Gunung Semar 2

Dalam angannya, Ken Banawa diam-diam menilai bahwa keputusan Bondan yang nyaris tanpa perhitungan matang ternyata membawa arti tersendiri. Masuknya Bondan dalam lingkar pertempuran itu seperti perto-longan bagi prajurit yang menjadi bawahan Ki Guritna. Perlawanannya terhadap Ki Cendhala Geni serta Ubandhana tanpa disadari telah meman-jangkan waktu bagi prajurit Majapahit di Sumur Welut.
Derit bangku bambu terdengar ketika Gumilang bangkit dan berjalan pelan menuju bilik rawat.
“Bukankah memang itu watak Bondan, Paman?” Gumilang memalingkan wajah menghadap Ken Banawa. “Ia mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar dan selalu ingin terlibat dalam banyak kegiatan yang terjadi di sekitarnya. Sekalipun itu membahayakan dirinya, namun jarang saya melihat atau mendengarnya mundur. Terus terang, saya pikir watak itu ada sedikit berubah setelah menginjak usia seperti ini tapi ternyata Bondan masih seperti dulu, seperti saat ia masih kecil,” Gumilang memandang sayu tubuh lemas Bondan dan menggelengkan kepala.
Ken Banawa tidak berkata-kata lagi. Ia mengambil tempat memadai untuk menempatkan diri agar mendapatkan kecukupan guna memulihkan daya tahannya. Ia melewatkan malam yang dinginnya menusuk tulang dengan bersemedi. Dalam usia yang menjelang senja, seorang Ken Banawa sudah merasakan banyak pahit getir dan kebahagiaan dalam hidupnya. Sepanjang hidupnya hanyalah sebuah pengabdian. Ia mencukupkan diri hanya pada pemahaman itu. Tidak lebih. Pengabdian untuk raja, untuk kerajaan dan rakyat yang dilindunginya.
Ken Banawa memaksa diri untuk merasakan bahagia yang tak terkira ketika ia berhasil menunaikan satu pengabdian.
Malam itu terbayang dalam benaknya semua peristiwa-peristiwa di masa lalu, tentang pertumpahan darah, perselisihan dan segala masalah yang pernah ia hadapi. Menghanyutkan rasa dan pikirnya dalam setangkup puja mantra, Ken Banawa ingin merasakan bahwa ia tak pernah ada.
Di bilik yang lain, Gumilang masih terheran dengan tindakan Bondan di Sumur Welut. Pikirnya, ‘Betapa ia seorang diri dan tidak mengenal satu orang pun, namun memutuskan untuk memasuki sarang penyamun yang dipimpin orang yang diperhitungkan oleh kotaraja.
‘Ki Cendhala Geni. Apakah Bondan tidak mengetahui perihal orang itu ataukah ia tutup mata dan telinga? Lantas bagaimana ia akan memberi jawaban pada ibu tentang hal ini? Aku tidak dapat membayangkan perasaan ibu jika suatu saat harus duduk berhadapan dengannya.’
Pertanyaan yang tidak dapat menemukan jawaban di benak Gumilang. Lalu ia mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata.
“Biarlah, yang akan terjadi maka terjadilah!” desis perlahan Gumilang, “Yang dapat aku lakukan esok adalah membantu Mpu Gandamanik. Tidak lebih.”

Yang terjadi kemudian adalah hampir setiap hari selama beberapa pekan, sepupu Bondan ini pergi ke hutan mencari akar dan dedaunan yang dapat dijadikan ramuan untuk pengobatan Bondan. Gumilang memiliki keinginan kuat untuk melihat kesembuhan saudaranya dari luka di bagian dalam, oleh karena itu tidak jarang ia mengurut urat syaraf Bondan berdasarkan petunjuk Mpu Gandamanik.
Dalam sepanjang waktu perawatan yang ia miliki ketika Bondan berada dalam pengawasannya, Mpu Gandamanik banyak memberi wejangan kepada pemuda dari Pajang ini. Mpu Gandamanik bicara banyak dan cukup dalam perihal ketenangan.
Ia memberi tekanan pada sebuah sikap yang sekilas terlihat seperti am-bang kekalahan namun hampir selalu memberi hasil yang berbeda.
“Karena ketenangan hanya dapat digapai lalu menetap dalam hati seseorang ketika ia mampu menaklukkan bukit amarah dalam dirinya. Balas dendam yang didasari oleh kebenaran pun sering kali justru menemui kegagalan,” nasehat Mpu Gandamanik pada Bondan di suatu pagi. “Namun jika engkau melihatnya dari sisi lain, maka sebuah kejahatan yang dilakukan dengan tenang justru mampu menuai hasil gemilang.
“Bondan. Marah, balas dendam yang disebabkan oleh harga diri atau sebab lainnya sering membutakan mata hati seseorang. Sehingga orang itu tidak dapat lagi melihat kenyataan di sekitar dirinya. Ia juga tak akan mampu mengukur ketinggian sebatang pohon kelapa meskipun sudah dibekali kemampuan serta alat untuk pekerjaan itu.”

Pengetahuannya serta kekuatan batin yang tajam telah melampaui ruang dan waktu, Mpu Gandamanik memutuskan untuk menurunkan sebagian kecil ilmu lapis puncak pada murid Resi Gajahyana ini. Mpu Gandamanik telah mengenal dengan baik seluruh unsur gerak dan watak dari ilmu yang dikuasai oleh Bondan. Mpu Gandamanik bahkan telah mempunyai dugaan tentang sesuatu yang berada di dalam diri Bondan, tetapi ia memilih untuk tidak mengatakan pada anak muda ini. “Perpisahan akan dan pasti tiba menghampiriku. Aku tidak dapat membawa serta seluruh pengetahuanku,” kata Mpu Gandamanik dalam hatinya.
Melalui kata-kata yang mudah dimengerti, Mpu Gandamanik mulai mengajarkan pengetahuan kanuragan yang belum diketahui Bondan. Sesuatu yang baru dan berbeda telah menyusup serta menetap dalam relung ingatan Bondan. Melalui ruang besar di dalam benaknya, Bondan mencoba untuk memahami, melatih serta menggabungkan sejumlah unsur gerakan. Di samping itu, banyak wejangan dan pandangan hidup yang ia ajarkan pada anak muda murid Resi Gajahyana ini di sela-sela kesibukannya merawat luka-luka.

“Selaras,” desis Bondan yang disambut anggukan Mpu Gandamanik.
“Banyak warna dan ragam dalam olah kanuragan. Aku telah menyesap satu aliran ilmu dari eyang Gajahyana namun yang ditunjukkan oleh Mpu Gandamanik memang khas dan berbeda,” bisik Bondan dalam hatinya.
Sementara itu Mpu Gandamanik tidak henti mengulang ucapannya, bahwa ilmu yang berasal darinya tidak bertentangan dengan jalur ilmu Resi Gajahyana. Ia merasa perlu untuk menerangkan itu agar tidak terjadi keresahan dalam benak anak muda dari Pajang ini.
“Setiap ilmu sebenarnya adalah ranting dari pokok yang sama. Aku adalah cabang yang menghadap sisi utara, sedangkan Resi Gajahyana menjadi ranting yang terjulur ke arah selatan. Namun ketika kau telah memahami setiap watak dari ilmu yang berasal dari kami berdua, itu adalah tahap menuju puncak.
“Meski engkau mempunyai kecemerlangan berpikir dan waktu yang le-luasa untuk menggabungkan semua unsur, itu tidak berarti engkau telah berdiri di puncak kanuragan. Belum, Anak Muda! Bahkan mungkin masih jauh untuk dikatakan telah berada di lapisan atas.
“Aku hanya ingin berpesan padamu mengenai penggabungan kedua ilmu ini. Bahwa kau akan memerlukan masa panjang untuk membuat keduanya selaras dan serasi dalam peredaran darah serta jaringan napasmu. Ini bukan pekerjaan mudah. Tidak ada yang mudah dilakukan dalam hidup, Bondan.” Mpu Gandamnik memalingkan wajah, ia berganti memandang Gumilang yang duduk agak condong di belakang Bondan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *