Dalam beberapa kesempatan, pandangan Pangeran Selarong kerap menyambar tajam Pandan Wangi. Dia masih merasa bahwa ada satu persoalan yang harus diselesaikan. Tapi bila menimbang kepribadian Pandan Wangi serta orang-orang di sekitarnya. Maka Pangeran Selarong juga harus berpikir ulang. Itu bukan masalah mudah. Pandan Wangi, Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh serta banyak orang lain adalah kelompok pendukung kakeknya, Panembahan Senapati, ketika membuka Alas Mentaok yang menjadi cikal bakal Mataram. Lagi, Pangeran Selarong menghembus napas panjang sebagai usaha sedang meminggirkan persoalannya dengan Pandan Wangi.
Malam hampir sampai di garis pertengahan. Perkemahan yang sunyi itu semakin terasa mencekam meski beberapa regu peronda masih tampak berkeliling.
Agung Sedayu lantas mengakhiri penjabaran siasatnya sambil menarik napas panjang. “Saya harap Pangeran tidak keberatan untuk rencana kali ini,” ucap senapati Mataram itu. Karena menurut saya, baik Raden Mas Rangsang maupun Pangeran Purbaya akan merasa lebih tenang bila Pangeran tidak turut menyeberang Kali Progo. Bagaimanapun, dengan keberadaan Pangeran serta Ki Tumenggung Untara di Jati Anom, maka saya yakin tidak akan ada Raden Atmandaru yang kedua di bagian timur. Bersama Ki Tumenggung Untara sebagai penopang, Pangeran adalah penjamin keamanan dan ketenangan di bagian timur Kali Progo sampai kotaraja. Dengan demikian, tata kelola pemerintahan di kotaraja pun dapat berjalan lancar. Jalan untuk mewujudkan kehendak maupun cita-cita Raden Mas Rangsang dengan sendirinya menjadi lapang. Saya harap Pangeran tidak keberatan dengan siasat ini.”
Pangeran Selarong mengangguk-angguk, lalu meminta seorang penjaga kemah untuk memanggil Sabungsari. Sejurus kemudian, Sabungsari telah berada di dalam. Pangeran Mataram itu kemudian bertanya dengan pandangan lurus pada Agung Sedayu, “Bagaimana dengan Sabungsari?”
“Ki Lurah Sabungsari berada dalam wewenang Pangeran,” jawab Agung Sedayu. Dia tahu pertanyaan itu mungkin tidak bertujuan untuk meminta lurah prajurit itu tinggal atau kembali ke Jati Anom, tapi mengingatkan dirinya bahwa Sabungsari akan turut pula ke Tanah Perdikan. Walau demikian, keadaan itu membutuhkan izin Pangeran Selarong.
Pangeran Selarong merenung sejenak, kemudian berkata, “Aku telah bicarakan ini dengannya. Ki Lurah Sabungsari meminta waktu barang dua atau tiga hari untuk merombak pasukan secara keseluruhan.”
Sabungsari mengangguk. Setelah melihat Pangeran Selarong memberi tanda padanya untuk bicara, maka Sabungsari berkata, “Saya ingin prajurit yang turut ke seberang dalam keadaan bugar dan tidak didera lelah secara jiwani, Ki Rangga. Saya akan mengirim mereka dalam dua gelombang. Pangeran Selarong sudah mengirim utusan yang akan membicarakan hal itu dengan Ki Tumenggung Untara secara khusus.”
Agung Sedayu mengangguk. Sekilas dia melirik Pandan Wangi yang masih menundukkan kepala.
“Ki Lurah Sabungsari akan menyusul Ki Rangga dalam dua atau tiga hari mendatang. Saya pun akan mengosongkan perkemahan ini, kemudian mengambil tempat di pedukuhan induk Sangkal Putung sesuai rencana Ki Rangga,” tambah Pangeran Selarong. “Dan juga akan mengganti pasukan yang sekarang ini dengan kekuatan baru dari kotaraja.”
“Kekuatan baru?” tanya pelan Agung Sedayu dengan kening berkerut.
“Oh, maksud saya adalah prajurit yang lebih bugar. Selanjutnya akan bergiliran sampai keputusan lebih lanjut mengenai yang terkait dengan Kademangan Sangkal Putung serta pergiliran ini.”
Dalam beberapa keadaan, Pangeran Selarong menyebut Agung Sedayu dengan gelar atau kepangkatan. Kadang-kadang juga dengan panggilan kerabat. Sikap itu seolah menjadi tanda bagi orang lain mengenai hubungan mereka. Dengan begitu, Sabungsari dan lurah prajurit lainnya pun sadar bahwa perintah Agung Sedayu tak ubahnya seperti perintah Pangeran Selarong. Itu kedudukan yang sangat istimewa, demikian yang diucapkan beberapa lurah prajurit dan pengawal pedukuhan ketika mereka sedang berbincang santai di perkemahan.
