Di Bawah Panji Majapahit 1

Sementara itu di tempat lain, seorang pemuda yang bertinggi sedang dan ramping namun tidak menyembunyikan otot yang menunjukkan hubungan dengan olah kanuragan, tampak sedang menyimak perbincangan di sebuah kedai. Ia duduk di pojok satu sudut dalam kedai. Mengenakan ikat kepala berlukisan lurik dan terlihat begitu menikmati suasana pagi padukuhan Sumur Welut.
”Dua malam kemarin ki lurah tergores pedang waktu mengejar penyamun di tepi hutan randu. Sejak saat itu kelihatannya para prajurit sekarang lebih banyak berkeliling dengan jumlah lebih banyak dari yang sudah-sudah,” kata orang bertubuh kurus.
”Iya benar. Ki Lurah Guritna saja bisa terluka dengan lima orang prajurit,” seseorang menimpali, “sepertinya keadaan semakin gawat. Tadi pagi anakku bilang semalam terdengar banyak teriakan ketika ia naik dari sungai.”
Tepat dua malam yang lalu, prajurit peronda terlibat perkelahian yang tidak seimbang ketika memergoki sekawanan orang sedang menggiring sejumlah lembu. Benturan terjadi dan berakhir dengan kegagalan para prajurit menghentikan upaya pencurian itu. Selain jumlah yang kalah ban-yak, pemimpin mereka telah roboh bersimbah darah.
Satu goresan panjang melintang pada bagian atas tubuhnya. Satu sabetan golok mampu menembus pertahanannya. Satu keadaan sulit ia alami ketika berusaha melepas kesulitan dari keroyokan lima atau tujuh orang yang berkelahi dengannya. Pada waktu itu, ia memutuskan untuk terlibat langsung dalam sebuah perondaan yang teratur dilakukan oleh prajuritnya. Meski begitu, Ki Guritna agaknya tidak mempedulikan luka yang ia dapatkan. Perubahan memang terjadi semenjak pemimpin prajurit di Sumur Welut menderita luka sabetan senjata tajam. Perampasan semakin kerap terjadi, bahkan tak jarang itu dilakukan pada siang hari. Sekalipun orang-orang Sumur Welut meningkatkan penjagaan, tetapi mereka belum merasa aman apabila perempuan-perempuan pergi keluar rumah.
Kini Ki Guritna berencana untuk menyergap gerombolan itu. Lukanya belum pulih sepenuhnya namun ia tidak mempunyai alasan untuk menun-da penyerbuan. Ia telah mengetahui letak perkampungan kecil yang bersembunyi di bagian dalam hutan yang terletak di sebelah selatan pedukuhan induk. Ki Lurah Guritna mendapatkan keterangan bahwa per-ampokan yang terjadi di daerahnya juga terkait dengan penggalangan dana besar-besaran untuk membentuk sebuah pasukan. Meski demikian, ia belum dapat membuktikan keberadaan pasukan yang dimaksudkan. Tetapi Ki Lurah Guritna telah mengirimkan utusan untuk menyampaikan berita rahasia ini kepada Ken Banawa.

Pagi itu, Bondan masih mendengarkan dengan seksama dan berharap agar ada sedikit berita mengenai tempat gerombolan itu menyembunyikan diri. Bahkan ia telah memutuskan untuk mencari dan mendatangi tempat gerombolan berkumpul. Menurut kabar yang ia dengar dari seorang lurah prajurit di kotaraja, kawanan perampok itu dipimpin seseorang yang berusia muda.
“Aku akan melakukan sesaat setelah fajar,” Bondan berkata sendiri. Walau ia mengingat pesan-pesan Ken Banawa, tetapi sepertinya Bondan akan mengabaikan itu.
Para pemimpin prajurit termasuk Ki Lurah Guritna sebenarnya telah mengetahui kekuatan kawanan penyamun. Tetapi mereka harus menahan diri berdasarkan pertimbangan dan keputusan pemimpin mereka.
Bondan mendengarkan rencana lurah prajurit dari percakapan beberapa orang prajurit yang sedang berkeliling desa. Ia menetapkan hati untuk menginap di kedai sambil berencana untuk mengikuti para prajurit dalam penyergapan itu.
Sebenarnya kebimbangan masih bergolak di hati Bondan. Menunggu kedatangan Ken Banawa di Wedoroanom atau menyertai penyergapan yang dilakukan Ki Lurah Guritna secara diam-diam.
