Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 14 – Siasat Agung Sedayu: Ubah Senyap Menjadi Gelar Perang

Bila dianggap siang, hari itu udara masih terasa sejuk dan matahari tak tampak di puncak. Tapi Pandan Wangi tidak peduli dengan sesuatu yang disebut waktu. Kediaman Ki Gede sudah terlihat olehnya dan seorang lelaki tua tampak duduk besandar dengan gelisah.

“Paman?” sapa Pandan Wangi dengan nada tanya.

Ki Argajaya mengangguk, lalu berkata pendek, “Aku ingin mengenang segala sesuatu di sini. Dan itu seharusnya harus mendapatkan izin darimu.” Lalu dia memandang sekeliling dengan kening berkerut. Sekejap kemudian, dia bangkit, berjalan ke sentong tengah.

“Paman… Paman tidak perlu melakukan itu,” kata Pandan Wangi dengan nada antara meminta dan memerintah.

Ki Argajaya, yang berada di pringgitan setelah keluar dari sentong, berusaha mengangkat punggung dengan tombak dalam genggaman. Dia menggeleng sebagai jawaban untuk Pandan Wangi. “Aku tidak mengangkat senjata untuk balas dendam. Aku datang sebagai kelanjutan dari laporanku pada Pangeran Purbaya.”

Pandan Wangi menarik napas, dadanya sedikit merendah. Dia tidak perlu mengatakan sesuatu pada pamannya. Sorot mata dan garis wajah Ki Argajaya sudah memberitahunya dengan sangat tegas. Tapi menyebut nama Pangeran Purbaya? Itu adalah persoalan lain.

Seorang pengawal yang datang bersama Pandan Wangi masuk lalu melaporkan kedatangan Prastawa bersama beberapa penduduk – mungkin belasan atau lebih sedikit.

Pandan Wangi memejamkan mata dengan wajah tengadah.

Keadaan dapat berkembang menjadi tidak terkendali, pikirnya.

Ki Prastawa melangkah terburu-buru saat mengetahui Pandan Wangi berada di dalam rumah bersama ayahnya, Ki Argajaya. Setelah memberi hormat dengan bahasa tubuh yang santun, Prastawa menatap Pandan Wangi, kemudian berkata, “Sebelum ada pertanyaan mengenai ini, aku katakan bahwa alasanku adalah kita kekurangan jumlah pengawal. Aku pikir kita sudah bisa menyadari keadaan dan keputusan itu. Siapa berani menyanggah?”

Tidak ada nama yang disebut tapi Pandan Wangi dan Ki Argajaya sudah mengerti.

“Baiklah, kita sudah berada di sini. Orang-orang sudah berkumpul untuk menunggu perintah selanjutnya,” kata Pandan Wangi lalu berjalan menemui orang-orang yang datang bersama Ki Prastawa dengan berbagai senjata di tangan.

Melihat Pandan Wangi melangkah ke arah mereka, orang-orang meneriakkan namanya, nama Ki Gede dan Menoreh.

“Kita sudah bertemu dan berkumpul di sini dengan satu tujuan,” kata Pandan Wangi di depan kerumunan orang dengan suara yang nyaris ditelan hujan. “Saya tidak meminta kepatuhan, tapi Ki Sanak sekalian tidak boleh jauh dari para pengawal dan pasukan khusus yang sudah bersiap di halaman belakang. Jangan ada kebisingan.”

Pada waktu yang mungkin sama dengan kedatangan Pandan Wangi ke rumah Ki Gede, Agung Sedayu bergerak ke lereng Gunung Kendil. Dia tidak berjalan di depan pasukan yang berjumlah kecil. Di ujung depan adalah Ki Lurah Sanggabaya bersama senapati pendamping gelar.

Sepanjang perjalanan yang tidak dapat dikatakan cepat atau tergesa-gesa, sekali-kali muncul bayangan dari kerumun semak, rimbun tanaman perdu, dari sisi rumpun bambu atau benda lain yang lazim digunakan untuk bersembunyi. Tidak ada yang mengerti isi percakapan yang sangat singkat itu, lalu bayangan itu menghilang di bawah naungan hujan yang belum bosan mengguyur Tanah Menoreh.

Selama perjalanan itu, Agung Sedayu sama sekali tidak menyinggung Ki Gede, tidak pula memberi penjelasan pada Ki Lurah Sanggabaya atau pasukan yang dekat dengannya. Bahkan pada wajahnya pun tidak ada bayang gelisah, bagaimana jika barak pasukan khusus jebol pada malam itu?

 Beberapa orang di sekitar Agung Sedayu sempat menganggap pergerakan sunyi itu akan menjadi pertaruhan terbesar sepanjang pengalaman mereka sebagai gugus tempur.

Meninggalkan barak pasukan khusus dengan penjagaan yang terkesan tidak memadai? Mereka tahu alasannya dan terlibat dalam segala bentuk persiapan.

Meninggalkan kediaman Ki Gede Menoreh tanpa pengamatan? Yah, pada keadaan itulah mereka tidak tahu. Namun pengenalan pada cara Agung Sedayu berpikir dan bertindak seakan dapat menghapus seluruh keraguan orang-orang yang tergabung di dalam pasukan kecil itu.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

4 Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Benturan Ketat di Kali Tinalah.

Tata gerak Kinasih mendatangkan kesulitan tambahan bagi pasukan berkuda Raden Atmandaru. Jumlah mereka lebih banyak, tapi Kinasih dan medan seakan membuat ruang terasa sempit hingga muncul Mangesthi menyambar Kinasih dengan segenap kekuatan!

