Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 5 Bentrokan di Lereng Gunung Wilis

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 18

Jalutama mengusap wajah sambil menarik napas panjang. Disertai pandangan mata yang tajam pada Bondan, Jalutama berkata, ”Baiklah, kita lakukan apa yang kau inginkan.”

Sebenarnya Nyi Kirana cukup cemas terhadap perkembangan yang begitu cepat terjadi. Ia terkejut ketika Bondan benar-benar akan mempertaruhkan nyawa untuk menolak keputusan orang-orang yang menginginkan tangannya terikat dalam perjalanan ke Menoreh. Nyi Kirana sadar bahwa baru kali ini dirinya mendapat pembelaan dari seseorang yang baru dikenal. Dan yang membuatnya tidak habis pikir adalah orang yang membelanya itu adalah orang yang dapat dibunuh oleh kelompoknya sendiri. “Seandainya terjadi perkelahian di antara mereka sendiri, kemudian Bondan terbunuh maka peristiwa itu mempunyai alasan yang sangat kuat,” kata Nyi Kirana dalam hati.

Pada waktu itu, Nyi Kirana bersyukur masih mendapat kesempatan untuk menjadi orang yang berbeda. Wajahnya menunduk dalam ketika sebongkah asa membuncah di dalam dada.

Oleh sebab persetujuan Jalutama, maka ketegangan yang terjadi di antara mereka pun mulai reda. Bondan menarik napas dalam-dalam lalu duduk bersandar pada sebatang pohon. Ia merenungkan kembali keinginannya. Ia mengakui bahwa sebenarnya sempat khawatir jika Nyi Kirana akan memanfaatkan kebebasannya yang sesaat itu untuk membalas dendam.

loading...

“Ini bukan masalah jumlah karena ia tidak akan mampu menghadapi kami semua,” gumam Bondan dalam hatinya. Meski begitu, Bondan menyadari keahlian Nyi Kirana dalam pengobatan dapat menjadi senjata mematikan. Namun Bondan tidak ingin larut dalam prasangka buruk, ia membuang jauh-jauh setiap pemikiran buruk yang terbesit dalam hatinya.

“Nyi Kirana, bagaimana jika kita kemudian berjumpa dengan kawan-kawanmu yang lain?” tiba-tiba Bondan menyentak orang-orang yang sedang berkemas dengan pertanyaan yang tiba-tiba meluncur dari bibirnya. Mereka saling bertukar pandang  lalu membenarkan kemungkinan yang diutarakan oleh Bondan.

“Kemungkinan yang dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Jarak perjalanan yang jauh dan waktu yang lama memang memberi kita kemungkinan itu,” jawab Nyi Kirana sambil mengoleskan tumbukan dedaunan pada bagian tubuh Bondan yang terluka. Bondan merasakan tubuhnya mulai kembali bugar setelah ramuan obat yang diminumnya pada awal hari mulai bekerja dalam darahnya.

“Anda tidak menjawab pertanyaan, Nyi,” sahut Bondan.

Klik juga : Mengenali Keris

Nyi Kirana tidak berkata-kata. Ia berdiri kemudian meraih buntalannya lalu melompat ke atas punggung kuda. Ia memandang Bondan dengan sorot mata yang seolah menyiratkan keinginannya untuk mendapatkan kepercayaan.

Bondan bangkit perlahan-lahan namun masih mendapat bantuan Ken Banawa untuk berjalan karena kuda Bondan berada agak jauh darinya. Jalutama kemudian datang membantu Ken Banawa menempatkan Bondan di atas punggung kuda. Jalutama menyempatkan diri untuk membenahi pakaian Bondan dan memeriksa perbekalan yang tergantung pada dua sisi lambung kuda. Jalutama menatap lekat wajah Bondan lalu bertanya, ”Apa yang kau lakukan bila bertemu dengan kelompok Nyi Kirana?”

“Aku akan melupakan apa yang telah ia perbuat padaku.” Sorot mata tajam Bondan menatap Nyi Kirana sambil menjawab Jalutama.

Jalutama mengusap wajahnya sambil menggelengkan kepala, maka kemudian Ken Banawa meraih bahunya lalu berkata, ”Marilah, kau pimpin kita semua menuju Menoreh.”

“Kau memberiku pertanyaan yang sulit untuk dijawab, Bondan,” kata Nyi Kirana saat berkuda pelan di sebelah Bondan. Sementara Ki Swandanu dan Ki Hanggapati berkuda paling belakang, di depan mereka ada Ken Banawa dan Jalutama.

Bondan berpaling padanya kemudian berkata, “Berharaplah agar pertemuan itu tidak terjadi.”

“Tetapi kemudian pertemuan itu terjadi,” sahut Nyi Kirana.

“Saya akan membiarkan Anda hidup agar mempunyai kesempatan melihat kawan-kawan Anda terbunuh,” kata Bondan, ”kemudian saya akan membawa Anda ke hadapan Ki Gede Menoreh.”

Nyi Kirana tidak berkata-kata, hanya menarik napas panjang sambil membiarkan angan-angannya berkelana menembus ruang dan waktu.

Ki Swandanu dan Ki Hanggapati pun membicarakan kemungkinan perjumpaan dengan kelompok Nyi Kirana – yang menurut pengakuannya memang sering melintasi jalur perjalanan selatan Lawu hingga Alas Mentaok. Mereka berdua terlibat perbincangan dengan sungguh-sungguh untuk meraba sikap Bondan. Mereka pun lambat laun memahami watak Bondan yang tidak segan menolong orang yang diyakininya dalam kedudukan benar. Bondan akan mengabaikan semua kemungkinan yang dapat menimpa dirinya. Maka dengan begitu, sebenarnya mereka berdua mempunyai kekhawatiran yang dapat diterima akal sehat.

“Mereka dapat datang setiap saat, Ki,” kata Ki Swandanu. ”Kita sama sekali belum mengenali daerah ini dengan cukup baik.”

Ki Hanggapati berpaling padanya kemudian menganggukkan kepala. Ia berkata, ”Mereka dapat datang dan bersembunyi kapan saja mereka inginkan.”

Pengalaman Ki Hanggapati yang banyak melintasi lembah dan ngarai sebagai seorang pedagang pun kemudian menjadi pembahasan di antara mereka berdua. Ki Swandanu sekali-kali mengangguk. Sepertinya sedang mempertimbangkan untuk mendorong Ki Hanggapati agar menyampaikan pendapatnya pada orang-orang. yang langsung menghadapi pertempuran. Dalam kesempatan itu, Ki Swandanu mengingat kembali peristiwa yang terjadi di lereng Liman. Maka wajarlah bila ia mempunyai kekhawatiran bahwa masih ada sekelompok orang yang berada di rangkaian hutan dari Lawu hingga Menoreh.

Demikianlah kemudian mereka bergerak menuju arah barat melintasi jalan-jalan yang agak sulit dilalui. Jalutama dan Ken Banawa telah sepakat untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang agar kemungkinan yang buruk tidak menyusul mereka. Dalam waktu itu, Nyi Kirana masih melanjutkan pengobatan pada Bondan, dan sekali-kali Bondan juga memulihkan keadaan dirinya melalui latihan-latihan ringan tanpa harus berhenti cukup lama.

Wedaran Terkait

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 9

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 8

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 7

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 6

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 5

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.