Padepokan Witasem
Bab 4 Gunung Semar

Gunung Semar 2

Senapati ini menutup kalimatnya sembari menggelengkan kepala.

Ia memejamkan mata sambil membiarkan air hangat yang telah dicampur dengan rempah-rempah turun membasahi rongga tenggorokannya.. Sungguhpun ia menganggap perbuatan Bondan itu berada di luar batas kewajaran, tetapi ia juga bersyukur bahwa keadaan mungkin benar-benar berbeda seandainya tidak ada Bondan. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi, dan salah satunya adalah prajurit Majapahit yang dipimpin Ki Guritna akan dihabisi tanpa menyisakan satupun yang hidup, pikirnya.

Dalam angannya, Ken Banawa diam-diam menilai bahwa keputusan Bondan yang nyaris tanpa perhitungan matang ternyata membawa arti tersendiri. Masuknya Bondan dalam lingkar pertempuran itu seperti pertolongan bagi prajurit yang menjadi bawahan Ki Guritna. Perlawanannya terhadap Ki Cendhala Geni serta Ubandhana tanpa disadari telah memanjangkan waktu bagi prajurit Majapahit di Sumur Welut.

Derit bangku bambu terdengar ketika Gumilang bangkit dan berjalan pelan menuju bilik rawat.

“Bukankah memang itu watak Bondan, Paman?” Gumilang memalingkan wajah menghadap Ken Banawa. “Ia mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar dan selalu ingin terlibat dalam banyak kegiatan  yang terjadi di sekitarnya. Sekalipun itu membahayakan dirinya, namun jarang saya melihat atau mendengarnya mundur. Terus terang, saya pikir watak itu ada sedikit berubah setelah menginjak usia seperti ini tapi ternyata Bondan masih seperti dulu, seperti saat ia masih kecil,” Gumilang memandang sayu tubuh lemas Bondan dan menggelengkan kepala.

Ken Banawa tidak berkata-kata lagi. Ia mengambil tempat memadai untuk menempatkan diri agar mendapatkan kecukupan guna memulihkan daya tahannya. Ia melewatkan malam yang dinginnya menusuk tulang dengan bersemedi. Dalam usia yang menjelang senja, seorang Ken Banawa sudah merasakan banyak pahit getir dan kebahagiaan dalam hidupnya. Sepanjang hidupnya hanyalah sebuah pengabdian. Ia mencukupkan diri hanya pada pemahaman itu. Tidak lebih. Pengabdian untuk raja, untuk kerajaan dan rakyat yang dilindunginya.

Ken Banawa memaksa diri untuk merasakan bahagia yang tak terkira ketika ia berhasil menunaikan satu pengabdian.

Malam itu terbayang dalam benaknya semua peristiwa-peristiwa di masa lalu, tentang pertumpahan darah, perselisihan dan segala masalah yang pernah ia hadapi. Menghanyutkan rasa dan pikirnya dalam setangkup puja mantra, Ken Banawa ingin merasakan bahwa ia tak pernah ada.

Di bilik yang lain, Gumilang masih terheran dengan tindakan Bondan di Sumur Welut. Pikirnya, ‘Betapa ia seorang diri dan tidak mengenal satu orang pun, namun memutuskan untuk memasuki sarang penyamun yang dipimpin orang yang diperhitungkan oleh kotaraja.

‘Ki Cendhala Geni. Apakah Bondan tidak mengetahui perihal orang itu ataukah ia tutup mata dan telinga? Lantas bagaimana ia akan memberi jawaban pada ibu tentang hal ini? Aku tidak dapat membayangkan perasaan ibu jika suatu saat harus duduk berhadapan dengannya.’

Pertanyaan yang tidak dapat menemukan jawaban di benak Gumilang. Lalu ia mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata.

“Biarlah, yang akan terjadi maka terjadilah!” desis perlahan Gumilang, “Yang dapat aku lakukan esok adalah membantu Mpu Gandamanik. Tidak lebih.”

Yang terjadi kemudian adalah hampir setiap hari selama beberapa pekan, sepupu Bondan ini  pergi ke hutan mencari akar dan dedaunan yang dapat dijadikan ramuan untuk pengobatan Bondan. Gumilang memiliki keinginan kuat untuk melihat kesembuhan saudaranya dari luka di bagian dalam, oleh karena itu tidak jarang ia mengurut urat syaraf Bondan berdasarkan petunjuk Mpu Gandamanik.

Dalam sepanjang waktu perawatan yang ia miliki ketika Bondan berada dalam pengawasannya, Mpu Gandamanik banyak memberi wejangan kepada pemuda dari Pajang ini. Mpu Gandamanik bicara banyak dan cukup dalam perihal ketenangan.

Ia memberi tekanan pada sebuah sikap yang sekilas terlihat seperti ambang kekalahan namun hampir selalu memberi hasil yang berbeda.

“Karena ketenangan hanya dapat digapai lalu menetap dalam hati seseorang ketika ia mampu menaklukkan bukit amarah dalam dirinya. Balas dendam yang didasari oleh kebenaran pun sering kali justru menemui kegagalan,” nasehat Mpu Gandamanik untuk  Bondan pada suatu pagi.

Related posts

Leave a Comment