Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 80 – Amuk Swandaru

Rombongan yang berjumlah belasan orang itu pun menyisir jalan utama pedukuhan. Swandaru tampak tidak tergesa-gesa tapi juga bukan dalam ketenangan. Dia berjalan seolah-olah Kademangan Sangkal Putung jauh dari bahaya. Tiba-tiba dia memejamkan mata, memusatkan segenap perhatian pada pendengaran. Tidak salah! Barangkali disebabkan oleh berbagai pemicu, tapi tidak ada yang salah pada telinga Swandaru. Lamat-lamat dia mendengar bunyi ledakan berulang-ulang. Dia merasa sangat mengenal bunyi yang mirip dengan suara yang keluar dari ujung cambuknya pada masa lalu. Setelah memastikan sumber suara, Swandaru berlari sangat kencang!

“Cepatlah kalian!” seru Swandaru pada belasan pengawal yang berjalan di belakangnya. Sekejap kemudian para pengawal berderap, mengekor Swandaru dalam jarak yang lumayan dekat. Walau begitu, mereka masih belum mengerti maksud dari pemimpinnya itu hingga tampak Swandaru berbelok ke selatan.

Itu arah menuju rumah Ki Demang, pikir anak buah Swandaru. Sambil tetap berlari, mereka menyiapkan diri untuk benturan yang mungkin terjadi di sekitar atau bahkan di dalam kediaman Ki Demang Sangkal Putung.

Dalam waktu berdekatan ketika Sekar Mirah hendak duduk di beranda depan bangunan kecil, tiba-tiba terdengar bunyi daun pintu yang jebol karena hantaman sesuatu yang sangat besar!

Sekejap kemudian, sebagian besar berhamburan menuju asal bunyi ledakan. Sebagian tetap tinggal demi pengawasan pada tahanan. Sementara Sekar Mirah tegak berdiri di puncak anak tangga dengan tongkat menyilang. Dia telah bersiap atas kemungkinan terburuk!

“Minggir! Jangan halangi aku!” Swandaru berseru kencang.

“Mirah! Mirah! Mirah!” panggil Swandaru dengan nada cemas dan khawatir atas nasib buruk yang mungkin menimpa adik dan keponakannya. Swandaru terus menyebut-nyebut lantang Sekar Mirah, Wangi Sriwedari, ayah dan ibunya pula.

Banyak pengawal berkata-kata mencoba memberi tahu Swadaru tapi sepertinya dia tidak menggubris mereka. Bahkan dia pun tidak melihat pada bangunan kecil padahal Sekar Mirah tegak berdiri di samping jalan kecil yang dilewatinya.

“Kakang!” sahut Sekar Mirah.

Swandaru tidak juga berpaling.

Sekar Mirah mengulang dengan suara sedikit lebih kencang karena khawatir mengagetkan anaknya.

Kali ini Swandaru berpaling lalu menghentikan langkahnya. Senyum Swandaru mengembang saat melihat adiknya dalam keadaan baik, begitu pula keponakannya. Tapi Swandaru mengurungkan niat untuk melihat lebih dekat ketika pandang matanya tertumbuk pada bekas-bekas pertempuran.

Beberapa oncor menyala kecil tapi sudah cukup bagi Swandaru untuk melihat lebih jelas. Senyumnya tiba-tiba menghilang berganti rasa geram yang luar biasa. Tinjunya mengepal lalu menghantam udara kosong di sampingnya.

“Di mana mereka?” tanya Swandaru dengan pandang mata penuh amarah. “Di mana mereka?” Swandaru menggeretakkan gigi.

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Pertanyaan Swandaru tidak ditujukan pada orang tertentu, begitu pun pandang matanya.

“Kalian semua sudah pekak telinga?” tanya Swandaru tanpa berusaha menahan gejolak yang membadai dalam hatinya.

Lagi, tidak ada seorang pun yang menjawab.

“Sekar Mirah!” Swandaru menyebut nama adiknya.

Sekar Mirah malah memberi isyarat agar Swandaru memelankan suara.

Satu tarikan napas panjang pun diperbuat oleh Swandaru, lalu dia mendengar bising suara orang berkelahi. Mengapa dia tidak mendengar itu sama sekali? Swandaru bertanya sendiri dengan perasaan heran dalam hati. Sebelum melangkah, Swandaru berkata pada salah seorang pengiringnya, “Beritahu orang-orang supaya segera mengumpulkan semua tahanan di depan banjar pedukuhan. Bila ada yang bertanya atau membantah, katakan itu adalah perintah dariku.” Pengawal itu mengangguk lalu menjalankan seperti yang diucapkan Swandaru.

Dalam waktu singkat, perintah Swandaru telah diterima oleh banyak orang. Pada waktu itu, sebagian pengawal dibantu beberapa orang lainnya tampak sibuk merawat yang terluka, mengumpulkan tawanan serta memindahkan jasad yang membujur lintang di sekitar. Sejumlah prajurit Mataram berjalan keluar mengitari lalu berjaga di lingkungan sekeliling rumah Ki Demang Sangkal Putung.  Ada sedikit orang yang berjaga di dekat perkelahian Kyai Bagaswara.

Setelah memandang sekelilingnya, Swandaru pun menuju bagian samping rumah ayahnya lalu melihat dua orang sedang terlibat perkelahian yang sangat seru. Meski suasana tak cukup terang tapi Swandaru dapat mengenali salah satu orang yang berkelahi. “Kyai Bagaswara,” desis Swandaru.

Swandaru berjalan lebih dekat pada lingkar pertarungan. Pada jarak itu, dia dapat merasakan sesuatu yang janggal dari setiap benturan tenaga cadangan antara Ki Garjita dengan Kyai Bagaswara. Namun demikian, Swandaru tidak ingin memikirkan kejanggalan itu. Dia lebih tertarik pada pertukaran jurus yang tersaji di depannya.

Pada awal mula bentrokan bersenjata terjadi, Kyai Bagaswara segera tahu ada  yang tidak wajar yang memancar dari kain Ki Garjita. Untuk sesaat, dia kewalahan menerima serangan Ki Garjita karena keinginan itu begitu kuat menghisap hingga dirinya pun nyaris terseret arus. Namun, tingkat jiwani Kyai Bagaswara sudah sedemikian dalam maka pengaruh asing itu dapat diredamnya. Sepanjang adu senjata berlangsung, Kyai Bagaswara benar-benar berjuang di dalam dirinya untuk mengekang keinginan untuk membunuh yang tiba-tiba muncul.

“Menjauhlah, Ngger,” permintaan Kyai Bagaswara jelas bukan tanpa alasan. Dia mengatakan itu pada Swandaru. Lelaki ini sadar bahwa ada  kemungkinan Swandaru dapat terpengaruh oleh kekuatan aneh yang menyeruak lepas senjata Ki Garjita.

Ucapan Kyai Bagaswara justru hampir mendatangkan akibat yang tak diharapkan. Swandaru malah terpancing oleh rasa geram yang terbungkus penasaran. “Dia ini, apakah memang sudah tak dapat melihat diriku? Apakah dia lupa bahwa aku adalah murid Kyai Gringsing?” ucap Swandaru dalam hati dengan tangan terkepal. Dia mengamati perkelahian itu sambil membuat penilaian. Sejenak kemudian, dia berancang-ancang untuk segera masuk dalam pertarungan.

Sebagai murid yang menyimpan dasar-dasar ilmu Perguruan Windujati melalui Kyai Gringsing, Swandaru termasuk orang yang diperhitungkan di tlatah Mataram. Meski belum sepenuhnya mendalami kitab peninggalan gurunya, kemampuan Swandaru sudah mencapai taraf  yang dahsyat. Maka pada malam itu, keinginan untuk menjajal ilmu Ki Garjita pun meledak!

Ketika perkelahian meningkat semakin tajam, ledakan ikat kepala Ki Garjita hampir mirip dengan jalur ilmu Kyai Gringsing. Semakin tinggi tingkat tenaga cadangan yang dikerahkan, maka semakin halus dan pelan bunyi ledakan yang ditimbulkan dengan daya hancur yang kian menggetarkan.

Swandaru mengerutkan kening saat merasakan betapa tiba-tiba kakinya setapak bergeser surut demi mempertahankan keseimbangan tubuh. Dia sedikit tertegun.

Ketika dua orang ternyata sama-sama memiliki kecepatan gerak yang luar biasa, Swandaru makin tercenung. Apakah dia mampu menggantikan Kyai Bagaswara pada saat itu? Mungkin dia harus berjuang sekuat tenaga hanya untuk bertahan, pikirnya. Tapi Swandaru adalah lelaki yang keras hati. Dia membulatkan tekad untuk tetap masuk ke dalam gelaggang perkelahian. Kyai Bagaswara tidak mungkin tetap berkeras untuk bertahan, apalagi jika dia setuju bahwa Swandaru yang lebih pantas maju demi harga diri dan kehormatan seorang pendekar.

Swandaru mengurai cambuknya. Dua kakinya merenggang lalu merendah. Kuda-kuda Swandaru tampak berbeda dari yang biasa dilakukan olehnya.

“Kyai!” seru Swandaru lalu membenturkan senjatanya pada ujung ikat kepala Ki Garjita dengan kekuatan penuh.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 75 – Mantra Penari Api

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 5 – Agung Sedayu Mempermalukan Lawan!

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 53 – Utusan Khusus Agung Sedayu Itu Bernama Kinasih

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.