Pembicaraan di dalam kemah induk kembali berlanjut. Termasuk di dalamnya adalah permintaan Agung Sedayu pada Sabungsari agar menempuh sejumlah jalur setelah membagi pasukannya menjadi beberapa regu.
Dalam waktu itu, Sabungsari sedikit merasakan kejanggalan sikap Pandan Wangi tapi dia tidak mengatakan atau bertanya sesuatu pun mengenai hal itu. Pikirnya, dia datang paling akhir jadi tidak ada kepantasan bila bertanya keadaan yang berlangsung sebelum kedatangannya.
Hingga kemudian, Pangeran Selarong berkata, “Apakah Paman akan bermalam di perkemahan lalu melanjutkan perjalanan sebelum fajar?”
“Kami tidak berencana untuk bermalam, Pangeran,” ucap Agung Sedayu dengan nada hormat. “Tapi kami akan beristirahat sebentar, lalu bergerak setelah lingsir wingi atau mungkin saat ayam hutan berkokok untuk pertama kali.”
Pangeran Selarong lantas berdiri kemudian berkata lagi, “Silakan Paman ambil waktu untuk kepentingan itu.” Pangeran Mataram ini lantas memberi pesan pada seorang prajurit agar mengantar Agung Sedayu ke kemah di samping kemah induk. Meski demikian, putra mendiang Panembahan Hanykrwati itu sama sekali tidak memandang Pandan Wangi. Seluruh ucapannya ditujukan pada Agung Sedayu.
Pandan Wangi segera berdiri tegak lantas berjalan di belakang Agung Sedayu tanpa perasaan canggung. Dirinya dan Agung Sedayu telah menjadi kesatuan dalam tugas dan tanggung jawab. Berdasarkan pandangan itu, Pandan Wangi pun tidak peduli dengan sikap Pangeran Selarong.
Setelah beristirahat sampai waktu yang diperkirakan tiba, Agung Sedayu serta Pandan Wangi mengambil minuman dan makanan yang sudah disiapkan di dalam kemah. Tirai kemah dibiarkan terbuka agar tidak timbul perbincangan buruk di kalangan prajurit dan pengawal kademangan yang menyertai Pangeran Selarong.
“Sikapmu itu,” kata Agung Sedayu tapi dia tidak meneruskan ucapannya.
“Saya mengerti, Kakang,” sahut Pandan Wangi beberapa saat kemudian.
“Bukankah sepotong ungkapan maaf dapat menjadi harapan pemulihan hubungan,” kata Agung Sedayu.
Pandan Wangi menggeleng. “Dengan kepribadian seperti beliau, saya tidak yakin dengan suasana itu. Bukan pula merasa tidak membutuhkan, tapi, entahlah, saya menganggap diam itu akan menjadi anugerah pada masa mendatang.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Pikirannya sudah menduga arah keyakinan Pandan Wangi. “Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan sesuatu yang dapat kau anggap seperti merendahkan diri atau apa saja. Jika kau yakin dengan sikapmu seperti tadi, aku tidak pernah keberatan memberi dukungan.”
Sebenarnya muncul pula sebuah pertanyaan dalam hati Pandan Wangi. Ingin dia mengatakan itu, tapi adakah keberanian? Apakah Agung Sedayu masih berada di belakangnya seandainya terjadi sesuatu yang buruk dalam hubungan pribadinya? Ah, Pandan Wangi cepat-cepat membuang segenggam rasa penasaran yang tiba-tiba menggelinding dalam ruang hatinya.
Percakapan singkat itu segera berakhir saat Agung Sedayu berpindah tempat, lalu bersila, memusatkan budi dan rasa pada keheningan yang bersandar pada kelembutan Yang Maha Agung. Pandan Wangi merapikan meja bambu, lalu secepatnya pula mengendurkan penat dan meredam segala bayangan yang menghantuinya.
Ayam hutan berkokok pertama kali dengan suara melengking memecah hening malam.
“Marilah,” ajak Agung Sedayu. Pandan Wangi mengangguk. Mereka berdua cepat merapikan diri, lalu saling memandang ketika mendengar langkah kaki berdesir mendekati kemah.
Ternyata wajah Pangeran Selarong muncul menyapa Agung Sedayu tapi tetap bersikap dingin pada Pandan Wangi. Katanya, “Saya sengaja datang untuk mengantarkan Paman sampai gerbang perkemahan. Silahkan, Paman.”
Demikianlah, Pangeran Selarong dan Agung Sedayu berjalan bedampingan. Pandan Wangi berada tiga langkah di belakang mereka berdua. Jarak menuju gerbang perkemahan sebenarnya cukup dekat, tapi ternyata Pangeran Selarong justru malah merasa lama untuk mencapainya.
“Apakah memang ada sesuatu yang cukup mengangguku?” tanya Pangeran Selarong.