Di dalam bilik kecil yang disediakan oleh pemilik kedai itu, Bondan mengenang Mpu Gemana. Betapapun juga membunuh seorang penjahat seperti Mpu Gemana adalah yang pertama kali dilakukannya. Bayang-bayang wajah Mpu Gemana masih menghantuinya beberapa malam tera-khir.
Sebuah pertarungan antara hidup dan mati memang akan selalu men-jadikan nyawa sebagai hasil akhir dari sebuah pertarungan.
“Siapapun orangnya, dengan latar belakang apa saja tentu juga akan selalu merasa gugup untuk pertama kali,” Bondan menghela napas, ”selama di Pajang, aku belum pernah membunuh seorang manusia. Lalu apakah pekelahianku yang berakhir dengan kematian Mpu Gemana akan menjadi awal kebiasaan untuk membunuh?
“Aku tidak dapat menghindari sebuah perkelahian. Dan keadaan semacam itu hanya ada dua jalan, membunuh atau terbunuh. Lantas, aku berpijak di bagian yang mana? Mungkin saja Mpu Gemana, Wiratama atau orang-orang yang terbunuh itu mempunyai kewajiban lain, tetapi apa yang dapat mereka perbuat jika di hadapan mereka hanya ada dua pilihan saja?
“Yang pasti, aku tidak mengetahui yang akan terjadi esok dan aku bukan seorang pembunuh. Aku bukan orang yang akan membunuh tanpa alasan, dan aku akan mencoba untuk tidak membunuh.” Bondan memancangkan tekad dalam hatinya.
Malam itu Bondan memikirkan tentang niat yang belum diputuskan. “Aku kira turut serta menyerang perkampungan penyamun adalah kepu-tusan yang sangat rawan untuk dilakukan. Ini sama dengan bunuh diri karena bisa saja justru aku ditangkap dan dihukum oleh pengawal Sumur Welut yang dipimpin Ki Lurah Guritna. Salah satu kemungkinan yang menjadi penyebab adalah aku orang asing. Belum atau tidak banyak yang mengenalku, baik di lingkungan ini atau di kotaraja,” gumam Bondan dalam benaknya.
Pada waktu itu, ia mengingat bahwa Resi Gajahyana pernah berpesan kepadanya tentang seseorang yang menyesap seluruh bagian alam. Penempaan diri melalui kebiasaan baik yang sudah menjadi bagian kehidupan secara wajar atau justru bertentangan.
Bondan menyadari bahwa keputusannya malam ini tidak berhubungan dengan tindakannya yang benar atau salah, tetapi menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab Bondan sebagai putra Majapahit. Dan bisa saja membunuh penjahat adalah tindakan yang benar, tetapi juga ada kekeliruan apabila dipandang dari pengajaran gurunya selama bertahun-tahun.
Dingin udara malam perlahan merasuki setiap bagian bilik penginapan, Bondan pun memejamkan mata karena lelah. Tak lama kemudian ia merebahkan tubuh di pembaringan, tetapi derap langkah para prajurit menggugah pendengarannya. Ia segera menyelinap keluar tanpa diketahui orang, dari atap rumah penduduk, ia mengikuti iring-iringan prajurit yang berbaris teratur menyusur jalanan padukuhan menuju tepi hutan randu.
Tubuh Bondan begitu ringan menjejak atap dan sesekali berkelebat mendahului Ki Guritna yang berada di depan.
Setelah tiba di tepi hutan yang banyak ditumbuhi pohon randu, Ki Guritna memerintahkan prajuritnya untuk berhenti dan Ranggawesi me-masuki hutan disertai beberapa pengawal mendahului pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Guritna. Ia bertugas untuk mengamati perkampungan para penyamun yang berada di hutan sebelah dalam.
”Sedikit sekali orang yang terlihat di perkampungan. Menurutku ini mencurigakan karena terlalu lengang. Aku khawatir jika ini sebuah jeba-kan.” Ranggawesi melaporkan hasil pengamatannya pada Ki Guritna.
”Mungkin itu ada benarnya. Akan tetapi petugas sandi telah memastikan lokasi persembunyian mereka.
“Ranggawesi, kita sebar prajurit untuk mengepung mereka. Aku akan masuk dari utara memutari rawa-rawa kecil. Kau bawa sebagian melalui pohon beringin kembar seperti yang dikatakan petugas sandi. Dengan begitu gerak mereka akan kamu ketahui meskipun mereka melalui sungai. Dan yang lainnya masuk melewati jalan setapak ini dengan menyebar,” kata Ki Guritna sambil menunjuk arah yang ia maksudkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *