Sejurus waktu berlalu ketika Agung Sedayu menyadari bahwa Pandan Wangi perlu waktu untuk menenangkan diri meredam nyala rindu pada ayahnya. “Apakah kau sudah siap?” bertanya Agung Sedayu kemudian.
Pandan Wangi mengangguk lalu menghela napas.
“Pertanyaan Kakang, apakah itu berarti kita pergi menemui Pangeran Selarong? Tapi segala jawaban Kakang, yang pasti adalah di dalam segala keadaan, Pangeran Selarong adalah putra dari seseorang yang saya hormati. Saya tidak melihat ada pilihan lain yang lebih baik, Kakang.” Pandan Wangi merasakan hatinya mendadak bergetar hebat ketika mengucapkan pilihan yang lebih baik. Sebenarnya, ada apakah dengan dirinya pada malam itu di depan Agung Sedayu? Entahlah, Pandan Wangi masih berusaha menyingkap tabir yang rapat menutup hatinya.
Agung Sedayu mengulurkan tangan, meraih wedang jahe hangat yang berada di dalam kendi lalu menuangkannya ke atas mangkuk. Dari raut muka senapati Mataram itu tersirat kepuasan yang tidak terhingga. Betapa pada malam yang dingin itu ternyata ada kehangatan yang dapat menyusup jauh ke dalam kalbu, wedang jahe.
“Wangi,” ucap Agung Sedayu lirih. Sebuah pertanyaan akan disampaikan olehnya, tapi ia harus cermat memilih kata karena terkait dengan ketajaman nalar Pandan Wangi.
“Saya, Kakang.”
“Seseorang telah menerobos rumah ini dan itu bukan tanda yang dapat dibaca segala sesuatu masih berjalan dengan baik,” kata Agung Sedayu. Napas halus Pandan Wangi terdengar olehnya hingga senapati Mataram ini sempat berpikir ada ketenangan yang tersisa terkait dengan tindakan dursila tersebut.
Pandan Wangi mengangkat bahu, ucapnya lirih, “Kejadian itu berada jauh di luar perkiraan saya. Jika Kakang ingin mencari orang untuk disalahkan, saya adalah orang yang tepat untuk memikul beban itu.”
“Bagaimana kau bisa berpikir semacam itu? Tapi aku yakin kata-katamu bukan gambar dari keputusasaan,” tegas Agung Sedayu.
Pandan Wangi merenung beberapa waktu. Sebenarnya dia dapat mengatakan secara benderang peristiwa yang dapat dianggap cukup memalukan itu. Bagaimana rumah yang didiami seorang panglima dengan kemampuan hebat dapat diterobos begitu mudah? Terlebih lagi, penyusup itu tidak meninggalkan bekas yang dapat dilacak! Walau demikian, Pandan Wangi juga melihat pilihan bahwa dirinya pun dapat saja menerangkan sebagian atau cukup berkata,’aku tidak tahu.’
Namun, apakah Agung Sedayu begitu mudah dibohongi dengan keterangan tak berdasar semacam itu? Pandan Wangi tahu persis segala akibatnya.
“Aku tidak dapat mendesakmu karena memang tidak berhak untuk melakukan itu,” ucap Agung Sedayu kemudian.
“Kakang mempunyai kuasa untuk memaksa saya supaya memberi jawaban. Kakang dapat menggunakan kekuasaan itu terhadap saya,” kata Pandan Wangi. Sejenak dada perempuan tangguh itu seakan sedang terhimpit sebongkah batu sebesar perut kerbau. Dia tahu persis orang yang menyusup masuk ke dalam rumahnya.
Ketika Pandan Wangi membuka pintu rumah, seketika dia dapat merasakan sesuatu yang tidak wajar. Untuk meyakinkan hatinya, Pandan Wangi sempat bertanya pada beberapa pengawal mengenai keadaan rumah selama ditinggalkan olehnya. Jawaban mereka pun sama ; tidak melihat seorang pun yang melintasi halaman atau membuka pintu maupun jendela. Saat mata para pengawal memandang padanya dengan rasa heran, Pandan Wangi mengatakan bahwa mungkin dia sedang terbawa suasana perang.
Walau demikian, Pandan Wangi sangat mengenal kebiasaan-kebiasaan seseorang. Dia hanya dapat bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa niat orang itu sebelum memasuki rumahnya? Yang pasti, Pandan Wangi dapat membaca pesan dari penyusup itu melalui perubahan tata letak beberapa benda di dalam bilik dan pringgitan. Lalu, haruskah dia mengatakan yang sebenarnya pada Agung Sedayu? Adakah alasan yang masuk akal untuk itu? Jika masuk akal, pertimbangan terakhir adalah ; apakah pantas?
