakat untuk mengadu kekuatan terakhir kali!
Benturan kembali terjadi!
Namun pengulangan itu sudah tidak lagi diiringi dengan kekuatan besar! Yang dilihat oleh banyak orang adalah dua pasang kaki yang bergetar. Yang dilihat oleh mereka adalah dua tubuh yang tersungkur seketika setelah saling mengadu kekuatan.
Akhir yang suram!
Baik pengawal kademangan maupun pemberontak sama-sama menyerbu gelanggang, tapi mereka tidak untuk berkelahi! Mereka mengamankan tubuh pemimpin masing-masing. Kelegaan jelas terpancar dari sorak sorai mereka ketika mendapati bahwa pemimpin mereka masih bernapas walau sangat berat.
“Apakah dia terbunuh?” tanya Swandaru pada seseorang yang memapahnya.
Pengawal itu memalingkan wajah pada kerumunan lawan, menggeleng kemudian menjawab. “Sepertinya dia masih hidup.”
Swandaru mendengus. Penuh geram dia memberi perintah, “Lepaskan aku!” Swandaru meronta dengan sisa-sisa tenaga. Tak butuh waktu lama baginya untuk benar-benar lepas dari pegangan para pengawal yang berusaha menahannya.
“Aku akan menghantamnya untuk saat terakhir!” desis Swandaru sambil terhuyung. Dia menebar pandangan tajam pada pengawal sekelilingnya, “Sekarang atau tidak selamanya!”
Tapi sepertinya para pengawal kademangan tak perlu bersusah payah mendatangi lawan mereka. Para pengikut Ki Malawi telah memutar tubuh, berhamburan sambil mengacungkan senjata! Itu mungkin akan menjadi saat terakhir ketika maut tidak lagi dapat dihindari, Di belakang mereka terlihat Ki Malawi memaksa diri turut menyerang. Dia berharap dapat menjemput kematian melalui pertarungan.
Akhir yang benar-benar suram!
