Hari ini, hari kedelapan yang berjalan pelan karena hujan.
Di antara suara air, dengus napas, dan bisik yang setengah disesali, Tidak ada pengumuman yang memberikan jawaban. Hanya kebisingan yang tumbuh dari mulut ke mulut, dari gardu jaga ke lapak sayur, dari hujan ke tanah.
Hujan membuat pasar induk dan banjar pedukuhan tampak kusam dan murung. Keadaan di dalam dan sekitar dua tempat itu tidak begitu banyak orang, tapi yang dibicarakan masih sama dengan sebelumnya. Bertukar cerita, kemarahan, dan penghakiman tapi mereka cepat pergi – mungkin karena hujan yang turun sejak dini hari.
Di dekat gardu jaga, air menetes dari ujung daun bambu, jatuh tanpa kepastian.
“Kau dengar?” ujar seseorang. “Nyi Pandan Wangi dilarang melihat jasad ayahnya.”
Tidak ada yang langsung menanggapi. Sekejap waktu berlalu. Kemudian orang lain berkata dengan nada lebih rendah tapi tajam. “Nyi Pandan Wangi,” katanya, “bahkan tidak diberi kesempatan. Ayahnya mati, tapi mereka bicara soal aturan.”
“Itu kejam,” ucap seseorang tanpa basa-basi. “Bukan soal perang, bukan soal siasat. Itu kejam. Tidak manusiawi.”
Tak ada yang membantah. Bahkan mereka yang biasanya suka mencari sisi lain memilih diam. Diam kali ini bukan kebijaksanaan, melainkan persetujuan yang pahit. Beberapa kepala mengangguk. Ada yang meludah ke tanah, gerakan kecil yang sarat makna. Tidak ada tawa. Tidak ada usaha meringankan suasana. Semua nada mengecam, berlapis-lapis, saling menguatkan.
Hari kedelapan berjalan tanpa upaya meredam. Kebisingan tidak lagi malu-malu menampakkan diri tapi suasana tidak sepakat. Satu demi satu orang-orang mengundurkan diri. Suara-suara berpulang turun dari angksa lalu membaur bersama air hujan.
Jalan-jalan yang biasanya dilalui langkah tergesa perlahan-lahan menjadi kosong, licin, dan tidak dipedulikan. Tidak ada anak berlari. Tidak ada pedagang keliling memanggul suara.
Gardu jaga kosong. Orang-orang lebih memilih tetap di rumah, selain perintah pengosongan masih berlaku di seluruh Tanah Perdikan. Kayu basah, bangku dingin, dan tiang bambu berdiri tanpa tubuh yang bersandar. Seolah tempat itu ikut disisihkan dari percakapan.
Sawah dan ladang lebih sunyi lagi. Parit penuh air, tapi tidak ada cangkul yang berayun. Alat-alat kerja tertinggal di sudut gubuk, disengaja. Para pemiliknya tahu, hari ini bukan hari untuk berada di medan terbuka. Hujan memberi alasan yang rapi untuk menjauh dari pandangan. Dari balik dinding, orang-orang dewasa duduk tanpa posisi nyaman. Mereka tidak tidur, tidak bekerja, hanya menunggu hujan melakukan tugasnya.
Tanah Perdikan seperti menarik napas panjang lalu menahannya.
Sesekali seekor ayam melintas cepat, lalu hilang. Sekali-kali tampak lelaki yang menutup kepala dengan jerami memotong jalan. Muncul lalu menghilang lagi. Lengang ini bukan kebetulan. Hujan membantu. Alam bersekutu denagn manusia yang ingin menyepi tanpa harus menjelaskan diri.
Pada bagian barat laut pedukuhan induk.
Di tikungan jalur pategalan, iring-iringan Pandan Wangi berpapasan dengan Ki Jayaraga sebelum tiba di Dusun Benda. Guru Glagah Putih itu sedang berteduh di teras kedai yang masih tutup pada saat fajar belum merekah. Matanya menyapu cepat, sekalipun masih remang-remang. mengenali wajah-wajah yang datang dari timur. Dengan bahu kiri masih dibalut kain gelap yang basah, Ki Jayaraga keluar dari kedai, melangkah tanpa ragu menyongsong Pandan Wangi dan barisan Menoreh yang terdiri dari gabungan pengawal dan pasukan khusus Mataram.
