Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 79 – Swandaru: Menuntaskan Dendam di Watu Sumping

Perubahan itu ditambah ketiadaan Ki Garjita membuat nyali pengikut Raden Atmandaru sempat menjadi ciut. Sebelumnya, mereka telah terbagi menjadi dua kelompok kecil. Sekarang mereka terpisah lagi menjadi dua bagian menjadi lebih sedikit lagi.

Hanya saja, Sekar Mirah telah semakin bertambah usia. Berbagai keadaan yang telah  dilewatinya menambah pula pengalaman, meski demikian sembilan bulan masa kehamilan ditambah bulan-bulan berikutnya untuk pemulihan akhirnya menjadi batasan yang tidak dapat dilampaui olehnya. Walau tidak langsung berhadap-hadapan dengan dua penyerangnya, tapi sebenarnya Sekar Mirah adalah penggedor utama. Sekar Mirah terus menerus berpindah tempat demi memecah perhatian lawan dan memancing mereka masuk ke dalam perangkap Pandan Wangi. Dia melontarkan serangan dari balik punggung pengawal, lalu kembali secepat mungkin sambil mengarahkan para pengawal agar menggiring lawan semakin dekat ke lubang-lubang jebakan. Hanya saja, seiring dengan berlangsungnya pertempuran yang ketat itu, ketahanan Sekar Mirah mulai menurun.

Bagi orang-orang yang bertempur demi Raden Atmandaru, perubahan tata gerak  Sekar Mirah yang sepenuhnya didukung oleh pengawal menyadarkan mereka pada akhir yang sama ; lubang jebakan. Tapi melepaskan diri dari tekanan Sekar Mirah dan juga pengawal pun tidak mudah dilakukan. Walau demikian, hingga pada titik itu, semangat anak buah Raden Atmandaru tidak menjadi surut. Mereka justru semakin bersemangat karena menganggap perubahan gelar dan seluruhnya adalah tantangan baru. Maka ketegangan pertempuran pun meningkat cukup tajam.

Semakin malam larut pada kesuraman, semakin gelap pula pandangan hati pengikut Raden Atmandaru. Menjadi tawanan jelas bukan pilihan. Tapi mati dalam perkelahian pun belum tentu akan mereka dapatkan!

Demikianlah pertarungan antara Sekar Mirah bersama dua kelompok pengawal menghadapi dua regu pemberontak pun berkobar semakin panas. Para pengawal kademangan semakin kuat ketika keseimbangan kembali terjaga dan Sekar Mirah menjadi lebih aman. Mereka bertempur dengan mapan lalu keadaan pun beralih pada genggaman mereka.

“Lumpuhkan saja. Biarkan mereka hidup,” perintah Sekar Mirah. Benar, putri Ki Demang Sangkal Putung itu tidak menghendaki adanya pembunuhan di sekitar putrinya. Tapi dia tidak dapat mencegah Kyai Bagaswara ketika melumpuhkan dua lawan dengan cara luar biasa. Dia belum mengajak lelaki senja itu bicara, tapi biarlah karena sudah terjadi. Maka  untuk waktu berikutnya, Sekar Mirah berusaha keras menjauhkan putri tunggalnya dari udara kejam yang mungkin saja datang memenuhi halaman belakang.

“Mengerti, Nyai,” sahut pengawal serempak. Mereka tidak keberatan karena memang itu adalah sikap baik meski harus dipaksakan. Pembunuhan cukup terjadi di Watu Sumping dan sekitarnya saja, tapi tidak perlu terjadi di dalam pedukuhan induk, demikian tekad mereka semua.

Perintah Sekar Mirah, sedikit banyak, ternyata memengaruhi jalan pertempuran di halaman belakang. Kubu Raden Atmandaru semakin marah sekaligus gelisah. Kegelisahan itu terungkap dari ucapan mereka yang semakin kasar dan kotor.  Rasa putus asa jelas tergambar dari setiap yang mereka katakan. Betapa tidak, jalan ampunan dari Sekar Mirah adalah penghinaan atas kemampuan dan kerja keras mereka selama ini. Lagipula, menjalani hidup di bawah ampunan perempuan jelas akan menjadi sesuatu yang menyakitkan sepanjang sisa umur mereka. Maka kaum pemberontak pun tidak menghiraukan segala keadaan dan perkembangan yang berikutnya lagi. Mereka bertarung dengan mata dan hati yang kian muram. Bahkan mereka juga tidak sadar bahwa gaung tongkat baja putih Sekar Mirah sudah menurun dan semakin lemah.