Tapi Agung Sedayu tidak cepat menanggapinya. Dia berpikir bahwa pertanyaan itu tidak ditujukan pada dirinya, melainkan pada diri Pangeran Selarong sendiri. Selain suaranya cukup pelan, putra mendiang raja Mataram itu juga memperlihatkan bahasa tubuh yang tidak seperti orang yang berjalan sambil bercakap-cakap. Sejenak kemudian, terdengar helaan napas panjang dari pangeran Mataram tersebut.
Dua ekor kuda sudah menanti di depan gerbang perkemahan, tapi Agung Sedayu mengungkapkan bahwa dia dan Pandan Wangi akan menempuh perjalanan kaki.
Pangeran Selarong mengerutkan kening. “Bukankah KI Rangga harus tiba secepatnya di Tanah Perdikan?”
Agung Sedayu mengangguk. “Itu benar, Pangeran. Tapi kedatangan ini, saya kira, lebih baik tidak diketahui oleh mereka.”
Masih dengan kening berkerut, wajah Pangeran Selarong menampakkan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Tapi kemudian dia berkata, “Baiklah, itu semua terserah Ki Rangga.”
Usai mengatakan beberapa kalimat baik, Agung Sedayu mengucapkan salam perpisahan. Sejurus kemudian, Pangeran Selarong bergegas kembali ke kemah induk, sedangkan Agung Sedayu dan Pandan Wangi meneruskan perjalanan ke Tanah Perdikan menembus gelapnya malam bagian akhir dengan berjalan kaki.
“Kakang,” kata Pandan Wangi. “Bukankah kita sedang beradu cepat dengan waktu?”
“Kita memang sedang tergesa-gesa pada lahiriah, Wangi,” jawab Agung Sedayu. Setelah melirik kea rah terbit matahari, senapati Mataram ini berkata lagi, “Malam belum sepenuhnya pergi. Aku kira kita masih perlu untuk mempelajari beberapa tempat penyeberangan. Kita gunakan dua tempat yang berjarak dekat satu sama lain. Setelah itu, kita seberangi bersama-sama orang lain.”
“Apakah kita akan menyamar?”
Agung Sedayu menggeleng. “Selagi kita tidak terlalu banyak terlibat percakapan atau sedapat mungkin menghindari obrolan, aku kira mereka pun tidak akan tertarik melihat kita. Lagipula, suasana masih belum begitu terang saat itu.”
Pandan Wangi merasa tidak perlu lagi bertanya lebih banyak. Pendapat Agung Sedayu memang masuk akal. Dia mengangguk, lalu berkata, “Baiklah.”

Di tepi Kali Progo masih belum tampak kegiatan penyeberangan. Dari sebelah turunan jalan ujungnya menyentuh tanah berpasir yang berbatasan dengan permukaan air, Agung Sedayu dan Pandan Wangi dapat melihat sedikit kesibukan tukang satang. Sebagian dari mereka tampak memeriksa keadaan perahu maupun rakit. Tempat penyeberangan yang dipilih Agung Sedayu dapat dianggap sebagai dermaga paling ramai daripada yang lain. Barangkali karena daerah itu mempunyai tanah berpasir yang cukup lapang – yang dapat dijadikan tempat untuk istirahat sementara waktu sambil menunggu perahu yang hilir mudik.
Agung Sedayu meminta Pandan Wangi memeriksa bagian lain untuk mencari jejak atau bekas-bekas yang mungkin tertinggal. Sedangkan dia sendiri juga melakukan hal yang sama tapi berbeda tempat. Memang hari belum benar-benar terang tapi pengalaman Agung Sedayu dan Pandan Wangi dapat membantu mereka mengumpulkan keterangan awal.
Fajar pun merekah kemudian. Suasana Kali Progo beranjak menuju remang-remang. Sejumlah orang sudah terlihat di atas dermaga. Demikian pula tukang satang yang mendapatkan giliran pertama untuk menyeberangkan orang.
Pada waktu itu, Agung Sedayu dan Pandan Wangi sudah tampak menyatu dalam barisan orang-orang yang kesempatan mengarungi permukaan Kali Progo yang beriak kecil. Walau demikian mereka tidak berdiri berdampingan. Bahkan Pandan Wangi menghadapkan tubuh dan wajahnya ke arah hulu sungai. Berpakaian ringkas dengan rambut digelung seperti kebanyakan laki-laki, maka orang yang melihatnya pun sempat menganggapnya sebagai lelaki berperawakan kecil yang aneh karena tidak pernah memperlihatkan wajah. Meski percakapan ringan terjadi di antara orang-orang tersebut, tapi baik Agung Sedayu maupun Pandan Wangi tetap bergeming. Hanya Agung Sedayu yang sekali-kali memandang wajah orang yang sedang bicara. Kadang-kadang dia juga tampak tekun menyimak obrolan. Keadaan seperti itu tetap diperbuat mereka berdua hingga kaki mereka menginjak tanah kelahiran Pandan Wangi.
