Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 48

Pertanyaan Ki Sor Dondong tiba-tiba menyadarkan Glagah Putih. Betul yang diucapkan oleh musuhnya. Pandan Wangi tidak lagi tampak berkelebat, Sabungsari pun demikian. Mereka mempunyai persamaan. “Ah, ia berkata benar. Kita mempunyai persamaan,” ucap Glagah Putih dalam hatinya. Ia berpikir singkat, mundurnya pasukan Raden Atmandaru tidak berarti mereka kalah perang tetapi sengaja melepaskan Gondang Wates! Dalam waktu itu, Glagah Putih merasa agak kecil ketika berhadapan dengan Ki Sor Dondong. Bagaimana Pangeran Purbaya dapat dikalahkan dalam pertempuran? Mungkin mereka meraih kemenangan di Karang Dawa, tetapi bagaimana jika lawan mengobarkan api peperangan lagi di tempat yang sedikit jauh? Orang-orang yang setia pada Panembahan Hanykrawati tentu akan memeras pikiran lebih kencang lagi. “Demikian banyak kejutan yang terjadi. Sudah pasti, jika demikian, mereka sama sekali tidak berniat untuk menebas habis Gondang Wates meski penampakkan di luar tidak seperti itu,” kata Glagah Putih pada dirinya sendiri.

“Prajurit,” kata Ki Sor Dondong.

Tentu saja sebutan itu mengejutkan Glagah Putih. Ia adalah prajurit sandi dan tidak banyak orang yang mengetahui sepak terjangnya di keprajuritan Mataram. Glagah Putih adalah prajurit yang diadakan namun tidak untuk dikenali banyak orang kecuali di medan perang. “Tetapi, bagaimana orang ini tahu aku adalah prajurit?” Glagah Putih bertanya dalam hati. Kemudian, ia menduga seseorang atau beberapa – yang berada di dalam lingkaran Ki Patih Mandaraka atau Panembahan Hanykrawati – telah menguak selubung yang selama ini tertutup rapat.

Mengabaikan kemudian tentang dugaannya, Glagah Putih bertekad menjadi orang terakhir yang meninggalkan Karang Dawa. Kemauannya yang keras terpancar kuat dari sinar mata dan wajahnya. Glagah Putih segera memutar ikat pinggang, membungkus sekujur tubuhnya di balik pertahanan yang sangat rapat. Perubahan yang terjadi pada tata gerak Glagah Putih lantas diimbangi oleh Ki Sor Dondong dengan serangan-serangan tajam yang memenuhi udara dan terasa seperti besi-besi runcing jika mengenai kulit seseorang.

loading...

Mereka berloncatan saling mendekat. Kadang-kadang tampak seperti kesatuan utuh. Kadang-kadang pula mereka melompat saling menjauh ketika terjadi gelombang yang membenturkan kekuatan puncak. Dua orang yang terpaut usia cukup jauh itu sebenarnya sudah berada pada tataran puncak pengerahan ilmu masing-masing. Udara di sekitar perkelahian mereka meningkat tinggi. Panas dan menyesakkan pernapasan bagi orang-orang yang berkemampuan lebih rendah dari mereka berdua. Bahkan, cukup sulit bagi orang biasa untuk menggerakkan anggota tubuh bila ia terjebak di dalam lingkar perkelahian! Angin berputar-putar lebih kuat dari angin yang biasa berpusing di hutan bambu di utara Jati Anom.

Perkembangan perkelahian Glagah Putih menjadi sebab yang membuat Pangeran Purbaya lebih berhati-hati menerapkan siasatnya, yaitu mengurai kekuatan lawan lalu membekuk mereka sebagai tawanan. Terlalu berbahaya meskipun pasukan Sangkal Putung berada di atas angin! Maka, selama Ki Sor Dondong tidak mengeluarkan perintah baru bagi pasukannya, selama itu pula Pangeran Purbaya menunggu. Bila tidak ada perkembangan baru, tentu sudah pasti pengawal Gondang Wates berbangga hati karena berhasil menghalau musuh keluar dari wilayah. Seandainya pembiaran itu mengakibatkan hasil yang sesuai harapannya, Pangeran Purbaya mencukupkan diri bila Gondang Wates mendapatkan penghargaan yang  sesuai. Benar, Pangeran Purbaya akan menyerahkan kembali kendali keamanan kepada Swandaru. Sangkal Putung akan lebih kuat dengan keberadaan Sabungsari – meski mereka berdua mengalami pelemahan kanuragan. Sabungsari akan dapat memudahkan usaha menjalin anyaman yang lebih tangguh dengan barak pasukan di Jati Anom. “Ki Tumenggung Untara pasti sudah mengerti yang harus dilakukannya bila Sabungsari menetap di Sangkal Putung untuk sementara waktu,” pikir Pangeran Purbaya.

Kembali ke pertarungan Glagah Putih yang lambat laun semakin bergeser ke selatan Karang Dawa.

Itu adalah perkembangan yang menarik karena dari sanalah kemunculan pasukan berkuda pimpinan Mangesthi, dan Ki Sor Dondong justru semakin jauh dari pasukannya. Perubahan itu disadari sepenuhnya oleh Glagah Putih. Sejenak ia ragu-ragu bila harus mengikuti pergerakan musuhnya karena itu adalah keputusan yang tidak lazim dibuat oleh seorang panglima perang – seorang diri berusaha menarik lawan dan beberapa orang agar memburunya. Memang sejumlah pengawal terlihat bergerak mengikuti pergeseran perkelahiannya melawan Glagah Putih, hanya saja mereka tidak turut campur dengan mengepungnya dari berbagai arah. Mau mati? Demikian ancaman Ki Sor Dondong yang tersimpan dalam hatinya. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Ki Sor Dondong!

Kisah Silat Padepokan Witasem

Agaknya memang mereka berdua enggan menurunkan derajat kemampuan. Apalagi Glagah Putih mulai menyentuh dasar-dasar ilmu yang berasal dari kitab tulisan Ki Namaskara. Meski demikian, Glagah Putih belum berkeinginan untuk mengeluarkan segenap yang disadapnya dari kitab tersebut. Hanya saja yang menjadi lawannya adalah Ki Sor Dondong yang bernalar tajam. Ki Sor Dondong sudah  memperkirakan bahwa Glagah Putih mempunyai ilmu yang belum diungkapkan. Maka, dengan begitu, Ki  Sor Dondong akan memaksa lawannya agar mengeluarkan segenap kemampuan yang masih tersimpan. Untuk tujuan itu, Ki Sor Dondong dengan cara yang cerdik akhirnya menggeser medan pertarungannya ke bagian yang landai yang ditumbuhi pohon-pohon berukuran sedang.

Tidak semua petarung mempunyai kemampuan dan pengalaman yang cukup untuk beradu kekuatan di permukaan tanah yang miring, demikian jalan pikiran Ki Sor Dondong. Begitu melihat tepi lereng yang menurun, seketika serangan Ki Sor Dondong meningkat makin tajam diikuti pengerahan tenaga cadangan yang di luar dugaan musuhnya. Tata gerak Ki Sor Dondong mendadak berubah menjadi semakin garang. Serbuan Ki Sor Dondong berhasil menempatkan Glagah Putih pada kedudukan di bawahnya. Kemudian, pada setiap serangannya, gerakan Ki Sor Dondong tak ubahnya seperti elang yang menyambar-nyambar anak ayam dengan patukan-patukan yang mengerikan!

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 92

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 91

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

2 comments

Bagus pengalasan 05/10/2022 at 09:02

glagah putih selain mempunyai ilmu dari jalur Sadewa orang bercambuk ki jayaraga ki namaskara ki citragati ..

Reply
kibanjarasman 15/10/2022 at 15:36

betul, ki.. matur nuwun..

Reply

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.