Kemerosotan itu tidak diketahui oleh segenap pengawal kecuali Bunija. Pemuda kepercayaan Dharmana pun cepat tanggap dengan keadaan. Dari bibirnya keluar perintah-perintah untuk mengatur kerapatan dan kekuatan gelar. Penguasaan medan pun berlangsung semakin cepat ketika satu demi satu pengawal dan prajurit Mataram  datang membantu Sekar Mirah.

Namun perkembangan berikutnya lebih dalam menancapkan taring ke jantung Sekar Mirah! Tangis bayi kerap berbenturan dengan suara cambuk yang terus menerus meledak. Gendang telinga seolah-olah pecah sebab bunyi ledakan, ketenangannya semakin terusik karena jeritan Wangi Sriwedari yang tak kunjung berhenti. Tentu saja keadaan itu membuat Sekar Mirah menjadi sedikit gugup dan juga gelisah. Kegelisahan yang wajar yang menjangkiti hati seorang ibu ketika datang sesuatu yang mengganggu bayinya. Sekar Mirah sadar bhawa para cantrik itu belum sampai pada tingkatan yang mampu menghaluskan bunyi ledakan. Sedangkan melarang mereka turut bertempur pun bukan jalan keluar demi mengalahkan anak buah Raden Atmandaru. Mereka datang untuk melindungi dirinya dan putrinya serta rela menempuh bahaya. Sungguh tidak mudah terlibat pertarungan hidup mati sambil menggendong bayi mungil dengan sebelah lengan!

Sekar Mirah harus menahan diri lebih lama. Dia harus dapat memaksakan dirinya bersabar dengan usaha yang sangat keras!

Ketika melihat beberapa pengawal dan prajurit turut menyerang anak buah Raden Atmandaru yang tersisa, Bunija pun melantangkan perintah Sekar Mirah. Sejenak kemudian, prajurit Mataram mengerutkan kening lalu menahan senjata masing-masing. Mereka menjaga jarak dari jangkauan para cantrik Perguruan Orang Bercambuk yang masih berusaha mengikat empat lawan yang belum berhenti bergerak.

Sebenarnyalah kemampuan pribadi dari empat orang pemberontak itu berada di atas rata-rata pengawal kademangan dan juga cantrik Jati Anom, tapi Bunija cukup cerdik membaca perkembangan. Bunija meminta delapan cantrik Perguruan Orang Bercambuk itu mengekang kaki dan tangan lawan melalui ujung senjata masing-masing. Maka serangan demi serangan pun mengarah pada lengan atau kaki anak buah Raden Atmandaru. Mereka sedang berusaha mengalahkan lawan tanpa harus membunuh. Kaum perusuh itu pun hanya sanggup menghindar serangan dan juga lubang jebakan!

Salah seorang dari anak buah Raden Atmandaru tampaknya sudah berputus asa. Dia justru menabrakkan diri pada ujung pedang prajurit Mataram yang sebenarnya bermaksud untuk menghalaunya agar mengarah ke lubang jebakan! Keputusan yang akhirnya harus direlakan ketika seseorang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Pada saat tiga kawanan dari golongan pemberontak itu terpana dengan keputusan rekan mereka, maka delapan pasang cambuk seolah-olah berebut membelit kaki-kaki mereka! Seketika tiga orang tumbang berjatuhan!

“Kumpulkan mereka semua di halaman depan, lalu tunggu keputusan berikutnya,” perintah Sekar Mirah sambil terus meredakan tangis anaknya. Setelah memerhatikan para tawanan barang sebentar, Sekar Mirah mengayun langkah ke gelanggang pertempuran Kyai Bagaswara yang masih berlangsung dengan hebat.

Di batas permukiman pedukuhan induk.

Swandaru masih belum beranjak dari tempat duduknya. Murid kedua Kyai Gringsing itu seolah tidak peduli dengan segala kegiatan yang sedang berlangsung di Watu Sumping. “Urusanku telah selesai. Walau belum semuanya, tapi mati sudah menjadi hukuman yang sepantasnya buat mereka,” ucap Swandaru dalam hati. Sorot matanya jauh memandang ke dalam pedukuhan induk.

Beberapa saat kemudian, dia berkata pada  sejumlah pengawal yang mengiringinya, “Kita bergerak sekarang, ke rumah Ki Demang.” Tiga atau empat orang cepat membuang sisa makanan yang berada dalam genggaman. Sebagian lagi menepuk-nepuk kain pakaian lalu bersiap mengikuti Swandaru.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 87 – Pengakuan Agung Sedayu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 115 – Sepasang Sayap Menoreh

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 89 – Rahasia Kediaman Pandan wangi

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.