Sepeninggal Ki Garjita, orang-orang mulai membersihkan setiap bagian kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Sekar Mirah pun kembali masuk ke dalam biliknya setelah meninggalkan pesan pada Kyai Bagaswara.
Sejumlah orang telah membagi diri menjadi beberapa regu dengan tugas kelanjutan sesuai arahan Pandan Wangi. Kyai Bagaswara memastikan segalanya dapat berjalan dengan baik dan tetap berada di atas rancangan besar Agung Sedayu. Setelah berbincang sebentar dengan prajurit dan cantrik dari Jati Anom, Kyai Bagaswara terlihat meninggalkan pula rumah Ki Demang Sangkal Putung.
Beberapa orang merasa aneh ketika Kyai Bagaswara dan Sekar Mirah sama sekali tidak memberi perintah untuk mengawal Ki Garjita. Bagaimana pemimpin penjahat itu dibiarkan berjalan santai ke banjar pedukuhan induk?
“Bila kita bicarakan sekarang, maka yang ramai dibahas adalah kemungkinan dan kemungkinan saja. Kita tidak pernah tahu alasan Kyai Bagaswara maupun Nyi Sekar Mirah,” kata seorang pengawal yang mungkin berusia sekitar pertengahan dua puluhan tahun.
“Apakah kita bisa tanyakan itu pada beliau berdua?” tanya seorang pengawal yang berusia lebih muda.
Pengawal pertama menggeleng, kemudian katanya, “Aku khawatir pertanyaan itu nantinya ditanggapi sebagai ketidakpercayaan kita pada beliau sekalian. Itu jelas bukan hal baik untuk kita semua.”
“Jadi?”
“Aku pun ragu bila kemudian membuntuti orang itu. Kita semua jelas makanan yang empuk baginya,” jawab orang pertama. Lantas dia mengajak kawan-kawan bicaranya untuk membantu pekerjaan di dalam kediaman Ki Demang.
Sebenarnyalah Sekar Mirah telah memerintahkan dua prajurit kotaraja dan tiga cantrik Jati Anom untuk membuntuti kepergian Ki Garjita. Mereka dilarang melakukan sesuatu padanya andai orang itu tidak pergi ke banjar. Mereka diizinkan untuk membuat keputusan penting bila orang itu melakukan kejahatan di dalam pedukuhan induk.
Di banjar pedukuhan.
Banyak mata terbelalak dengan mulut terbuka lebar-lebar ketika melihat sejumlah orang dibariskan dalam keadaan berlutut di depan regol banjar. Ketika mereka akan menanyakan sesuatu, seorang pengiring Swandaru menghardiknya dengan ucapan kasar.
Sementara itu, Swandaru yang duduk tapi hampir tersembunyi dari pandangan kebanyakan orang telah membuat keputusan yang dirasanya sangat penting. Kekacauan kademangan perlahan-lahan mulai dapat dikendalikan. Kegaduhan di rumahnya pun sudah diatasi dan ada Sekar Mirah di sana. Dia percaya pada adiknya itu.
Sebentar kemudian, Swandaru bangkit berdiri, lalu berjalan dengan cambuk yang menjulur sampai permukaan jalan. Wajahnya tampak tegang berbalut keringat dan debu. Sorot matanya begitu dingin hingga terlihat mengerikan bagi orang yang bertatap mata langsung dengannya. Dia kemudian berhenti melangkah pada jarak beberapa langkah dari para tawanan. Swandaru melecutkan cambuk. Suara ledakan menggetarkan gendang telinga. Sebagian orang langsung menutup telinga sambil menyembunyikan wajah atau menundukkan pandangan.
Belasan anak panah melesat, menusuk dan menghunjam tubuh para tahanan tapi sedikit orang yang melihat lontaran benda tajam itu. Seruan tertahan terdengar dari mereka yang menyaksikan beberapa pengawal memberi hukuman pada tahanan.
Banyak orang terkejut lalu bertanya-tanya tentang peristiwa yang terjadi yang luput dari penglihatan mereka.
Langit memandang muram ke bawah. Udara sedang tak berawan, sementara malam itu pun tak ada angin yang menyapa orang-orang kademangan. Ketika mereka memandang pada arah regol banjar pedukuhan, orang-orang yang berlutut ternyata telah tumbang.
Sejenak kemudian, mereka mengerti bahwa Swandaru memberi tanda hukuman mati melalui ledakan cambuknya. Tapi teriakan terkejut segera menggaung di udara banjar pedukuhan! Agaknya Swandaru tidak puas dengan hukuman mati yang dianggapnya tidak sebanding dengan kerusakan yang dialami Kademangan Sangkal Putung. Cambuknya kembali meledak! Mencabik mayat-mayat yang bergelimpangan di jalanan.
Ramai orang bersuara keras meminta Swandaru agar berhenti memukulkan cambuk. Tak lama kemudian, lecutan cambuk pun berhenti sepertinya kemarahan Swandaru mulai mereda. Dalam waktu itu, bayang-bayang suram segera tampak dari wajah setiap orang yang ada di sekitar banjar. Pikiran mereka dipenuhi gambar-gambar buruk yang akan menimpa tanah meeka. Kademangan, terutama pedukuhan induk, akan digenangi darah dari mereka yang dinyatakan bersalah. Bukankah keputusan seperti itu adalah wewenang Mataram? Seandainya memang harus ada hukuman mati, bukankah kademangan dapat memberi usulan agar tidak dilakukan di atas tanah mereka? Tapi setangkai harapan itu telah patah. Swandaru pun tidak dapat disalahkan karena dia adalah pemimpin tertinggi Kademangan Sangkal Putung penerus Ki Demang meski belum secara resmi. Tapi, mengapa pula dia mencabik orang-orang yang sudah mati itu?
Keheningan segera menyergap banjar pedukuhan sambil membawa kemungkinan ; betapa bahaya dan terjal jalan yang dipilih oleh Swandaru untuk kademangan.
Sejumlah orang tampak keluar dari kerumunan. Mereka cepat menyebar ke banyak jurusan untuk melaporkan keadaan yang terjadi di banjar pedukuhan. Sekar Mirah, Pangeran Selarong dan Sabungsari, Pandan Wangi dan Ki Tumenggung Untara, Ki Patih Mandaraka serta Pangeran Pubaya akan mendapatkan keterangan dalam waktu singkat. Dia sudah dapat memperkirakan kedudukan mereka. Hanya Agung Sedayu yang tidak terjangkau oleh pikirannya. Di mana kakak seperguruannya itu? Entahlah.
Swandaru dapat melihat pergerakan orang-orang itu dengan jelas. Dia sudah membuat pertimbangan dalam pikirannya mengenai lontaran anak panah pada belasan tawanan di depan regol banjar pedukuhan. Keputusan yang menurutnya cukup sulit diterima tapi tetap harus dilakukan di depan banyak orang.
“Lalu, apa? Apa yang dapat mereka perbuat padaku? Kademangan ini adalah tanahku dan berada dalam tanganku. Aku sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk,” ucap Swandaru dalam hati ketika pikirannya menduga tentang orang-orang yang akan menerima laporan.
Sambil menghadapkan wajah pada orang-orang yang menatapnya, Swandaru berkata, “Kehidupan di kademangan ini harus tetap berjalan. Kita tidak mempunyai pilihan. Kesuburan tanah ini pun tidak dapat terus menerus disembunyikan. Setiap dari kalian pasti sudah banyak mendengar kisah masa lalu yang tentu masih hangat dalam bayang pikiran. Setelah malam ini, aku ingin bertanya pada kalian, apakah kalian bisa bertahan?”
Swandaru berhenti sejenak untuk mengatus napas. “Setelah malam ini, aku akan baik-baik saja.” Ucapan itu seperti terdengar dari seorang pemberani yang mengatakan dengan nada penuh percaya diri. Kemudian berkata lagi, “Setiap dari kalian dapat maju. Aku persilahkan bila ada yang ingin menyatakan keberatan.”
Setelah menunggu beberapa lama, Swandaru seakan ingin mengungkap sebagian perasaannya di hadapan banyak orang, “Ternyata rencana yang disusun dan kekuatan yang disiapkan tanpa kehadiranku, itu belum cukup dapat mengatasi serangan yang dilakukan oleh orang-orang jahat. Tidak seharusnya mereka dapat mencapai halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung lalu membahayakan keluargaku. Tidak sewajarnya pula mereka sanggup mengacak-acak kedamaian yang selama ini menaungi Watu Sumping. Ada kesalahan yang dibiarkan karena ada anggapan bahwa itu adalah kebenaran.”
Seorang pengawal mendekat pada Swandaru sambil menuntun seekor kuda. Setelah menyerahkan tali kekang pada Swandaru, dia pun menggabungkan diri pada sekelompok pengawal yang berkumpul di bawah pohon randu.
