Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 15 – Bentrokan Pecah di Kediaman Ki Gede Menoreh

Kinasih Nyaris Tersesat!

Kinasih menggandakan ilmunya lebih cepat demi mengimbangi tata gerak Mangesthi yang dahsyat. Dia membalas serangan Mangesthi dengan kekuatan seimbang. Putaran tangannya datang membadai. Mematuk, menghantam, menggapai lawannya dari segala penjuru.

Pergerakan dua gadis muda itu semakin cepat dan semakin kuat. Tidak ada kata yang terucap untuk memancing perasaan lawan. Sepertinya mereka sadar bahwa sekali ucapan dilontarkan, maka serangan lawan tidak akan mampu dibalas. Maka benturan demi benturan pun tidak lagi dapat dihindari. Mereka sama-sama menyadap ilmu dari jalur tinggi yang jarang ditemui.

Serangan Mangesthi seluruhnya bertumpu pada ilmu Sekar Lembayung yang terlimpah dari ayahnya, Ki Sekar Tawang yang dulu menggunakan nama Ki Kebo Lungit. Sementara Kinasih mengayun tangan dengan dasar-dasar sangat kuat dari Nyi Banyak Patra dengan jalur ilmu yang masih sekerabat dengan Padepokan Banyubiru.

Gelanggang yang lain seolah ingin berlomba menghadirkan pertarungan hidup mati yang tak kalah dahsyat dari arena Kinasih.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

4 Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Pada bagian lain Kali Tinalah, Ki Lurah Sora Sareh benar-benar pantas mengemban kedudukan sebagai senapati pasukan berkuda. Dia mahir memainkan tombak sambil berdiri di atas kaki yang seakan melekat pada pelana! Lurah pasukan khusus itu seperti tidak kesulitan ketika berlompatan, bertukar tempat dengan Ki Suta Jaladri. Untuk beberapa jenak waktu, mereka sama- sama berhasil menjaga keseimbangan. Kelengahan akan ditebus dengan sangat mahal dan mereka berdua sadar dengan itu.

Perbedaan tujuan dan latar belakang akhirnya menjadi pembeda, menjadi penentu hasil pertarungan Ki Lurah Sora Sareh dengan Ki Suta Jaladri.

Pasukan berkuda Raden Atmandaru memang berjumlah lebih banyak tapi mulai berkurang akibat lontaran panah yang tak kunjung habis dari orang-orang Tanah Perdikan. Sepak terjang Kinasih memperparah keadaan meski dia sendiri masih terlibat pertarungan sengit menghadapi Mangesthi.

 Yah, Kinasih dengan cerdik mampu memanfaatkan setiap celah untuk menghindari serangan musuhnya. Kinasih terlihat tidak selalu melayani tantangan Mangesthi untuk membenturkan kekuatan. Kadang murid Nyi Banyak Patra tersebut melompat ke arah yang tak menentu, tetapi di setiap gerakan itu, satu hingga dua penunggang kuda dipastikan roboh atau terpelanting dari kuda mereka.

Pengikut Raden Atmandaru belum sepenuhnya kalah di Kali Tinalah tapi rasa gagap terlebih dulu datang menyergap. Betul, mereka menyaksikan sendiri kesangaran Kinasih saat menjauh dari serangan Mangesthi. Bertangan kosong tapi selalu menjatuhkan lawan padahal dia sendiri sedang menahan gempuran lawan!

Ki Suta Jaladri mengetahui perubahan yang sedikit demi sedikit mulai berdampak buruk pada pasukannya. “Pecah barisan! Tikam lawan!” dia berseru berulang-ulang.

Sebagian pasukan Ki Suta Jaladari segera mempersiapkan diri, membuka jalan terjal, mengalihkan sasaran yang tersimpan rapi di dalam perintah. Tikam lawan!

“Ki Lurah, mereka akan melarikan diri!” lantang senapati pendamping pada Ki Lurah Sora Sareh.

“Pertahankan jalur!” perintah tegas Ki Lurah Sora Sareh. Perintah yang sangat jelas bagi anggotanya; jangan mengejar lawan! Tapi perintah Ki Lurah Sora Sareh itu hanya dipahami oleh pasukan khusus saja, sementara Kinasih tidak tahu karena dia bukan anggota pasukan khusus!

Sekejap kemudian, Kinasih terlihat akan menyambar penunggang kuda terakhir dari pasukan yang membelah diri.

“Cah Ayu! Tetap bertahan! Tetap di sungai!” seru Ki Lurah Sora Sareh. Teriakan yang diikuti oleh pasukan berkuda lainnya dari pasukan khusus.

Meski ragu dengan perintah itu, tapi Kinasih sadar bahwa pemimpin gelar sudah menjatuhkan putusan. Dia harus patuhi. Maka gadis yang merawat Agung Sedayu di Pajang itu pun kembali pada pertarungannya sendiri.

Ketegangan Pecah di Kediaman Ki Gede Menoreh

Pandan Wangi tegar menatap batas hutan yang tersekat semak, rumput liar dan tanaman perdu. Detak hujan menyamarkan benturan kaki kuda dengan permukaan tanah. Putri Ki Gede Menoreh itu maju selangkah untuk memastikan kesesuaian derap kuda dengan getar permukaan tanah.

Bayangan kabur mulai tampak dari balik batas hutan.

