Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 83 – Bara yang Belum Padam

Dalam waktu itu, seorang pengawal telah mencapai tempat Sekar Mirah lalu melaporkan segala yang terjadi di banjar pedukuhan.

Sekar Mirah hanya dapat menarik napas panjang dengan jantung yang tak henti berdebar kencang. Mendatangi banjar pedukuhan dengan melewati banyak mayat lalu bicara dengan kakaknya, itu adalah kemungkinan yang sempat melintas dalam pikirannya. Peristiwa di banjar pedukuhan malam itu langsung saja memabwa Sekar Mirah pada akhir kematian Gandu Demung. “Dia belum sepenuhnya berubah,” kata Sekar Mirah dalam hati mengenai diri kakaknya. Jika dulu ada Kyai Gringsing, Ki Sumangkar dan banyak orang sepuh, tapi sekarang? Menurutnya, Swandaru sedikit lebih baik  bila tidak seganas dahulu. Sekar Mirah memijat-mijat keningnya, lalu berkata pada pengawal, “Carilah Kyai Bagaswara, lalu sampaikan pesanku ini pada beliau.” Lantas Sekar Mirah mengatakan beberapa hal pada pengawal itu dengan suara sangat pelan.

“Semoga tidak terlambat karena saya berpapasan dengan beliau saat berlari ke arah rumah ini,” ucap pengawal usai Sekar Mirah menuntaskan seluruh pesan-pesannya.

“Terima kasih, Kakang. Harap berhati-hati dan semoga dapat menemui Kyai Bagaswara secepatnya,” tutup Sekar Mirah.

Pengawal itu pun berlalu dengan langkah kaki yang terayun sangat cepat.

Swandaru memang mempunyai perkiraan yang tajam. Sesuai dugaannya, peristiwa yang terjadi di banjar pedukuhan sudah diketahui pula oleh Pangeran Selarong, Pandan Wangi dan Sabungsari.

Pangeran Selarong menarik napas dalam-dalam. Setelah pelapor itu pergi, pangeran Mataram tersebut berkata lirih, “Aku sudah kehabisan kata-kata.”

Sabungsari memilih diam sambil meraba yang paling mungkin dilakukan Swandaru setelah perbuatannya itu di banjar pedukuhan.

 Sementara itu, Pandan Wangi yang berdiri tegak ketika menerima laporan pun seakan tidak berdaya menahan berat tubuhnya. Kakinya sedikit bergetar mendengar segala yang dilakukan Swandaru di kediaman dan banjar pedukuhan.

Baik Pangeran Selarong, Sabungsari dan Pandan Wangi tidak terkejut ketika mendengar laporan pertama kali tentang Swandaru yang menyerbu kediaman Ki Demang. Demi membantu penjagaan di sana menjadi dasar pertimbangan mereka bertiga. Tiga orang itu pun bersikap biasa ketika mengetahui dari petugas penghubung bahwa Swandaru sedang beradu tanding dengan seorang pemimpin pemberontak. Itulah Swandaru yang mereka kenal, pikir tiga orang tersebut. Tapi kabar pembantaian di depan banjar pedukuhan serta merta membuat kening mereka berkerut. Selain masih menjadi tahanan rumah, atas alasan apakah Swandaru emngambil alih penghakiman yang sebenarnya menjadi tanggung jawab Mataram?

Memikirkan itu, Pandan Wangi makin membulatkan niat bahwa dia akan menemui Ki Gede Menoreh lalu membicarakan segalanya dengan pemimpin Tanah Perdikan tersebut.

Ketika Ki Garu Wesi menarik mundur pasukannya lalu bergeser tempat, Agung Sedayu masih menunggu lontaran sendaren dari Sukra. Ketika Swandaru menghabisi satuan kecil Ki Malawi, Agung Sedayu dapat melihat dari tempatnya. Sebenarnya murid pertama Kyai Gringsing itu ingin menghentikan sepak terjang Swandaru tapi isyarat dari Sukra pun menggaung pada waktu yang sama. Maka Agung Sedayu pun mempertimbangkan cakupan bahaya yang lebih luas yaitu Tanah Perdikan Menoreh. Menurutnya, pengaruh dari sikap Swandaru dapat dipersempit melalui pendekatan yang berbeda. Itu berbeda dengan Tanah Perdikan yang mungkin sudah menjadi sasaran berikutnya dari Ki Garu Wesi. Ditambah banyak laporan sandi yang menyatakan Tanah Perdikan sudah dikelilingi perkemahan atau permukiman sementara dari orang-orang yang tak dikenal, maka wilayah itu jelas menyimpan bahaya yang lebih besar daripada Watu Sumping.

Setelah mengatur napas demi menguatkan perasaan yang terguncang karena sepak terjang Swandaru, Agung Sedayu berkelebat menuju tempat pertemuan Sukra dan Kinasih. Ada beberapa pesan penting yang harus mereka sampaikan di depan Ki Gede Menoreh.

Sebentar kemudian, di dalam pelukan suasana yang semakin gelap, Agung Sedayu sudah dapat melihat Kinasih dan Sukra duduk meringkuk di balik batu sebesar perut kerbau. Jarak mereka sedikit terpisah. Rupanya Agung Sedayu begitu tepat memilih tempat yang dijadikan titik temu mereka bertiga. Mereka terlindung dari penglihatan atau pengawasan orang-orang yang menuju Tanah Perdikan atau sebaliknya. Tapi mereka dapat mendengar percakapan orang dengan suara biasa saja.

Kinasih dan Sukra segera menghampiri Agung Sedayu yang tiba-tiba berada di antara mereka berdua.

Setelah saling sapa dan sedikit basa basi, Agung Sedayu berkata, ”Setidaknya kalian sudah mengetahui keadaan terakhir di Watu Sumping.”

Sukra dan Kinasih mengangguk.

Agung Sedayu memandang ke arah di belakangnya. Sejenak dia terbayang api pertempuran yang mulai surut meski ada celah karena sikap Swandaru. Titik-titik  api yang membakar sekeliling Watu Sumping dan ujung-ujung desa yang mengepungnya perlahan mulai padam. Lantas dia berkata lagi, “Mungkin sudah sedikit tenang.”

Sekali lagi, Sukra dan Kinasih mengangguk.

Agung Sedayu menarik napas, lalu berkata, “Kalian memang harus bergerak lebih cepat daripada Ki Garu Wesi dan pengikutnya, tapi itu tidak berarti kalian boleh terburu-buru. Dengan kecepatan biasa, kalian sudah pasti akan mencapai Tanah Perdikan terlebih dulu dari mereka.” Senapati pasukan khusus itu kemudian mengangkat wajah, memandang langit malam yang tak berawan. Sejurus kemudian, dia berkata lagi, “Kalian tidak perlu membayangi pergerakan lawan. Mereka tidak dapat berjalan secepat kalian karena jumlah yang cukup besar. Jumlah yang hampir tidak memungkinkan untuk menggunakan satang atau getek secara bersamaan. Mereka pun hampir tidak mungkin menyeberang melalui bagian yang dangkal karena butuh waktu lebih lama untuk memutar, kecuali ada pertimbangan lain. Dengan begitu, pengawasan dapat mulai dilakukan bila kalian sudah menyeberangi Kali Progo.”

Agung Sedayu lantas lekat memandang Kinasih sambil merenungkan sesuatu dalam pikirannya. Katanya kemudian, “Kau bisa memecah perhatian mereka untuk memberi waktu bagi orang-orang di Tanah Perdikan. Aku kira Sukra akan kesulitan jika langsung melapor pada Prastawa atau Ki Lurah Sanggabaya di barak pasukan khusus.”

“Aku mendengar, Ki Lurah,” ucap Sukra.

“Aku akan menyusul kalian satu hari ke depan. Sepanjang waktu itu, lakukanlah yang terbaik,” kata Agung Sedayu. Senapati Mataram itu lalu menerangkan dengan cepat namun jelas pada Kinasih mengenai tata letak tempat yang dapat digunakan pos pengintaian. “Meski demikian, Ki Garu Wesi dapat menggunakan pula beberapa tempat penyeberangan. Maka, pilihlan yang paling memungkinkan untuk melakukan serangan kilat lalu menghilang secara cepat.”

Kinasih mengangguk sambil berucap, “Saya, Ki Rangga.” Gadis ini berusaha kuat menahan getar yang merambati suaranya. Dia tahu bahwa dirinya cukup berat bila berpisah lagi dengan pemimpin prajurit Mataram itu. Daya tahan Agung Sedayu benar-benar telah pulih seperti sedia kala, jadi, apa yang menjadi alasannya merasa berat berpisah dengan Agung Sedayu? Entahlah, tapi Kinasih sangat memahami keadaan yang mengitari orang yang pernah dirawatnya selama beberapa pekan.

