Padepokan Witasem
Bab 3 Di Bawah Panji Majapahit Uncategorized

Di Bawah Panji Majapahit 1

Di Bawah Panji Majapahit

 

Sementara itu di tempat lain, seorang pemuda yang bertinggi sedang dan ramping namun tidak menyembunyikan otot yang menunjukkan hubungan dengan olah kanuragan, tampak sedang menyimak perbincangan di sebuah kedai. Ia duduk di pojok satu sudut dalam kedai. Mengenakan ikat kepala berlukisan lurik dan terlihat begitu menikmati suasana pagi padukuhan Sumur Welut.

”Dua malam kemarin ki lurah tergores pedang waktu mengejar penyamun di tepi hutan randu. Sejak saat itu kelihatannya para prajurit sekarang lebih banyak berkeliling dengan jumlah lebih banyak dari yang sudah-sudah,” kata orang bertubuh kurus.

”Iya benar. Ki Lurah Guritna saja bisa terluka dengan lima orang prajurit,” seseorang menimpali, “sepertinya keadaan semakin gawat. Tadi pagi anakku bilang semalam terdengar banyak teriakan ketika ia naik dari sungai.”

Tepat dua malam yang lalu, prajurit peronda terlibat perkelahian yang tidak seimbang ketika memergoki sekawanan orang sedang menggiring sejumlah lembu. Benturan terjadi dan berakhir dengan kegagalan para prajurit menghentikan upaya pencurian itu. Selain jumlah yang kalah banyak, pemimpin mereka telah roboh bersimbah darah.

Satu goresan panjang melintang pada bagian atas tubuhnya. Satu sabetan golok mampu menembus pertahanannya. Satu keadaan  sulit ia alami ketika berusaha melepas kesulitan dari keroyokan lima atau tujuh orang yang berkelahi dengannya. Pada waktu itu, ia memutuskan untuk terlibat langsung dalam sebuah perondaan yang teratur dilakukan oleh prajuritnya.  Meski begitu, Ki Guritna agaknya tidak mempedulikan luka yang ia dapatkan. Perubahan memang terjadi semenjak pemimpin prajurit di Sumur Welut menderita luka sabetan senjata tajam. Perampasan semakin kerap terjadi, bahkan tak jarang itu dilakukan pada siang hari. Sekalipun orang-orang Sumur Welut meningkatkan penjagaan, tetapi mereka belum merasa aman apabila perempuan-perempuan pergi keluar rumah.

Kini Ki Guritna berencana untuk menyergap gerombolan itu. Lukanya belum pulih sepenuhnya namun ia tidak mempunyai alasan untuk menunda penyerbuan. Ia telah mengetahui letak perkampungan kecil yang bersembunyi di bagian dalam hutan yang terletak di sebelah selatan pedukuhan induk. Ki Lurah Guritna mendapatkan keterangan bahwa perampokan yang terjadi di daerahnya juga terkait dengan penggalangan dana besar-besaran untuk membentuk sebuah pasukan. Meski demikian, ia belum dapat membuktikan keberadaan pasukan yang dimaksudkan. Akan tetapi Ki Lurah Guritna telah mengirimkan utusan untuk memnyampaikan berita rahasia ini kepada Ken Banawa.

Pagi itu, Bondan masih mendengarkan dengan seksama dan berharap agar ada sedikit berita mengenai tempat gerombolan itu menyembunyikan diri. Bahkan ia telah memutuskan untuk mencari dan mendatangi tempat gerombolan berkumpul. Menurut kabar yang ia dengar dari seorang lurah prajurit di kotaraja, kawanan perampok itu dipimpin seseorang yang berusia muda.

“Aku akan melakukan sesaat setelah fajar,” Bondan berkata sendiri. Walau ia mengingat pesan-pesan Ken Banawa, tetapi sepertinya Bondan akan mengabaikan itu.

Para pemimpin prajurit termasuk Ki Lurah Guritna sebenarnya telah mengetahui kekuatan kawanan penyamun. Tetapi mereka harus menahan diri berdasarkan pertimbangan dan keputusan pemimpin mereka.

Bondan mendengarkan rencana lurah prajurit dari percakapan beberapa orang prajurit yang sedang berkeliling desa. Ia menetapkan hati untuk menginap di kedai sambil berencana untuk mengikuti para prajurit dalam penyergapan itu.

Sebenarnya kebimbangan masih bergolak di hati Bondan. Menunggu kedatangan Ken Banawa di Wedoroanom atau menyertai penyergapan yang dilakukan Ki Lurah Guritna secara diam-diam.

Di dalam bilik kecil yang disediakan oleh pemilik kedai itu, Bondan mengenang Mpu Gemana. Betapapun juga membunuh seorang penjahat seperti Mpu Gemana adalah yang pertama kali dilakukannya. Bayang-bayang wajah Mpu Gemana masih menghantuinya beberapa malam terakhir.

Sebuah pertarungan antara hidup dan mati memang akan selalu menjadikan nyawa sebagai hasil akhir dari perang tanding.

“Siapapun orangnya, dengan latar belakang apa saja tentu juga akan selalu merasa gugup untuk pertama kali,” kata Bondan. Setelah menghela napas, ia melanjutkan, ”Selama di Pajang, saya belum pernah membunuh seseorang. Lalu apakah pekelahianku yang berakhir dengan kematian Mpu Gemana akan menjadi awal kebiasaan untuk membunuh?”

Related posts

Pulang 4

kibanjarasman

Pulang 3

Lina Boegi

Namaku Senggani, Prosa Liris

admin

Lentera, Sebuah Awal Prosa Liris

admin

Leave a Comment