Benturan yang tak kalah keras dengan yang berada di turunan curam juga berlangsung bagian sungai yang dangkal.

Hujan yang masih turun dengan rapat, meredam suara langkah kuda yang menerjang sungai dangkal itu. Air setinggi betis memercik liar ketika barisan depan memacu laju

Tombak-tombak berayun menyambar dengan ujung membelah tirai hujan sebelum bertemu senjata lawan. Benturan terdengar tumpul, tertelan gemuruh air dan napas kuda. Pedang terhunus, melayang deras di udara terlihat seperti kilat baja menyala sesaat lalu lenyap disapu hujan. Beberapa penunggang terlempar ketika kudanya tergelincir. Sebagian lagi tersentuh senjata lawan.

Jumlah pasukan yang lebih sedikit tidak membuat Ki Lurah Sora Sareh menjadi mudah terdesak, bahkan mereka sangat rapi dalam gelar perang. Sekali-kali, pasukan berkuda berhasil mendesak, mengurung dengan cara perkelahian berkelompok

 Sungguh! Pasukan berkuda dari pasukan khusus itu agak sulit diikuti dengan nalar tapi secara nyata mereka dapat membuat batasan per jengkal di dangkalan sungai. Itu sangat merepotkan lawan! Pedang menyusup, tombak menebas mendatar, satu demi satu terjatuh dari kuda. Jumlah lawan dapat berkurang, tapi pasukan Ki Lurah Sora Sareh juga terluka.

Ki Suta Jaladri segera paham bahwa senapati yang menjadi lawannya itu selain cekatan juga bernalar tajam. Mampu melihat sisi lemah lalu mengarahkan anak buahnya menikam bagian itu. Sejenak dia menoleh ke belakang, sebagian pasukannya tertahan oleh seorang perempuan muda tapi sedikit teratasi karena Mangesthi ada di sana.

Air sungai dan hujan menelan teriakannya. Perintahnya bergema keras tapi seperti tidak terdengar oleh pasukannya. Ki Suta Jaladri tidak berusaha untuk mengerti. Tidak ada waktu untuk itu. Tali kekang disentak, kuda melompat maju, menerjang Ki Lurah Sora Sareh dari samping dengan sangat hebat!

Ki Lurah Sora Sareh memutar tombak, berusaha menyerang balik lalu pergumulan dahsyat terjadi di sekitar mereka dalam sekejap! Gelanggang khusus tiba-tiba ada di tengah-tengah pertempuran yang melibatkan banyak penunggang kuda hebat di sana.

Dalam waktu itu, di sisi lereng curam, keberadaan Kinasih seperti sedang menuangkan minyak terbakar di atas kepala Mangesthi. Jika semula dia ingin membalas dendam pada Agung Sedayu, kini kemarahannya terarah pada Kinasih. Hanya Kinasih seorang yang pantas mendapatkan hukuman darinya, pikir Mangesth. Dia menggeram; “Membunuh gadis ini, aku anggap sama dengan membunuh Agung Sedayu!”

Mangesthi merasa tidak perlu kenal dengan gadis yang menjadi lawannya. Yang dia inginkan hanyalah kematian Agung Sedayu, bukan pertemanan. Maka murid Ki Sekar Tawang itu tanpa sungkan-sungkan langsung menghentak dengan kekuatan puncak.

Wibawa Tanah Perdikan

Pandan Wangi bergerak lebih cepat daripada pikiran orang-orang di sekitarnya. Dia melangkah lebar sangat cepat. Melintas di depan Ki Argajaya dan Ki Prastawa tanpa bicara sedikit pun menuju halaman belakang.

Dia memberi perintah dengan kata-kata pendek dan gerak tangan. Tegas dan sangat jelas seolah gelar perang itu sudah tersimpan di kepalanya dan kini hanya dikeluarkan.

Mendung semakin tebal seolah mengesahkan benturan yang mungkin akan terjadi di bagian belakang rumah Ki Gede Menoreh. Sekali-sekali ledakan petir menggelegar lalu menggelepar pada permukaan lereng Gunung Merapi.

Hujan semakin rapat. Hujan yang membuat langkah-langkah para pengawal dan pasukan khusus menyatu dengan tanah basah tanpa suara gaduh.

Ki Prastawa menyadari pada saat berikutnya. Seperti ada kekuatan yang menahannya sehingga dia tidak berusaha dan juga tidak cukup mampu menghentikan Pandan Wangi. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sebentar—ada denyut gusar: Pandan Wangi melangkahi kedudukannya sebagai kepala keamanan. Maka dia memilih berdiri di tempat, mengamati pergeseran orang- orangnya, lalu memberi satu anggukan kecil seakan berkata pada dirinya sendiri bahwa ‘baiklah, keselamatan dan harga diri Tanah Perdikan lebih berharga daripada wibawa.’

Dari salah satu bagian rumah, Ki Jayaraga sempat menangkap pemandangan itu: Pandan Wangi yang seperti menempatkan diri sebagai panglima perang, Ki Prastawa yang menahan perasaan, dan Ki Argajaya yang berdiri seperti paku di pringgitan. Pandangannya tidak lama bertahan. Dia memalingkan muka, menahan rasa perih di tubuhnya, lalu melangkah, mengikuti perintah Pandan Wangi–mengalirkan diri ke dalam gelar yang menyebar.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 11 – Jaring Siasat Ki Patih Mandaraka

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.