Setelah merenung sejenak, Agung Sedayu menyadari ada sesuatu yang lebih baik tidak diungkapkan terus terang sebab kejujuran berada di atas segalanya meski kadang menyakitkan. Tapi pada beberapa keadaan, kejujuran bukan jalan yang terbaik untuk menyelamatkan atau mengamankan suatu keadaan.
“Baiklah, aku harap tidak ada yang mendesakmu terkait dengan penyusupan itu. Aku pun tidak akan bertanya lagi. Bahkan aku pun sudah membuang jauh gambaran orang yang mungkin menjadi pelaku,” kata Agung Sedayu. “Kita kembali ke Pangeran Selarong, aku tidak melihat alasan yang dapat menghalangi atau mendukung keputusanmu untuk menolak maupun menerima Pangeran Selarong. Aku ingin menghormati bahwa setiap orang mempunyai pendapat yang membenarkan setiap tindakannya.”
Ucapan Agung Sedayu justru kemudian terdengar aneh bagi Pandan Wangi. Ataukah, sekali lagi, adakah yang salah dalam dirinya atau Agung Sedayu saat itu? Mungkinkah ada maksud lain dari kata-kata itu seperti menyindirnya yang sedang menyembunyikan seseorang?
“Mudah-mudahan tidak terjadi keadaan yang kurang baik pada saat pertemuan nanti,” ucap Pandan Wangi.
“Marilah, aku kira Pangeran Selarong tidak dapat meninggalkan tempat penjagaannya di jalur yang terhubung dengan Tanah Perdikan,” ucap Agung Sedayu kemudian bangkit dari duduk. Sambil mengibas sedikit kain pakaian, dia berjalan turun ke halaman.
Seorang penjaga gardu datang memenuhi panggilan Pandan Wangi yang kemudian memintanya untuk menyiapkan dua ekor kuda.
Agung Sedayu dan Pandan Wangi segera mencongklang kuda menuju Tanah Pedikan Menoreh setelah meninggalkan beberapa pesan pada penjaga gardu. Mereka berkuda dengan kecepatan sedang dan tidak tampak tergesa-gesa. Setelah melewati beberapa tikungan, mereka menyisir jalan yang berada di sisi luar pedukuhan induk. Saat menanjak atau menurun, mereka menahan kecepatan kuda sambil bercakap tentang lingkungan di samping kiri dan kanan jalan. Ada dua tebing yang akan mereka lintasi sebelum mencapai perkemahan Pangeran Selarong.
Dalam hati Agung Sedayu pun muncul pertanyaan ; mengapa Pandan Wangi sama sekali tidak bertanya atau memberinya berita tentang Swandaru? Demikian pula Pandan Wangi yang juga tidak ingin bertanya mengenai Swandaru pada Agung Sedayu.
Selama membelah kesunyian malam itu, baik Agung Sedayu maupun Pandan Wangi sama-sama tidak berkeinginan menyinggung keadaan Swandaru. Sebenarnya itu adalah hal yang aneh karena Swandaru dapat dikatakan sebagai orang yang dapat menghubungkan keduanya dengan sangat kuat. Swandaru adalah adik seperguruan Agung Sedayu sekaligus kakak kandung Sekar Mirah. Tentu saja kaitan mereka pun sangat erat, tapi barangkali mereka berdua mempunyai kesamaan ; demi masa lalu atau demi Tanah Perdikan, mereka tidak ingin membuat suasana malam itu menjadi asing dan terbatas.
“Apakah Sabungsari masih menemani Pangeran Selarong?” Agung Sedayu memecah keheningan dengan suara pelan tapi terdengar oleh Pandan Wangi.
“Seharusnya dia masih berada di sana sampai dua atau tiga hari ke depan,” sahut Pandan Wangi.
Agung Sedayu tidak berkata-kata lagi, hanya tatap matanya jauh memandang punggung gelap perbukitan Menoreh. “Masih cukup lama bagi kita untuk tiba di rumah Ki Gede Menoreh,” kata Agung Sedayu.
Pandan Wangi mengangguk sambil berharap Agung Sedayu tidak membedal kuda lebih cepat. Jalanan yang gelap sangat membatasi penglihatan kuda mereka dan itu cukup berbahaya.
“Beberapa lama lagi, kita akan sampai di tepi Kali Progo,” ucap Pandan Wangi.