Pandan Wangi bergeser maju diikuti Ki Jayaraga, Ki Prastawa dan Ki Argajaya dengan susunan seperti barisan yang menjadi halang rintang bagi penunggang kuda yang makin banyak muncul dari dalam hutan. Jaraknya masih jauh, tapi arah dan tujuan mereka jelas; meratakan kediaman Ki Gede.

Di depan dan dua sisi, ada para pengawal dan pasukan khusus sudah bersiap dengan segenap perasaan dan pikiran. Sementara orang-orang yang datang belakangan sudah membaur di dekat pengawal yang menyebar di samping kiri dan kanan pategalan kosong itu. Orang-orang ini menunggu datangnya serangan sambil menahan napas. Mereka menjadi saksi mata keberanian para tokoh Tanah Perdikan.

Pasukan berkuda lawan yang ternyata satuan yang memisahkan diri dari kekuatan induk Ki Suta Jaladri makin dekat dari ratusan langkah sebelumnya.

Pandan Wangi mengukur jarak dengan sapuan mata. Ki Jayaraga mencoba menyalurkan Sigar Bumi sejauh jarak yang dapat digapai dengan ilmunya itu.

Pasukan berkuda semakin dekat dan tampak seperti sedang mengalami kesulitan mempertahankan laju kuda-kuda mereka.

Pandan Wangi memberi aba-aba, Ki Jayaraga menggerakkan kepala lalu bersiap, demikian pula Ki Argajaya dan Ki Prastawa – untuk benturan pertama. Hujan panah pun turun dari berbagai arah.

Jarak semakin dekat. Pasukan berkuda itu masih datang bergelombang meski beberapa sudah tumbang, terpental dan terjatuh dari punggung tunggangan.

 Akhirnya, tidak ada jarak yang tersisa!

Pandan Wangi menyambar baris pertama penunggang kuda dengan kekuatan hebat. Ki Jayaraga mengambil dua orang di bagian sayap. Ki Prastawa bergerak menyamping lalu memotong lintasan. Demikian pula Ki Argajaya yang ternyata masih menyimpan ketangguhan masa muda.

Kebisingan pecah serentak di pategalan itu.

Tebusan Kali Tinalah yang Sangat Mahal

Ternyata teriakan dari pasukan khusus itu bermakna lain bagi Mangesthi. Pikirnya, ada apa sebenarnya? Apakah ada perangkap pada jalur yang akan dilalui satuan kecil yang memisahkan diri itu? Tapi dari segi yang lain, Mangesthi terhantam kenyataan getir bahwa selama bertarung sengit dengannya, ternyata Kinasih masih sanggup menjatuhkan beberapa penunggang kuda. Bukankah itu sama dengan meremehkan dirinya? Bukankah itu sama arti dengan tidak menghormatinya sebagai lawan tanding?

Mangesthi makin gelap mata!

Dia merambah tataran lebih tinggi. Membenturkan ilmu sepenuh tenaga cadangan. Maka pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Lengan-lengan mereka sudah tak mempan lagi tersentuh air. Sering terdengar seperti bunyi besi panas yang dicelupkan genangan air setiap butir hujan jatuh di atas kain yang menutup lengan mereka berdua.

Gelar perang pasukan berkuda Mataram yang ketat dan kuat lambat laun membuat pertempuran menjadi timpang. Perintah Ki Suta Jaladri agar mereka masuk menikam jantung lawan ternyata memperburuk keadaan di Kali Tinalah.

Satu demi satu tumbang. Terluka maupun tewas.

Hingga akhirnya hanya ada dua gelanggang yang tersisa. Prajurit berkuda dari pasukan khusus itu pun tidak segera meninggalkan Kali Tinalah. Mereka turun merawat kawan yang terluka, mengamankan jasad teman yang membujur lintang. Dua pemandangan yang berada dalam satu bingkai lukisan. Getir sekaligus mengerikan!

Mangesthi belum mengubah tata geraknya. Hanya penambahan-penambahan kembangan yang tidak mempengaruhi keseimbangan secara keseluruhan. Dia tidak berusaha mencoba bertarung jarak dekat. Dia masih menjaga jarak sedangkan dirinya bukan petarung yang sempit wawasan. Sementara Kinasih yang berusia tak jauh dengannya justru bertempur dengan ketenangan yang ajaib. Mungkin secara tenaga cadangan atau kedalaman ilmu, Kinasih berada di tingkat yang sama tapi dia begitu percaya diri sehingga lebih berani mengembangkan tata gerak.

Kinasih sadar bahwa lawannya makin bergairah menghabisinya dalam waktu lebih singkat, maka yang dipikirkan kemudian olehnya adalah kecepatan. Serangan Mangesthi semakin sering membentur udara kosong karena Kinasih ternyata masih mampu meningkatkan kecepatannya lebih tinggi.

Mangesthi akhirnya harus membayar mahal.

Pada sebuah kesempatan, dengan gerakan yang sulit dilihat mata telanjang karena sangat cepat, Kinasih seolah berlari di atas air, menyapu lawan dengan putaran seperti gasing, Mangesthi terjebak dengan tata geraknya yang kurang lentur mengimbangi kecepatan musuhnya. Serangan beruntun Kinasih menghantam jebol pertahanannya. Mangesthi terlontar, melayang beberapa saat lalu terbenam kaku pada tebing berlumpur.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 14 – Siasat Agung Sedayu: Ubah Senyap Menjadi Gelar Perang

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 12 – Kabut dan Desis Kali Tinalah

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.