Pandan Wangi melangkah dengan tatap mata dingin, memendam yang tidak dapat diungkapkan. Hujan menetes dari ujung rambutnya, suaranya tertahan oleh sesuatu yang lebih berat. Mereka saling memberi salam singkat, tanpa basa-basi. Dalam keadaan seperti ini, kalimat panjang terasa tak sopan.
“Kyai,” sapa Pandan Wangi.
Ki Jayaraga mengangguk ketika perempuan pilih tanding Tanah Perdikan itu menyentuh bahunya. “Sedikit goresan, tapi semua terkendali. Angger dapat berpikir tenang.” Tapi ucapan itu tidak terdengar seperti suara yang menenteramkan.
Pandan Wangi menggeleng. “Terkendali tapi tidak semuanya dalam keadaan baik.”
“Saya turut dalam barisan Anda,” ucap Ki Jayaraga.
Pandan Wangi menggeleng sekali lagi. “Kyai tetaplah di pedukuhan induk. Biarkan kami yang lebih muda yang menyelesaikan sisanya.”
Ki Jayaraga mengembangkan senyum tapi tidak ada kata untuk memaksa, hanya gerak tangan yang mewakili perasaannya.
Putri Ki Gede Menoreh pun juga sadar bahwa nyaris mustahil melarang Ki Jayaraga larut dalam barisan. Mereka berjalan bersama. Niat dan kehendak sudah berada di atas jalur yang sama.
Beberapa langkah kemudian, Pandan Wangi berkata pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan. “Saya tidak ingin berkeluh kesah atau mengatakan terbuka tentang kesedihan. Semua telah lewat dan mempunyai waktu berbeda. Medan utara runtuh, dinding kediaman tumbang tapi tidak perlu ada pertanyaan.”
Ki Jayaraga mendengarkan tanpa menyela, matanya lurus ke depan, seperti orang yang sudah lebih dulu memikirkan hal yang sama.
“Kematian Ki Gede,” lanjut Pandan Wangi dengan suara menggelepar pelan. Mungkin dia marah, mungkin juga tidak tapi tanah terasa goyah.
Ki Jayaraga menarik napas. Dia tidak ingin berdiri di belakang salah satu pihak. Sebagai orang yang mungkin seusia dengan Ki Gede Menoreh, berdiri di tengah sambil berusaha memberikan yang terbaik bagi Menoreh adalah jalan terbaik. Dia tahu segala ucapannya tidak akan dapat menghibur. Tidak ada orang yang dapat disalahkan ketika medan utara runtuh. Tidak ada yang patut dimintai tanggung jawab ketika Ki Gede tiba-tiba tidak berada di sekitar mereka. Tidak ada.
Kinasih berjalan di sisi mereka, diam. Tatapannya turun ke tanah, memperhatikan genangan yang pecah oleh langkah kaki. Dia mendengar semuanya, menyimpan semuanya, tanpa merasa perlu ikut menimbang dengan suara. Kehadirannya seperti garis tipis yang menjaga percakapan agar tidak berubah menjadi tuduhan.
Hujan terus menemani. Dusun Benda masih beberapa waktu lagi. Mereka berjalan tanpa kesimpulan, membawa beban yang sama, dengan cara masing-masing. Di jalan itu, tidak ada yang benar-benar mencari jawaban. Mereka hanya memastikan satu hal: perintah telah dijatuhkan, siasat harus dijalankan. Kepercayaan tunggal masih layak untuk dipertahankan. Iring-iringan itu terus, meski tanah di bawahnya tidak lagi bisa dipercaya sepenuhnya.

Mungkin hampir bersamaan dengan pergerakan Pandan Wangi, mungkin juga tidak. Hujan membuat hari seakan tidak mau ditandai. Ayam hutan pun mengambil sikap yang sama. Hanya kawanan katak yang pantang menyerah, tetap bersuka ria dengan suara yang seakan sedang menertawakan mereka yang takut kehujanan.
Di jalur sempit dekat sawah, sedikit jauh dari wilayah perondaan Glagah Putih, dua orang terlihat lebih dulu tanda yang tidak semestinya. Desir jejak kaki yang halus, teratur dan begitu ringan. Mereka tidak mendekat. Menjaga jarak, menunggu hingga dalam jangkauan Isyarat dikirim. Jarak dijaga.
Satu orang muncul dari balik rumpun bambu. Bergerak cepat, yakin, tanpa ragu arah. Mereka tahu wilayah ini berbahaya, tapi tidak menyangka secepat itu terbaca.
Benturan pertama terjadi tanpa teriakan. Seseorang jatuh lebih dulu. Napasnya terputus sebelum membalas serangan.