Agung Sedayu mengangguk lalu membelokkan kuda menyusur jalan setapak yang berada agak jauh dari tepi sungai. Mereka masih cukup jauh dari Tanah Perdikan, tapi lebih dekat dengan kedudukan Pangeran Selarong. Setelah tebing di tenggara sungai, mereka berdua akan tiba di daerah yang dilaporkan petugas penghubung sebagai perkemahan Pangeran Selarong dan pasukannya.
Sejumlah orang ada di beberapa tempat yang tampak terlindung dari pandangan. Benteng pendem, Penjagaan yang sangat baik, puji Agung Sedayu yang pandang matanya seolah dapat menembus tirai malam yang pekat. Dia dapat menilai itu berdasarkan jarak antar pengawas kemudian jalur yang menghubungkan mereka semua. “Sulit bagi seseorang dapat memasuki wilayah perkemahan tanpa diketahui,” ucap Agung Sedayu dalam hati.
Pada waktu itu, gemericik suara aliran Kali Progo terdengar makin pelan ketika Pandan Wangi bertanya, “Apakah kita sudah masuk jangkauan Pangeran Selarong, Kakang?”
Agung Sedayu berpaling pada wanita yang berkuda di sampingnya, lalu terkejutlah senapati Mataram itu! Dalam pandangannya, wajah Pandan Wangi tampak begitu tegang. Adakah dia sedang gugup karena bertemu dengan Pangeran Selarong? Tiba-tiba Agung Sedayu merasa bodoh dengan pertanyaan yang muncul selintas dalam pikirannya, maka dia segera menertawakan dirinya dalam hati.
Pandan Wangi memang terlihat bersikap seolah sedang tidak berada di samping Agung Sedayu. Tentu ada suatu hal yang mungkin menjadikannya sangat gelisah lalu menyeret pikirannya. Berkuda bersama Agung Sedayu adalah keadaan yang sudah begitu lama terjadi, tiba-tiba terjadi pengulangan yang sangat cepat. Pandan Wangi terbuai tapi segera sadar maka dia pun tengadah dengan cepat lalu berkata, “Saya hanya belum bisa membayangkan seandainya Pangeran Purbaya mengusulkan hukuman yang membawa akibat buruk untuk Tanah Perdikan. Pasti menjadi hal yang sangat sulit untuk diterima maupun dijalani.”
Agung Sedayu berusaha bersikap tenang meski hatinya juga bergolak. Begitu kuat gejolak itu membadai hingga membuat perasaannya berhamburan, maka tangan senapati Mataram itu mendingin dan bergetar!
Tiba-tiba dari tepi jalan, dari balik rumbuk tanaman perdu terdengar seseorang berlari-lari menghampiri mereka.
“Ki Rangga,” sapa orang itu yang ternyata salah seorang prajurit dari kotaraja.
“Selamat malam,” sahut Agung Sedayu sambil memaksakan diri untuk tersenyum. “Bagaimana Paman dapat mengenali saya?”
Prajurit itu tersenyum lalu menunjukkan rasa hormat lebih pada Agung Sedayu yang memang berusia lebih sedikit darinya. Seseorang yang berkedudukan lebih tinggi darinya tapi mampu menyetarakan diri dengannya, maka dia harus dihormati, pikir prajurit tua itu.
“Saya melihat Ki Rangga sangat jelas ketika Ki Rangga berdua mulai melewati batas luar perkemahan yang sudah ditetapkan oleh Pangeran Selarong,” jawab prajurit itu.
Agung Sedayu mengangguk lalu melompat turun dari punggung kuda. “Mari, kita berjalan bersama.”
Pandan Wangi pun turut mengikuti sikap rendah hati Agung Sedayu. Dia berjalan di belakang Agung Sedayu yang berjajar dengan prajurit dari kotaraja itu.
“Bagaimana keadaan Paman?” tanya Agung Sedayu.
Prajurit berusia setengah baya itu makin kagum pada murid utama Kyai Gringsing. Betapa yang ditanyakan lebih dulu adalah keadaannya, bukan Pangeran Selarong atau seluruh pasukan. Pertanyaan sederhana yang diterimanya sebagai perhatian yang sangat penting dengan menimbang keadaan mereka yang kerap berada di batas bahaya. Bagi prajurit itu, Agung Sedayu adalah orang yang cukup bijak menyesuaikan diri dengan keadaan.
“Baik, Ki Rangga. Mudah-mudahan segala sesuatu dapat berjalan dengan baik dan ebrakhir dengan kebaikan pula,” sahut prajurit itu dengan wajah sumringah. Lantas dia pun menerangkan, tanpa diminta Agung Sedayu, suasana di perkemahan seluruhnya. Meski keterangannya cukup singkat.tapi itu sudah memberi gambaran keadaan seluruhnya.