Pis Holopis Kuntul Baris

Bagi yang ingin ikut lebih dekat dengan proses penulisan, Anda bisa bergabung dalam komunitas donatur.

Fasilitas yang diperoleh:

•      Akses kisah terbaru lebih awal

•      PDF lengkap setelah kisah rampung

Cukup dengan donasi minimal Rp25.000 per bulan, Anda sudah ikut menjaga kisah ini tetap berjalan hingga akhir.

Benteng pendem :

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530

atas nama Roni Dwi Risdianto.

Api unggun dinyalakan dengan oncor WA 081357609831

Gotong Royong Mbangun Dusun

Agung Sedayu bangkit lalu mengajak dua anak muda itu berjalan ke arah barat. Beberapa kemungkinan pun disampaikan olehnya dalam perjalanan singkat itu. Ketika mereka tiba di ujung jalan, sehamparan pategalan kering tampak memenuhi pandangan mata dlam keadaan yang cukup gelap saat itu. Bentangan pategalan yang mengapit lorong kecil yang jarang dilewati orang itu adalah daerah terluar Sangkal Putung. Puluhan langkah di depan mereka adalah tanah lapang tapi tak seluas Watu Sumping.

“Kalian tetap harus mengambil jalur yang tersembunyi meski perjalanan ini lebih banyak diselubungi malam,” pesan Agung Sedayu.

Mereka pun berpisah di samping lapangan itu.

Sukra memimpin perjalanan menuju Tanah Perdikan. Dia memintas lapangan kemudian masuk hutan kecil. Berbekal pengetahuan dan pengalamannya yang cukup singkat, Sukra tidak peduli dengan keraguan dalam hatinya bahwa dia dapat saja tersesat. Kinasih mengikuti anak muda itu daribelakang dengan langkah kaki yangagak cepat tapi sama sekali tidak mengesankan mereka sedang berpacu dengan waktu.

Sementara itu, Agung Sedayu pun sudah berbalik arah. Dia kembali ke Sangkal Putung untuk beberapa permasalahan yang belum mendapatkan perhatian penuh. Pertama adalah Sekar Mirah, apakah dia akan diboyong kembali ke Tanah Perdikan sedangkan Raden Atmandaru masih menebar ancaman? Sangkal Putung pun belum benar-benar dapat dipastikan aman dari jangkauan bahaya. Segalanya masih belum jelas bagi Agung Sedayu. Namun demikian, dia merasa perlu untuk melihat keadaan terakhir sebelum bergeser ke Tanah Perdikan Menoreh.

Agung Sedayu menempuh jalur yang berbeda dengan keberangkatannya bersama Kinasih dan Sukra. Dia berjalan dengan langkah kaki biasa, menembus hutan lalu menuruni lembah. Sesekali dia berjalan di bawah tebing berdinding batu atau jalanan yang diapit oleh lumbung-lumbung milik orang dusun. Kadang-kadang dia merasa harus mengambil waktu untuk sekedar mengendurkan urat belakang. Bukan karena lelah tapi untuk mencari jawaban apabila Mataram bertanya tentang Swandaru dan hal-hal lain yang tiba-tiba berkembang di luar kendalinya. Waktu terus mengapung dan melewati malam bagian demi bagian hingga dia tiba di kaki bukit yang berseberangan dengan tebing yang menjulang.  Jika dia mengambil arah selatan, maka Agung Sedayu akan mencapai pasar gede di pusat pedukuhan induk. Tapi kedatangannya di sana akan bersamaan waktunya dengan para pedagang serta petani yang pasti hilir mudik membawa barang-barang.

“Baiklah,” ucap Agung Sedayu dalam hati. Senapati Mataram ini sudah memutuskan akan menyamar ketika mendekati wilayah pedukuhan induk. Dia berharap dapat mengumpulkan berbagai keterangan yang mungkin diucapkan sebagian orang sebagai obrolan pagi tanpa arti. Mungkin bagi mereka, itu permasalahan yang tidak ada gunanya tapi dapat berarti bagi Agung Sedayu. Pemimpin pasukan khusus ini merasa perlu untuk mengetahui dan mendengar secara langsung pendapat dan perasaan kebanyakan orang.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 91 – Tabir Kali Progo

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 22 – Satu Wajah tapi Dua Orang

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 75 – Mantra Penari Api

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.