Swandaru memandang orang-orang yang masih berkerumun di sekitar banjar dari atas punggung kuda. Sejenak dia merenung, lalu berkata, “Baiklah. Aku akan menempuh perjalanan panjang dan pasti akan kembali pada kalian.” Kemudian dia berpaling pada pengiringnya yang berkumpul di dekat pohon randu. Katanya, “Terima kasih. Kalian tidak harus mengikutiku. Tapi aku akan mengingat kalian dengan sangat baik. Tidak ada orang yang setia dan percaya padaku selain kalian pada malam ini. meneruskan perjalanan ini.”
Para pengiring Swandaru saling bertukar pandang. Seseoarng kemudian maju – sepertinya sudah terjadi kesepakatan di antara mereka – lalu berkata, “Kami tidak dapat mengikuti Anda selamanya, Ki Swandaru. Tapi, percayalah, kami adalah sebaik-baik teman perjalanan yang pasti menunggu Anda kembali ke kademangan ini.” Kawan-kawannya mengangkat tangan. Sebagian malah mengacung-acungkan senjata sebagai tanda bahwa mereka akan menjaga semangat sampai kedatangan kembali Swandaru.
Swandaru menghentak tali kekang, mengarahkan kuda menuju Tanah Perdikan Menoreh meski dia tidak bermaksud demikian. Swandaru mempunyai tujuan lain tapi dia akan menempuh jalan memutar. Dia tahu bahwa ada segerombolan orang yang berada pada arah yang sama dengannya, maka tidak menutup kemungkinan Agung Sedayu atau pasukan khusus sudah menunggu kedatangan gerombolan itu di suatu tempat. Swandaru merasa harus menghindari itu semua untuk sementara waktu.
Dari sebuah tempat, sepasang mata menyaksikan itu semua dengan hati bergetar. Dia memang sudah mempunyai dugaan bahwa Swandaru pasti menghukum mati para tawanan, tapi setelah itu? Dia merasa ngeri dengan yang diperbuat Swandaru pada mayat-mayat yang masih hangat. Ki Garjita mengangguk pelan seperti sedang menata jalan untuk mencapai tujuannya yang baru. “Sudah jelas orang itu tidak atau belum mendalami kitab dari gurunya. Apakah ada yang masih dapat diingatnya?” kata Ki Garjita dalam hati lalu mempelajari keadaan yang berkembang di sekitarnya. Mungkin dia sedang menimbang pilihan ; apakah tetap ke banjar pedukuhan sambil menunggu kedatangan Pangeran Selarong dan Agung Sedayu atau salah satu dari mereka? Atau memilih kemungkinan yang baru ; tetap di Sangkal Putung sambil menunggu perkembangan? Atau mengikuti Swandaru?
Untuk sesaat, Ki Garjita menepi lalu berhenti. Dia tahu bahwa ada orang yang berjalan di belakangnya sejak keluar dari kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Seandainya ada niat untuk menyerang, maka tempat yang tepat sudah terlewatkan. Sudah tentu mereka bukan orang yang dapat membahayakan dirinya, pikir Ki Garjita. Dengan ketinggian ilmu dan kecepatan geraknya yang luar biasa, maka orang ini kemudian berbelok kanan lalu lenyap dari pengawasan dua penguntitnya.
Dua pengawal yang ditugaskan Sekar Mirah untuk membuntuti Ki Garjita pun juga merasa ngeri dengan perbuatan Swandaru. Mereka bertanya pada diri masing-masing, bagaimana seseorang dapat melampiaskan amarah pada tubuh yang sudah tak bernyawa lagi? Sejenak kemudian, perhatian mereka teralihkan pada pergerakan Ki Garjita yang tiba-tiba mengubah arah. Tapi ketika mereka mempercepat langkah, orang itu telah menghilang seolah ditelan gelapnya malam.
Seorang dari pengawal kademangan kemudian mengangkat bahu lalu berkata, “Ini sudah di luar kemampuan kita. Lagipula, penugasan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kademangan dapat menghargai niat baik seseorang. Marilah, kita laporkan keadaan ini pada Kyai Bagaswara.”
Ajakan
> Kisah ini berjalan perlahan, sebagaimana api kecil di lereng Menoreh—tidak menyala terang, tetapi bertahan.
> Bagi pembaca yang berkenan ikut menjaga nyala api, tersedia komunitas donatur WAG Kontributor KKG dengan akses kisah terbaru serta PDF lengkap setelah kisah ini rampung.
> Sokongan dilakukan dengan iuran minimal **Rp25.000 per bulan**.
> Titik aliran :
BCA 822 05 22297
BRI 31350 102162 4530
atas nama Roni Dwi Risdianto.
Bukti penjagaan bisa dikirimkan melalui petugas sandi WA 081357609831
